
Ketika seseorang memilih untuk hidup sendirian,meskipun dia dikelilingi banyak harta. nyatanya hal yang paling ditakutinya pastilah jatuh sakit. Entah sakit karena sebuah penyakit, atau sakit karena sebuah keadaan.
Mungkin Bu Ayu tak pernah menyangka dia akan terbaring seharian diranjang rumah sakit yang begitudingin. Baginya ini pasti sangat menyiksa, dia sendirian, juga sangat kesepian.
Tiba-tiba Ku lihat gerakan jari yang berulang secara pelan. mungkin masih lemah. Aku tersenyum.
"Alhamdulillah.. Ibu sudah sadar" gumamku yang segera bangkit untuk memanggil suster.
Tak berapa lama, aku kembali dengan suster yang langsung memeriksa kondisinya.
"Sebentar ya bu, saya panggil dokter Hasan dulu!" pamit sang suster segera.
Bu Ayu menatap sekeliling secara perlahan. kemudian matanya tertuju padaku. tampak bola matanya membulat lebar. dia pasti tak menyangka jika akulah yang berada disini bersamanya.
Aku tersenyum lega. setidaknya dia tahu siapa aku meski mungkin dia tak suka dengan kehadiranku.
Seketika wajahnya berpaling. sepertinya dia tak ingin melihatku sekarang.
"Apa Ibu mau minum?" aku mendekat dan menanyainya dengan lembut.
"Tinggalkan saya!" tukasnya sinis.
Aku menghela nafas pelan. Demi kesembuhannya, aku memang harus sedikit bersabar menghadapi sikap Bu Ayu yang seperti ini.
"Bu, ibu baru saja sadar. ibu pasti lemas. saya ambilkan minum ya bu?" tukasku coba membujuknya lagi.
Namun dia tetap berpaling dan tak menggubrisku.
"Untuk apa kamu disini!" gumamnya.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada Alis. selama kamu tak sadarkan diri. dia yang menemanimu" seloroh dokter Hasan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
Aku mundur perlahan. dan membiarkan dokter Hasan memeriksa kondisinya.
"Pasti kamu yang menyuruhnya kemari!" Bu Ayu menatap sinis dokter Hasan.
"Kamu masih saja tak berubah. padahal, sedang sakit begini. kenapa kamu tak bisa menerima Alis? apa salahnya padamu? jika kamu tak suka dengannya, setidaknya hargai pengorbanannya. dia sedang hamil" dokter Hasan nampak kesal.
"Dokter,.. lebih baik dokter periksa dulu kondisi Bu Ayu. biar saya keluar." pamitku.
Aku berjalan pelan dan duduk di kursi tunggu. ku tatap Nanar langit-langit rumah sakit yang tampak membisu.
Kenapa? kenapa dia harus bersikap begitu padaku? Apa memang aku tak pantas menyandang nama Hadiwijaya dibelakang namaku? atau memang ada alasan lain yang mendasari sikapnya hingga begitu terhadapku.
TAPI APA?
apa yang membuatnya bersikap demikian? sampai saat ini aku sama sekali tak mendapatkan jawaban.
Sedetik kemudian aku teringat kembali soal foto yang ku temukan beberapa waktu lalu. apa mungkin dia tahu jika aku adalah mantan istri dari mas Rizal?
__ADS_1
Aku terperanjat.
Apa mungkin itu alasannya? jika benar begitu. memang masuk akal. aku adalah seorang janda beranak satu. status yang jauh berbeda dengan mas Sandy.
Tapi apa hubungannya dengan mas Rizal? kenapa mereka bisa berfoto bersama? ada hubungan apa antara keduanya.
Bagaimana mereka bisa mengenal satu sama lain? sejak kapan mereka bisa sedekat itu?
Bahkan seingatku, dulu mas Rizal tak pernah sedikitpun membahas atau menyebut nama Bu Ayu. atau hal yang berhubungan dengan itu.
AH! Pikiranku semakin kalut saja memikirkannya. semakin aku mencoba menerka, maka akan semakin sulit untukku mencerna jawabannya.
"Sayang? kamu disini?" Suara mas Sandy mengagetkanku.
"Mas.." Aku terhenyak.
"Kamu kenapa? apa tante sudah sadar?" tanyanya cemas.
"Bu Ayu sudah sadar. dokter Hasan sedang memeriksa kondisinya." jelasku.
"Syukurlah. lalu,kenapa kamu disini?" selidiknya.
"Mm.. barusan saya ngantuk. jadi saya keluar cari udara segar. ini baru saja duduk mas." jelasku beralasan.
