
Ya Tuhan ini tiap hari kenapa selalu saja Nulis salah melulu,belum lagi jaringan 4G yang entah kenapa selama seminggu ini.
Jadi kalau banyak Thypo maaf ya para reader yang Budiman,soalnya auto pada nyeleneh kata kata yang terakhir.
LANJUT ***
" Siapa suruh kamu ada di sini tanpa izin Memangnya kamu pikir di sini itu panti sosial yang bisa menumpang semua orang, untung juga ku siram kamu pakai air dingin coba tadi Kalau pakai air mendidih sudah ganti kulit kamu?" sungut Diana sambil menatap tajam kearah Deka yang malah tidak mau kalah darinya.
pria itu daritadi sebenarnya sudah menahan kesal tapi karena melihat Diana yang masih berbicaranya diri bahwa ambang batas kemanusiaan jadi dirinya masih mentolerir hal itu, eh tahu tahunya sekarang wanita itu malah ngegas sebagai seorang pria dirinya tentu tidak terima dong harga dirinya dijatuhkan begitu saja.
" kamu ini selain berhidung minimalis ternyata mulut kamu tidak bisa untuk namanya ngomong sedikit, dari tadi nyerocos tidak jelas ngomongnya pun tidak pernah berhenti padahal tidak ada faedahnya sama sekali. asal kamu tahu ya perbuatan kamu ke saya yang tadi itu Menyiram air saya bisa lho melaporkan kamu kepada polisi, karena itu merupakan hal yang tidak menyenangkan dan membuat harga diri saya sudah jatuh ke bawah akibat dari perbuatan kamu itu?" tanya Deka namun bukannya membuat Diana takut wanita itu malah bertambah mendekatkan wajahnya ke arah pria itu seolah ingin menantang nya.
" Terus menurut kamu perbuatan menyelinap di kamarnya orang lain tanpa izin pemiliknya itu masuk dalam kategori kriminal atau tidak, jika bukan perbuatan yang tidak menyenangkan kalau saya ngomong kamu sebagai pelecehan hayo Menurut kamu gimana?" tanya Diana memastikan membuat Deka langsung bungkam karena sadar dengan kesalahan yang telah dirinya lakukan.
" Kenapa diam apa jangan-jangan yang aku katakan tadi itu benar dan Kamu akhirnya sadar dengan kesalahan kamu, Makanya jadi orang itu jangan terlalu nyolot hasil akhir bakal dipermalukan dan kamu jadi kebingungan mau jawab seperti apa?" tanya Diana sinis membuat Deka hanya bisa menghela nafasnya kasar.
" Kamu pikir aku diam itu karena takut dan tidak tahu harus menjawab apa, asal kamu tahu saja ya kalau aku itu diam sebab ingin melihat kamu kalau berbicara itu kekuatannya sampai di mana?" Deka mendekat kearah Diana hingga membuat tubuh wanita itu langsung kehapus seketika karena dirinya sudah terpentok di dinding tidak ada jalan buat ke kanan ataupun ke kiri sedangkan kedua tangan pria itu berdiri memalang nya agar tidak bisa kemana-mana.
" Kamu mau ngapain, ingat ya kamu jangan macam-macam atau aku bakalan teriak agar semua orang tahu kalau kamu itu pria mesum berkedok tampan?" tanya Diana memastikan tetapi Deka malah fokus dengan perkataan terakhir wanita itu.
" karena aku tampan jadi otomatis Terserah dong mau melakukan apapun sesuai dengan kehendak hatiku, kamu sebagai seorang wanita yang biasa saja tidak pantas Memberikan komentar yang begitu banyak karena sama saja menyalahi aturan!" sahut Deka sambil menaik turunkan alisnya.
nafas Diana tercekat di tenggorokan yang karena bingung harus berekspresi dan menjawab apalagi dengan semua perkataan yang dilontarkan oleh Deka barusan, Jika boleh memilih dirinya ingin meminjam pintu Kemana saja milik Doraemon agar bisa kabur dari pria itu.
sedangkan Deka begitu menikmati wajah ketakutan milik Diana itu yang seketika hilang dan tak berbentuk wajah arogannya tadi, karena ekspresi wanita itu sekarang sungguh sangat menggemaskan seperti anak kucing yang sedang memerintah untuk dikasihani.
" Kamu pikir aku ingin mencium kamu sekarang, Sorry aku hanya ingin mengambil kecoak yang sedang nangkring cantik di atas kepala?" goda Deka sambil berbisik ketika melihat Diana yang menutup kedua matanya.
__ADS_1
ketika mendengar kata kecoak Diana lalu tanpa permisi langsung loncat ke atas gendongannya Deka membuat pria itu langsung terhuyung ke belakang, hingga tanpa sadar kini keduanya sudah jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Diana yang berada di atas tubuhnya Deka.
jika jantung Deka berpacu begitu kuat berbeda dengan Diana yang terlihat celingak-celinguk mencari hewan yang selalu saja membuat orang ketakutan, padahal sebenarnya Bentuknya itu unyu banget loh Jika dilihat secara dekat terkadang Mungkin dia bisa tersenyum hanya kita tidak menyadari hal ituππ..
