
Di lain tempat Ana sedang kebingungan menghadapi tingkah Alan yang begitu posesif padanya, padahal sebenarnya mereka berdua sudah sama-sama dewasa jadi untuk saling mencurigai ataupun saling tidak percaya itu sebenarnya sudah tidak masanya lagi.
seperti sekarang ini saat Ana bertemu dengan salah satu kelahirannya yang ingin memboking restoran milik Ana itu, Alan ngotot ingin harus ikut karena dirinya tidak ingin Ana hanya berduaan dengan pria asing di belakangnya.
" Kamu kenapa sih harus ikut segala Padahal aku kan selalu ngomong ke kamu kalau dia itu salah satu pelanggan aku yang biasa memakai restorannya aku ketika ada acara di luar, Lagian dia itu sudah punya istri loh masa iya aku harus jadi pelakor Terus kamunya mau aku taruh di mana?" tanya Ana yang tak habis pikir dengan sikap Alan yang menurutnya terlalu berlebihan.
namun Alan memilih tak menggubris perkataan yang dilontarkan oleh Ana barusan, karena menurut pikirannya Tidak ada salahnya dong mengikuti kemanapun kekasihnya itu pergi karena itu sama saja dengan memberikan keamanan dan kenyamanan dimanapun Ana bekerja.
" Kamu itu kenapa sih selalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu, Coba lah sekali-sekali untuk mengerti apa yang aku lakukan di luar? kamu juga kenapa sih tidak pergi memeriksa kantor kamu apa kata para pegawai kamu nanti, kalau tahu bosnya selalu keluyuran dan memilih mengikuti kekasihnya daripada mengurus perusahaan sendiri?" tanya Ana memastikan tapi namanya Alan selalu memprioritaskan kekasihnya itu di atas segala-galanya.
karena Alan yang memilih bungkam membuat Ana tidak ingin membahas hal itu lagi tapi di dalam hatinya wanita cantik itu berdoa agar kekasihnya itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak, bisa membuat dirinya bakal kehilangan pelanggan yang selama ini selalu mempercayakan restoran miliknya.
" kalian kok malah bertemu di restoran lain padahal kan harusnya itu pelanggan datang sendiri ke restoran kamu, bukan malah mengundang kamu untuk pergi ke restoran lain berdua lagi?" tanya Alan tak terima membuat Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Kamu tahu kan kalau pembeli itu adalah raja jadi otomatis apa yang mereka inginkan semuanya harus kita penuhi, Lagian ini kan tempat umum tidak masalah dong Kalau kami bertemu tidak mesti harus di restoran ku saja? sudah kamu diam! Kalau mau mendengar pembahasan kami ya tak masalah tapi kalau tidak ingin mendengarnya Kamu duduk di tempat lain, soalnya aku tak ingin kamu jadi bosan dan mulai berbicara ngelantur dan alhasil semuanya jadi Blank!" ujar Ana menawarkan sesuatu kepada kekasihnya itu agar pria tampan itu tidak merasa bosan.
" Oh aku tidak bakalan bosan Kok kekasihku sayang, apalagi menemani kamu agar tidak berduaan dengan pria lain. Kamu jangan kuatir dia kekasihmu ini bakal membuat masalah, Karena aku tahu posisi yang marah saat kamu bekerja dan yang mana saat kamu sedang menjadi milikku seutuhnya!" Ana tersenyum ketika mendengar apa yang dia katakan Alan itu semoga saja saat di lapangan benar-benar terlaksana.
__ADS_1
" Baguslah kalau kamu sadar posisi tidak seenak jidat kamu saja melakukan sesuatu, tapi yang aku tidak habis pikir kemarin-kemarin kepintaran kamu itu lari ke mana saja kok bisa-bisanya baru nampak di permukaan sekarang?" tanya Ana sambil tersenyum mengejek.
" Oh Tenang saja bakatku itu adalah bakat Terpendam jadi tidak bisa dimunculkan di permukaan begitu saja, jadi kamu Harusnya bersyukur mempunyai kekasih yang serba bisa seperti aku. mau jadi Bodyguard bisa partner kerja juga bisa kemudian kata-kata motivasi pun aku bisa, mencintai kamu sampai menuju halal aku bisa jadi Menurut kamu apa yang masih kurang dariku?" tanya Alan penuh percaya diri.
hanya bisa menghela nafasnya kasar melihat tingkah kekasihnya itu yang sangat narsis, Padahal tadi dirinya bertanya hanya sesingkat itu Tapi sumpah demi apa jawaban yang diberikan melebihi panjangnya jalan tol mulus tanpa hambatan.
kini mereka sudah berada tepat di meja tempat client yang bakal membahas kerjasama dengan Ana duduk Ana Mencoba tersenyum padahal disampingnya Alan sedang memasang muka masam nya karena tidak terima jika kekasihnya itu senyum kepada pria lain.
" Kenapa sih harus senyum senyum segala padahal memasang wajah biasa saja pun orang tidak mungkin lari, untung juga tadi aku ikut kalau tidak bakalan di ambil juga kekasihku sama pria aneh ini!" Gerutu Alan dalam hati dirinya berencana Setelah dari sini bakal mengatakan keberatannya kepada Ana.
