
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ****
" kenapa dari tadi tidak memberitahukan kalau calon istriku tidak ada disini, kalian sengaja ingin mempermainkan aku? sehingga aku terlihat seperti orang bodoh, manusia kayak kalian ini memang tidak ada gunanya sama sekali hanya bisa menyusahkan orang lain saja." kesal Daffa lalu berlari ke arah luar untuk mencari keberadaan Alika.
" Kenapa jadi kita yang kena marah ya, perasaan tuan Daffa nya saja yang tidak peka dengan keadaan sekeliling. masa iya kekasihnya tidak berada di dekatnya juga ia tak menyadari hal itu, mau bilang tapi orang kaya mah bebas terserah apa mau mereka tidak ada yang berani melarang." sungut pegawai tadi dibentak oleh Daffa dalam hati.
" Hey kamu kembali kerja lagi sana ngapain Lihatin orang, ingat ya dia itu anak pemilik butik ini jadi otomatis Bos Kamu juga jangan macam-macam sebelum di Depak dari tempat ini!" ujar manajer butik itu membuat pegawai yang tadi dimarahin hanya bisa mendengus kesal dalam hati.
" idih Siapa juga yang berminat sama pria Arogan seperti itu, yang ada bikin rusak pemandangan Terus akhirnya jadi susah sendiri. tapi kekayaannya sih boleh juga, membuat diriku tidak usah capek-capek bekerja duit selalu mengalir." gumam pegawai itu pelan.
sedangkan di parkiran udah ketemu mendengus kesal, ketika melihat Alika malah asikan ketiduran di mobil padahal dirinya sedang mempermalukan diri sendiri di depan para kepegawai mamanya.
" aku boleh pingsan di dalam eh dianya malah keenakan, setidaknya peka sedikit lah tahu kalau sekarang lagi waktunya buat serius tidak ada namanya bercanda." sungut Dafa lalu mengetuk pelan jendela mobil agar Alika bisa segera keluar.
Alika Sebenarnya bukan tertidur melainkan hanya Menutup Mata sambil merenungkan apa yang ia alami kini, dirinya bingung harus berbuat apa ketika di setiap sisi ia tak bisa meminta tolong pada siapapun itu'
ketika sedang asyik dengan pikirannya sendiri dirinya dikejutkan dengan ketukan pintu dari luar, dilihatnya Daffa sedang memasang wajah cemberut nya membuat wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah.
" bisa tidak sih pria ini Menghilang Walau sedikit saja, Kenapa dimana-mana selalu ada dirinya seolah menjadi bayanganku saja?" sungut Alika namun mau tak mau membukakan pintu untuk Daffa.
" kenapa?" tanya Alika Ketus.
" kok kamu Kamu kenapa sih, Harusnya kan aku yang bertanya kenapa kamu tidak masuk kedalam Bukankah besok kita harus menikah?" tanya Daffa heran.
" ya Aku pikir kamu hanya bercanda saja mana ada nih langsung main tembak seperti begitu Kau pikir aku anak kucing apa, Lagian memangnya harus ya Besok menikah? semua orang bakalan curiga aku hamil lebih dulu dan memaksa kamu menikah gimana?" tanya Alika penasaran.
" ya tinggal bilang iya saja kan gampang masa susah sekali buat menjelaskannya, Lagian kalau berbohong soal Kebaikan tidak masalah? " sahut Daffa santai.
" big no, Enak saja kamu ngomong Aku mana mau dicap sebagai wanita yang tidak ada etikanya! itu mah enaknya di kamu sengsara nya di aku, ya sudah aku mau pulang tidak mau ngapa-ngapain!" pinta Alika memasang wajah cemberut nya karena memang dirinya sudah tidak betah berlama-lama di tempat itu.
mendengar Alika ingin pulang Dafa jadi tak terima, dirinya sudah bersusah payah menahan malu ego Kok tiba-tiba tidak membawa pulang hasil apapun itu?
