
Diana berdecih karena merasa lucu dengan apa yang di katakan oleh Papa nya itu,sebab kata orang kasih sayang orang tua sepanjang masa ternyata tidak pernah ia dapatkan dan mungkin hanya sepanjang ujung jari kaki.
"Terima kasih atas apa yang sudah kalian kasih,dan maaf jika belum bisa kasih yang terbaik untuk kalian karena aku masih anak kecil belum bisa apa apa." Ujar Diana sambil membungkuk kan badan kearah kedua orang tua nya.
Setelah melakukan hal itu,Diana langsung pergi tanpa menoleh lagi tidak ada penyesalan ataupun air mata yang jatuh karena ia memang niat untuk melakukan hal itu.
"Ya Tuhan semoga baik baik saja dengan apa yang aku jalani sekarang ini,karena aku mau mereka sadar jika aku adalah seorang anak dan butuh perhatian bukan hanya materi saja!" Ujar Diana dalam hati dan memilih jalan kaki sambil menghubungi Arin agar bisa menolong dirinya.
Arin yang memang sedang gelisah memikirkan Diana karena ia sangat tahu kebiasaan orang tua gadis itu,yang selalu saja melakukan hal yang di luar batas dan sungguh tega sebagai orang tua yang harus nya menjaga anak nya.
"Ya Tuhan terima kasih akhirnya kamu telpon juga Diana sayang,tau tidak buat aku hampir mati lemas!" Arin yang histeris karena merasa begitu bahagia dengan Diana akhirnya menelpon dirinya.
"Rin,aku gembel!" Ujar Diana sambil tertawa pelan membuat Arin mendengus kesal karena Diana yang bercanda tapi tidak lucu.
"Diana,aku lagi tidak ingin bercanda sekarang. Gimana keadaan kamu,apa sudah mandi cantik atau belum awas lho jangan sampai masih bau apek kan tidak lucu?" Tanya Arin antusias.
Diana hanya bisa menghela nafas nya kasar karena ternyata Arin masih menganggap dirinya sedang bercanda,padahal ini sedang gawat darurat sebab bukan lagi seorang gembel melainkan dirinya ada seorang gelandangan tanpa apapun. Mungkin yang hanya dibanggakan hanya lah pakaian di dalam koper dan juga ponsel keluaran terbaru.
"Jangan kan mandi,air mandi saja tidak punya! Jangan kan bobo cantik,punya tempat tidur saja tidak ada sama sekali!" Ujar Diana tapi sambil tertawa membuat Arin mendengus kesal.
"Yana,Ayolah kamu itu kenapa sih malah bercanda?" Tanya Arin ingin sekali mencekik leher sahabat nya itu.
"Aku serius Arin Sayang,memang nya kamu pernah dengar aku bercanda soal menjadi gembel?" Tanya Diana balik.
Arin akhirnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Diana barusan,sebab memang selama ini Diana tidak pernah mempermasalahkan tentang kehidupan pribadinya.
"Kamu tidak bercanda,Diana sayang?" Tanya Arin pelan untuk memastikan apa yang ia dengar.
"Aku itu tidak sedang bercanda tapi lagi konser!" Ketus Diana karena Arin yang masih saja bertanya yang tidak tidak membuat dirinya jadi bosan sendiri.
"Ya Ampun Sayang,jangan marah dong aku kan hanya bercanda. Ya sudah sekarang kamu ada di mana,supaya aku pergi jemput sekarang juga?" Tanya Arin penasaran.
"Aku masih di kompleks dekat rumah,bisa cepetan datang jemput aku sebelum beneran jadi gelandangan lebih dari dua jam!" Sungut Diana karena dari tadi Arin selalu saja mengulur waktu untuk menjemput dirinya padahal sebenarnya Diana juga tidak ingin ketika orang tuanya masih menemukan dirinya berada di situ otomatis mereka berpikiran jika dirinya sedang menunggu mereka untuk datang menjemputnya.
" Ya Tuhan Beb Jangan pernah kamu berpikiran Jika kamu itu adalah seorang gelandang tapi kamu itu adalah seorang gembel yang cantik, yang membuat mata semua orang menjadi segar karena ada pemandangan di pinggir jalan yang begitu menggugah selera!" Goda Arin.
" Astaga dasar manusia kurang ajar untung juga aku sedang menjadi gembel jadi memerlukan bantuan mu Coba kalau tidak Sudah dipecat kamu menjadi sahabatku, karena kata-kata kamu itu begitu sangat menyakitkan hatiku yang sudah merupakan seorang manusia yang tidak berdaya dunia dan akhirat!" Diana dengan begitu santai bahkan tanpa beban sedikitpun seolah dirinya bukan pergi dari rumah melainkan hendak pergi liburan.
Karena baginya sudah biasa jika ia sering keluar masuk dari rumah itu Karena Terkadang juga merasa bosan dan juga kesepian Diana bahkan sampai berbulan-bulan menginap di kediamannya Arin tanpa ada satupun yang mencarinya ataupun mengkhawatirkan dirinya.
