MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 61


__ADS_3

Like N KOMENNYA


LOPE U FULL


LANJUT ***


Astaga guys maaf ya, semalam itu mataku dayanya sisanya 5 w jadi nulisnya pada amburadul.


maklumlah guys Terkadang manusia hanya bisa merencanakan saja tapi semua itu atas izin dari yang kuasa, karena biar bagaimanapun kita semua adalah ciptaannya.


Bolehkah Alan merasa lega kali ini ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Alika, sepertinya tidak Walaupun menikah dengan Dafa Tanpa Cinta tetapi Alika bukan tipe wanita yang mempermainkan sebuah hubungan.


" jadi benar-benar tidak ada Kesempatan untukku?" tanya Alan memastikan.


" terus kamu maunya aku musti Jelaskan kayak gimana lagi, pernikahan besok dan kamu tahu kan bagaimana kekuatan keluarga Adrian? semua pasti sudah beres begitu dia pulang ke rumah, jadi tolonglah jangan membuat sahabat ini berubah jadi wanita yang plin plan!" pinta Alika sambil memaksakan senyuman di wajahnya.


Alan bingung harus berbicara apa lagi sikap keras kepalanya Alika itu bukan hal yang baru ia hadapi, jadi sepertinya keputusan Alika tidak akan pernah bisa terjadi.


" jadi memang kesempatan buat aku tuh tidak pernah ada, dan kamu selalu menganggap aku hanya sebatas sahabat?" tanya Alan Lirih.


" kamu jangan mulai deh membahas hal yang tidak jelas, pikiran aku udah mumet bingung harus mau ngapain lagi? sudah keluar sana aku mau tidur, soalnya nggak lucu kalau pengantin matanya saingan sama Panda!" usia Alika sambil menarik tangan Alan agar keluar kamar.


" kalau kamu berubah pikiran gimana kalau kita malam ini kabur ke Kanada, tenang aku bakalan tanggung jawab kok dan tidak akan membiarkan kamu jadi gembel di sana?" tawar Alan membuat Alika yang tadinya hendak menutup pintu langsung menatap kearah pria itu serius.


" maksud kamu?" tanya Alika memastikan.


" ya Aku ingin mengajak kamu liburan ke Kanada, nanti setelah itu itu baru kamu balik ke sini itu ngitungin menjernihkan pikiran kemudian memastikan apa keputusan yang kamu ambil itu sudah benar atau belum!" jelas Alan penuh antusias karena melihat sepertinya Alika tertarik dengan perkataannya.


" tapi aku terlihat seperti pengecut karena lari dari keputusan yang sudah aku sepakati, lagian kayaknya tidak ada salahnya deh menikah ah dengan pria yang arogan seperti Dafa karena itu menjadi tantangan tersendiri untukku!" ujar Alika sambil tersenyum.


tubuh Alan lemas seketika, dipikirnya Alika bakalan menuruti kemauannya ternyata setelah diangkatnya tinggi-tinggi dihempaskan ke bawah karena rasanya pedas amat.


" terserah kamu sajalah, aku mau pulang ke rumah nanti lihat saja besok kalau ada malaikat cantik datang membangunkan gua berarti aku bakalan datang ke pernikahan kalian tapi kalau tidak ya sudah." pesan Alan memaksakan senyuman di wajahnya.


" eh Buluk, kalau tahu begini mendingan tidak usah datang sama sekali! masa iya sudah diundang secara baik-baik, eh kamunya malah ngeyel dasar menyebalkan!" sungut Alika Ketus'


" Oh ya, diundang secara baik-baik nya kapan ya? kata-kata manis apa yang kau dustakan, perasaan aku tidak ingat sama sekali deh selain dari kata-kata yang membuat hati aku sakit!" perkataan Alan sambil Melambaikan tangannya layaknya kebiasaan sih Eyke membuat Alika merasa kesal dan ingin sekali menghajar pria.


" kamu masih normal kan? jangan bilang menungguku ada alasan kamu saja, padahal sebenarnya kamu sudah menyimpang?" Alika dengan tatapan tajamnya.