" Aduh ini orang Kenapa dekat banget ya Mana wajahnya polos tanpa dosa seperti begitu, apa dia tidak sadar kalau sebenarnya kinerja jantungku sedang tidak baik dengan posisinya yang seperti begini?" batin Deka prestasi karena sepertinya Diana seolah tidak mempermasalahkan keadaan mereka sekarang.
" kamu bisa tidak turun dari atas saya sekarang badan kamu itu berat sekali lama-lama tulang saya hancur remuk, Memangnya dikasih makan apa sih orang tua kamu apa Jangan bilang mereka kasih makan kamu pupuk Jadi akhir-akhirnya terlihat kecil di luar tetapi besar di dalam?" Deka sengaja mengatakan hal seperti itu agar Diana tersinggung dan menyingkir darinya.
" pokoknya aku tidak bakalan turun sebelum hewan kurang ajar itu terlihat, Apa kamu tahu tidak kalau aku itu paling membenci Hewan seperti itu yang suka sekali mengganggu orang?" bukannya tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Deka .Diana memilih untuk malas tahu bahkan bodo amat karena baginya itu hanya ucapan saja bukan kata-kata yang langsung ditujukan padanya.
" aku tidak peduli Mau ada berat beton yang sedang menimpa kamu atau tulang kamu patah sekalian Bila perlu Is Dead juga bodo amat, karena sebelum benda-benda seperti itu hilang kamu pasrah saja deh mau kutindih berapa lama!" Ketus Diana yang Bahkan tidak sadar jika wajah Deka sudah memerah bukan karena marah melainkan dosa dan ajeb ajeb di dalam sana.
belum lagi di area dadanya Diana yang menempel tepat di depan wajahnya Deka membuat pria itu dapat melihat secara langsung isi dalamnya walau tidak semuanya, dan dengan Hal itu membuat pria itu sudah tidak mulai konsen dengan hal sekitar sampai suara Arin membuyarkan kegiatan mereka berdua.
" Wah kalian lagi asik ya kira-kira sudah ronde keberapa nih?" tanya Arin dengan memasang senyum tak bersalah nya membuat Diana sadar dan langsung segera turun dari atas tubuhnya Deka dan langsung memilih masuk ke dalam kamar mandi.
Deka menatap tak percaya ke arah Diana yang seolah lepas tangan dalam masalah ini, padahal seharusnya wanita itu yang menjelaskan kepada sahabatnya duduk perkara yang sebenarnya agar dia tidak salah paham.
" Ya jelas lah Om itu sekarang bukan hanya kelihatan aneh tapi membuat saya penasaran Setengah Mati, Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sini sampai posisi kalian begitu intim tadi?" tanya Arin sambil menaik turunkan alisnya membuat Deka mendengus kesal karena tidak Diana tidak wanita itu sama saja selalu membuat kepalanya sakit.
" Tanya saja sama teman kamu bukan kah kalian itu satu server jadi otomatis jalan pemikiran kalian itu sama semua, kalau kamu bertanya kepada saya otomatis tidak ada sedikitpun jawaban yang bakalan saya berikan kepada kamu!" tegas Deka kalau pergi dari situ sengaja tidak menunggu Diana yang menurutnya telah mempengaruhi kinerja jantung nya.
" ini kenapa semuanya pada menghindar ya apa aku harus mencari tahu sendiri di atas tempat tidur kira-kira semalam sudah Unboxing atau belum, Baiklah kita mulai beraksi Arin siapa tuh ada petunjuk yang bisa dijadikan barang bukti?" gumam wanita itu monolog untuk membuktikan apa yang menjadi pasangannya dirinya pun langsung membongkar tempat tidur itu tanpa sungkan bahkan sprei dan bed cover pun sudah teronggok di bawah lantai.
" Yah kok tidak ada sih tanda-tanda yang seperti sudah ku baca selama ini, bahkan bau-bau Hal itu pun tidak ada sama sekali sebenarnya mereka melakukannya Di mana?" tanya Arin yang begitu penasaran karena merasa yakin dengan pemikirannya itu jika benar 100%.
" Memangnya melakukan apa?" Tanya Diana yang baru muncul dari arah kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat sudah segar karena habis mencuci nya.
__ADS_1
" nah ini dia Suspect pertama yang harus kita tanya Soalnya dari tadi tinggal main kabur begitu saja, sudah begitu Suspect yang kedua pun pergi tanpa permisi membuat aku itu seperti orang kebingungan yang harus bertanya kepada siapa? masa iya aku harus bertanya kepada rumput yang bergoyang kepada burung yang sedang terbang, dan juga kepada matahari?" Tanya Arin jutek.
" Memangnya kamu mau bertanya apa kepadaku, Lain kali itu kalau ingin menanyakan sesuatu harus sesuai fakta bukan hanya opini atau pun hanya dasar kecurigaan? karena sampai kucing bertanduk pun jawaban sedikitpun Tidak bakalan kamu dapatkan, karena hanya membuang-buang waktu orang yang kamu tanya dan mereka juga kebingungan harus menjawab apa?" Sindir Diana membuat Arin mendengus kesal karena ini bahasa kasarnya itu kalah sebelum bertanding.