Jadi bisa dibilang rumah Arin itu adalah rumah utama bagi Diana lalu rumahnya sendiri merupakan rumah singgah yang hanya didatangi sebentar lalu ditinggalkan lagi, karena sama saja jika ia bertahan disitu pasti siang malam hanya hidup dengan Art saja.
"Ini Arin kenapa lama sekali,apa dia tidak tahu kalau aku lagi mumet karena menunggu dirinya. Sudah begitu nih perut malah kelaparan tidak tepat waktu,apa tidak tahu kalau aku adalah orang paling kere di muka bumi ini!" Ujar Diana dalam hati bahkan terlihat ingin sekali menangis meratapi nasib yang ia hadapi karena kalau urusan usus besar dan kecil terkadang membuat orang yang kuat menjadi lemah.
Arin yang meminjam mobil milik Papa nya begitu laju mengendarai nya,karena biar bagaimanapun jarang ada lho pembalap wanita di dunia karena semuanya pengen pake rok span yang seksi🙄🙄.
Tak berselang lama Arin sudah melihat Diana tepat di ujung jalan dengan menyeret koper nya sambil memasang wajah cemberutnya,terlihat begitu mengenaskan tapi juga sangat membuat orang lain merasa iba.
__ADS_1
Sebab setiap apa yang dipakai oleh Diana itu adalah pakaian branded semua nya tapi kok bisa malah seperti orang yang tidak terurus,karena memang penampilan tidak selama nya menyatakan status seseorang.
"Cintaku,belahan jiwaku jantung dalam hati ku!" Ujar Arin yang ingin memeluk Diana tapi langsung terhenti ketika gadis itu mengangkat tangan nya tidak ingin di sentuh sama sekali.
"Stop mendekat karena aku masih tidak ingin orang lain berpikiran yang aneh aneh lagi,karena satu kali kelakuan aneh kamu itu mencuat orang langsung berpikiran yang tidak tidak apalagi dobel dua kali!" Ketus Diana dengan menatap tajam kearah Arin.
Arin langsung memeluk lengan nya sendiri karena perkataan yang begitu menusuk milik Diana tadi,padahal ia sangat cemas sehingga begitu khawatir dengan apa yang di alami oleh Diana itu.
"Ihhh kamu itu kalau ngomong bisa tidak yang sopan sedikit saja,memang nya kamu pikir aku itu juga tidak normal apa?" Tanya Arin tapi sambil tertawa membuat Diana juga ikutan tertawa karena merasa lucu..
"Ciee pasti ikutan ketawa karena mikirin si Om,yang jauh di mata tapi dekat di hati!" Ledek Arin membuat Diana langsung diam karena nafsunya untuk tertawa sudah hilang begitu saja.
"Kenapa malah diam?" Tanya Arin dengan nada yang membuat Diana lebih memilih untuk masuk kedalam mobil.
"Itu si Cecep Masduki yang paling tidak ada bagus nya!" Tunjuk Diana lalu menarik tangan Arin agar dekat segera masuk kedalam mobil membiarkan Cecep melewati mereka.
"Lho kamu kok malah menarik ku masuk kedalam mobil,padahal aku kan masih pengen memadu kasih dengan Ayang Bebep?" Tanya Arin tak percaya bahkan dengan matanya yang hampir menangis.
"Memadu kasih untuk cari anak atau cari masalah?" Tanya Diana santai.
"Dasar jomblo mana paham dengan hal yang beginian." Keduanya lalu pergi dari situ sebelum nanti Bima dan Dinda menyadari keberadaan Diana yang dari tadi baru berjalan radius 100 meter dari area rumah megah mereka itu.
Kruyuk kruyuk
Diana yang sedang mengendarai mobil langsung memegang perutnya yang berbunyi tanpa sadar diri,jika sebenarnya tidak punya apa apa untuk di isi.
"Kamu itu melupakan aku atau sengaja mengatakan hal itu agar aku merasa malu?" Tanya Arin ketus.
" Oh iya aku lupa kalau ada Kamu disini,aku pikir kamu sudah melupakan kehadiran ku sama sekali?" Tanya Diana dengan nada mengejek.
"Itu ada Warung pinggir jalan mau tidak kita makan di situ?" Tanya Arin sambil menunjukkan kearah warung tenda yang sedang banyak di datangi para pembeli.
"Tidak masalah yang penting aku kenyang tanpa tapi,tapi ingat ya makan habis kamu yang bayar karena aku lagi ikut program kemiskinan otomatis tidak punya apa apa." Sahut Diana.
"Makanya saat sedang mengikuti program kekayaan itu usahakan bikin rekening pribadi,supaya nanti kalau sudah ganti program kamu tidak melarat seperti ini kan?" Arin katakan hal itu padahal semua sudah terlambat dan tidak ada guna nya sama sekali.
"Kalau begitu aku nebeng sama kamu saja,misal nih kamu memberikan aku uang lima juta sehari ya aku bakal simpan dalam rekening pribadi tanpa ada yang tahu!" Jelas Diana santai bahkan seolah itu merupakan hal yang tidak masalah..
"Buju busyet,kamu pikir saat buang angin yang aku kasih keluar itu uang bukan bau gas?" Tanya Arin tak percaya.