" kamu kalau ngomong yang benar saja dong, masa tampang aku pria tulen andolan begini kamu malah ngomong seenaknya saja!" sungut Alan tak terima.


" ya maka dari itu aku suruh kamu untuk carikan gandengan, biar jangan kelihatan Jomblo Ngenes melulu!" Alika menutup pintu kamarnya.


Alan yang benar-benar sedang patah hati tidak ada niat sama sekali untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Dika tadi, Ya iyalah dirinya jelas tidak mengikuti permintaan pria tua itu yang ada bukan patah hati tapi hasilnya tambah hancur.


karena sedari tadi belum ada makanan yang masuk ke dalam lambungnya, Alan memilih untuk pergi ke salah satu kafe yang tidak terlalu jauh dari kediamannya Mariano.


Sesampainya disana Cafe itu itu cukup ramai oleh pengunjung, karena memang dirinya sedang tidak ingin kemana-mana mau tidak mau ia memilih tempat yang paling pojok untuk menyendiri.


tanpa dirinya sadar kalau Cafe itu adalah milik sahabatnya dan Alika yaitu Ana, terlihat wanita itu turun tangan membantu karyawannya yang sedang kerepotan karena pengunjungnya membludak.

__ADS_1


" Ya ampun Ibu harusnya tidak perlu bersusah payah seperti ini, Biarkan kami saja karena ini memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kami!" ujar Ella yang merasa tak enak hati kepada majikannya itu.


" kamu itu bisa diam tidak, bukannya senang dibantuin kamunya malah nyerocos tidak jelas?" sungut Ana memasang wajah cemberut nya karena memang sikap wanita itu selalu seperti itu juteknya minta ampun.


" kalau saya minta tolong sama Ibu boleh tidak?" tanya Ella memastikan Padahal tadi dirinya sempat menolak bantuan ditawarkan oleh Ana.


mendengar pertanyaan dari salah satu anak buahnya itu membuat Ana mendelik kesal, Bagaimana tidak tadi ditawari bantuan secara cuma-cuma malah ditolak ya sekarang giliran Ana mau istirahat malah disuruh.


" dasar pegawai tidak ada akhlak, cepat katakan apa yang kamu inginkan Sebelum aku berubah pikiran!" Ketus Ana tapi tak ditanggapi serius oleh Ella karena mereka tahu betul Bagaimana sikap majikan mereka yang tidak ada manis-manisnya setiap bertutur kata.


" itu meja yang di pojokan yang ada mas-mas tampannya belum dilayani, kalau bisa Ibu tolong dekati dia dan tanya apa yang ia inginkan!" perintah Ella membuat Ana ingin sekali menghajar pegawainya itu.


" Kamu itu aneh minta bantuan tapi kelebihan sekali, ya Kenapa tidak suruh aku yang disini menyiapkan kan yang dipesan terus kamu yang ke sana?" tanya Ana Tak habis pikir.


" kayaknya kalau saya yang ke sana artinya pekerjaan tidak bakalan beres, soalnya tuh cowok ganteng banget aku saja sampai meleleh. jadi kalau dekat sama dia terus bisa dipastikan tidak akan kemana-mana lagi, karena wajahnya Mengalihkan Duniaku! " ujar Ela yang bertingkah layaknya orang yang sedang Kasmaran.


Pletak


" dasar memalukan, untung juga tidak banyak yang datang melamar ke tempat kerja aku kalau tidak kamu orang yang pertama bakalan ku tendang keluar dari sini!" sinis Ana yang hanya dibalas senyuman Termanis dari Ela.


Dengan memasang wajah cemberut, Ana memilih untuk berjalan ke arah tempat duduknya Alan yang sedang menatap ke arah luar jendela.


" Permisi mas, mau pesan apa ya?" tanya Ana memastikan.


" apa saja yang penting bikin kenyang dan bisa menghilangkan stres!" sahut Alan tanpa menoleh ke sumber suara.


