MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 178


__ADS_3

"Ya sudah gimana kalau kita ke kantin kantor atau kamu mau kita ke restoran saja?" Tanya Alan memastikan.


Ana yang tidak ingin merepotkan siapa pun memilih untuk pergi ke kantin kantor saja karena jaraknya lebih dekat dan juga membuat Alan bisa memantau kantornya secara langsung, Bukankah Makan di mana saja itu tidak masalah asalkan bersih dan juga mengenyangkan dan juga otomatis rasanya enak.


" kita makan di kantin kantor saja deh soalnya sepertinya tadi Dio juga arah ke sana, Mungkin kita bisa minta maaf ke dia secara langsung soalnya gara-gara masalah yang kita hadapi kamu jadi marah-marah tidak jelas kepadanya. "jelas Ana membuat Alan meradang karena di pikiran pria itu Jika Ana memang benar-benar ingin dirinya tidak terlalu repot kemana-mana padahal ini semua karena asistennya.


" jadi kamu ingin makan di kantinnya kantor karena ingin bertemu dengan manusia tidak berguna itu, Terus kalau sudah begini posisi aku kamu taruh di bagian mana agar bisa sederajat dan lebih tinggi daripada pria aneh itu? " sungut Alan tidak terima dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Ana padahal sebenarnya maksud Ana itu baik hanya ingin membuat Alan nama baiknya tidak tercoreng karena memiliki gaya kepemimpinan yang Anarki.


" Ya ampun Astaga kamu jangan lagi tambah drama yang aneh-aneh deh kita itu tujuannya mau pergi makan bukan mau cari perkara, Memangnya kamu pikir aku berani mau menatap kearah pria lain sedangkan gacoan ku sendiri ada di sampingku? " bujuk anak agar Alan tidak marah-marah lagi sebab sepertinya kekasihnya itu dalam mode yang buruk hari ini.


" Siapa suruh kamu menyebut nama pria lain yang jelas-jelas orang itu adalah penyebab dari emosiku pagi ini, tidak usah pakai minta maaf segala Biar dia sadar kalau sebenarnya dia itu sudah membuat kesalahan dan juga jangan cari tahu kesalahannya itu apa karena aku lagi tidak ingin membahas hal yang lain. " Ketus Alan lalu menarik tangan kekasihnya itu agar ikut dengannya keluar dari ruangan itu seperti ingin menunjukkan kepada semuanya jika dirinya tidak jombloWanto sejati.


"Kenapa harus pegang pegang tangan segala Memangnya kamu pikir aku bakal di ambil,padahal tempat ini merupakan daerah kekuasaan kamu?" Tanya Ana sambil tersenyum.


" hanya mewaspadai jangan sampai benar-benar terjadi hal yang tidak diinginkan atau mungkin kamu memutar haluan ke arah lain, soalnya tempat ini kan masih asing bagi kamu jadi otomatis nanti bukannya arah ke ke kantin malah ke bagian personalia dan para pria Kurang ajar di sana itu jelalatan ke arah kamu!" Ujar Alan santai tapi penuh penekanan.


" tadi kata kamu asistennya kamu itu manusia tidak berguna kemudian para pegawai kamu itu pria Kurang ajar boleh tidak aku bertanya sesuatu? "tanya Ana sembari memasang wajah penasarannya membuat Alan mengerutkan keningnya karena merasa heran Sebenarnya apa yang ingin ditanyakan oleh kekasihnya itu.


"Memang nya kamu mau bertanya soal apa?" Tanya Alan heran.


" kalau semua karyawan Ya sifatnya seperti begitu pertanyaannya kira-kira pemimpinnya itu seperti apa ya, Apa dia itu orangnya tidak tahu malu menyebalkan atau Au tidak punya perikemanusiaan sama sekali sehingga sifatnya itu melebihi daripada karyawannya yang katanya sangat tidak berguna dan diharapkan itu?" sumpah demi Dewa Neptunus tetapi Alan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar sungguh pertanyaan yang dilontarkan Ana itu bukan lagi sebuah pertanyaan yang pantas untuk dijawab tetapi merupakan sindiran secara tidak langsung terhadap orangnya.


