PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•160


__ADS_3

Banyak hal yang sebenarnya sangat ingin kita hindari.


Tapi pada akhirnya...


Hal itu malah datang dengan sendirinya menghampiri kita.


Mas Sandy keluar dari kamar untuk melihat siapa yang menekan bel.


"Siapa mas?" teriakku tak berniat untuk melihat.


Namun anehnya mas Sandy tak menyahutiku. Akhirnya Akupun keluar dari kamar karena penasaran.


"Apa itu Hana?!" Aku berjalan menuju pintu seraya merapikan rambutku yang 'Berantakan'.


Langkah kakiku tiba-tiba terhenti,


Dan aku melihatnya, sedang memeluk suamiku.


DEG!


Mendengar suaraku,membuat si wanita menoleh kaget dan seketika melepas pelukannya. sementara mas Sandy masih mematung di posisinya.


"Dia... siapa?" wanita itu menunjuk ke arahku dengan tatapan tak percaya.


"Dia Alis,... istriku. Alis,kenalkan ini Vina!" Gumam mas Sandy kelu.


"Ha..lo.. " Aku masih tersihir dan tak tahu harus bersikap bagaimana.


"Maafkan aku, aku tak tahu kalau kamu sudah menikah. bodohnya! aku tak sempat melihat kabar terbaru darimu san. Alis, saya minta maaf!" Vina mendekat dengan raut wajah cemas.


"Iya, tak apa-apa." aku tersenyum tipis.


"Mau apa kamu kemari?" Mas Sandy menoleh malas padanya.


"Aku baru saja pulang seminggu yang lalu. untuk bekerja. tiba-tiba lewat kemari, dan ingat dengan apartemen ini" tukasnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Pulanglah,..!" usir mas Sandy dingin.


Aku masih menatap keduanya bingung. rasanya, aku ingin menghilang saja dari pandangan mereka. aku tak ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Bahkan sekarang,kamu berani mengusirku?" Vina mempertanyakan sikap kasarnya.


"Dulu kamu yang pergi,lalu apa bedanya!" sahut mas Sandy sinis.


Vina menatapku kecewa.


"Padahal saya hanya datang untuk berkunjung saja." Tatapan Vina seolah memintaku menyambutnya.


"Maa, Biarkan saja Vina masuk!" aku menoleh pelan pada mas Sandy.


Mas Sandy menatapku tak suka.


"Kamu pasti sibuk dan tak seharusnya ada disini. pulanglah!" Usir mas Sandy sekali lagi.

__ADS_1


"Hm,.. baiklah. maaf sudah mengganggu!" desahnya putus asa seraya memalingkan muka.


Vina berjalan pelan dan keluar dari pintu. Mas Sandy segera menarik pintu dan menutupnya dengan cepat. bahkan Vina belum sempat berpamitan.


Mas Sandy berbalik dan menatapku khawatir. mungkin takut jika aku marah atas insiden barusan.


"Saya sama sekali tak menyangka jika dia yang datang dan, memeluk saya begitu saja." jelasnya ragu.


"Kenapa mas Sandy malah menyuruh Vina pergi?" tanyaku tak paham.


"Saya capek. saya enggan bertemu orang." jawabnya sembari mendekat padaku.


Mas Sandy memegang kedua tanganku dengan erat.


"Kamu gak marah kan?!"


Aku tersenyum kecil dan menggeleng pelan.


Mas Sandy menarikku ke dalam pelukannya. helaan nafasnya terdengar lega namun sarat penyesalan.


•••


Semenjak kejadian tadi aku dan mas Sandy Jadi lebih sering diam. kami larut dalam pikiran masing-masing.


Aku sibuk membersihkan barang-barang yang mas Sandy letakkan di lantai. sementara mas Sandy sibuk mengeluarkannya dari dalam lemari.


PING!


Aku melirik pelan ponselku.


"Lihatlah, siapa tahu penting." perintanya.


Aku mengangguk dan segera bangkit untuk mengambil ponselku yang tergeletak di atas tempat tidur.


Pak Ivan, batinku kaget. ku buka pelan isi pesan itu.


"Alis, kamu dimana?


-Mantan pacar sandy sudah pulang, dan dia berniat mencari Sandy!" tulisnya


Aku menatap mas Sandy gugup. dalam kondisi seperti ini, aku sama sekali tak berniat membalas pesannya. dan hanya membiarkannya begitu saja.


"Siapa?" mas Sandy menoleh padaku.


"Rahma," ku simpan kembali ponselku.


