
ketika Diana dan Arin sedang sibuk berbicara mengenai apa yang terjadi dalam hidup mereka berdua, tiba-tiba dari arah luar asisten rumah tangga nya Arin mengetuk pintu mengatakan jika di luar ada Nyonya Nirmala pelangi yang ingin bertemu dengan Diana.
Tok tok tok
"Permisi Non Arin,di luar ada yang cariin!" Ujar Bi Imah dari luar.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Art rumah Arin itu membuat keduanya hanya saling pandang,karena merasa tidak punya kenalan yang tahu rumah ini dan kalau keluarganya Arin pasti bakal mencari kedua orang tuanya bukan dirinya.
"Memang nya siapa Bil?" Tanya Arin penasaran.
"Katanya Namanya itu Nirmala Pelangi!" Jelas Bi Imah membuat Diana langsung bangkit karena begitu bahagia oleh karena Neneknya itu jauh jauh datang untuk bertemu dengan dirinya.
"Bibi Makasih,tapi itu Nenek nya aku!" Ujar Diana antusias.
Arin hanya tersenyum bahagia karena ternyata sahabatnya itu tidak pernah terlupakan,karena buktinya ada keluarga Pelangi yang datang mencari nya.
"Akhirnya setelah sekian purnama kamu bisa tersenyum lagi,aku bahagia untuk kamu semoga senyuman bisa kembali tersemat di wajah mu itu sahabat ku!" Lirih Diana dalam hati.
Diana yang melihat wajah wanita yang paling ia merindukan begitu terharu,sampai dirinya langsung memeluk Erat tubuh Nenek nya itu tanpa menyapa lebih dahulu dan alhasil membuat Mala menjadi kaget.
Greppp
"Buju busyet bocah edan!" Ujar Mala yang begitu terkejut dengan apa yang di lakukan oleh cucunya itu.
"Nenek Yana kangen banget lho,selama ini bertapa di mana sih sampai tidak kelihatan sama sekali?" Tanya Diana dengan memasang wajah cemberut.
"Oh jelas Nenek mu ini lagu bertapa meminta ramuan awet muda,biar nanti kalau kamu liburan di Korea lagi mereka bakal mengira Nenek masih umur dua puluhan!" Sahut Mala yang selalu saja bercanda ketika bertemu dengan cucunya itu.
"Terus Kakeknya mau taruh dimana kalau begitu?" Tanya Diana dengan tatapan menyelidik.
"Jangan kamu sebut itu Aki Aki yang tidak berguna,masa tiap malam Nenek mimpi kalau dia di alam kubur sedang menggandeng cewek Bule korban penculikan sudah begitu cantik lagi!" Sungut Mala tidak terima.
Diana mendelik kesal dan juga tidak menyangka jika sang Nenek benar benar memiliki sifat yang sangat ajaib,karena masa orang mati saja bisa di cemburu.
"Nek,itu artinya Kakek itu hanya jodoh Nenek di dunia tapi bukan di akhirat. Siapa suruh Nenek mati nya lama,ya jadinya Kakek cari ganti soalnya kelamaan jadi jomblo itu tidak enak sama sekali!" Goda Diana.
Mala memasang wajah cemberut nya sebab cucunya itu adalah provokator sejati yang selalu saja bisa membaca keadaan,dan alhasil dirinya juga yang kena sasarannya.
"Ahh percuma saja tadi aku datang kesini kalau akhirnya nanti malam tidak bisa tidur,soalnya masih teringat bahasa kamu tentang Kakek!" Sungut Mala membuat Diana tertawa geli.
"Lha tadi katanya mau cari yang lebih muda,masa iya sekarang sudah mengalah sebelum bertanding?" Ledek Diana sambil memasang wajah yang sangat menyebalkan karena sikap yang di tunjukan oleh Nenek nya itu.