"Menurut kamu,aku ini bagaimana?Apakah sesuai dengan pemikiran kamu atau tidak,atau sebenarnya aku adalah gambaran kesempurnaan dari seorang pria?" Tanya Alan begitu percaya diri.


Demi dewa Neptunus tapi Alan itu bukan gambaran pria yang sempurna melainkan pria yang kelebihan percaya diri,sebab semua kata kata yang di lontarkan seolah dirinya adalah yang paling terbaik dari segala gala nya dan membuat Ana jengah.


hanya saja Ana yang tidak ingin membuat kekasihnya itu malu sebab dirinya sedang melambung tinggi terus kita menegurnya dia bakalan jatuh jlep langsung ke bawah tanah, maka dari itu dirinya memilih hanya senyum-senyum sendiri sebab ternyata seseorang jika sedang percaya dirinya tingkat akut apapun yang ada dihadapannya bakalan tidak dipedulikan sama sekali.


" Selamat pagi Tuan Alan, semoga hari Anda menyenangkan!" Sapa salah satu petugas kebersihan.


Ana ingin sekali tertawa melihat wajah Alan yang seolah tidak paham dengan sapaan dari petugas kebersihan,seolah sedang menyindir sikap nya yang tadi pagi akibat marah marah tidak jelas.

__ADS_1


" anda sedang menyindir saya secara langsung tepat dihadapan saya memang begitu akibat dari tadi pagi yang saya marah-marah tidak jelas kepada semuanya, lebih baik kamu pergi kerja Bila perlu sekalian pel di atas gedung kalau sudah bersih ngomong ya kita beli cat yang baru!" Sungut Alan.


Ana ingin sekali tertawa ngakak ketika wajah petugas kebersihan yang sangat terkejut itu,sebab Alan yang setengah teriak membuat orang yang sedang berbicara dengan nya menjadi posisi serba salah.


"Kamu ih jangan aneh aneh deh,tadi kan maksud bapak nya baik tapi kamu yang malah salah pengertian seperti itu?" Elak Ana agar Alan menghentikan kata kata yang sangat tidak sedap di dengar itu.


Alan masih tetap tidak bisa melepaskan pria yang setengah tua atau istilahnya OTW tua yang tadi sudah mengeluarkan kata-kata sindiran kepada Nya, mungkin dirinya masih belum bisa puas jika pria itu belum buang air di celana mungkin.


🙄🙄🙄


" tapi tadi kata kata saya itu memang ditujukan untuk Anda Tuan. Agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan segala pekerjaan jadi lancar, tidak ada niatan untuk menyindir Anda secara halus apa apalagi menyindir Anda secara langsung. " entah hari ini Alan senang marah-marah atau karena akibat dari terlalu banyaknya pikiran sehingga orang yang ingin berbuat baik kepadanya pun selalu disalahartikan.


" sudah tidak masalah lebih baik anda pergi saja dan melanjutkan pekerjaannya nanti soal kekasih saya biar saya yang atur, soalnya dia hari ini sedang belajar akting untuk pemeran antagonis pria yang sedang ditawarkan kepadanya jadi jangan diambil hati! " Ana akhirnya memilih Jalan Tengah karena jika tidak yang ada dirinya bisa pingsan kelaparan sebab dari tadi perjalanan menuju kantin itu selalu ada drama yang tidak terduga.


Sepeninggal pria itu Ana memilih untuk jalan lebih dulu dari pada alam sebab Ana begitu kesal dengan sikap pria itu hari ini,yang jauh dari kata sabar sedikit pun.


