
Mala sebenarnya tidak khawatir kalau meninggalkan Diana sendirian dengan Arin ,karena mereka berdua itu meskipun saling berdebat tapi tidak pernah terpisahkan.
buktinya mereka berdua. baru beberapa menit Mala di situ entah sudah berapa kali mereka berdebat,dan selalu seperti itu tapi hasilnya bakal baikan lagi.
Karena persahabatan yang solid itu selalu saja tidak pernah ragu menyampaikan apa yang mereka rasakan ,karena memang akhirnya tidak akan ada dendam yang tersisa.
maka dari itu tidak usah mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya nantinya tidak akan menjadi sebuah masalah besar, karena setiap orang itu terkadang hanya mengeluarkan apa yang ia rasakan tetapi tidak berasal dari hatinya yang paling dalam sehingga tidak pernah ada dendam sedikitpun yang tersisa.
"Ya sudah kalian disini saja ya,soalnya Nenek harus pulang. Untuk uang bulanan kamu sudah Nenek Transfer,terserah mau belanja apapun tapi jangan pernah jadikan Apartemen ini sebagai gudang!" Setelah mengatakan hal itu Mala pun pergi.
Sepeninggal Wanita Lanjut usia itu kini hanya tersisa Diana dan Arin yang bengong,karena mau melakukan apa lebih dahulu.
"Yana,kamu tahu kan kalau aku anak Tata Boga? Jadi mau merasakan masakan aku yang pertama kali,sekaligus tukang koreksi rasa yang harus berkata jujur!" Tawar Arin.
"Dan kamu tahu juga kan kalau kamu belum bisa membedakan antara toples garam dan gula maka aku tidak akan pernah mau,sebab yang ada nanti bukan nya kenyang malah nanti antar nyawa ke Rumah sakit!" Omel Diana.
Arin memasang wajah cemberut nya sebab mendengar apa yang dikatakan oleh Diana adalah pukulan telak untuk nya,yang sedang mencoba menjadi seorang Koki yang handal.
"Kamu mah gitu kelebihan teganya,masa iya harus langsung mematahkan semangat orang begitu saja? Setidak nya kasih penghargaan dahulu entah apapun itu,baru kasih komentar kan tidak ada salah nya sama sekali?" Sungut Arin merasa kesal dengan gaya sindiran yang di lontarkan oleh Diana tadi.
Diana menatap heran kearah Arin yang malah minta penghargaan padahal masak saja belum,sedangkan perut nya saja sudah minta di kasihani soalnya cacing pada ngajakin perang.
"Kamu itu kalau sudah taruh semua makanan di atas meja baru boleh minta penghargaan,nah ini boro boro makanan ada orang bentukan nya saja tidak kelihatan!" Omel Diana ketus.
Arin cengengesan karena memang akhirnya sadar diri kalau apa yang ia tuntut tenyata hanya masih di angan,segala sesuatu yang ia katakan tadi memang belum ada bahan bahan nya jadi untuk apa menuntut sesuatu yang memang tidak perlu di tuntut.
"Ya sudah kalau begitu kamu delivery order saja aku mau pergi cari minum,nanti kalau mau pesan tolong kasih yang pedas ya karena aku lagi pengen." perintah Diana lalu segera pergi dari situ.
Arin tidak masalah jika kebagian jatah untuk memesan makanan,toh apa yang ia punya otomatis milik Diana juga kan.
Saat Diana sampai di Lantai bawah apartemen itu dan hendak menuju ke arah mobilnya Arin dirinya dibuat terkejut dengan kemunculan sosok yang tidak begitu asing bagi penglihatannya.
"Lho itu kan si Om,kok bisa ada disini? Bukan nya dia itu masih di Korea dan belum kembali,atau mungkin aku salah lihat saja?" Tanya Diana.
Dirinya memilih tidak ambil pusing hanya karena melihat sosok yang menurutnya sangat tidak asing,sebab ada urusan yang lebih penting daripada menjadi orang yang kebingunkebingungan tidak jelas.
Begitupun Deka yang juga merasa tak asing dengan sosok yang tadi sempat di lihat nya,tapi pemikiran nya sama saja dengan Diana yaitu mengira itu hanya sesuatu yang tidak nyata karena saking sangat merindukan nya.
__ADS_1
"Lebih baik aku segera mandi biar bisa cepat bertemu dengan jantung hatiku,soalnya memendam Rindu selama seminggu itu terasa begitu berat!" Gumam Deka monolog.
Kini pria itu sudah berada di unit Apartemen milik nya dan merasa heran dengan ada penghuni baru yang tepat berada di depan unit milik nya.
Karena terlihat begitu banyak barang barang yang di bawah masuk kedalam,dengan pemiliknya yang memberi perintah untuk meletakan di mana dengan nada setengah teriak dan lebih parah nya menggunakan Masker wajah layak nya pocong sehingga tidak kelihatan bentukan nya.