"Stop,kamu itu bukan hanya nakal ke orang tua kamu tapi ke Nenek juga ya?Coba tadi jangan datang kesini pasti Nenek tidak bakal emosi,tapi karena sayang ya sudah Nenek tidak masalah!" Ujar Mala sambil tersenyum dan memeluk lengan cucunya itu.
"Nek,jangan lupa tongkat nya nanti kalau jatuh aku tidak bakal tanggung jawab lho!" Goda Diana.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang jarang terjadi dan yang di hadapi oleh Diana,bagaimana tidak ia hanya mendapatkan kehangatan hanya dari sang Nenek tapi itu juga hanya sekali kali bertemu dan juga tidak bakal lama.
"Oh tenang saja, kamu jangan khawatir karena Nenek ini adalah The Strong Woman yang tidak akan pernah tergeser walau sedikit saja!" Sahut Mala penuh percaya diri.
"Kamu Arin kan,yang sok cantik padahal cucuku lebih cantik?" Tanya Mala sambil menggoda Arin yang malah hanya bisa tertawa.
Karena berhadapan dengan satu orang pelangi saja dirinya sudah kewalahan,apalagi ditambah satu lagi mau tidak mau dirinya harus diam agar Aman.
"Iya tapi aku kan sudah punya pacar,tapi cucu Nenek yang cantiknya katanya mirip Kim Kadarshian itu masih saja menjomblo tidak laku laku sampai sekarang!" Sahut Arin pelan tapi masih bisa di dengar oleh Mala.
"Kamu lepaskan tangan Nenek,soalnya Nenek mau gabung sama yang tidak jomblo kalau sama kamu terus kapan Nenek dapat jodohnya!" Sindir Mala santai membuat Diana merajuk karena mereka selalu mengejek status nya yang tidak pernah pacaran walau hanya sedikit saja.
"Nenek keterlaluan sekali selalu mengungkit hal itu padahal sebenarnya tidak ada masalah sama sekali,jika aku harus menjadi Jomblo karena itu tandanya Tuhan sedang menyiapkan jodoh yang terbaik dari pada saat sudah cinta mati eh malah di tinggal pas lagi sayang sayang nya!" Sindir Diana membuat Arin mendengus kesal.
"Oh Tidak masalah yang penting sudah menikmati masa muda,dan rasanya menjadi orang yang nakal pada masanya bukan hanya mengaku pernah muda tapi nasib nya kaya Janda!" Sindir Arin tidak mau kalah.
"Kamu stop,soalnya Nenek sangat tersinggung karena kamu sebut soal Janda!" Omel Mala membuat Arin seketika bungkam karena dirinya sudah salah bicara dan membuat Kanjeng Ratu jadi marah marah tidak jelas.
"Nenek Ayo duduk,Maaf dari tadi tidak disuruh masuk!" Ajak Arin sambil tersenyum.
"Makasih Cucuku Sayang,yang sudah mau menampung anak terlantar ini. Bahkan rela makanan di rumah habis hanya karena tambah satu mulut lagi,tapi nanti Nenek janji bakal ganti rugi soalnya Nenek sangat tahu gimana caranya ini kambing betina makan!" Ujar Mala tanpa beban bahkan dengan santai menyamakan sang cucu dengan kambing betina.
Padahal diri nya tidak sadar jika Diana adalah kambing betina maka dirinya adalah Nenek nya kambing betina,sungguh sebutan yang membuat harganya Diana tidak ada sama sekali.
"Haha,Astaga Yana kenapa kamu jadi terdengar murahan begitu?" Tanya Arin sambil tertawa dengan tidak bisa tertahan hingga air mata nya pun tidak bisa untuk di tahan agar tidak keluar.
"Iya Maaf!" Sahut Arin pelan soalnya dia juga tidak berani membantah.
"Nenek kok bisa tahu kalau aku ada disini?" Tanya Diana penasaran.
Mala menghela nafasnya kasar karena merasa sedih melihat keadaan sang cucu,yang merupakan satu satunya penerus keluarga Pelangi tapi malah menumpang di rumah orang lain.