"Sayang,kok aku di tinggal?" Tanya Alan yang berusaha menyeimbangkan langkah kaki Ana itu.


" ya wajahmu taruh di depan tuh sayang mas saya taruh di belakang Nanti jalan mundur Bukannya ke depan, terus nanti aku untuk mensejajarkan langkah kita cara jalanku harus kayak gimana Masa iya aku yang harus menghadap ke depan kamu yang mundur? " sahut Alan yang begitu santai seolah apa yang dikatakan oleh Ana itu merupakan sebuah lelucon yang harus ditanggapi nya juga secara lelucon.


" menurut kamu wajahku ini sebenarnya baiknya taruh di mana, Soalnya kalau aku itu jalan sejajarnya bareng sama kamu yang ada bikin tambah mumet pikiranku tidak ada yang bakalan jernih sedikitpun sebab kamu dari tadi itu sangat menyebalkan loh!" Sungut Ana.


Ana tidak suka jika Alan tidak menghargai tinggi rendah nya suatu perkerjaan,karena itu sama saja kita berubah jadi orang yang angkuh karena status sosial dalam masyarakat lebih tinggi.


"Ya sudah kalau aku salah maka aku minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam,tapi jangan marah marah lagi ya soalnya aku tidak ingin kita selalu berdebat tanpa henti sedikitpun." Pinta Alan memelas.


"Aku itu sebenarnya tidak ingin marah marah juga sih karena sama saja hanya buat sakit kepala,karena aku datang kesini itu sebab sangat merindukan kamu bukan mau berantem tidak jelas." Ana memilih untuk tidak memperbesar suatu masalah karena sebuah kesalah pahaman bisa di selesaikan dengan cara yang lebih terhormat tanpa harus melibatkan otot.


"Pagi Tuan,pagi Nona Ana. Mau makan disini juga ya,biar saya yang bantu pesankan!" Tawar Dio yang kebetulan masih berada di tempat itu.


"Pagi Juga Dio,boleh juga tuh tawaran kamu soalnya kami berdua juga bingung harus pesan apa." ujar Ana sambil tersenyum membuat Alan meradang Karena menurutnya senyuman Ana itu hanya untuk dirinya bukan untuk orang lain lain.

__ADS_1


" cukup menjawab saja tidak perlu memasang senyuman seperti itu juga kan, nanti dianya besar kepala karena merasa diri sudah mendapatkan apa yang menjadi milikku? " bisik Alan tepat di telinga Ana itu membuat Ana hanya bisa mengerutkan keningnya.


" kamu cepat sana jangan hanya ngomong saja langsung Buktikan dong, jangan juga sok akrab dengan kekasihku karena jika sampai hal itu terjadi lagi kamu bakalan Saya bebastugaskan dari tempat ini tanpa perlu kembali lagi. "sungut Alan sambil mengibaskan tangannya agar Dio segera melakukan apa yang tadi ditawarkannya tanpa harus ada kata-kata lanjutan lagi.


Dio yang sudah bertahun-tahun bekerja di tempat itu tetapi hanya baru-baru beberapa bulan ini kerja bareng Alan sebenarnya tidak perlu mencari tahu lagi lebih jelas selera majikannya itu, karena jika sampai dirinya bertanya satu kali lagi otomatis alam bakalan marah-marah lagi kepadanya karena dikiranya tidak becus bekerja.


" Sepertinya kalian itu benar-benar cocok menjadi partner kerja soalnya satunya itu lelet Terus yang satunya lagi pemaksa, tapi sebenarnya kalian berdua tuh keren banget loh sedap buat dipandang dan enak buat diajak kerjasama karena nilai plus yg kalian yaitu tampang yang sempurna." jika dirinya saja yang dipuji oleh Ana otomatis Alan bakalan melayang ke udara tetapi kali ini kasusnya berbeda ada orang lain yang sedang nebeng ketenarannya dan orang itu tidak lain tidak bukan ada asistennya sendiri.


