
Ana kebingungan harus menjawab apa dengan pertanyaan Alan barusan apalagi dengan nada sinis pria itu yang terlihat seperti Ana sedang didakwa karena menjadi tersangka, padahal dirinya tadi itu sedang sibuk dan tidak mungkin juga harus 150% terus mendekati Alan untuk berduaan.
" ceritanya kamu mau marah begitu kepadaku? Terus menurut kamu aku bakalan minta maaf karena sudah melakukan kesalahan tanpa disengaja, padahal kamu sendiri tahu kan kalau aku itu tadi bekerja bukannya duduk sambil senyum-senyum sendiri kepada para pelanggan?" tanya Ana yang ikutan kesal melihat sikap Alan yang begitu kekanak-kanakan.
" Oh jadi kamu secara tidak langsung menyalahkan aku karena sudah datang kesini dan mengganggu pekerjaan kamu, Wah Kamu bukannya berterima kasih karena setiap hari aku datang ke sini untuk memastikan Keadaan kamu baik atau tidak Tapi begini reaksi kamu?" astaganaga Kenapa mereka berdua jadi berdebat ya?
" Jadi ceritanya kamu tidak ikhlas datang ke sini Terus menurut kamu aku pernah memaksa untuk kamu datang, kalau memang tidak ikhlas ya sudah pulang ngapain juga masih ada di sini Bila perlu sekalian pulang ke Kanada di orang tua kamu biar pikiran aku tidak tambah mumet?" ujar Ana tak kalah kesal ketika melihat sikap Alan yang memarahi dirinya pada jelas-jelas salahnya dimana.
Alan menatap tajam kearah Ana yang dengan mudahnya mengusir dirinya tanpa memikirkan Perasaannya sama sekali, marah sih boleh tapi kata-kata yang dikeluarkan harus mengingat perasaan orang lain kira-kira bisa diterima atau tidak.
melihat sikap keras kepalanya Ana itu Alan angkat tangan karena memang selama ini wanita yang sudah dianggapnya sebagai belahan jiwanya itu tidak pernah menganggap arti dirinya itu apa, bahkan dengan mudahnya selalu saja memarahi dirinya meskipun kesalahan itu kecil saja yang dilakukan.
"Kamu benar benar yakin untuk menyuruh ku pulang,atau ini memang keinginan kamu selama ini untuk mengusir ku secara halus?" Tanya Alan dengan tatapan menyelidik kearah Ana yang terlihat sedang menatap jengah kearahnya.
__ADS_1
"terus urusan semua itu dengan kamu apa,memang nya harus aku jelaskan semua secara terperinci tentang apa yang sedang aku pikirkan?" Tanya Ana balik.
" Baiklah kalau memang itu maunya kamu aku bakal melakukan sesuai dengan keinginan kamu tanpa ada penolakan sama sekali,hanya saja apa sedikitpun tidak ada penyesalan dari kamu atas semua ini?" Tanya Alan memastikan sebelum semua nya terlambat.
" menurut kamu tipe orang seperti aku itu adalah manusia yang cepat berubah pikiran begitu, Kamu kan tahu kalau aku sudah mengatakan tidak Maka hasilnya tetap tidak dan tidak ada yang namanya perubahan pendapat ataupun pemikiran dalam hitungan menit?" jelas Ana kesal karena sepertinya Alan itu hanya berniat mempermainkannya saja dari tadi Bukannya pergi malah bertanya ngelantur kesana kemari.
" Ya sudah tidak masalah Aku bakal mengikuti Apa keinginan kamu, mulai dari sekarang kita ngatur jalan masing-masing Kamu kemana aku kemana Dan mungkin aku bakalan balik ke Kanada sekarang juga. karena Percuma saja bertahan disini karena orang yang membuat aku bertahan sudah tidak ada, aku balik Terus terima amukan Mama yang ngebet sekali pengen supaya kita segera menikah?" jelas Alan tanpa diminta sedikitpun oleh Ana.
Alan tersenyum senang dalam hati karena dirinya yakin mendengar perkataan Ana tadi yang begitu cemas masih ada Tersisa sedikit rasa di hati wanita itu, meskipun hubungan ini yang selama mereka jalani tidak pernah ada kata sehat selalu diwarnai dengan perdebatan tanpa henti nya dan penyebabnya adalah kekonyolan yang dilakukan Alan dan juga kekesalan yang selalu dilimpahkan oleh Ana.
