
Kami tiba di depan rumah. dan aku baru sadar jika tengah hari begini, suasana di dekat rumahku cukup ramai. beberapa anak kecil tampak asik bermain di samping rumah yang merupakan halaman luas. sementara para ibu mereka duduk-duduk santai di depan sebuah warung sambil mengobrol.
"Haduh," aku mendesah bingung sebelum keluar mobil.
"Kenapa?" mas Sandy melihat ke arah dimana ibu-ibu itu berkumpul.
"Mas Sandy Gak liat mereka sedang melihat ke arah kita? sudah pasti mereka sedang membicarakan kita sekarang!"
"Memangnya apa yang salah? saya hanya mengantar kamu pulang!" mas Sandy melepas safetybelt -nya.
Ku tatap ragu dirinya yang tampak begitu santai dengan situasi yang menurutku sedikit mengganggu ini. Sifat dan perilaku orang di perkampungan tentu berbeda dengan mereka yang tinggal di lingkungan perkotaan.
Dari cara mereka melihat saja, kita sudah merasa terhakimi. apalagi mendengar cemoohan mereka setelahnya. aku ykin pasti banyak yang tak tahan dengan semua gunjingan itu.
Pengalamanku sebagai wanita single yang tinggal di perkampungan tentu paham betul dengan pandangan orang-orang seperti mereka. apalagi jika kami membawa serta seorang pria ke rumah hingga menginap. dan hal itu, sebisa mungkin coba ku hindari.
Banyak orang yang mulai abai dengan hal. itu, tapi tak sedikit pula yang mencibir. dan kebanyakan dari mereka adalah para tetangga yang terkadang bermulut 'Tajam'.
"Kamu mau disitu terus teh!" tukasnya setelah membuka pintu mobil cukup lama.
"Hah!" Aku terperanjat kaget. sudah sejak kapan mas Sandy berdiri di situ.
"Mas Sandy seharusnya gak perlu bukain pintu buat saya mas. saya bisa sendiri kok!" desisku setengah berbisik.
Aku melemparkan senyuman tipis ke arah ibu-ibu yang tengah berkumpul itu.
"Mari bu," pamitku segera berlari kecil menuju rumah.
Mas Sandy terlihat berjalan santai seolah sengaja melakukannya.
Aku berdiri di ambang pintu. ku tatap sinis dirinya.
"Mas Sandy!" geramku sembari menarik tubuhnya masuk ke dalam rumah.
"Saya ini sedang sakit teh. kenapa kamu tarik-tarik!" protesnya.
"Lagian mas Sandy kenapa kaya gitu sih? udah tahu di luar banyak yang ngeliatin. masih aja bisa santai."
"Saya hanya ingin menunjukkan pada mereka,kalau kamu pacar saya teh. supaya tak ada laki-laki lain yang berani bertamu selain saya!"
Aku menatapnya tak percaya,ternyata Seorang Sandy Hadiwijaya juga sangat memerlukan pengakuan dari orang lain.
Ku dekati mas Sandy dan ku periksa dahinya.
"Demam kamu sudah turun mas! tapi kenapa masih ngelantur ya" sindirku coba menggodanya.
__ADS_1
"Saya tidak demam teh. dan saya serius soal itu. Saya tak ingin kata-kata Ivan tadi,juga di ucapkan oleh laki-laki lain pada saya. bagi saya itu sebuah penghinaan." tandasnya
Ku tarik mundur tanganku pelan. ternyata benar dugaanku, jika mas Sandy masih terganggu dengan kalimat sindiran yang dilontarkan oleh pak Ivan.
"Mas Sandy Gak usah mikirin ucapannya pak Ivan. dia sepertinya memang sengaja ingin membuat mas Sandy marah!" ku coba menenangkannya.
"Mana bisa saya tenang. lagipula apa maksud dari ucapannya tadi? memangnya tahu apa dia tentang kamu teh? Atau jangan-jangan kalian sudah saling mengenal ya?!" Selidiknya.
"Kenapa juga saya harus mengenal pria seperti pak Ivan," desisku tak suka jika dicurgai seperti itu.
Mas Sandy menatapku gamang. sepertinya dia memang tak percaya dengan jawabanku dan bodohnya aku yang tak bisa berbohong untuk meyakinkannya.
"Berjanjilah..! Teh Alis jangan pernah menyembunyikan Rahasia apapun dari saya." gumamnya penuh harap.
Ku balas tatapannya dengan senyuman setenang mungkin. Untuk saat ini aku belum berani memberitahukan soal diriku yang bekerja pada pak Ivan. mungkin suatu hari nanti, akan ku ceritakan semuanya.
Maafkan saya mas, bantinku.