Sebagai seorang Nenek yang harus nya bahagia karena sang cucu yang tumbuh kembang nya tidak di ragukan lagi,tapi malah di saat seperti ini dirinya bulan bahagia malah dibuat seperti anak yang hidup yatim piatu tanpa ada satupun keluarga dekat nya.
Siapa yang bakal kuat jika Cucu yang sangat ia rindukan malah harus di cari nya di rumah orang lain,padahal ia sangat merindukan Diana.
"Ya hanya tahu saja,kamu pasti tahu dong gimana kelebihan Nenek kamu ini dalam mencari tahu sesuatu?" Tawa Mala yang berusaha menutupi tangis nya.
Tapi Diana yang peka dengan perubahan gaya bicara sang Nenek merasa begitu bersalah,karena bukan nya memberikan kebahagiaan di usia Neneknya yang sudah tua malah memberikan dirinya beban pikiran.
"Maafkan aku ya Nek,soalnya menjadi cucu yang hanya membuat kalian malu!" Lirih Diana yang sudah hanya tertunduk saja karena memang ketika berbicara soal sesuatu yang sensitif membuat dirinya menjadi sedikit cengeng.
"Hem siapa bilang kamu itu hanya membuat Nenek malu,tapi asal kamu tahu ya kamu itu sudah membuat Nenek marah tapi sayang Nenek ingin pukul tapi takut sakit Nenek yang ingin teriak tapi pemilik hati!" Ujar Mala sambil mengusap pelan rambut Cucu nya itu.
Diana hanya bisa menitikan air mata nya karena ia merasa tidak kuasa menahan tangis,sebab dirinya memang merasa bersalah jika semua orang marah atau malu.
__ADS_1
Belum lagi ia yakin jika pasti tadi sebelum kesini Mala pasti sudah sempat berdebat dengan orang tua nya,yang pasti selalu menyalahkan dirinya yang selalu saja membantah.
"Kenapa kamu jadi cengeng,Memang nya kamu pikir Nenek datang untuk melihat kamu menangis?" Tanya Mala pura pura marah.
"Tapi Yana merupakan orang yang paling tidak berguna untuk semuanya,sampai sampai Papa sama Mama tidak suka dengan segala yang Yana lakukan!" Tangis Diana pun pecah membuat Arin yang merupakan soulmate nya pun ikut menitikan air mata.
"Kata siapa kamu tidak berguna,orang yang mengatakan hal itu adalah orang yang sangat pintar karena bisa membedakan mana yang benar dan tidak!" Ujar Mala yang masih berusaha membuat suasana kembali normal dan tidak ada yang bersedih.
Diana yang tadi sedang menangis berubah menjadi kesal karena apa yang neneknya katakan sangat berbanding terbalik dengan keadaan yang sekarang,yang ada dirinya bukan sedih atau pun menangis malah mendengus kesal tapi sambil tertawa.
"Nenek aku tadi masih mau menangis lho,masa iya suasana haru nya cuman bertahan beberapa detik saja?" Belum juga Diana berkomentar malah Arin yang menyerobot lebih dahulu.
Membuat Diana menatap tak percaya kearah sahabatnya yang ternyata memang benar benar menangis,bahkan sampai matanya terlihat begitu merah karena mungkin cara menangis nya terlalu menghayati.
"Kamu tadi ikutan menangis,memangnya apa yang kamu tangisi?" Tanya Diana heran.
Arin mendengus kesal mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu,kok bisa bisa nya bertanya padahal mereka sudah pasti tahu alasan apa sampai dirinya menangis.
"Aku menyesal tadi terharu melihat kalian,coba tadi aku bikin diri tuli pasti hal ini tidak bakal terjadi?" Sungut Arin.
"Lho yang minta kamu menangis itu siapa,bukan nya kamu tadi yang secara suka rela melakukan hal itu? jadi jangan banyak komentar karena kami jadi lupa mau membahas apa lagi,dasar cengeng dan tidak bisa diharapkan!" Sungut Mala juga membuat Arin memanyunkan bibirnya.