Lalu beranjak mendekati barang-barang yang tadi ku bersihkan. lagi-lagi ku lirik mas Sandy yang tampak biasa saja dan tak curiga. Untunglah! tapi, kenapa pak Ivan mengirim pesan itu padaku? Apa maksudnya?


"Apa Rahma bicara sesuatu?" mas Sandy mendekat dan meletakan sebuah folder di hadapanku. matanya menatapku penuh tanya.


"Dia hanya bertanya, saya dimana. mungkin ingin mengajak saya pergi keluar lagi. " jelasku beralasan.


"Oh," sahutnya cepat.

__ADS_1


"Apa semua barangnya sudah habis mas? saya ingin ke kamar mandi." tanyaku


"Sudah. pergilah, sisanya biar saya yang bereskan!" tukasnya


Aku bangkit dan segera pergi menuju kamar mandi. menghilang sejenak dari pandangannya sepertinya cukup membantu. Tapi kenapa juga aku harus gugup. ada perasaan tak nyaman dihatiku sejak pertemuanku tadi dengan Vina.


Tiba-tiba saja gelisah dan khawatir.


"Ayolah Alis. jangan bodoh! kamu dan mas Sandy sudah menikah. Yakinlah mas Sandy tak akan berbuat macam-macam!" gumamku meyakinkan diri seraya menatap tajam ke arah cermin.


Tapi...


Kenapa Vina tiba-tiba kemari? kenapa dia tak datang ke rumah atau ke kantor mas Sandy saja?


Apa benar dia tak sengaja lewat sini? atau memang dia tahu jika mas Sandy ada disini? batinku bertanya-tanya.


Pasti pak Ivan yang tahu tentang ini semua. makanya dia mengirimku pesan seperti itu. atau pak Ivan yang sengaja memberitahu keberadaan mas Sandy? tapi sepertinya tak mungkin. mas Sandy bilang, tak ada yang tahu soal apartemen pribadinya ini. selain aku dan Vina. AH! menyebalkan. gerutuku dalam hati.


Harusnya tadi ku ambil ponselku! aku melenguh kesal.


Ya ampun! bagaimana kalau pak Ivan mengirim pesan lagi, dan mas Sandy membacanya. mengingat hal itu aku buru-buru keluar dari kamar mandi.


Ku lihat mas Sandy tengah sibuk membersihkan benda-benda di hadapannya. aku menghela nafas lega.


"Apa mas Sandy mau saya buatkan kopi?" tanyaku sembari mendekat.


"Tak perlu,saya masih kenyang. lebih baik kamu duduk disana dan istirahat!" mas Sandy menunjuk tempat tidur.


Aku patuh dan duduk di tempat tidur. ku lihat dia begitu serius dengan apa yang dilakukannya. terlihat jelas ekspresi wajahnya ssngat berbeda setelah bertemu Vina tadi. terlihat lebih murung. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan mas Sandy? apa dia kaget? atau dia kecewa? atau dia malah senang Vina sudah kembali? pikirku sekilas.


"Menurut mas, berapa lama Vina tinggal disini? apa dia akan kembali lagi ke luar negeri?" ku tatap lama wajahnya.


"Saya tak tahu. dan tak mau tahu!" tukasnya sinis.


"Kalau memang sudah tak ada apa-apa, seharusnya mas Sandy membiarkan dia masuk tadi. kita bisa mengobrol 'kan"


Mas Sandy menatap sayu padaku. seakan dia malas untuk menanggapi lagi pernyataanku barusan.


"Sudahlah, kita lupakan saja dia. anggap saja dia tak pernah datang," Mas Sandy kembali fokus menata barang-barang di hadapannya.


Melihat sikapnya yang dingin seperti itu, malah membuatku penasaran.


Apa sebenarnya mas Sandy masih menyimpan perasaan itu untuk Vina.


Aku sama sekali tak marah, aku hanya ingin melihat masalah di antara keduanya selesai dengan baik. dengan begitu, aku bisa menjalani kehidupan baruku dengan tenang bersama mas Sandy.


Semua wanita tentu tak pernah mengharapkan orang yang di cintainya berpaling. Begitupun denganku.


Tapi, aku juga tak bisa membiarkan masa lalu mas Sandy yang belum selesai dengan Vina menjadi malapetaka bagi hubungan kami nantinya.


"Saya harap, kamu tak membahas lagi soal dia." celetuknya kemudian. jelas dengan nada serius dan tegas.


"Iya, mas. maaf!" sahutku pelan.

__ADS_1


"Saya yang seharusnya minta maaf." mas Sandy lagi-lagi menatapku dengan penuh kekhawatiran.


• • • • • • •


__ADS_2