PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•49


__ADS_3

Malam ini terasa sangat panjang untukku. Apalagi saat ini kami sedang duduk berdua dan saling berhadapan.


Yah,Mas Sandy memintaku untuk menemaninya makan malam. dan waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat.


Suasana dirumah ini begitu sunyi. Aku bahkan kebingungan harus mengobrol tentang apa dengannya.


"Omlette-nya enak" gumamnya sembari menjejalkan makanan itu ke mulutnya.


"Makan yang banyak mas! mungkin itu makanan terakhir yang saya buatkan" jawabku ragu.


Mas Sandy termangu. lalu kemudian menatapku tak suka.


"Benarkah? apa itu yang teh Alis harapkan dari pertemuan kita? sebuah perpisahan?" tanyanya


"Memangnya apa yang bisa saya harapkan?!" aku menatapnya gamang


"Tidak cukupkah saya berikan hati saya untuk teh Alis dan Andi?"


"Maaf mas. Tapi saya rasa, semua ini terlalu cepat. bahkan saya pikir, ini hanya sebuah mimpi saja."


"Kenapa? teh Alis tak percaya? tolong jangan samakan saya dengan laki-laki dimasa lalu teh Alis!"


Aku menatapnya tajam.


Seberapa besar yang dia ketahui tentang diriku, hingga bisa mengatakan hal itu?


"Sepertinya mas Sandy tahu banyak tentang saya?" selidikku


Pemuda itu mengalihkan pandangannya seakan menutupi sesuatu.


"Apa yang mas Sandy tahu? Apa mas Sandy mengenal suami saya?" Aku menatapnya penasaran.


"Saya hanya menebak! itu semua karna sikap teh Alis yang selalu berburuk sangka terhadap saya. jadi saya pikir, mungkin teh Alis pernah dikecewakan!" Selorohnya beralasan. meski aku yakin bukan itu yang ada dibenaknya.


"Sangat. saya sangat dikecewakan! maka dari itu saya takut mas. saya tak ingin semua mimpi buruk itu datang lagi pada saya!" jelasku.


"Bagaimana jika saya ingin merubah semua itu, saya tak ingin memberi mimpi buruk? saya hanya ingin menunjukkan sebuah Kenyataan bahwa saya benar-benar mencintai kamu teh!" tandasnya penuh keyakinan.


Aku tersenyum getir. Meskipun aku tak punya banyak pengalaman dalam sebuah hubungan. rasanya mulut semua lelaki memang tak wajib kita percaya. apalagi aku baru mengenalnya selama dua bulan. sifat baik seseorang bukankah suatu saat bisa memudar? apalagi cinta, yang semua orang pernah terluka karena nya.


"Saya mau melihat Andi !" tukasku beralasan seraya bangkit dan berjalan menuju sofa.


"Andi biar tidur dikamar!" Tukasnya.


Aku menatap putraku agak lama.


"Gak perlu mas. kami berdua tidur disini saja! mas Sandy istirahat lah!" Aku bersandar di sofa. ku coba pejamkan mata meski sejujurnya aku belum mengantuk.


Tak berapa lama ku dengar mas Sandy berjalan mendekati ku.


"Kamu benar-benar tertidur teh? tak bisakah kita mengobrol sepanjang malam?" gumamnya dengan suara lirih.


Aku mengabaikannya dan tetap memejamkan mataku.


Maaf jika ku lukai perasaanmu,


Maaf jika Aku mengabaikanmu.


Aku hanya takut,


Dunia tidak berpihak padaku seperti dulu.


Dan aku harus terluka lagi sendirian.

__ADS_1


Tolong percayalah,


Aku menyukaimu meski aku masih takut untuk menggenggam tanganmu.


•••


Sinar mentari benar-benar mengusik alam bawah sadarku. Aku memicing pelan karna mulai terganggu.


Ku sadari jika aku berada ditempat lain. tempat ini tak sekeras sofa diluar sana. tanganku meraba sekitar tempat tidurku. Aku terperanjat lalu bangun dan melihat sekeliling.


"Ini tempat tidur mas Sandy?" Gumamku kaget


Aku menoleh ke sisi kiriku. Andi pun tak ada disana. Aku segera bangkit mencari keberadaan mereka berdua. barangkali mereka tidur di sofa. tapi ternyata tetap tak ada.


Apa aku semalam tidur berjalan dan masuk ke kamarnya? aku bergidik ngeri membayangkan jika itu benar terjadi. Tapi rasanya tak mungkin,aku tak pernah begitu selama hidupku.


Lalu bagaimana bisa aku tidur didalam? Aku mematung cukup lama.


"Ahahaha... awas om!" Suara tawa Andi yang cukup nyaring membuyarkan lamunanku. suara itu samar-samar terdengar dari dapur.


Aku berjalan pelan untuk mengintip apa yang mereka lakukan disana.


"Kamu coba? apa rasanya enak?"


"Kurang manis om. tambah lagi susunya!" Andi terkekeh geli.


"Oke! kita tambahin yang banyakk!!!" Mas Sandy menuang susu yang banyak pada wadah besar yang ku pikir adalah adonan kue.


