
Kini mereka semua sudah berbahagia dengan pilihan hidup masing-masing sudah tidak ada pula Hati Yang Tersakiti, hanya yang masih menggantung di udara yaitu Deka dan Diana Gadis itu masih saja keras kepala ingin menyelesaikan kuliah dulu baru bisa menikah. Oleh karena Gadis itu tidak ingin disibukan urusan rumah tangga dan kuliah sekaligus,membuat Deka hanya bisa mengelus dada karena berusaha agar selalu dipanjangkan sabar nya.
Padahal pria itu sudah mengatakan bahwa ia tak pernah mempermasalahkan jika Diana tidak mengurus dirinya dan sibuk kuliah,hanya saja Diana mengatakan bahwa jika dirinya melakukan hal itu maka dirinya sama saja dengan istri yang tidak berbakti.
"Pokoknya aku mau selesai kuliah dulu baru menikah,tapi kalau Om memaksa ya sudah sana menikah sama Arin saja!" Omel Diana membuat Deka hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Tapi mau sampai kapan aku menunggu,kamu kan tahu kalau menunggu berjam jam saja sangat membosankan apalagi ini sampai setahun?" Tanya Deka yang memang benar benar ngebet ingin kawin.
"Ya sabar saja kali Om,bukan kah orang sabar itu bakal menjadi subur dan juga jadi sangat manis?" Tanya Diana pelan.
"Memang nya ada hubungan keduanya? perasaan itu hanya membuat orang semakin tua karena stres dan juga bingung,hanya kamu saja yang tidak memikirkan sampai di bagian itu?" Tanya Deka sambil menaikan alisnya sebelah.
"Hehe kalau memang tidak ada ya sudah Om saja yang mendaftarkan diri jadi orang pertama,karena bukan kah itu bakal lebih bagus dan juga bisa membuat Om jadi orang yang paling berguna?" Tawar Diana bahkan tanpa beban sedikitpun.
Arin yang masih berada di dalam kamar membuat Diana merasa heran,padahal biasanya gadis itu bakal kepo dengan segala urusan nya.
"Ini Arin kemana lagi,kok dari tadi belum nongol?" Tanya Diana pelan.
"Mungkin dia capek karena punya teman yang tidak ada pengertian sama sekali,Aku saja capek memikirkan nya!" Sinis Deka.
Diana ingin sekali tertawa melihat wajah cemberut milik Deka itu,ternyata pria dewasa bisa marah juga dan lebih parah nya lagi sambil memasang wajah cemberutnya.
"Om itu sangat menggemaskan,kenapa sih tidak jadi bayi tua saja?" Ledek Diana..
"Haii semuanya aku pergi dulu ya,soalnya sudah dikasih kabar sama Abang Cecep katanya ada hal penting yang ingin di bicarakan!" pamit Arin dengan gaya yang sangat perfect abis.
Diana menatap sinis kearah sahabat nya itu ketika menyinggung nama pria yang paling membuat dirinya Ingin sekali muntah,apalagi gaya Cecep yang menurutnya seperti orang yang hidup dijaman batu.
__ADS_1
"Palingan dia mau minta putus karena mau menikah dengan janda kaya di desa,wah kalau seperti itu aku bakal dukung karena memang kalian berdua itu ibarat panci sama gosokan nya!" Ujar Diana yang malas menatap kearah Diana yang sedang menatap sinis kearah nya.
"Om,kok bisa sih jatuh cinta dengan manusia seperti itu ? Padahal orang nya kalau bicara selalu membuat kepala sakit,dan juga tidak punya hati nurani saat mendoakan orang lain." Tanya Arin tak terima.
Deka tertawa kecil karena memang sebenarnya dirinya saja bingung,sebab memang bukan rahasia umum jika mulut Diana itu selalu saja membuat orang kepala sakit dan juga ia kok bisa sampai cinta mati seperti begitu.
"Aku kan manusia paling buat orang kangen dan juga tidak bisa berpaling kearah lain nya!" Sahut Diana penuh percaya diri.
Sepeninggal Arin kini tersisa hanya Diana dan juga Deka,keduanya bingung harus mengobrol apa sebab suasana berubah jadi canggung.
"Om,kenapa tidak pulang saja dulu nanti kalau kita di grebek kan urusan nya bisa berabe,masa iya kita harus di paksa menikah malam ini juga?" Tanya Diana.
"Justru itu lebih bagus karena aku sengaja melakukan hal itu,supaya kita langsung nikah saat ini juga tidak perlu setahun lagi!" Sahut Deka santai tidak peduli dengan wajah tak percaya milik Diana itu.
"Ah Om tidak asik dan juga ingkar janji,padahal kan sudah setuju dengan permintaan aku yang itu kan?" Tanya Diana tak terima.
Ketika Diana sedang berdebat dengan Deka berbeda dengan Arin yang menatap tak percaya kearah Cecep Masduki,karena ketika mereka janjian ketemu di Kafe tapi yang ada pria itu malah menghampiri dirinya di parkiran Apartemen.
Arin begitu tersenyum antusias ketika sang kekasih hati datang menghampiri dirinya padahal selama ini tidak sama sekali,maka dari itu Arin mengira ini merupakan kemajuan yang paling terbesar dalam hubungan mereka.
"Sayang,ayo cepetan soalnya kita hampir terlambat nih!" Panggil seorang wanita yang berdandan aduhai seperti tikus yang tabrak tepung sehingga kata menor pun tidak bisa menggambarkan penampakan yang ada di depan wajah Arin kini.
Gadis yang tadi antusias berlari menghampiri kekasih nya itu langsung menghentikan langkah kakinya,sebab ia tak tahu harus bagaimana Lagi.
Jika ditanya apa air matanya menetes oh jawaban nya tentu saja tidak sama sekali.
"Dia siapa?" Tanya Arin.
__ADS_1
Cecep berusaha tersenyum dan menampilkan wajah bersalah nya karena kejutan yang ia berikan secara tiba tiba,sebab memang ia tak punya rencana sama sekali dan dirinya akan menjelaskan kepada Arin saat di Kafe nanti tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi.
"Aku itu calon istrinya Cecep!" jelas Wanita itu.
"Oh begitu ya,boleh aku mendekat kearah situ?" Tanya Arin dengan gaya santai seolah tidak ada pengkhianatan yang baru saja terjadi.
"Untuk Apa?" Tanya Wanita itu lagi.
"Untuk salam tempel ini!" setelah mengatakan hal itu Arin pun menampar pipi Cecep kiri dan kanan.
Plak
Plak
"Awww,kurang ajar kamu Ya!" Teriak wanita itu histeris.
"Terima kasih karena aku sudah dikasih objek buat memberikan jurus tamparan maut milik ku,soalnya selama ini aku belum menemukan orang yang tepat!" sinis Arin lalu memilih pergi dari situ.
"Sakit ya?" Tanya Wanita itu sambil berusaha memegang tangan Cecep tapi di tepis oleh pria itu.
"Minggir kamu!" Sarkas Cecep tajam.
"Lho kok aku yang salah,padahal yang menampar kamu kan dia bukan Aku?" Tanya Wanita itu tak terima.
"Coba saja kalau tadi kamu jangan muncul dulu biar aku masuk kedalam mobil baru kamu keluar menjelaskan nya,dengan begitu pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi!' Sungut Cecep.
Wanita itu menatap tak percaya kearah Cecep yang malah mengorbankan orang lain daripada dirinya sendiri,padahal yang menjadi sumber masalah disini adalah pria itu sendiri.
__ADS_1