
Ketika istrinya sedang kebingungan dan juga tidak tahu harus berbicara apalagi melihat anak mereka yang sudah keadaan seperti begitu, Ricky yang sudah dalam perjalanan pulang merasa Aneh ketika melihat ada beberapa mobil yang berada tepat di depan gerbang rumahnya. pada setahunnya ketika Raka pergi dirinya dan Dinda belum memberi kabar kepada keluarga mereka, tapi kok bisa-bisanya mereka sampai lebih dulu atau jangan-jangan ada orang lain yang datang ke rumah mereka dan ada keperluan yang penting.
Ketika semakin dekat Ricky mengerutkan keningnya sebab dirinya merasa tidak asing dengan seragam yang dipakai oleh orang-orang yang berada di depan rumahnya itu, karena mereka memakai pakaian dari dealer dan juga toko perhiasan yang merupakan tempat dimana ia dan Dinda kredit barang-barang mereka itu dan salah satunya adalah mobil yang sedang ia pakai sekarang Dan juga berlian yang berada di antingnya Dinda.
" atau jangan-jangan mereka datang untuk menagih utang, Terus aku harus seperti apa karena tidak mungkin juga akan menghadapi mereka padahal aku tidak memegang sepeser uang pun kecuali biaya administrasi untuk Raka?" Tanya Riki.
tidak mungkin juga dirinya harus menemui orang-orang tersebut dalam keadaan kosong seperti begitu dan juga tidak mungkin ia lari dari kenyataan seperti biasanya, namun dirinya yang notabene merupakan orang yang tidak ingin terlalu sibuk dan selalu membiarkan istrinya beserta putranya itu menyelesaikan masalah memilih untuk putar balik.
padahal sebenarnya tujuannya untuk pulang yaitu berberes rumah dan menyingkirkan semua harta benda yang menurut Raka itu sangat tidak berguna, pria paruh baya itu bahkan tidak ada namanya rasa bersalah atau pun memikirkan Bagaimana nasib istri nya nanti ketika pulang dan tidak menemui dirinya.
karena Yang ada dipikirannya sekarang yaitu Bagaimana bisa lolos dari orang-orang yang datang menagih hutang kepadanya, padahal sebenarnya ia harus sadar diri kalau mobil yang ia gunakan itu merupakan mobil kredit yang belum lunas cicilannya jadi otomatis dirinya harus bertanggung jawab.
dirinya memilih untuk keluar kota tidak ada niatan untuk kembali lagi ke rumah sakit dan menjelaskan masalah yang tengah berada di rumah kepada istrinya, bahkan lebih parahnya lagi uang yang digunakan untuk membayar biaya administrasi dan setelah keperluan untuk Raka nantinya ia pakai untuk uang bensin dan juga makan selama berada di luar kota.
dirinya tidak memikirkan perasaan Dinda yang sekarang tengah kebingungan karena tidak ada kabar sedikitpun dari suaminya padahal sudah pergi dari situ selama 3 jam lebih, Setidaknya kalau memang tidak sempat kembali harusnya ia bisa menelpon memberi kabar agar Dinda bisa mengurus secara langsung segala sesuatunya biar bisa selesai.
untung juga ada Dea dan Tio yang menemani Dinda sehingga wanita paruh baya itu tidak sendirian berada di tempat itu, Dea tahu pasti ada yang tidak beres karena dulu lah Kak pernah bercerita tentang kebiasaan sang ayah yang selalu kabur dari masalah dan tidak pernah ada namanya ingin bertanggung jawab.
__ADS_1
" tante, apa sudah ada kabar dari om?" tanya Dea memastikan karena jika dibiarkan mereka menunggu seperti begini saja sama saja bohong sebab menunggu tanpa kepastian itu merupakan pekerjaan yang tidak bakalan selesai.
Dinda mendesah kasar mendengar apa yang ditanyakan oleh Dea barusan karena memang ia tidak punya jawaban yang bisa diberikan, karena dari tadi dirinya juga sedang menunggu kabar dari suaminya tetapi sampai sekarang jangankan memberi kabar untuk kembali pun tidak.
" tante juga bingung nak, dari tadi Mas Ricky kembali sampai sekarang belum memberi kabar sedikitpun. padahal seharusnya dia sudah kembali dan mengurus biaya administrasi agar jenazah bisa segera dibawa pulang ke rumah dan dibawa ke pemakaman umum, namun Kalau sudah seperti begini tante juga jadi bingung harus membayar pakai apa?" Tanya Dinda frustasi.
" jadi kita dari tadi dibiarkan menunggu seperti begini hanya karena belum membayar uang administrasi, oleh karena uang yang untuk digunakan itu sedang dibawa oleh om ke rumah? "tanya Tio memastikan.