" Pokoknya kita urus gaun pengantinnya dulu sekarang tidak pakai tapi, nanti setelah itu baru mengikuti apa kemauan kamu semuanya tanpa terkecuali!" jelas Daffa agar Alika mengikuti kemauannya kali ini.
" aku tidak bisa asal menikah begitu saja, Aku punya keluarga kedua orang tua ingin dihargai Bagaimana cara seorang pria datang Melamar Anak gadis mereka. kalau kamu main asal nyelonong begitu saja sama saja bohong kan, Aku bukan barang yang bisa kamu permainkan sesuka hati aku manusia punya hati dan perasaan," jawab Alika lagi kali ini dengan nada yang terdengar begitu serius ya tak mau salah mengambil langkah dalam hidupnya Bukankah menikah itu sekali saja.
" Aku bakal ngelamar kamu aku janji, hanya saja sekarang sudah Tanggung sudah berada di butik langsung pulang begitu saja?" cinta Dafa lagi karena memang pria itu ingin sekali melihat tubuh mungil alika dalam balutan gaun pengantin.
"terserah kamu ingat ya aku hanya mau memakai gaun pengantin tapi bukan ingin menikah denganmu, jadi jangan percaya diri ataupun geer berlebihan karena nanti akhirnya kamu yang Malu sendiri!" ujar Alika sinis membuat Daffa hanya bisa tersenyum saja.
__ADS_1
" semua apa yang terjadi dalam hidup terkadang kita manusia bisa merencanakan nya tapi sudah ada yang mengaturnya, Aku hanya ingin menghalalkan kamu agar kedepannya tidak ada yang berani mengganggu apapun yang sudah ku klaim sebagai milikku." ucap Daffa lalu menarik tangan Alika agar keduanya bergandengan tangan menuju ke dalam butik mamanya.
pegawai itu menatap kearah Daffa dan Alika yang baru masuk, ternyata yang Daffa Bawa kembali ke dalam butik itu bukan manusia melainkan seorang bidadari yang turun dari surga.
" Ya ampun cantik banget pengantinnya, aduh ini kalau nanti punya keturunan bakalan Semanis apa sih!" batin pegawai itu merasa gumush.
" seperti yang sudah saya katakan tadi cepat keluarkan semua koleksi gaun pengantin yang kalian miliki, Ingat jangan sampai calon istriku menunggu lebih lama lagi!" perintah Dafa kali ini dengan senyum sumringah diwajahnya maklumlah dipegangnya tangan Alika tidak pernah dirinya lepaskan karena takut wanita itu bakalan kabur lagi.
" baik Tuan, Nona silakan ikut kami ke ruangan yang tempat menyediakan gaun khusus pengantin wanita." ajak pegawai itu sambil menundukkan wajahnya apalagi melihat tatapan Dafa yang begitu menusuk.
pilihan pertama jatuh pada gaun pengantin yang bagian dadanya sedikit terbuka, membuat Daffa seolah tak rela jika ada bagian tubuh Alika yang menjadi tontonan oleh pria lain.
" ganti lagi aku tidak menyukai yang itu!" ujar Daffa sambil menggelengkan kepalanya.
Alika mendengus kesal karena sebenarnya memakai sebuah gaun pengantin itu ribet nya minta ampun, tapi dengan entengnya Dafa suruh mengganti gaun itu tanpa ada rasa bersalah nya sama sekali.
pilihan dapat jatuh pada gaun yang terakhir namun Alika menolaknya mentah-mentah, karena Alika tetap ingin memakai gaun yang pertama kali dirinya pakai menurutnya tidak terlalu terbuka kok di bagian dadanya.
" eh mana bisa begitu pokoknya aku bakalan tetap memakai yang pertama, Kalau kamu tidak setuju Ya sudah cari saja pengantin yang lain aku tidak pernah memaksakan diri." sinis Alika membuat Dafa pasrah.
" Ya sudah terserah kamu tapi ingat ya Jangan senyum kepada pria lain, karena aku sangat tidak menyukainya!" pinta Daffa serius.
