
Sebenarnya Alan hanya bercanda tadi tapi ketika melihat wajah Ana yang memerah karena malu,maka dari itu dirinya memilih untuk merealisasikan nya secara langsung biar tahu gimana sih rasanya.
Ana awal nya menolak tapi karena melihat wajah Alan maka dirinya mau tak mau hanya bisa pasrah,dan kini dirinya sudah siap di eksekusi oleh Kekasih nya itu.
Hayooo mikir apa coba???
🤣🤣🤣😂😂😂😂😂
"Pelan pelan saya Sayang." pinta Ana pelan.
"Tapi ini harus kuat biar bisa masuk,karena punyaku terlalu besar!" Sahut Alan tetap pada pendirian nya.
"Ya makanya kalau bisa punya mu di kasih kecil dong,sudah tahu punya ku terlalu kecil dan masih sempit!" Sungut Ana tidak terima.
__ADS_1
"Hehe sabar sedikit lagi soalnya ujung sudah masuk,tapi pagi pangkalnya yang belum." Tawa Alan pelan.
Penasaran kan mereka lagi ngapain,ya iyalah mereka itu lagi mencoba permainan memasukan bola kedalam gelas,soalnya bosan juga kalau hanya duduk bengong.
"Ahhh aku capek,malas mau ngapain lagi soal nya ini gelas punya ku kecil terus susah sekali untuk di kasih masuk!" Ana sudah malas bergerak untuk melakukan sesuatu karena merasa capek dan juga bosan.
"Ya makanya aku kan sudah bilang untuk langsung mencoba secara di tempatnya daripada hanya pakai benda yang tidak berguna,tapi kamu yang selalu menolak dengan apa yang aku inginkan!" Alan memang ingin sekali membuat Ana hamil karena dirinya berpikir toh di dunia barat saja hal itu bukan menjadi sebuah masalah.
Akan tetapi Ana tetap pada pendirian awal jika sebuah hubungan yang baik itu harus di awal dengan sesuatu yang baik pula,bukan hanya karena nafsu semata yang merupakan hal yang sangat membuat seseorang hanya berpikir ke arah itu tanoa memikirkan hal lain lagi.
"Ya sudah karena kamu sudah emosi lebih baik kita pergi ke Apartemen ku saja,siapa tahu kamu tidak bakal suntuk karena ketemu dengan Mama yang super heboh!" Jelas Alan sekaligus memberikan tawaran yang pasti agar tidak berlalu lagi.
"Ya sudahlah daripada kalau kamu disini terus lama lama bisa rusak isi otak ku,dan juga aku juga masih ingin jauh dari dosa." jelas Ana dan Alan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Kini keduanya hendak pergi kearah Apartemennya Alan,yang sebenarnya sedang terjadi kehebohan di sana.
Bagaiamana tidak Lia masih tetap kekeuh untuk tidak mau pulang ke rumah,sebab ia masih kesal dengan sikap suami nya itu yang selalu saja cari masalah dan juga memancing masalah.
"Mah,ayolah jangan seperti itu dong,memang nya kamu pikir kita berdua ini masih pacaran atau apa sih?" Bujuk Andra tapi sudah mulai tersulut emosinya.
" Kamu kalau mau pulang ya silahkan saja kenapa harus ajak ajak,memang nya kamu pikir aku yang bawa kaki kamu untuk kemana mana?" Tanya Lia sinis.
"Tapi kan aku itu suami kamu yang harus nya kamu dengar dan tidak ada bantahan sama sekali,memang nya kamu pikir aku mau menjadi pasangan yang pisah ranjang?" Tanya Andra tak terima.
"Ya mungkin kita berdua memang harus pisah ranjang?" Tanya Lia santai.
"Astaga bisa tidak kalau bicara yang jelas sedikit jangan asal nyeplak saja,menurut kamu nanti Ana bakal berpikir apa ketika melihat kedua orang tua nya seperti Abg nakal?" Tanya Andra mencoba membuka pikiran Lia agar lebih paham dan tidak mengatakan hal yang aneh aneh lagi.
__ADS_1
"Ya tinggal menjelaskan saja apa yang harus dikatakan,tidak usah berbelit belit dengan hal yang sangat tidak berguna." Lia terlihat begitu santai seolah tanpa beban sedikitpun.
Sandra dan Alexis memilih hanya menjadi penonton setia saja,karena biar bagaimanapun hal itu merupakan urusan keluarga orang lain dan keduanya tidak punya urusan untuk membahas hal yang tidak pantas untuk di bahas.