" Kamu benar sekali nak Karena memang tadi saat ke sini tante terlalu terburu-buru jadi otomatis tidak membawa sepeserpun untuk biaya rumah sakit, maka dari kita harus menunggu Mas Ricky kembali ke sini terus mengurus segala sesuatunya baru bisa pulang." Jelas Dinda..
Tio menatap kearah Dea seolah meminta izin untuk melakukan sesuatu karena tidak mungkin juga kan mereka tetap berada di situ, sebab kasihan almarhum jika dibiarkan terlalu lama padahal kondisinya tidak memungkinkan untuk hal itu bisa terjadi.
Dinda menatap penuh tanda tanya ke arah Dea karena memang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Tio barusan, dirinya berpikiran yang tidak-tidak takutnya kedua orang itu dengan sengaja menggunakan uang mereka padahal sebenarnya mereka juga sangat membutuhkan untuk biaya lahiran Dea nanti.
" kalian Jangan berpikiran sampai harus menggunakan uang untuk biaya lahiran kamu ya, karena Biar bagaimanapun tante tidak sampai hati sampai harus melakukan hal itu?" tanya Dinda memastikan.
" tante, Bukankah manusia hidup itu harus saling tolong-menolong karena biar bagaimanapun mereka adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan satu sama lain? kalau soal untuk biaya lahiran masih lama juga pasti besok bisa bakalan terkumpul lagi Tetapi kalau Pak Raka dibiarkan menunggu kasihan pasti bakalan begitu tersiksa, terus tidak mungkin juga kan kita harus menunggu di sini sampai Om Riki nya datang dan juga mengurus administrasinya karena sudah lama lho kita ada disini tapi dia belum nampak sedikitpun?" tanya Dea mencoba untuk membuat Dinda tidak terlalu merasa bersalah kepadanya karena dirinya dan Tio ikhlas membantu wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Dinda tidak tahu harus berkata apa lagi karena memang dari tadi kedua orang itu yang menemani dirinya tanpa berpindah tempat sedikitpun, Padahal selama ini dirinya memperlakukan dia dengan begitu tidak manusiawi hanya karena wanita itu merupakan pegawai biasa ditempat Raka.
" tante janji nanti setelah sampai di rumah terus ketemu Om nanti Tante bakalan ganti uang yang kalian pakai, karena Biar bagaimanapun Kalian juga sangat membutuhkan uang tersebut dan juga tante tidak ingin kalian bakalan kesusahan nantinya!" ujar Dinda yang benar-benar tidak ingin hutang Budi kepada siapa pun sudah cukup dirinya dahulu menjadi benalu di kehidupan Raka sekarang dirinya ingin menjadi orang tua yang berguna di saat-saat terakhir seperti ini.
Dea hanya tersenyum tidak ingin menanggapi apa yang dikatakan oleh Dinda barusan, karena menurut yang membantu orang yang sedang kesulitan seperti begini pahalanya bakalan berlipat ganda.
setelah Tio mengurus Sesuatu beres, dirinya kembali dan memberitahukan semuanya kepada Dinda dan juga Dea agar mereka juga bersiap-siap untuk kembali.
"Gimana Mas?" Tanya Dea memastikan.
"Sudah beres tinggal tunggu petugasnya datang untuk mengurus kepulangannya menggunakan ambulans, dan kalian ayo bersiap-siap supaya kita bisa sama-sama kesana menggunakan mobilnya Mas!" ujar Tio membuat Dinda sangat merasa bersalah kepada pria itu yang tidak ia kenal tetapi sudah mau dengan sukarela membantunya dalam kesulitan seperti begini.
" Terima kasih nak karena kalian sudah membantu disaat seperti begini padahal Tante Ini bukan siapa-siapanya kalian, semoga nanti Tuhan yang bakalan membalas apa yang kalian lakukan tapi yang Intinya cuma satu yaitu tante sangat berterima kasih karena Raka bisa pulang ke rumah dan juga bisa diurus segera pemakamannya!" Dinda begitu tulus mengatakan semua itu tidak ada kebohongan apalagi kesombongan seperti biasanya karena memang dirinya sekarang tidak punya kuasa untuk melakukan itu semua.
jika dahulu Engkau adalah Primadona maka sekarang engkau adalah sampah yang tidak di anggap, jika dulu engkau sedang berada di atas awan maka sekarang menjadi sandal jepit pun engkau sudah tidak layak.
mungkin ungkapan itu yang pantas diberikan kepada Dinda saat ini, karena dahulu Wanita itu sangat ingin dipuji sehingga memakai apapun di tubuhnya merupakan barang-barang yang berkelas dan juga mahal.
__ADS_1
ketika dulu dirinya membantu orang lain hanya untuk mencari nama dan juga diperhitungkan sebagai orang-orangnya berada, maka sekarang yang di saat anaknya membutuhkan kehadiran ataupun apa yang mereka miliki ternyata di saat seperti begini dirinya malah tidak mempunyai uang walau hanya sedikit saja.