" eh kamu tuh kenapa sih kalau ngomong suka sembarangan, memangnya kamu pikir aku ini sudah beneran jadi calon istri kamu begitu? Dasar menyebalkan sudah ayo pulang untuk apa lama-lama di sini, ingat kamu harus menemui Alan untuk membahas kerja sama kalian." ujar Alika memberi perintah pada Daffa karena tak ingin menjadi pria yang tidak bertanggung jawab.
" bisa tidak jangan mengingat orang lain Selagi Ada Aku Disini, lagian semuanya sudah aku serahkan kepada Ben nanti dia yang akan mengaturnya?" sinis Daffa kesal karena Alika selalu saja ingat orang lain ketika bersama dirinya.
sedangkan di kediaman mariano, tampak Alice dan suaminya Dika sedang berbincang santai membicarakan soal masa depan Putri semata wayangnya mereka itu.
" Pah, Kapan sih anak kita itu mau menikah? kita sudah tua begini masa gendong cucu pun belum, mama takut umur kita tidak akan mampu menunggu yang belum pasti!" Lirih Alice sambil menatap sendu kearah suaminya itu.
" Mama jangan pesimis begitu dong, setiap orang di dunia ini jodoh maut semuanya sudah ada yang mengatur. Tinggal bagaimana kita menyikapi hal itu, mau bertahan atau mengeluh mau menangis atau berteriak!" ujar Dika sambil mengusap pelan rambut istrinya itu.
" kalau menurut papa putranya Tuan Adrian dan nyonya Mirna gimana? kalau menurut Mama nih dia itu memang sih tampangnya menyebalkan terus arogan, tapi ciri-ciri orang seperti itulah sebuah kesetiaan dalam keluarga sangat besar. tidak mengumbar nafsunya di mana-mana karena ada hati yang harus dijaga, maka dari itu Mama setuju ketika mereka menawarkan Perjodohan antara Alika dan Dafa!" ujar Alice membicarakan soal masa depan Alika Dan Daffa.
ketika sedang berbincang ada telepon masuk pada ponselnya Dika berasal dari Daffa, pria sudah paruh baya itu mengerutkan keningnya karena merasa heran Ada apa gerangan tiba-tiba anak muda itu menghubungi dirinya.
Alice yang menyadari perubahan sang suami, akhirnya tak bisa menuntaskan rasa penasarannya untuk tidak bertanya.
__ADS_1
" siapa Mas?" tanya Alice penasaran.
" yang tadi baru kita bicarakan Daffa Adrian." ujar Dika sambil tersenyum dalam mengangkat panggilan itu karena kasihan jika orang yang di seberang menunggu.
" Iya halo, gimana nak?" tanya Dika penasaran.
" Maaf mengganggu waktunya papa, Daffa mau sampaikan kalau Alika sekarang sama-sama dengan saya jadi mungkin pulangnya sedikit telat." mendengar perkataan Daffa Barusan Alika mendelik kesal karena bisa-bisanya pria itu mengatakan hal yang tidak pernah dirinya minta sama sekali.
" kamu...
perkataan Alika terhenti ketika Dafa memberi kode untuk diam, Alika pun pasrah tak bisa berbicara banyak sebab melihat Dafa saja dirinya sudah kesal minta ampun.
" dasar pria menyebalkan dia pikir dia itu siapa sih Sampai seenaknya melakukan hal yang tidak tidak, Awas aja kalau macam-macam bakalan ku hajar dia sampai hancur remuk redam Tidak berbentuk!" sinis Alika dalam hati.
" Oh ya sudah tidak apa-apa, terima kasih sudah memberikan kabar Biar Papa sama Mama tidak nungguin dia di rumah. kamu jaga anak itu baik-baik ya, kalau dia nakal dicubit saja biar tenang!" Alika melototkan matanya tajam Maksudnya apa Papanya berbicara seperti itu tapi berbeda dengan tatapan Daffa yang tersenyum mengejek.