"Bibirnya itu seksi Sayang,kalau di depan Cecep Masduki mu itu!" Goda Diana .
Mala memang hanya ingin memarahi Arin tapi hanya bercanda dan juga Arin memang sengaja melakukan hal itu agar Diana tidak sedih lagi,sebab ia yang di ejek tidak masalah yang penting jangan Diana yang menangis.
Karena kalau sampai Diana menangis itu artinya kehadiran nya tidak ada artinya sama sekali,dan percuma ia berada di samping Diana terus.
" Oh jelas dia pasti tidak bakalan tidur selama seminggu ini karena mengingat keseksian bibirku, kamu kalau iri Bilang saja mungkin aku bisa kasih tips yang terbaik supaya kamu bisa menikmati hidup dan juga tidak banyak komentar seperti itu! " ledek Arin.
Diana sudah tidak mempermasalahkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu karena memang jika menyangkut seorang Cecep masduqi Arin pasti bakalan ngegas, sekarang fokusnya beralih kepada sang nenek yang dari tadi hanya menatap ke arahnya dan Arin yang tengah berdebat nonstop entah membahas Siapa itu pasti neneknya bahkan bertanya.
" nenek tadi berantem ya sama Papa dan Mama di rumah, aku baik-baik saja di sini tidak kekurangan kasih sayang perhatian apalagi makanan. kalian jangan pernah berantem karena aku yang selalu menjadi anak pembangkang dan tidak berguna, aku pergi dari rumah ah soalnya sudah tidak sejalan pemikiranku aku dengan papa dan mama yang lebih memilih aku menjadi pengusaha ketimbang menjadi seorang desainer. " jelas Diana yang berusaha terlihat santai padahal sebenarnya Gejolak dalam hatinya sedang bertemu ruh karena merasa kecewa dengan setiap kata yang dilontarkan oleh orang tuanya tentang keinginannya menjadi seorang desainer yang hebat di dunia.
Mala hanya bisa menghela nafasnya kasar sebab ia tahu sebagai seorang anak,Diana tidak pernah ada niat untuk menceritakan keburukan orang tua sendiri.
Hanya saja kesalahan seseorang biarpun ditutupi serapat mungkin pasti bakal ketahuan juga,karena yang di inginkan semesta yaitu kesalahan yang terjadi harus di perbaiki agar cepat selesai dan tidak berlarut larut.
Mala yakin Diana pasti tidak ada niat untuk membantah jika kedua orang tua nya bisa diajak bicara jika memang mereka mau mendengarkan perkataan orang lain meskipun itu putri mereka sekalipun.
"Nenek tidak bertengkar kok sama Papa dan Mama nya kamu,hanya saja ingin merubah pola pikir mereka yang kelewat aneh itu. Masa iya keinginan anak sendiri dikatakan tidak masuk akal sedangkan pemikiran mereka di bilang yang terbaik,kalau sudah begitu kan sama saja melarang orang untuk berpendapat apalagi berpikir!" Sungut Mala tapi mau bagaimana lagi sebab tidak mungkin juga dirinya berada di situ terus.
"Apa kamu tidak ada niat untuk pulang,atau menyewa apartemen sendiri biar nanti Nenek yang urus bila perlu kita beli sekalian?" Tanya Mala memastikan.
Diana mulai berpikir tapi langsung dicegah oleh Arin yang katanya isi otaknya lebih brilian dibandingkan Diana,yang menurutnya terlalu lelet dan juga tidak bisa di pakai untuk patokan sebuah keputusan.
__ADS_1
"Lebih baik Nenek belikan Apartemen untuk Diana,bukannya aku tidak mau dia tinggal disini hanya saja biar dia lebih gampang berekspresi tanpa terganggu atau merasa tak enak hati sama Papa dan Mama disini!" Jelas Arin.