" kalau saya kasih racun boleh?" tanya Ana yang merasa Jengah karena pengunjung kafenya itu tidak ada sopan-sopan nya sekali saat berbicara dengan orang lain.


Alan yang sedang fokus menatap hiruk-pikuk keadaan di luar, mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang aneh itu.


Alan seketika menghentikan perkataannya ketika merasa Tak asing dengan wajah orang yang berada di depannya kini, karena wajah ini ini adalah orang yang sering ia temui dulu saat masih bersekolah bersama-sama dengan Alika.


sedangkan Ana seperti melupakan sosok yang ada di hadapannya, memang itu adalah mimpinya selama ini ingin melupakan pria yang sudah membuatnya Patah Hati.


" kamu Silviana Amelia, yang biasa dipanggil Ana ciri khas suara cempreng nya?" tanya Alan setengah tertawa tapi si Ana tetap memasang wajah datar.


" bisa jawab pertanyaan saya tadi, mau pesan apa biar ku siapkan sama karyawan saya?" tanya Ana yang berlaku seolah orang asing.


" kamu kenapa buru-buru, Padahal aku masih pengen ngobrol soalnya mumet memikirkan sekitar?" tanya Alan penasaran.


Anna menatap Jengah ke arah Alan yang berpikir seolah di dunia ini hanya dirinya saja yang punya masalah sedangkan orang lain tidak, padahal sebenarnya Ana lah yang sedang berusaha menahan mati-matian Gejolak sakit hati yang ia rasakan.


" pasti soal Alika lagi, Kenapa sih setiap ketemu harus membahas orang yang tidak ada di sekitar kita? setidaknya Mengertilah dengan perasaanku ini, aku juga wanita ingin diperhatikan ingin dimengerti!" kata-kata itu terhenti hanya di dalam batinnya Ana saja tanpa berani mau membicarakan langsung kepada Alan.


" aku masih punya pekerjaan yang lebih penting daripada ngobrol sama kamu, Lagian kamu kalau punya masalah kan selama ini ngomongnya sama Alika kenapa sekarang harus memaksakan untuk ngomong sama aku?" tanya Ana sinis.


" Alika sudah miliknya orang lain, jadi karena kamu belum punya siapa-siapa ya Aku ingin jadi teman ngobrol? Apa memang tidak boleh seperti begitu, Kita kan teman dari dulu masa kamu lupa?" tanya Alan penasaran.


" Aku tidak ingin menjadi teman ataupun sahabatnya kamu, tapi yang aku inginkan adalah menjadi orang yang spesial seperti Alika di dalam hati kamu!" Ana tak bisa berkata secara langsung biarlah perasaan itu ia pendam sendiri.


" Oh jadi karena kali kau sudah ada yang punya jadinya kamu nyasar kesini, Coba kalau belum kamu bakalan ingat aku atau tidak?" tanya Ana sinis.

__ADS_1


" Astaga Anna bisa tidak jangan terlalu sensian seperti itu, Aku ini lagi patah hati Bukannya kamu hibur malah kamu bikin tambah remuk?" lirih Alan frustasi.


" yang patah hati itu kamu Bukannya aku, jadi bodo amat mau pedulikan kamu! sudah kamu niat mau pesan makanan atau tidak, kalau tidak Silakan keluar dari tempat ini sekarang!" ujar Anna Ketus lalu menjauh dari tempat itu dan menuju ke ruangannya.


sedangkan Alan merasa tak terima dengan perubahan sikap yang ditunjukkan Ana untuknya, karena dulu Ana tidak pernah bersikap seperti ini padanya bahkan wanita itu selalu ada disaat dirinya galau berkali-kali ditolak oleh Alika.


" dia lagi PMS ya, kok bisa-bisanya memarahiku Padahal setelah bertahun-tahun baru ketemu?" tanya Alan heran lalu segera bangkit dari tempatnya untuk mencari keberadaan Ana.


