
Alan dan Ana hanya tersenyum saja sebab apa yang di lakukan Bibi kantin itu sangat lah berlebihan,siapapun yang datang artinya dia yang harus di layani lebih dahulu agar tidak terasa Diskriminasi.
"Lain kali jadi pemimpin itu jangan terlalu memasang wajah sangar,agar para bawahan tidak segan atau jadi bingung harus bicara apa." sindir Ana membuat Alan hanya bisa menghela nafas nya kasar karena sikap wanita yang sangat di cintai nya itu apabila ada yang tidak beres dalam penglihatannya maka langsung di skak mat saat itu juga.
"Habis mau bagaimana lagi kalau aku itu orang nya sudah seperti itu dan tidak bisa di ubah lagi,jadi yang ada ya mereka memang harus begitu yaitu segan kepada pemimpin!" Jelas Alan santai.
"Tapi kok sama aku kamu lebih manis dan juga sama Mama kamu kelihatan takut sekali?" Tanya Ana dengan tatapan menyelidik.
"Ya kalau sama kalian itu beda ceritanya,jika sama kamu itu karena sayang masa mau aku membuat kamu menjauh. Terus sama Mama kamu itu ya otomatis aku harus takut lah,nanti kalau di pecat jadi calon mantu otomatis aku lagi yang bakal kena apes." Bela Alan yang tidak mau di salahkan apalagi menyangkut Ana yang sedang mereka bahas karena bisa berabe urusan nya.
"Oh seperti itu ya,ngomong ngomong kamu makan itu harus banyak biar tambah semangat kerja nya,karena katanya kita mau mempersiapkan rumah idaman yang bakal kita tinggalin nantinya!" Ujar Ana sambil memberikan makanan punya nya kepada Alan.
__ADS_1
"Astaga Yang,aku tidak sanggup karena ini namanya pemaksaan." Tolak Alan.
"Bukan pemaksaan tapi perhatian yang sangat penting!" Sahut Ana membuat Alan hanya pasrah meskipun lambung mau meledak tapi demi cinta Alan ikhlas.
Sedangkan lain cerita dengan yang tengah Diana hadapi yaitu berhadapan dengan kedua orang tua nya,yang sedang menatap tajam kearahnya.
"Sudah puas keluyuran kesana kemari tidak Jelas?" Tanya Bima dengan tatapan sinis.
"Pokok nya kamu harus belajar jadi pengusaha mulai dari besok,berhenti menjadi seorang desainer yang tidak jelas itu. Apa kamu pernah dengan seorang Desainer kekayaan nya mengalahkan seorang pengusaha,karena itu sama saja merupakan hal yang sangat mustahil." Ujar Bima membuat Diana merasa tak bisa menahan emosinya.
Namun ia masih berusaha tetap diam karena biar bagaiamana pun yang sedang berbicara adalah kedua orang tua nya,dan sebagai anak diri nya tidak mungkin membantah ataupun merasa diri paling benar.
__ADS_1
"Bila perlu kita cari suami pengusaha saja Pah,supaya bisa belajar bisnis dari dia." Ujar Dinda membuat Diana langsung bangkit dari duduk nya dengan nafas memburu.
"Stop,aku minta kalian hentikan perkataan kalian yang tidak punya rasa sayang padaku sama sekali!" Teriak Diana dengan wajah nya yang sudah memerah.
"Kamu berani membentak saya Diana pelangi?' Tanya Bima dengan Bariton khas nya.
"Karena Papa sudah keterlaluan dan juga tidak pernah menghargai apa yang aku mau!" Ujar Diana yak mau kalah.
Begitulah sikap seorang anak bakal membangkang jika didikan yang di beri orang tua juga sangat keras, bahkan bisa di bilang tanpa ada nada kasih Sayang di dalam nya.
'sudah bisa hidup gembel di luar sana?" Tanya Dinda sinis.
__ADS_1