"Ya Tuhan Manusia model apa yang bakalan menjadi tetangga ku,hilang sudah kebebasan ku untuk menikmati hidup jika ada orang yang tidak jelas itu pindah kesini!" Gumam Deka sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd wanita ber masker itu.
Perjalanan jauh tidak di rasakan pria itu karena tujuan dirinya pulang adalah menemukan Diana dan mengatakan perasaan nya,bila perlu setelah itu langsung masuk lamar anak gadis orang biar langsung di bawa pulang untuk di ajak Unboxing.
Di lain tempat Raka sedang berdebat dengan Da Young yang benar benar kesabaran nya di uji habis,padahal sebenar nya tadi pria itu sudah berjanji untuk tidak mengganggu dirinya lagi tapi kenapa sekarang malah melanggar janji nya itu.
"Kamu itu sebenarnya punya perasaan malu tidak,sudah berapa kali aku katakan jika aku tidak tahu menahu soal tempat ini! Entah kalau pergi kota lewat manapun aku tidak peduli,tapi kenapa kamu itu berbuat seolah menjadi pria yang pemaksa?" Tanya Da Young sinis.
Raka hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena memang ia sebenar nya sadar jika sikap nya terlalu berlebihan,hanya saja tidak mungkin juga kan memaksakan diri untuk menjadi orang yang tahu malu jika masa depannya menjadi taruhan.
Alhasil Da Young yang bisa menggunakan bahasa asing menjadi sasaran pria itu tiap hari,hanya untuk mendapatkan jawaban atas apa yang ia alami sekarang.
"Aku bakal berhenti ganggu kamu jika mau mengatakan apa yang ingin aku dengar kan,kalau kamu sudah bicara aku pun tidak ada niat untuk dekat dengan kamu!" Bujuk Raka yang terlihat begitu santai seolah tanpa beban.
Da Young mengambil air yang biasa ia pakai untuk cuci tangan menyiram kearah Raka yang malah tak mempermasalahkan nya sama sekali,karena baginya itu memang pantas di dapatkan akibat dari perbuatan nya yang menganggu orang lain.
"Sudah mandi bersih kan jadi bisa kah kamu pergi dari sini,soalnya aku capek mau istirahat dan tidak ingin di ganggu sama sekali?" Usir Da Young.
Raka menghela nafasnya kasar mendengar apa yang di katakan oleh wanita itu,kenapa bisa setega itu mengusir dirinya tanpa memikirkan apa yang ia rasakan.
"Tapi bisakah aku mendapat apa yang sepadan dengan apa yang aku dapatkan sekarang ini, karena Biar bagaimanapun Apa yang kamu lakukan ini sudah benar-benar meruntuhkan Harga Diriku sebagai seorang pria?" Tanya Raka memelas.
"Tapi kamu yang selalu menggangu ku dan apa yang kudapatkan selain merasa terganggu,itu saja tidak pernah kamu pikirkan malah membuat orang lain merasa emosi?" Tanya Da Young tak mau kalah.
"Tapi aku kan hanya bercanda saja jadi tidak mungkin juga kan kamu merasa terganggu,kecuali memang kehadiran ku kamu sangat tidak menyukai nya!" Sahut Raka yang memang tidak pernah tertolong dengan keadaan yang tengah menimpa dirinya.
"Aku tidak tahu menahu soal kejadian yang tengah kamu alami,hanya saja kalau kamu mau berkomentar lebih baik kamu hubungi saja orang yang sudah mengirim kamu datang kesini! Pergi kearah depan sana kebetulan ada telepon umum,dan ini nomor orang yang sepertinya bisa menolong kamu!" Ujar Da Young akhirnya memilih menolong Raka daripada terus menerus di teror oleh pria itu.
Raka menatap tak percaya kearah angka beberapa digit yang diberikan pada nya,sungguh perjuangan yang menguras pundi pundi kesabaran nya dan juga harga diri yang menjadi taruhan nya.
Siapa yang tidak bahagia ketika harapan itu semakin menjauh,ternyata kembali lagi dan langsung dengan membawa hasil yang sangat di harapkan.
__ADS_1
"Ini benarkah untuk ku,atau kamu hanya sedang mempermainkan aku saja?" Tanya Raka memastikan dengan wajah yang begitu bahagia.
"Kalau tidak mau ya sudah tapi tolong jangan berlebihan dramanya,karena bertemu dengan mu setiap hari saja membuat aku gila apalagi selama nya! Jadi kalau bisa sekarang kamu pergi dari sini,karena jarak 3 kilo dari sini itu jalan raya dan sering di lalui oleh kendaraan!" usir Da Young sambil mengibaskan tangan nya membuat Raka terhenti untuk bertanya dan memasang wajah datar nya.
Karena memang dirinya merasa yakin jika sedang di kerjain,sebab dari awal saat datang kesini sudah diberi tahu bahwa tempat ini terpencil dan tidak terjangkau apapun.
Tapi kenapa wanita tomboy ini malah mengatakan jika ada mobil dan telepon umum,kalau tidak sedang membohongi nya terus kata kata yang pantas untuk di sematkan itu apa?