Ella yang melihat wajah majikan begitu bersedih membuat ia Tak Tega untuk bertanya panjang lebar lagi, apalagi Ana yang biasanya marah-marah kali ini hanya diam saja dengan wajah datarnya menuju ke dalam ruangan pribadinya.


" Ibu Ana Kenapa lagi, sejak berbicara dengan Mas Tampan itu Roman wajahnya berubah jadi lain?" batin Ella penasaran.


ketika Tengah asyik dengan pikirannya tanpa Ella sadari Alan sudah berdiri di hadapannya, membuat wanita itu berjingkat karena kaget.


" Astaga Mas, kalau mau nongol itu sadar-sadar dong, untung juga aku tidak jantungan kalau tidak mah bisa berabe urusannya!" kesal Ella.


" Ana kerja di sini?" tanpa menghiraukan perkataan Ella tadi Alan hanya fokus dengan keberadaan Ana.


" Ada urusan apa ya cari majikan saya?" tanya Ella penasaran.


" Oh jadi ini tempat miliknya dia, terus dianya sekarang di mana Saya mau ketemu dan ngobrol sama dia?" tanya Alan lagi.


Ella sebenarnya tidak ingin mengatakan Dimana keberadaan Ana karena takut nanti dimarahi oleh majikan yang super duper jutek itu.


hanya saja melihat tadi kedekatan antara Alan dan Anna membuat Ella yakin jika mereka itu sudah saling mengenal, jadi tidak ada salahnya dong mengatakan Di mana keberadaan wanita cantik itu.


" Ibu Ana sedang berada dalam ruangannya, Ingin Bertemu Dengannya silakan lurus saja nanti ada pintu yang catnya warna biru Nah itu dia ruangannya!" ujar Ella sambil tersenyum.



bagaimana ia tidak meleleh ketika melihat senyuman Alan yang begitu menggemaskan, pokoknya tidak perlu cari vitamin mata karena sudah ada di depan mata.


" Terima kasih Mbak cantik, kalau begitu saya pergi ketemu sama si tukang ngambek dulu ya!" pamit Alan membuat Ela meleleh.


" Ya Tuhan itu Senyumnya bisa ngalahin gula sama madu, Wah kalau tiap hari tinggal sama dia Persetan mau harga gula mahal karena dalam rumah sudah kelebihan manis!" batin Ela sambil senyum-senyum sendiri.


Alan kini sudah berhenti di depan pintu yang berwarna biru sesuai dengan instruksi dari Ela tadi, dirinya sempat ragu untuk mengetuk pintu itu karena tadi dilihatnya Anna begitu kesal padanya.


" aku masuk atau jangan ya, tapi kalau tidak masuk dianya kan masih kesel sama aku kapan masalahnya bakalan beres?" batin Alan frustasi.


karena dirinya hafal betul Bagaimana sikap seorang Silviana Amelia, wanita cantik yang kalau marah bisa ngalahin emak tiri yang lagi ngamuk.


tapi yang satu Alan tahu kalau Ana itu memiliki sifat yang tidak tegaan, dirinya bakalan luluh ketika ada orang yang minta tolong ataupun berbicara manis dan mengakui kesalahan.


" Baiklah Alan Smith, pasang kuda-kuda yang baik siapkan mental baja kita mulai tempur!" batin Alan menyemangati dirinya dan langsung membuka pintu tempat Ana berada.


Ceklek


Ana yang sedang duduk termenung menoleh ke arah pintu dan merasa heran dengan siapa yang berada di situ, keningnya mengkerut karena sosok yang ada di depan pintu itu adalah sosok yang ingin Ia hindari selama hidupnya.


" kamu...

__ADS_1


belum selesai Ana berbicara Alan sudah memotongnya, karena jika tidak bisa dipastikan wanita itu bakalan nyerocos dari sekarang sampai selamanya.


" bisa tidak Biarkan Aku masuk dulu, nanti setelah itu terserah kamu mau bertanya apa aja sepuas kamu?" tanya Alan yang mencoba bersikap santai padahal sebenarnya hatinya sedang Dak Dik Duk tak karuan.


__ADS_2