
Raka menatap tak percaya ke arah Deka Dengan entengnya mengatakan hal itu, padahal dirinya saja sedang mencoba untuk menahan malu dengan mengatakan hal yang tidak tidak ada agar Deka tidak memarahi dirinya habis-habisan.
" Eh kamu jangan ngomong sembarangan ya emangnya kamu pikir aku ini manusia yang urat malunya sudah putus, masa iya suruh aku fashion show dalam keadaan bugil? biar ganteng begini aku itu manusia yang mengedepankan asas ******** daripada asal nyeplak doang?" Raka bahkan tanpa sadar mengatakan hal yang membuat Deka mengerutkan keningnya.
" asas ******** itu seperti apa sih, saya kayak bingung menafsirkannya? karena dalam hidup saya hanya tahu asas praduga tak bersalah dan juga apalah yang itu, tapi kalau atas ******** kayaknya dalam otak kamu saja yang rada-rada binal membuat segala sesuatu selalu menjerumus ke arah situ! " Sindir Deka yang membuat Raka terdiam tak bisa berkutik banyak lagi sebab tadi dirinya itu keceplosan atau sok tahu antara bingung dan tidak.
" mulut mulut nya saya suka-suka saya dong mau ngomong apa kamu mah cukup mendengarkan hal itu saja, Lagian kamu tuh harus sadar diri kalau kamu itu hanya level bawahan tidak pantas mencari tahu hal apa yang terjadi pada Si Sultan! "Raka terlihat seperti sedang menyombongkan dirinya padahal tanpa dirinya ketahui pundi-pundi keuangan Deka mah jangan dibilang lagi banyaknya.
"Sultan dari bagian mana perasaan kamu itu kayaknya hanya bagian dari rumah hanya saja tidak termasuk di dalamnya, lain halnya jika Tuan Daffa yang mengatakan hal itu karena sangat pantas diberikan padanya? dan saya mendukung 150% kalau Nona Bos Alika memilih Tuan Daffa yang bisa dipastikan lebih dari segala-galanya dibandingkan kamu, karena dia punya ketampanan kesetiaan tajir melintir terus Si Otong nya tidak celup sana celup sini kayak teh celup! " wajah Raka seketika berubah mendengar sindiran yang diucapkan oleh Deka Bagaimana tidak itu merupakan sindiran secara halus tetapi langsung kepada orangnya.
tapi yang namanya Raka Sejak kapan kalau menyadari kesalahannya yang ada dirinya malah berusaha agar tidak pernah mengalah ataupun kalah dari hadapan orang lain, karena Biar bagaimanapun menurut pria itu harga diri seorang pria itu ditentukan bagaimana dia menghadapi sebuah masalah.
__ADS_1
" kamu pikir saya ini seseorang yang tidak punya harga diri jadi kamu mengajari saya soal itu, hei sebagai seorang pesuruh ataupun babu tetap bakal seperti itu tidak akan berubah jadi seorang Sultan Meskipun sudah kamu berusaha sekuat tenaga!" Deka memilih diam karena jika menggubris apa yang dikatakan Raka berarti dirinya sama dengan pria itu dia itu tukang nyolot.
" sekarang juga saya membeli anda dan harga diri Anda pun bisa, berapa harganya silakan Bilang saja nominalnya bakal saya bayar cash tanpa kredit?" Raka menatap tak percaya kearah Deka yang dengan percaya dirinya mengatakan hal itu seolah tanpa beban dan memang benar-benar memiliki sesuatu yang sebanyak itu.
" kamu yakin mengatakan hal itu itu apa nanti tidak takut menjadi seorang gembel, Tolong ya jangan terlalu percaya diri sebab para pengemis gembel dan tukang minta-minta di ibukota tuh sudah membludak terlalu banyak? jadi simpan rasa percaya diri itu terus kamu pulang kembali ke Tuan kamu dan katakan padanya untuk kembalikan calon istriku, karena nak kalau tidak aku bakal melakukan hal yang lebih nekat lagi daripada kayak kemarin! " perintah Raka yang terlihat begitu nyolot membuat Deka tersenyum sinis ternyata ada orang yang memiliki kepercayaan diri tingkat dewa seperti begitu.