"Mas Sandy haus Gak? saya buatkan minuman ya?"
Ku coba mengalihkan pembicaraan kami yang mulai terasa menyudutkanku.
Mas Sandy duduk bersandar di sofa tanpa menjawab pertanyaanku. Aku segera bangkit dan menuju dapur untuk membuatkannya segelas teh hangat.
"Hari ini Andi pulang jam berapa teh?"
Segera ku bawa segelas teh manis hangat itu kehadapannya. Mas Sandy terlihat memejamkan matanya sejenak. seharusnya memang dia beristirahat di rumah saja hari ini. tapi sayangnya, tak ada yang berani melarang kemauannya.
"Kalau dokter Hasan tahu mas Sandy keluyuran, pasti dia akan sangat marah mas!" ku dekati mas Sandy cemas.
"Dokter Hasan terlalu bawel. lagipula yang tahu bagaimana kondisi tubuh saya cuma saya sendiri teh! saya baik-baik aja kok!" tegasnya seakan tak ingin membuatku cemas.
Drrrtttt... Drrrtttt...
Ponsel mas Sandy bergetar pelan. sedetik kemudian dia merogoh saku celananya.
"Halo,Mona. Oh iya,saya hampir lupa.. tolong kamu kirimkan File- nya ke saya sekarang ya!" sahutnya segera.
Aku menatapnya penasaran.
"Ada apa mas?!"
"Saya lupa harus meninjau beberapa berkas kerja saya hari ini. tapi saya gak bawa laptop!" mas Sandy menghela nafas dalam.
"Emangnya gak bisa dikerjain besok aja mas?!"
__ADS_1
"Hm, seharusnya bisa. Tapi saya tak ingin mengecewakan klien saya teh. mereka pasti sudah menunggu!"
Menjadi pengusaha di usia muda tentu sudah banyak mengajarkan mas Sandy soal kedisiplinan. Dan menjaga nama baik perusahaan bukan hal yang mudah. bahkan dia terlihat sangat takut jika mengecewakan para klien-nya. Karna itu pasti akan berimbas pada reputasi dan masa depan perusahaan.
Aku tahu menjadi mas Sandy tidaklah mudah. bahkan dia rela mengabaikan kondisi kesehatannya hanya demi pekerjaan.
"Mas Sandy yakin?"
"Sepertinya saya harus pulang!" mas Sandy bangkit dari duduknya.
Sejujurnya aku ingin sekali mencegah mas Sandy untuk pulang dan bekerja. Aku hanya takut kondisi kesehatannya malah memburuk.
Mas Sandy menatapku cukup lama.
Ada perasaan tak rela diantara kami berdua jika harus berpisah secepat ini.
"Mas Sandy Gak mau minum teh nya dulu?" pintaku mencoba mengulur waktu agar aku bisa melihatnya sedikit lebih lama.
"Baiklah," Mas Sandy mengambil cangkirnya dan menyeruputnya pelan.
"Saya pulang dulu teh, sampaikan salam saya untuk Andi." Tukasnya kemudian.
"Mas," Ku coba menahan kepergiannya sekali lagi.
Mas Sandy tersenyum manis padaku.
"Saya janji, setelah pekerjaan saya selesai. saya akan menelepon teh Alis." mas Sandy menarik pinggangku dan mengecup keningku lembut.
Sekarang hal itu seakan menjadi kebiasaan wajib baginya sebelum pergi meninggalkanku.
Aku mengangguk patuh.
Biar bagaimanapun aku tak bisa egois. mas Sandy memiliki tanggung jawab besar untuk perusahaannya. dan ada banyak orang yang bergantung padanya sekarang. aku sadar akan hal itu.
Ku lepas kepergiannya dengan seuntai doa agar apa yang dia kerjakan berjalan dengan lancar.
Bukankah mencintai harus seperti itu? saling mendoakan dan mendukung apapun yang pasangan kita kerjakan.
"Hati-hati di jalan mas!" ku lambaikan tangan saat mobil mas Sandy menjauh dari pelataran rumah.
"Lis, itu pacar kamu ya? Wah hebat ya kamu sekarang,sudah punya calon ayah baru untuk Andi!" seloroh sebuah suara dari arah warung.
Para tetangga memanglah seperti itu, terkadang kita hanya perlu mengabaikannya saja sekedar untuk menghemat tenaga.
Dan Ku balas ucapannya itu dengan senyuman ramah,tanpa berniat menjawabnya.
__ADS_1
Beruntunglah Bu Dewi tak ada di rumah hari ini. setidaknya dia tak akan menanyaiku tentang kedatangan mas Sandy hari ini.
• • • • • • •