PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•118


__ADS_3

Meski pergulatan batinku bergejolak nyatanya aku luluh juga.


Tanpa ada kemelut yang bergelayutan dikepalaku,akhirnya kami benar-benar bersatu.


Pertama kalinya menyambut pagi dengan hasrat liar yang aku sendiri tak mampu mengendalikannya.


Aku pikir mas Sandy akan kecewa, mas Sandy tak akan bisa menemukan kebahagian dalam hubungan kami.


Namun setiap kecupannya, setiap bisikannya terasa penuh cinta dan ketulusan.


Membuatku yakin bahwa dia benar-benar bahagia atas apa yang sudah kami lalui bersama barusan.


CUP!


Kecupan terakhir itu mendarat sempurna dikeningku. aku menarik selimutku malu-malu. menutupi seluruh tubuhku yang kini tak berbalut kain sehelai pun.


"Kenapa harus malu, saya sudah melihat semuanya." goda mas Sandy setengah berbisik.


"Bisakah mas Sandy ke kamar mandi lebih dulu?" aku mengusirnya segera.


Wajahnya menatapku tak suka.


"Bukankah seharusnya kita mandi bersama?" tanyanya.


"Mas sandiiiiii...!" geramku membenamkan wajah saat tubuhnya mendekapku erat.


"Oke,baiklah. sepertinya saya harus menggendong kamu ke kamar mandi teh!" mas Sandy berusaha menarik selimutku secara paksa.


"Gak mau mas! mas Sandy aja duluan!" elakku tertawa nyaring.


Mas Sandy terdiam. dia menatapku seraya menghela nafas dalam.


Aku menoleh pelan.


"Maafkan saya teh. seharusnya kita pergi berbulan madu dan melewati malam pertama kita ditempat yang romantis. bukan seperti barusan." mas Sandy menghela nafas dalam.


"Salah siapa?" aku melayangkan tatapan tajam padanya. seakan semua ini terjadi memang atas kesalahannya.


"Semua salah saya teh. saya tak bisa mengontrol diri" racaunya menyesal.


Aku hanya mampu mengulum senyum melihat tingkahnya itu.


Ku usap lembut kepalanya, jari jemariku menyisir tiap helaian rambutnya yang masih berantakan karena ulah kami barusan.


"Buat saya, tempat seperti apapun semuanya sama saja. asalkan sama mas Sandy saya akan selalu suka."


"Serius? bukannya perempuan itu paling suka tempat-tempat mewah dan romantis untuk bercinta?" kedua alisnya bertaut.


"Mungkin perempuan lain suka hal itu. tapi saya lebih suka mas Sandy." aku mencoba menggodanya.


"Wah? baru sehari jadi istri udah pinter ngegombal ya?" tukasnya terkekeh.


"Saya gak ngegombal kok. saya serius! karena buat saya, hal semacam ini benar-benar sudah sangat luar biasa. mas Sandy memperlakukan saya dan Andi begitu baik. tak ada yang kurang sedikitpun. Saya rasa,saya sangat beruntung!" Aku menatapnya sendu.


Bagiku mas Sandy adalah pria terbaik yang ku kenal didunia ini. Dia mengenalkan ku banyak cinta yang selama ini tak pernah ku dapatkan.


Mas Sandy tersenyum lega. kedua manik matanya berbinar. mungkinkah ucapanku barusan menyentuh hatinya?


"Justru saya yang beruntung bisa mendapatkan kamu teh," Tuturnya seraya mengecup bibirku lagi,

__ADS_1


Aku memeluknya erat.


Aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan aku hadapi didepan kami nanti. asalkan bersama mas Sandy, aku sanggup menghadapi masalah sebesar apapun.


•••


Pagi ini seperti biasa, aku turun ke dapur. Andi harus berangkat ke sekolah. dan aku harus menyiapkan bekal dan juga sarapan untuknya juga suamiku.


Tengah sibuk menyiapkan semua bahan masakan. terdengar langkah seseorang memasuki dapur.


"Mas Sandy sudah bangun?" aku menoleh cepat karena ku pikir itu adalah mas Sandy. aku terhenyak saat tahu yang datang bukanlah mas Sandy melainkan bu Ayu.


"Bu Ayu. maaf! saya pikir barusan mas Sandy." aku tertunduk malu.


"Buatkan saya teh," perintahnya tanpa merespon permintaan maafku barusan.


"Teh? iya baik bu. saya buatkan sekarang juga."


"Bawa ke kamar saya!" Bu ayu menatapku sinis, lalu berbalik dan kembali ke kamarnya.


Aku terdiam cukup lama. apa barusan itu tandanya bu Ayu sudah mulai bisa menerima kehadiranku sebagai istri mas Sandy? batinku.


Aku tersenyum lega, walaupun dia hanya meminta teh. setidaknya dia sudah menganggap kehadiranku di rumah ini.


Aku begitu antusias, sehingga segera ku buatkan teh hangat kesukaannya. bahkan ku bawakan dia beberapa camilan sehat. dan tanpa banyak berpikir lagi, Aku segera menuju ke kamar bu Ayu.


TOK..


TOKK..


Ku ketuk pelan pintu kamarnya, lalu ku buka perlahan karena takut suara decitan pintu mengganggunya.