"Kenapa tidak anda sendiri yang mengatakan hal itu kepada tuan Daffa, kenapa harus saya mengatakannya Padahal anda punya tangan punya kaki punya mulut untuk digunakan? dan satu lagi Tolong jangan memerintah saya seolah-olah gaji saya Anda yang membayarnya, dan silakan yang seperti tadi saya bilang keluar dari ruangan ini dalam keadaan begitu?" setelah mengatakan hal itu Deka segera keluar dari dalam ruangan tempat Raka berada karena jika berlama-lama di situ bisa dipastikan emosinya bakal meledak sampai ke ubun-ubun'
" Eh kamu mau kemana kembalikan pakaian saya sekarang, kalau mau nyolong itu lihat-lihat dong masa iya makan terus satu biji saja di badan harus kamu ambil juga? miskin si boleh tapi jangan sampai keterlaluan juga kan mau nyolong langsung depan tuannya, kalau bukan pencuri disebutnya apa coba masa iya minta tapi tanpa permisi?" Deka tidak peduli Raka mau berkoar-koar seperti model apapun karena baginya mengerjai pria itu adalah kesenangan tersendiri baginya.
" eh manusia Brengsek kamu mau kemana kamu meninggalkan aku sendirian di sini, mana ruangannya ini hanya ada kursinya saja tanpa tempat tidur terus nyamuknya juga pada nakal sukanya menghisap menggigit. untung juga mereka binatang Coba kalau berwujud manusia sudah bakal kubalas menggigitnya, Kenapa nasibku sosial ini sejak datang di negara ini? bukannya dapat Belahan Jiwa Malah dapat sengsara darurat, juga sudah seperti itu masa iya aku harus mengalah dengan keadaan padahal sudah dikerjain habis-habisan?" gumam Raka monolog karena bingung dengan apa yang dialaminya sekarang sudah begitu Deka pergi tanpa beban meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
sedangkan Deka memilih untuk berjalan keluar dari ruangan itu dengan senyum sumringah, sebab ternyata mengerjai seorang Raka Alfian itu sesuatu yang tidak sulit baginya karena buktinya pria itu bahkan sukarela melakukan hal yang tidak pernah di duga selama ini.
" pakaian pria itu kan tidak berguna untuk apa juga aku capek-capek bawa pulang lebih baik buang saja ke tong sampah, karena memang sesuatu yang sampah itu cocoknya di tempat sampah tidak cocok masuk ke dalam mobilku?" kebetulan saat Deka mengatakan hal itu dirinya melihat ada tempat sampah yang begitu besar di tepat di hadapannya.
setelah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Daffa, pria itu tidak bisa meninggalkan gedung itu begitu saja karena biar bagaimanapun mereka itu orang yang nekat dia bakal tidak akan peduli dengan keadaannya sekarang ini.
" mau tidak mau aku jadi satpam dadakan lagi ini untuk menunggu pria itu, bukan karena kasihan ataupun karena jeruk makan jeruk melainkan takutnya dia bakal keluyuran dan lolos dari pemantauan." batin Deka kalau masuk ke dalam mobil dan menatap ke arah gedung kosong ya salah satu ruangannya terdapat lampu yang menyala dan diyakini pasti itu ada Raka di dalamnya.
ketika Deka sedang menjadi satpam dadakan tiba-tiba terdapat panggilan dari Daffa, membuat pria itu mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Daffa meneleponnya di jam segitu jika tidak ada keperluan yang mendadak dan harus ia selesaikan saat itu juga.
"Halo Tuan, ada yang bisa saya....
__ADS_1
" Bagaimana pekerjaan kamu apa sudah beres atau belum, jika belum Jangan harap kamu pulang dari sini? kamu tahu Saya tidak ingin sesuatu hal yang penting ditunda, Saya juga tidak peduli dengan keadaan kamu sekarang karena tugas yang saya berikan itu penting dan tidak bisa Dianggap main-main!" perintah Daffa tegas dan tak ingin dibantah Deka pun memang tak ada niat untuk membantah karena dirimya paham betul bagaimana sikap bos nya itu.
" baik tuan saya tetap akan berada di sini dan tidak akan pergi kemana-mana, jadi Anda bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan hal lain!" Kasihan anak orang setidaknya dia kan masih jomblo Abadi kekal Sejati biarkan dia