" tidak bisa seperti begitu dong aku kan penasaran makanya bertanya Kalau kamu tidak menjawab Terus siapa yang kasih jawaban ke aku, Ayolah Sebenarnya apa yang terjadi Tadi kok bisa sih kalian bisa Tulalit seperti begitu Aku kan jadi penasaran soalnya mata suciku sudah ternoda?" tanya Arin sambil mengedipkan matanya sebelah membuat diono ingin sekali menampol kepalanya agar kembali ke jalan yang benar.
" posisi Tulalit yang seperti apa sih yang kamu maksud, perasaan tadi itu hanya karena lagi darurat makanya hal itu bisa terjadi kalau tidak mah Aku mana mau dekat sama dia?" tanya Diana yang tidak habis pikir dengan kecurigaan tak berdasar Arin itu.
" Ya ampun Astaga Diana masa hal itu baru terjadi beberapa detik yang lalu kamu sudah melupakannya, Apa perlu kita Reka adegan ulang agar kamu kembali mengingatnya?" tanya Arin gemas dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Diana yang sebenarnya tahu tapi berpura-pura seolah pikun.
" ya kalau begitu tadi kamu sudah mendapatkan jawabannya yaitu masalah itu terjadi yang seperti kamu lihat tadi itu karena lagi darurat, memangnya harus menjelaskan Seperti apa lagi agar kamu paham jika sebenarnya tidak ada ada terjadi apapun seperti yang sedang berada di dalam otak kamu yang kotor itu?" sungut Diana sambil mendengus kesal dan memilih keluar dari kamar itu untuk menenangkan pikiran jika tidak bisa dipastikan Aren bakalan nyerocos terus untuk mencari tahu hal yang tidak ingin dirinya katakan.
" yah dia kok malah pergi Padahal aku kan lagi pengen banget dengar Gimana sih rasanya begituan, apa kalau dia tidak mau ngomong aku ajak Cecep saja ya?" gumam Arin yang tidak sadar jika Diana kembali lagi ke kamar Itu sebab melupakan dompetnya.
" Kamu mau ngapain sama Cecep? yang ada itu aku yang nggak di ngapa-ngapain kebalikannya menjadi kamu yang dihancurkan, sebab kecurigaan Kamu itu seperti sudah mendarah daging jadinya barang yang tidak ada kamu memaksakan diri harus ada ada?" tanya Diana sambil menggelengkan kepalanya membuat arenanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memasang wajah ketawa-ketiwi nya yang bikin orang jengkel.
" aku kan masih tahap perencanaan bukan sudah tahap eksekusi jadinya kamu bicara, kecuali sudah terjadi Nah baru kamu komentar itu kan oke-oke saja karena memang sudah terjadi!" Arin tidak mau disalahkan oleh Diana.
" Woi kamu sadar tidak apa yang kamu katakan, lebih baik itu belum terjadi sama sekali sudah diwaspadai daripada sudah terjadi dan menyesal setelah itu menangis guling-guling kayak orang yang tidak kebagian dana sosial?" Ketus Diana lalu kembali keluar untuk mencari sarapan bahkan dengan masih memakai piyama yang berlengan pendek dan juga di atas lutut.
sedangkan Deka yang tadi sempat panas dingin dibuat oleh Diana memilih untuk langsung mandi air dingin, karena Biar bagaimanapun ada bagian tubuhnya yang perlu dibujuk secara perlahan agar bisa tidur sebelum dia Mengamuk minta jatah,
" ini si Joni Kenapa sih pakai kegiatan bangun disaat yang tidak tepat, untung juga wanita minimalis itu tidak menyadarinya kalau tidak Malunya aku kali ini bakal pikul berat sekali?" Sungut Deka sambil menatap ke arah bawah Yang Masih Berdiri jelas layaknya tongkat.
kesengsaraan pria itu masih berlanjut lagi ketika selesai mandi dirinya memutuskan untuk mencari sarapan dan bertemu dengan Diana di lobby hotel, sungguh cobaan yang tidak main-main datangnya beruntun tanpa bisa diatur ritme yang pas.
Diana memilih tak menganggap kehadiran Dika sama sekali karena menurutnya lapar itu harus segera ditangani jangan Ditunggu sampai pingsan dulu, Percuma saja memegang uang di tangan jika menyiapkan makanan untuk diri sendiri saja tidak mampu.
__ADS_1
Deka sampai dibuat melongo dengan sikap malas tau yang ditunjukkan oleh Diana itu seolah mereka berdua itu adalah orang asing yang tidak saling kenal, kebetulan hanya berpapasan saja dan setelah itu tidak peduli Mau menyapa atau tidak mau kenal atau tidak sebab Hidup itu harus dijalani masing-masing orang tanpa mau membebankan orang lain di sekitar.
" dia kok bisa ya seolah-olah tidak mengenalku,apa ini kebiasaan nya supaya orang lain tidak curiga?" Tanya Deka heran.