Mas Sandy menatapku tak percaya.
"Kamu gak bohong kan?" Mas Sandy mengusap lembut pipiku.
Aku terpaksa Mengalihkan pembicaraan kami, karena aku tahu mas Sandy pasti akan terus mendesakku jika aku tak jujur lagi padanya.
"Ya sudah. kalau begitu kita keluar sebentar untuk makan. kebetulan saya juga lapar" ajaknya.
"Eh, mas Sandy Gak mau masuk ke dalam dulu?"
"Nanti saja, lagipula dokter Hasan pasti sedang menasehatinya sekarang." terangnya seolah tahu apa yang terjadi.
"Kok mas Sandy bisa bilang begitu?" Aku menatapnya curiga.
"Tentu saja. saya mengenal mereka sudah lama. hanya dokter Hasan yang bisa menasehatinya panjang lebar tanpa bantahan." celetuknya seraya menggandeng tanganku menuju Lobby.
•••
"Jangan Ngambek dong sayang. Nanti papa belikan Andi mainan baru. Gimana?" bujuk mas Sandy pada Andi.
Kami berdua memang sengaja menghubunginya lewat sambungan Videocall. takut jika putraku marah karena kami tak pamit langsung padanya. dan benar saja dugaanku,Andi tampak ketus saat menerima telepon dari kami.
Bi Atun bilang, dia bahkan tak mau makan siang tadi.
"Andi sayang, Andi makan ya. Kasian Bi Atun udah masak buat Andi. katanya Andi mau jadi kakak yang baik" bujukku
__ADS_1
"Mama kapan pulang?" tanyanya.
"Mungkin besok mama pulang sebentar. setelah itu kembali lagi ke rumah sakit. sampai Ibu Ayu benar-benar sembuh sayang." jelasku.
"Andi kan udah besar. Papa janji setelah ini papa akan turuti apapun yang Andi mau?!" bujuk mas Sandy tak mau kalah.
Dan tentu saja berhasil. Andi terlihat sangat sumringah mendengarnya. padahal jelas raut wajahnya sangat lusuh tadi.
"Andi mau main ke taman hiburan pah. boleh ya?!" serunya
"Hm, boleh. Tapi, Andi harus makan dulu ya! coba,papa sama mama mau lihat!" pinta mas Sandy.
"Bi,Andi mau makan." seloroh Andi.
Kami berdua saling lirik dan tersenyum.
"Anak kita penurut!" bisik mas Sandy padaku dengan tatapan penuh cinta.
"Dia baik seperti kamu mas," sanjungku padanya.
Meski Kami berdua sama-sama tahu jika Andi bukanlah anak biologis dari mas Sandy. tapi aku yakin, ikatan batin keduanya begitu erat.
Melihat Andi makan dengan lahap, kami berdua bisa bernafas lega. sehingga kami berdua memutuskan mengakhiri panggilan teleponnya.
"Sekarang giliran kamu yang makan!" tukas mas Sandy saat seorang pelayan datang membawa makanan yang kami pesan.
Sejujurnya perutku ini masih sangat kenyang. hanya saja aku terpaksa berbohong tadi karena tak ingin mas Sandy curiga.
Ku tatap makanan itu ragu.
"Kenapa? Apa harus saya suapi?" mas Sandy mengambil sendok dan berniat menyuapiku.
"Gak usah mas. malu!" bisikku sembari melirik sekitar. karena memang kebetulan banyak pengunjung di Resto tersebut.
"Kenapa harus malu, kamu kan istri saya!" desaknya mengulurkan kembali sendok yang di pegangnya.
Dengan malu-malu ku buka mulutku dan melahap makanannya.
"Gimana? enak?"
"Enak mas," anggukku
"Ya sudah ayo, habiskan!" mas Sandy kembali mencoba menyuapiku.
Beberapa pasang mata melirik ke arah kami berdua. entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. yang jelas kami tak begitu peduli, dan hanya fokus menikmati makanan kami hingga bersih tak tersisa.
Mungkin ini belum saatnya aku bercerita tentang hal yang tadi sempat mengusik pikiranku. Lagipula saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bicara pada mas Sandy,meski Sejujurnya aku juga sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bisa saja Mas Sandy pun tak tahu menahu soal foto itu. jikapun dia tahu, bukankah seharusnya dia bilang padaku sejak awal jika Tantenya pernah sangat mengenal mas Rizal.
__ADS_1
Aku menahan pelan helaan nafasku yang terasa berat dan sedikit kalut di kepala.
• • • • • • • •