"Bu, ini teh nya,saya bawakan cemilan sehat juga buat ibu..," Aku mendekat dan menyimpan teh itu di atas meja. namun bu Ayu sama sekali tak merespon dan hanya sibuk merapikan rambutnya itu.


Aku berjalan pelan hendak meninggalkannya kamarnya.


"Tunggu,"


Ku hentikan langkah kakiku.


"Tolong kamu jaga sikap kamu! jangan terlalu percaya diri,saya tak pernah menganggap bahwa kamu adalah nyonya dirumah ini. lagipula, kamu lebih cocok jadi pesuruh daripada istri keponakan saya." bu Ayu menoleh padaku. tatapan matanya sarat makna.


Aku terpaku. kaget tentu saja.


Ku pikir kata-kata buruk seperti itu takkan keluar dari mulut seorang wanita seperti Bu Ayu. Namun nyatanya aku salah.


"Kamu memang berani. saya akui itu. tapi jangan mentang-mentang Sandy sudah menjadi suamimu, kamu bisa seenaknya dirumah saya!" Bu Ayu kembali merapikan rambutnya.


"Maafkan saya bu," aku bergumam pelan


"Diluar sana masih banyak gadis-gadis belia yang sepadan dengan Sandy. saya heran kenapa dia malah memilih seorang,-- Huh! sudahlah,kamu bisa pergi...!" perintahnya enteng. seakan kata-kata nya itu takkan melukai hatiku.


Aku mencengkram kuat nampan yang ku pegang. aku tahu apa maksud dari ucapannya barusan. aku sadari itu.


"Saya permisi bu." Aku berjalan gontai keluar dari kamarnya. kakiku terasa lemas tiba-tiba. Aku bersandar di sisi pintu,


Apakah sesulit ini menjadi istri kamu, mas?


TINGTONG!

__ADS_1


Aku yang masih termangu di samping pintu. dikagetkan dengan bunyi bel dari arah depan. Siapa yang bertamu pagi-pagi buta begini. pikirku.


Dengan cepat aku berjalan menuju pintu depan dan segera membukakan pintu.


KLEK!


Ku tatap dua wanita yang mungkin berusia sekitar 40 tahunan,keduanya tampak berdiri didepan pintu.


"Maaf, kalian siapa ya?" aku menatap keduanya bingung.


"Kami di suruh Bu Nita untuk kesini bu. ibu pasti Bu Alis ya?" seloroh wanita gemuk dengan rambut dikuncir tinggi itu.


"Iya, saya Alis. kalau begitu Silahkan masuk! duduklah,saya akan buatkan kalian minum." pintaku


"Gak usah bu! masa majikan yang bikinin minum. Lagian kami berdua udah ngopi kok bu!" tukas wanita itu lagi.


"Oh ya sudah. kalau begitu biar saya bangunkan suami saya dulu!"


Aku bergegas menuju kamar untuk memanggil mas Sandy.


"Mas, apa mas Sandy udah ganti baju? diluar ada tamu mas," Aku masuk ke dalam kamar dan melihat mas Sandy tak ada disana.


"Saya disini teh!" Suamiku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya memakai handuk.


"Astagfirullah!" Aku memekik kaget seraya memalingkan wajah ke arah lain.


"Kamu kenapa teh? masih kaget aja liat saya telanjang dada."godanya sembari mendekat.


"Saya bukan kaget! saya heran aja mas Sandy baru selesai Mandi dari tadi!" selorohku berbohong.


"Tolong keringkan rambut saya!" pemuda itu menundukkan kepalanya dihadapanku. Aku terkesiap! masih kaget dengan situasi seperti ini.


Ya! tentu saja. sekarang aku ini istrinya. kami adalah suami istri, wajar jika dia meminta hal yang lazim dilakukan oleh pasangan suami istri bukan? kenapa ku masih saja kaget dengan hal ini. batinku


"Ya ampun mas, di luar ada tamu! kenapa malah santai banget sih?" desisku seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Mereka orang yang akan bekerja mengurus rumah. biarkan saja mereka menunggu." tukasnya malas.


"Mas Sandy minta mereka datang hari ini? padahal saya bisa urus rumah mas. lagipula seharian saya akan ada dirumah. kenapa harus mencari dua orang asisten!" tanyaku yang memang menganggap jika satu orang asisten saja sudah cukup.


"Siapa bilang kamu akan seharian di rumah. kita akan ke kantor hari ini." jawabnya.


Aku terdiam sesaat.


Mas Sandy menengadah dan menatapku heran.


"Kenapa? teh Alis gak mau?" tanyanya.


"Ngapain saya musti ke kantor?" selidikku.


"Kamu itu istri saya! saya ingin, semua karyawan saya tahu hal itu."


"Tapi, mas. apa itu gak berlebihan ya?"


"Kalau perlu saya akan panggil media untuk mengumumkannya. atau saya panggil semua rekan bisnis saya juga? setelah itu kita buat resepsi yang mewah. Bagaimana?!" mas Sandy tersenyum penuh semangat seraya mencubit gemas hidungku.


Namun Aku hanya menatapnya ragu.


• • • • •

__ADS_1


__ADS_2