"Ambil kembali barang barang kamu ini karena aku tidak membutuhkan nya,lain kali kalau mau berbohong tolong jangan terlalu meyakinkan Karena manusia yang sangat mengharap kan seperti aku ini bakal dengan mudah nya percaya apapun yang di katakan!" Sinis Raka dan mengambil tangan Da Young.
Wanita itu menghela nafasnya kasar karena bingung harus bagaimana Lagi untuk membuat pria yang sudah terlanjur kecewa itu percaya padanya,memang ia akui ini semua akibat dari kesalahan nya juga sehingga pria itu kecewa.
"Kamu pikir aku tidak punya kerjaan yang lain nya lagi sehingga harus sibuk dengan urusan pribadi mu yang tidak jelas itu,aku itu capek harus di ganggu sama kamu ya makanya aku memberikan kertas ini!" Sarkas Da Young kasar dan memilih pergi dari situ karena tidak bisa di pastikan tangan nya yang suka sekali menghajar orang bakal memukul pria itu sampai sukses.
"Jadi kamu tidak sedang bercanda dengan ku kan,atau memang ini kenyataan?" Tanya Raka lagi yang terlihat sudah begitu antusias.
"Menurutmu apa kita pernah dekat,atau pernah saling kenal sebelum nya jadi aku harus capek atau bersusah payah untuk akrab dengan mu?" Tanya Da Young dengan tersenyum mengejek.
"Tidak masalah kamu mau bilang apa,bila perlu kamu memaki aku pun tak masalah. Terima kasih karena sudah mau menolong ku,aku janji nanti kalau kamu liburan di Indonesia aku bakal borong Rendang dan juga Sate Padang untuk kamu makan selama berada di sana!" Janji Raka tapi tidak sadar jika Da Young tengah menatap heran kearah pria itu.
Bagaimana tidak heran sebab sampai di sana saja belum,terus apa ada orang yang bakal menolong nya atau tidak malah sudah dengan penuh percaya diri menjanjikan sesuatu yang kebenaran nya tidak bisa di tebak.
"Kamu kalau kebanyakan bicara nanti mobil nya pergi akibat nya kamu tidak akan pernah keluar dari sini sampai tiga hari dari sekarang,Soalnya itu mobil hanya dua kali dalam seminggu kalau mau ke kota!" Jelas Da Young membuat Raka segera pergi kembali kedalam rumah dan memakai pakaian nya.
Pria itu bagaikan menang jakcpot secara tak terduga bahkan nilai nya tak terhitung berapa banyak,sehingga membuat siapa saja pasti bakal ikutan senang karena merasa kegembiraan dari Raka yang menular itu.
Sepeninggal Raka,wanita yang menolong nya tadi hanya bisa menghela nafasnya kasar karena terpaksa melanggar janji kepada orang yang sudah menyelamatkan dirinya.
"Maafkan aku Tuan Deka,karena sudah melanggar janji ku kepadamu. Akan tetapi aku melakukan hal ini karena memang sangat terpaksa,jika tidak maka aku bakal merasa sangat terganggu dengan kehadiran pria yang kau suruh aku untuk menjaga nya!" Gumam Da Young monolog.
Setelah dirinya sedikit melow drama,tiba tiba kehadiran Mama nya dengan nafas yang memburu dan langsung menampar Pipi Da Young hingga membuat sudut bibir wanita itu sampai berdarah.
Plak Plak
Anak kurang ajar,siapa yanh menyuruh mu melakukan hal itu? Nanti kalau Tuan Deka marah kita juga yang baka kena imbas nya,dan kamu mau kena amukan dari orang yang berkuasa di negara nya itu?" Tanya Ja Young karena memang tidak menyukai sikap putrinya itu.
"Tapi Mah,aku capek tiap hari harus di teror oleh pria itu tanpa terkecuali. Bahkan du setiap sudut manapun aku bersembunyi pasti dia bakalan tau,lebih baik membuat dia pergi kan tidak masalah karena setelah itu tergantung nasib nya entah beruntung atau tidak aku tak peduli!" Da Young benar benar memasang wajah emosi tapi ia tahan karena tidak mau menjadi anak durhaka dengan menghajar orang tua nya sendiri.
__ADS_1
"Kamu kenapa melakukan sesuatu tidak pernah tanya apa pendapat Mama,selalu saja mengambil keputusan hanya menurut apa yang au pikirkan saja tidak pernah menghargai orang yang berada di sekitar kamu?" Tanya Ja Young karena memang sang putri itu tidak pernah kapok dengan keadaan dan juga kesialan yang selalu dia alami.
"Aku Tahu mana yang baik dan tidak,aku juga tahu jika setiap yang kulakukan pasti ada resiko yang harus di hadapi. Hanya saja yang aku ingin kan sekarang yaitu jauh dari segala macam gangguan baik dari siapapun,agar bisa menjalani hari dengan begitu tenang dan santai!" Jelas Da Young lalu pergi meninggalkan Mama nya yang hanya menatap sendu kearah nya.6