" kalau Selamat siang tuan Justin, maaf jika anda sudah lama menunggu Soalnya tadi ada sedikit kendala di jalan jadinya sampai di sini sedikit telat!" bohong Ana yang tidak memungkinkan dirinya jujur Jika penyebab keterlambatan mereka adalah karena ulah pria yang berada di sampingnya kini.
" apa tadi dia bilang aku asistennya Ana, ini orang sadar posisi tidak sih apa wajahku merupakan tampang seorang asisten? ini namanya sudah menjatuhkan harga diri secara tak langsung, meskipun dia menyadari hal itu. awas aja sebentar kalau dia berbicara yang tidak tidak, bakal kuhajar dia tanpa ampun tanganku rasanya sudah gatal ingin menghajar seseorang!" batin Alan yang memilih tak merespon pria yang berada di hadapannya itu.
Ana yang merasa tak enak hati mendengar perkataan Justin itu, membuat dirinya mau tak mau harus menjelaskan dulu siapa Alan diantara mereka berdua agar pria itu tidak salah paham lagi.
" Oh dia ini kekasih saya namanya Alan Erlangga, kebetulan sebentar kami berdua ada urusan di luar jadi sekalian saja deh ikut rapat kali ini agar tidak bolak-balik ke kantor! "jelas Ana sambil menatap kearah Alan yang raut wajahnya sudah kembali sumringah tidak ditekuk seperti tadi lagi.
__ADS_1
" Oh jadi Anda sudah punya kekasih saya pikir masih single apa dari itu ingin saya jodohkan dengan adik saya yang masih jomblo Abadi, tapi karena menyangkut anda sudah ada yang punya jadi niat saya itu bakal di cancel tanpa bisa terlaksanakan?" ujar Justin sambil setengah tertawa.
" Oh jelas memang tidak boleh terlaksana sebab itu hanya bakal menimbulkan perkara yang besar, silakan dimulai rapatnya saya melihat-lihat keadaan sekitar! sayang Aku tunggu kamu di parkiran ya kalau sudah selesai kita lihat let's go tancap gas dari sini." Alan merasa tak perlu lagi menunggu keberadaan Ana karena statusnya sudah jelas di mata pria yang merupakan rekan kerja dari Ana itu.
Ana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alan yang terlalu kekanakan itu, tapi ya baguslah karena pria itu tidak mengganggu dirinya saat bekerja dengan menyampaikan pendapatnya yang sangat membuat bingung.
sedangkan Alan ketika sudah berada di dalam mobil dirinya terkejut dengan panggilan dari sang Mama di Kanada, dirinya mencoba untuk mengambil nafas yang dalam untuk menetralkan perasaannya karena sebentar lagi pasti bakalan karena amukan dari wanita yang melahirkan nya itu.
" Halo Mah, gimana kabarnya Kok tumben menelponku padahal biasanya kan mama selalu sibuk sama Papa bahkan sama anak sendiri pun dilupakan?" tanya Alan membuat wanita dari seberang itu mendengus kesal.
" Dasar anak kurang ajar yang melupakan orang tua itu kamu atau Mama, enak saja kalau bicara tanpa menyadari kesalahan sendiri? kamu masih lama tidak sih di situ Kapan mau bawa datang menantu mama, kalau kamu kelamaan Biar deh mama sama papa yang samperin kamu?" tanya Sandra yang merupakan mamanya Alan.
"Mama jangan buru-buru begitu dong ini saja masih berusaha menaklukkan hatinya calon menantu mama, nanti kalau mama sama papa ke sini dianya pasti berpikir kalau kita memaksakan kehendak terus kabur ya aku jadi jomblo lagi dong?" tolak Alan yang berusaha Mamanya itu paham dengan keinginannya.
" ya tapi sampai kapan mau sampai Tunggu Mama dan papa kamu meninggal dulu, dunia ini sudah semakin tua begitupun umur kamu yang sudah tidak muda lagi mau sampai kapan menunggu dia untuk siap?" tanya Sandra gemas dengan sikap putranya yang terlihat seperti tidak ingin mengambil sikap yang tegas untuk hubungannya dengan Ana.
" mama bisa tidak jangan terlalu mempermasalahkan umur, Kan aku sudah bilang lagi di usahakan Lagian orangnya juga kan sudah ada di depan mata tinggal menuju ke jenjang yang lebih serius lagi hanya intinya sabar!" sahut Alan yang membuat Sandra merasa gemas di seberang karena sikap putranya itu yang selalu merasa benar dan tidak pernah ingin disalahkan.
__ADS_1
" pantasan saja sikapmu yang selalu ingin menang sendiri itu yang membuat menantu Mama masih pikir-pikir untuk melanjutkan hubungan kalian, karena kalau jadi Mama bakal kutolak pria yang seperti kamu itu yang selalu saja tarik ulur dalam sebuah hubungan!" Sindir Sandra.
" Mama kalau ngomong sadar-sadar! Sejak kapan aku tarik ulur dalam hubungan kami, yang ada dianya saja mungkin belum yakin 100% dengan Alan sampai-sampai masih seperti orang yang memikirkan keseriusanku!" Alan terdengar seperti sedang curhat kepada Mamanya itu.