" ih papa apaan sih kok bisa-bisanya menjatuhkan harga diri itu di hadapan pria itu, dia sekarang Pasti lagi bangga diri karena sudah dikasih ultimatum sama papa!" batin Alika kesal.
" Ya sudah Papa aku matiin dulu ya panggilannya soalnya mau jalan-jalan sama calon istri, ini orangnya di samping lagi ngambek katanya kelamaan nelponnya!" pamit Daffa yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan sama sekali.
setelah panggilan Itu dimatikan Alika langsung menghajar kepala Dafa tanpa ampun hingga mobil yang ia kendarai pun oleng, dirinya merasa kesal karena bisa-bisanya Daffa mengatakan hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali.
" kamu kalau ngomong suka sembarangan saja sih, emangnya kapan aku merajuk ke kamu? lain kali ciptakan bahasa itu sesuai dengan kenyataan, enak saja menjatuhkan Harga Diriku Awas sebentar kalau aku pulang menjadi bahan ledekan mereka kamu yang bakalan kuhajar!" Ketus Alika sambil memasang wajah cemberut nya.
" jangan marah dong Lagian kamu harus bersyukur bisa menikmati ini hari dengan pria setampan aku, jarang loh Aku mau berduaan sama orang lain. jadi karena kamu orang yang pertama harusnya senyum dong, biar kelihatan tidak ada paksaan sama sekali!" bujuk Daffa narsis membuat Alika ingin sekali muntah.
" wah kamu jadi orang tingkat percaya dirinya tinggi sekali, Memangnya Menurut kamu aku ikhlas Oh tidak Tuan terhormat karena hal itu tidak akan pernah terjadi!" ledek Alika sambil memanyunkan bibirnya.
" bibirnya tuh dikondisikan sebelum aku makan sampai habis, Kamu tahu kan aku kayak gimana kalau sudah mulai tidak akan pernah mau menghentikannya!" sinis Dafa membuat Alika langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena memang namanya berdebat dengan seorang Dava tidak akan pernah dirinya menang dan itu yang sangat tidak dirinya inginkan.
Di kantor Adrian Group
" Sebenarnya Tuan kamu itu ke mana sih, Kok bisa-bisanya saya sudah bela-belain dari Kanada ke kesini dia nya malah pergi terus membiarkan asistennya bertemu dengan saya?" tanya Alan penasaran.
Ben hanya bisa menundukkan kepalanya karena memang apa yang dikatakan Alan itu benar, hanya saja di dunia ini Daffa lah yang selalu Benar.
" Maafkan saya tuan karena tuan Daffa sedang ada urusan di luar dan tidak bisa ditinggalkan, nanti soal komplain Anda barusan bakal saya sampaikan ke Beliau agar menjadi bahan Ingatan!" ucap Ben minta maaf.
Alan yakin jika urusan yang Daffa lakukan itu pasti adalah berhubungan dengan Alika, dirinya pun merasa heran sebenarnya ada hubungan apa antara Alika Dan Daffa.
" kalau Boleh saya tahu ini memang diluar jalur pekerjaan, kira-kira Apa hubungan Daffa dan Alika sekarang?" tanya Alan serius karena jawaban yang diberikan oleh Ben adalah penentu kehidupannya ke depan.
" Maafkan saya tuan Tapi sebenarnya ini bukan kuasa saya untuk menjawab, jika anda inginkan jawaban silakan bertanya kepada Nona Alika ataupun Tuan Dafa!" sahut Ben karena memang tidak ingin mengambil langkah yang salah karena perjodohan Daffa dan Alika belum diketahui oleh semua orang.
__ADS_1
" Wah kalian ternyata mau cari perkara dengan denganku ya, Ya terserah kalian saja mau ngapain aku tidak peduli Yang penting besok saat aku kembali kesini lagi itu brengsek juga sudah hadir!" ujar Alan lalu segera bangkit meninggalkan tempat itu dengan wajah yang penuh amarah karena benar-benar tersinggung.