PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
09•


__ADS_3

Bekerja dengan ditemani anak tentu sangat tidak biasa. fokus kita jadi terbagi. Meskipun Andi adalah anak yang baik dan patuh,aku tetap harus memonitor setiap tindakannya.


Seperti biasa,aku membuat nasi goreng dengan porsi lebih banyak. sisanya bisa untuk orang yang ada rumah,kebetulan bi Marni juga sangat suka nasi goreng buatan ku. Aku biarkan Andi melahap sepiring nasi goreng, sementara aku bergegas pergi menuju kamar Mas Sandy.


Setelah mengetuk pintu pelan, aku masuk ke dalam kamar. masih ku lihat mas Sandy tak beranjak dari kursinya. tatapannya jauh ke depan. mungkin mas Sandy bosan dan ingin jalan-jalan keluar rumah. sekedar menghirup udara segar. dulu aku pernah menawarkan diri membawanya jalan-jalan ke halaman belakang. tapi mas Sandy menolak,dia bilang dia tak suka udara diluar rumah. sejak saat itu aku tak pernah menawarkan apapun lagi padanya.


"Ini mas nasi gorengnya!"


"Tadi teh Alis bilang mau beli sepatu? buat anak nya?" tanya Sandy kemudian.


Aku menatap mas Sandy sesaat,lalu mengangguk ragu.


"Coba teh Alis periksa lemari pakaian saya yang itu. dibawanya ada beberapa sepatu baru yang belum pernah saya pakai. ambil aja!" perintahnya yakin.


Aku menoleh kearah lemari yang di maksud. lemari pakaian itu memang tak pernah aku buka. dan entah apa isinya. Karna lemari pakaian mas Sandy tersimpan di dalam lemari yang berbeda. akupun tak pernah mencari tahu apa yang ada di dalamnya.


"Emang boleh mas,saya buka lemari nya? mas Sandy yakin?!" tanyaku


Mas Sandy mengangguk pelan.


"Enggak deh mas.Saya beli aja nanti. lagian sepatu mas Sandy mana muat di kaki anak saya!" aku melirik kearah kaki mas Sandy yang memang terlihat jelas ukuran kaki yang jauh berbeda.


"Kamu belum lihat isinya,udah ngomong yang lain-lain." sahut mas Sandy yang sepertinya tak suka dengan penolakanku.


"Mas di makan nasi goreng nya,Nanti keburu dingin. saya mau cuci pakaian dulu. kalo perlu sesuatu,mas Panggil aja!" Aku pamit meninggalkan mas sandy yang sepertinya masih kesal.


••


Sembari menunggu Dokter Hasan datang. Aku mencuci pakaian,lalu membantu pekerjaan Bi Marni karna tak tega melihatnya membersihkan rumah sendirian. mulai dari dapur,ruang tengah,ruang tamu,hingga seluruh kamar. seharusnya mereka menambah satu lagi ART Di rumah ini. sehingga pekerjaan kami menjadi lebih ringan.


"Hufth!" Aku menghela nafas berat.


Ku lihat Andi yang masih asyik menyiram tanaman. Aku tersenyum lega saat melihat anak itu benar-benar patuh.


TINGTONG!


Aku menoleh kearah pintu,Disusul bi Marni yang kemudian membukakan pintu.


"Pak dokter,silahkan masuk!" suara Bi Marni mempersilahkan. sudah pasti itu dokter hasan. Ku tinggal Andi sebentar, lalu bergegas menuju kamar mas Sandy.


"Permisi mas,dokter Hasan sudah datang." Aku masuk lalu merapikan meja bekasnya sarapan. Mas Sandy masih duduk ditempat yang sama.


"Mas Sandy gak mau pindah ke tempat tidur?" tanyaku. Dia menjawab dengan hanya menggeleng pelan.


"Selamat pagi?" Sapa dokter Hasan yang kemudian masuk karna pintu yang sudah ku buka lebih dulu.

__ADS_1


"Silahkan masuk pak dokter!" sapa ku. dokter Hasan adalah dokter yang sangat baik yang pernah aku kenal. Usianya hampir sama dengan Bu Ayu mungkin lebih tua sedikit. Bi Marni bilang,dokter Hasan adalah dokter keluarga. beliau yang dipercaya merawat keluarga Hadiwijaya selama bertahun-tahun. Aku Sudah sering ngobrol dengan dokter Hasan. dan aku banyak belajar dari beliau soal ilmu kedokteran. beliau juga orang yang sangat hangat dan penyayang. aku melihat sosok ayah dalam dirinya. terkadang Aku rindu akan sosok ayah saat bertemu dokter Hasan.


"Gimana Lis, kabar pasien nya? masih bandel?" goda sang dokter sembari duduk di samping Mas Sandy. Aku tersenyum,dokter Hasan selalu Bisa membuka obrolan dengan begitu santai.


"Alhmdulilah dok. Mas Sandy sudah lebih baik sekarang,banyak kemajuan" Sahutku antusias.


"Bagus lah. setidaknya pasien kamu ini tahu diri. kalo dia bukan bayi lagi,makan aja harus pake drama dulu!" Ledeknya melirik kearah mas Sandy.


Mas Sandy melayangkan tatapan tak suka padaku. dia pasti berfikir akulah yang banyak bercerita pada dokter Hasan soal Aibnya yang sulit makan. padahal semua itu ulah Bi Marni yang menceritakan semua kejadian di rumah selama aku mengurusi mas Sandy.


"Kalian berdua cocok banget,suka bergosip!" sindir mas Sandy.