" boleh aku ralat perkataan kamu tadi kalau sebenarnya yang paling keren di jagat raya dan juga seisi kantor ini yaitu aku Alan Erlangga, jadi tolong jangan pernah samakan aku dengan orang-orang yang tidak berguna di luaran sana sebab sepertinya mereka tidak sepantaran!" gerutu Alan.


" Permisi tuan dan nama pesanan kalian sudah saya sampaikan jadi tinggal menunggu saja, dan saya juga undur diri karena harus kembali ke dalam ruangan saya sebab dari tadi Saya sudah pergi meninggalkan pekerjaan yang ada!" pamit Dio membuat Alan mendengus kesal karena sudah percaya diri mengatakan meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas dirinya adalah Bos di tempat itu.


" kamu sadar tidak kalau sebenarnya siapa yang sedang kamu ajak bicara sekarang ini, bisa-bisanya ya kamu dengan percaya diri mengatakan jika meninggalkan pekerjaan begitu lama? jangan bilang kalau selama ini ini kelakuan kamu seperti begini terus yaitu lari dari tanggungjawab, tinggal tunggu saja saya bakalan memeriksa kembali data yang ada kira-kira kehadiran kamu di kantor ini berapa persen selama ini dan juga siap-siap saja jika bakalan saya ganti orang yang baru. " Dio merutuki kebodohannya yang tadi sudah sempat salah bicara dan juga melupakan posisi Alan di tempat itu.


'Sudah kamu jalan sana,jangan malah berdiri bengong bikin sakit mata!" mendengar apa yang dikatakan oleh Alan barusan tanpa permisi Dio langsung gerak jalan sebelum Alan berubah pikiran.


Apa yang dilakukan oleh Dio itu membuat Ana dan Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya,sebab Alan tadi hanya bercanda tapi ditanggapi begitu serius .


"Ya ampun Sayang,segitu takut nya dia sama kamu sampai-sampai Ai jalannya saja sudah tidak dipikirkan lagi mau jatuh atau tidak? "ujar Ana sambil terkekeh geli tapi tidak sadar jika Alan Tengah menatap menatap kearahnya.


" kamu tadi panggil aku Apa, bisakah diulangi lagi soalnya sepertinya pendengaranku lagi bermasalah?" tanya Alan sambil naik turun kan alisnya membuat Ana menatap heran kearahnya sebab Memangnya ada perkataannya yang salah atau aneh.


" Memangnya perkataan aku yang mana Menurut kamu sampai harus Diulangi sekali lagi, atau jangan-jangan memang Kuping kamu yang sedang bermasalah sampai-sampai mendengar sesuatu yang ajaib?" tanya Ana sambil terkekeh geli.


" Permisi tuan dan Nona ini pesanannya Maaf sedikit lama soalnya tadi banyak yang ngantri, Sekali lagi maafkan saya jika sudah tidak sopan kepada anda!" Ujar penjaga kantin.


Siapa yang tidak merasa segan ketika pertama kalinya tempat itu didatangi oleh pemimpin atau pun pemilik perusahaan secara langsung, dan lebih parahnya lagi dirinya tidak bisa mendahulukan pesanan majikan Itu sebab Indonesia merupakan negara dengan berprinsip bahwa budaya antri itu harus di atas segala-galanya.


"Tidak masalah kok,yang penting intinya Bibi masih ingat dengan pesanan ai berdua, jadi jangan merasa sungkan seperti itu kayak mau ada perang saja sampai Bibi wajahnya tegang? " goda Alan ingin mencairkan suasana sebab dirinya juga sedang terburu buru sekarang ini.


'Kalau begitu saya permisi dulu soalnya harus melayani pembeli yang lain,silahkan menikmati hidangan nya dan semoga mampir kembali!" Setelah mengatakan hal itu wanita paruh baya itu pun pamit dari situ.

__ADS_1


__ADS_2