"Ya tergantung yang kamu keluarkan itu gas bumi atau gas bangkai?" Astaga ini kenapa mereka berdua jadi aneh ya padahal sebenarnya harus menangis sampai jungkar jungkir karena sedang galau.
Derth derth derth Ponsel Arin berbunyi...
Ketika dilihat ternyata yang menghubungi dirinya adalah pujaan hatinya,yang tadi hanya bisa di lihat tanpa bisa di gapai.
"Sayang,aku kangen aku pengen peluk! Soalnya selama beberapa hari tidak ketemu kamu,aku merasa seperti seorang jomblo yang tidak punya siapa siapa untuk melepas rindu!" Ujar Arin sambil memeletkan lidah nya kearah Diana yang malah menambah laju mobil agar Arin tidak fokus dengan gaya lebay nya itu.
__ADS_1
"Awwww." teriak Arin histeris.
Apa yang di lakukan oleh Arin itu,membuat Cecep merasa heran karena terkesan seperti orang yang sedang keenakan.
"Kamu lagi enak?" Tanya Cecep heran.
"Enak nya mau otw kematian!" Sahut Arin ketus sambil menatap tajam kearah Diana yang malah tersenyum santai tanpa beban.
Ketika Diana fokus menyetir dan juga Arin yang sibuk romantisme Via udara,di tempat lain Om tampan sedang galau.
Bagaimana tidak di hotel dirinya tidak ada teman untuk berdebat dan lebih parah nya lagi,tidak ada teman untuk diajak memikirkan hal yang paling aneh sekalipun.
Sedangkan Daffa dan Alika memang benar benar tidak ingin di ganggu oleh siapapun,karena pria itu yang dahulu pemalas tiba tiba mendadak jadi babu dadakan nya milik Alika.
Segala kemauan wanita aneh itu tidak ada yang terlewatkan sedikitpun,bahkan pria itu melakukan nya dengan suka rela tanpa ada unsur paksaan sedikit pun.
"Yang kamu mau aku masakin apa?" Tanya Daffa antusias.
"Tidak perlu karena aku masih bisa mengerjakan sendiri,soalnya kalau percaya kamu Itu sama saja dengan masuk jurang. Habis nya saat masak air untuk susu saja bisa gosong,apalagi kalau untuk makanan lama lama gosong nya bisa jadi arang buat bakar ikan!" tolak Alika yang tidak menyukai jika Daffa menawarkan sesuatu secara suka rela seperti itu.
"Tapi kan aku hanya kasihan kepada anak kita dan juga Kamu,yang semakin hari semakin kurus seperti tidak di kasih makan." Daffa mengatakan hal itu dengan. pelan karena tahu jika mood Ibu hamil itu selalu saja berubah rubah.
"Yang bilang aku kurus itu siapa,yang ada itu baru baru timbangan ku naik lagi karena makan dan juga bayi nya semakin berat?" Tanya Alika tak terima ketika di bilang masih kurus juga..
"Kalau timbangan nya yang salah gimana,karena kita itu perlu mengunakan Insting daripada alat yang kadang di ragukan kebenaran nya!" Sahut Daffa yang sejak kapan ingin apa yang dikatakan itu salah.
"Ya sudah kalau begitu kita beda server,kamu percaya insting dan aku percaya alat jadi jangan memaksakan kehendak kamu yang sangat tidak berlaku untuk ku!" Tolak Alika sinis membuat Daffa pasrah karena tidak mungkin juga menolak apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
Beda hal nya dengan Alan dan Ana yang sedang sibuk di kantor pria itu,karena memang ada meeting dadakan yang tidak bisa di tolak ataupun di dijadwalkan ulang.
"Maaf ya Sayang,karena bukan nya menghabiskan waktu berdua dengan kamu,aku malah sibuk dengan pekerjaan yang tidak tahu habis nya." Bujuk Alan sambil mengusap pelan kepala kekasihnya itu.
"Aku paham kok kalau kamu itu kerja bukan keluyuran atau lagi tebar pesona." jelas Ana sambil tersenyum.
"Tapi tetap saja merasa tak enak hati ke Kamu,yang sudah capek capek datang kesini malah aku tinggal." Sahut Alan.
"Ya sudah yang tadi perasaan kamu yang tidak enak hati menjadi enak saja kan masalah bakal beres." Goda Ana.
Tok tok tok
"Permisi Tuan,rapat kita akan mulai!" Ujar Dio dari luar pintu karena memang tidak ada kepentingan untuk masuk kedalam situ.
"Ya sudah aku keluar sebentar dulu ya,baru setelah itu kita pergi ke Apartemen nya aku buat ketemu Mama sama Papa." pamit Alan dan hanya di angguki oleh Ana.
"Mati aku nanti kalau pulang kelamaan,kira kira nanti bagaimana ya respon nyonya rumah?" Gumam Ana dalam hati memikirkan nasib nya beberapa jam dari sekarang.
Karena dirinya hafal betul dengan perangai Mama nya yang kalau apa ia katakan ad yang membantah pasti bakal mengamuk tidak jelas itu.
__ADS_1