"Orang bandel kaya kamu,wajarlah di bicarakan di belakang! di Bilangin di depan muka aja gak nurut. Gimana orang gak jengkel sama kamu San." sahut Dokter Hasan. Aku tertunduk mengulum senyum. Dokter Hasan memang sangat Berani dan juga tegas. Aku selalu suka caranya menjawab setiap ucapan atau bantahan dari Mas Sandy.


"Kamu gak mau berbaring?" tanya dokter Hasan.


"Gak!" jawabnya ketus


"Kamu memang anak muda Yang selalu bikin orang tua repot. pantesan tante kamu selalu mengeluh soal kamu ke saya!" Tukasnya sembari memegangi tangan mas Sandy untuk kemudian melakukan beberapa pemeriksaan.


Mas Sandy tersenyum remeh,


"Dokter masih percaya sama omongan tante Ayu?" sindirnya


"Saya permisi Tinggal sebentar dok," pamitku menyela obrolannya. Aku pamit meninggalkan kamar Mas Sandy lalu kemudian beranjak menuju halaman. ku lihat Andi tengah duduk di depan teras. sepertinya dia kelelahan.


"Kita udah boleh pulang ma? kapan kita beli sepatu?!" tanya Andi yang sepertinya mulai bosan menunggu.


Aku tersenyum,Ku usap lembut kedua pipinya.


"Andi sayang, sabar yah! tunggu sampai dokter yang periksa majikan mama selesai,kita baru pulang!" janjiku


"Kenapa harus nunggu dokternya pulang sih ma? kan keburu sore!" Protesnya


"Majikan mama kan sakit,biasanya kalo abis di periksa dokter suka di kasih obat banyak. jadi mama harus kasih obat dulu, biar majikan mama cepet sembuh!" Aku mencoba menjelaskan dengan pelan, agar Andi tak merengek.


"Tapi,gak akan lama kan ma?"


"Enggak sayang,sebentar aja kok. oh iya, Andi mau lihat kolam renang gak? majikan mama punya kolam renang bagus loh dibelakang!" ajakku mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Emang boleh ya ma?"


"Andi ikut mama sini!" aku menarik tangannya lembut.


"Bi, aku mau ajak Andi ke kolam renang sebentar yah!" pamitku pada bi Marni yang tengah beristirahat.

__ADS_1


"Ya sudah,kamu Hati-Hati ya!" bi Marni mengusap pundak Andi penuh perhatian. hal itu membuatku merasa lega. setidaknya anakku bisa diterima oleh orang-orang di rumah ini. meskipun bu Ayu tak tahu jika aku membawa Andi turut serta ke rumahnya.


Aku dan Andi berjalan santai menuju kolam,aku memintanya agar tak terlalu dekat dengan bibir kolam.


"Ma,Andi boleh berenang gak?" tanya Andi yang sepertinya mulai tergiur dengan jernihnya air kolam. kebetulan saat itu waktu menujukkan pukul 1 siang. dimana udara memang sedang panas-panasnya.


"Jangan sayang,nanti majikan mama marah! Andi kalo berenang,tunggu mama punya uang dulu ya nak. kita ajak Rehyan berenang sama-sama!" bujukku


"Kalo gitu, Andi boleh duduk disana ya!" pintanya menunjuk salah satu sudut kolam yang lumayan dangkal.


"Ya udah,ayo mama temenin!" Kami bermain cukup lama disana. sesekali aku bercerita dan Andi menjawab cerita ku dengan jawaban konyolnya. sehingga tawa kami bisa terdengar hingga ke dapur.


Andi menengadah,matanya tertuju pada salah satu sudut ruangan.


"Ma,itu siapa?" Andi menatap kearahnya lama.


Aku mengikuti arah pandangannya, kaget rasanya saat tahu mas Sandy memperhatikan kami. apalagi kulihat seulas senyum di wajahnya. apa benar mas Sandy tersenyum? tapi pada siapa? dan entah sejak kapan dia duduk di balkon bersama dokter Hasan. Aku segera berpaling,jangan-jangan mas Sandy sudah sejak lama memperhatikan kami? batinku.


"Andi, udahan ya mainnya! disini panas, nanti Andi sakit!" ajakku beralasan.


Andi yang masih penasaran dengan sosok yang duduk dibalkon itu hanya berjalan mengikuti kemana aku pergi tanpa membantah.


"Eh, Andi udahan mainnya?" tanya Bi Marni.


"Udah bi,lagian di luar panas. takut Andi demam" Sahutku beralasan.


"Ya sudah,Andi duduk disini sama bibi yah! bibi punya jus buah buat Andi."


"Makasih bu," tukas Andi antusias.


"Lis,kamu tolong anterin minuman ini ke atas ya!" perintahnya.


Dengan berat hati aku menuruti perintah bi Marni, harus bagaimana nanti aku menghadapi Mas Sandy. malu rasanya saat mas Sandy memergoki kami berdua di kolam renang tadi. Aku hanya khawatir mas Sandy tak suka dengan kehadiran putraku. aku takut di cap tak profesional karna bekerja membawa serta anakku. Ku panjatkan sedikit doa, berharap agar mas Sandy tak menggerutu nanti.


Aku mengetuk pintu pelan,sebelum aku membukanya dokter Hasan lebih dulu menarik pintu.


"Loh, dokter mau pulang?" tanyaku kaget


"Saya,ada telepon penting dari rumah sakit. resep obatnya seperti biasa ya! sudah saya simpan di atas meja." Pamitnya bergegas


"Tapi dok,minum dulu?" Pintaku tak enak hati.


"Gak usah! saya buru-buru. Oh iya.. Alis,terima kasih kamu sudah menjaga Sandy dengan baik!" tukasnya sembari mengurai senyuman.


Aku mematung di ambang pintu, menyaksikan kepergian dokter Hasan dengan kalimat terakhir nya yang menyisakan tanya.

__ADS_1


•••••


__ADS_2