" mama sama papa Maaf ya kalian aku carikan kambing hitam Soalnya kalau tidak anak kalian yang ini tidak bakalan menikah juga sampai kapanpun, jadi untuk cari aman Agar calon menantu kalian tidak marah-marah dan mengusirku mau tidak mau kalian harus kubawa bawah di dalam hal ini." batin Alan yang merasa bahagia karena melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Ana sekarang ini bukannya marah seperti tadi melainkan begitu cemas.
" tapi untuk apa juga aku bertahan sedangkan aku sudah tidak punya siapa-siapa disini untuk bikin Aku Bertahan, terus Papa sama Mama kalau aku panggil ke sini mereka itu maunya datang untuk melamar calon istriku Bukannya datang terus tinggal?" perkataan Alan itu membuat Ana mendengus kesal karena sepertinya dirinya terjebak oleh perkataannya sendiri maklum hati sama Otak tidak konkrit seperti itulah jadinya.
__ADS_1
" kamu itu dari tadi sengaja melakukan itu agar aku berubah pikiran terus merasa cemas ke kamu dan akhirnya meminta kamu melakukan hal ini, Ya sudah kamu menang karena aku tidak bakalan membantah kamu lagi dan maaf juga ya tadi aku sudah sempat marah-marah tidak jelas ke kamu?" Ana akhirnya pasrah menurunkan egonya karena biar bagaimanapun masalah keduanya itu hanya sepele saja tidak ada yang terlalu besar.
Alan tersenyum smirk karena akhirnya dirinya tidak jadi balik ke Kanada, Lagian masa iya dirinya mau meninggalkan Ana begitu saja sedangkan keduanya Tadi hanya salah paham akibat dirinya yang awalnya marah-marah tidak jelas.
" Jadi ceritanya kita berdamai ini, Wah Syukurlah kalau kayak begitu Soalnya Siapa juga mau balik ke Kanada dengan posisi masih menjadi jomblo sejati? makanya lain kali itu kalau pacar sendiri datang setidaknya dihargai dululah kedatangannya disapa dalam apa begitu senyuman kah biar makin gembira Ini hidupku, bukannya malah mementingkan pekerjaan yang ada kan aku merasa tidak dianggap sama sekali?" jelas Alan membuat Ana hanya bisa menghela nafasnya kasar Percuma saja sih pertobatan pria itu kalau akhir-akhir ini tidak ada pengertian sama sekali di dalam benaknya.
" kamu sudah makan atau belum biar aku suruh Rena Untuk mengantarkan kemari, soalnya aku juga belum makan sama sekali sih maklum tadi pelanggan begitu membludak jadi bingung mau dilayani Yang mana lebih dahulu? " tanya Ana perhatian membuat alat begitu bahagia karena ini yang dari tadi dirinya tunggu.
" Nah kalau begini kan dunia terasa indah bukan seperti tadi yang marah-marah tidak jelas terus hasil akhir jadi berdebat, tapi untuk sekarang makanan itu belum penting aku mau mendengar perkataan kamu yang tadi Kalau menyuruh orang tuaku untuk datang ke sini." Ana bingung harus menjawab apa karena Biar bagaimanapun perkataan yang tadi itu adalah spontanitas bukan karena sudah disengaja ataupun telah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.
" sebenarnya itu aku Bukannya ingin mengelak atau berbohong soal kejadian yang sebenarnya, hanya saja aku memang sengaja menyuruh orang tua kamu datang ke sini biar segera menemui Papa sama Mama. soalnya kita berdua kalau seperti begini terus terasa sudah seperti ABG labil padahal umur sudah Setua ini, maka dari itu sebelum semuanya terlambat ya lebih baik kan di Satukan lebih dahulu biar aku bakalan ikut sama kamu kemanapun dan dimanapun!" sumpah demi Dewa Neptunus jika Alan itu adalah anak kecil bisa dipastikan pria itu seru berjingkrak-jingkrak kegirangan sebab Siapa yang tidak bahagia ketika impiannya selama ini akhirnya terwujud di depan mata hanya karena insiden kecil tadi.
" jadi kamu beneran mau melakukan apa yang aku inginkan dengan memanggil kedua orang tuaku datang ke sini, Baiklah kalau begitu nggak usah mereka bakalan timba disini tanpa terkecuali dan kamu tolong ngomong sama mama dan papa Usahakan menghubungi keluarga mereka karena aku bakalan datang melamar kamu secara resmi tanpa gangguan siapapun." ujar Alan begitu antusias sehingga tanpa sadar langsung memeluk Ana yang begitu pas.
__ADS_1