"Mama!" seru Andi saat melihatku mengintip mereka. Aku keluar dari persembunyianku dan tersenyum seraya berjalan mendekati mereka.


"Kalian,- ngapain?" tanyaku menatap keduanya.


"Masak ma! Om Sandy bilang, dia mau bikin pancake untuk sarapan." jelasnya


"Yang saya gak bisa cuma dapetin hati kamu teh. sisanya saya udah jago." sahutnya setengah menyindirku.


Andi menatap kami bergantian. Dia pasti paham apa yang mas Sandy ucapkan hanya saja dia tak tahu apa. maksud dari ucapannya itu.


"Ya sudah, kalian masaklah! mama mau tahu seenak apa pancake-nya" tukasku berjalan meninggalkan keduanya menuju kamar mandi.


Aku berjalan santai tanpa banyak berfikir dan segera masuk ke kamar mandi. sejak kemarin sore aku memang sudah tak nyaman dan ingin segera mandi.


Ku tanggalkan satu persatu bajuku,


ku basuh perlahan tubuhku dengan air dingin yang menyegarkan. sejenak kurasakan aliran darahku mulai bernafas dengan uap-uap kecil yang terlihat mengepul keluar dari pori-pori tubuhku.


Ku pejamkan mataku pelan, menikmati setiap tetes air yang jatuh membasahi sekujur tubuhku.


Penat dan lelahku rasanya hilang seketika. Ini Benar-benar surga dunia bagi pekerja keras sepertiku.


20 menit aku menikmati acara mandiku yang rasanya enggan ku akhiri. hingga akhirnya terdengar suara ketukan dari balik pintu.


TOK.. TOK.. TOKK..


Aku terperanjat kaget, siapa yang tiba-tiba mengetuk pintu kamar mandi.


"Siapa itu?!!" teriakku


"Ini saya teh. teh Alis pikir siapa? biasa aja gak usah teriak!" sahutnya.


Aku mendengus kesal,benar-benar sangat mengganggu. batinku.


"Kenapa mas? mas Sandy perlu ke toilet?"

__ADS_1


"Sarapan sudah siap. Andi nungguin kamu teh!" jelasnya.


"Iya sebentar!" aku menyabet handuk. namun karna tak hati-hati aku menjatuhkan baju ke lantai hingga semuanya basah.


"Aaawh!" teriakku kaget.


"Kenapa teh?" sahut mas Sandy yang terdengar cemas.


"Baju saya jatuh mas!" aku menatap bajuku yang sepertinya tak bisa ku pakai lagi.


"Ya udah keluar aja dulu. nanti saya pinjem ke Hana!" perintahnya.


Aku menatap tubuhku yang hanya dibalut handuk.


"Enggak mas. saya gak mau!" selaku.


"Terus mau nya Gimana?!''


Aku kebingungan,sialnya aku tak pernah membawa baju ganti selama bepergian.


"Mas Sandy panggil aja Hana nya kesini. suruh dia bawa bajunya." pintaku.


"Oke. tunggu sebentar! saya telepon Hana" Tukasnya.


Aku menunggu cukup lama. benar-benar bencana yang tak bisa ku Prediksi sebelumnya. dan seharusnya aku berhati-hati tadi. Racau ku kesal.


Tak berapa lama terdengar mas Sandy mengetuk pintu.


"Gimana mas?" teriakku


"Hana lagi diluar. dia baru akan kembali pukul 9." sahutnya.


"Hah! kok bisa?" Aku melengos putus asa Menatap sekujur tubuhku.


"Tunggu sebentar teh! sepertinya saya punya sesuatu." tukas mas Sandy kemudian.


Aku menunggu lagi hampir 10 menit, dan tak berapa lama mas Sandy kembali.


"Tolong buka pintunya teh! Saya pikir ini cukup untuk teh Alis," Tukasnya.


"Buka pintu? Enggak ah!" selorohku kasar.


"Buka pintunya sedikit aja teh. terus gimana teh alis mau pake bajunya! tenang aja, saya merem kok!" jelasnya


Aku ragu mendengar ucapannya itu.


"Sumpah?!!" Ancamku


"Ya udah kalau teh Alis mau disitu terus!' saya pergi." dengusnya.


"Eh, tunggu! Mas Sandy jangan pergi dulu. iya saya buka pintunya!" teriakku bingung dan akhirnya menerima sarannya untuk membuka pintu.


Tangan mas Sandy terulur dan menyerahkan baju itu padaku. ku sabet dengan cepat dan segera menutup pintunya.


"Terima kasih!" sahutku setelahnya.


Aku menatap baju itu,lalu ku angkat dengan teliti. apakah baju itu pantas untuk ku pakai. dan ternyata itu adalah Minidress berwarna putih tulang dan bermotif bunga-bunga liar yang sangat manis. Namun baju itu malah membuat ku menerka-nerka. darimana mas Sandy punya dan menyimpan baju perempuan. bahkan sebagus ini? pikirku heran.


"Jangan-jangan ini baju untuk Vina?" gumamku.


Namun aku tak punya pilihan lain selain mengenakannya.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2