PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•146


__ADS_3

Selepas mas Sandy pergi ke kantor, di ikuti oleh Andi dan pak Muh yang menggunakan mobil yang berbeda untuk pergi ke sekolah. aku pun segera menuju dapur. melihat apakah ada yang bisa aku kerjakan disana.


"Loh, si Non kok malah pegang-pegang cucian." seloroh bi Atun.


"Ya habis mau ngapain lagi bi, kemaren kan saya udah bantu Susi di halaman belakang. sekarang giliran bantuin bi Atun di dapur" aku menatapnya serius.


"Ya tapi kan, nanti tangan Non alis jadi rusak."


Aku mengernyit heran.


"Tangan saya udah biasa kerja begini kali bi. Lagian, dulu juga saya kerja kaya begini disini. bantuin almh. bi Marni." tukasku dengan sedikit lirih


Aku jadi teringat kembali saat bi Marni masih ada. Seandainya dia ada disini. tentu aku bisa berkeluh kesah tentang kegelisahan hatiku selama ini.


"Emang bener ya, katanya dulu yang kerja di rumah ini cuma bi Marni aja? Gak ada yang lain?" selidik bi Atun penasaran.


"Iya, cuma ada tiga pekerja. pa cecep yang bertugas urusin taman dan pertukangan. pak Muh sama bi Marni." jelasku.


"Ya ampun. Gak kebayang Yah jadi bi Marni. kerja di rumah besar begini sendirian. saya aja yang kerja berdua kewalahan" bi Atun menyeringai malu.


"Iya. bi Marni adalah ART yang sudah lama ikut sama keluarga mas Sandy. dia sudah di anggap keluarga sama mas Sandy dan juga Bu Ayu. bi Marni orang yang baik,dia sudah seperti ibu untuk mas Sandy." kenangku.


"Begitu ya non. pantas saja, sampe meninggalpun bi Marni tak pernah di gantikan ya non." sahutnya kagum.


"Iya bi. semoga bibi juga bisa mengikuti jejak bi Marni ya. bekerja yang lama disini. nemenin saya" Aku tersenyum penuh harap.


"Ya allah, non. tenang aja. bibi akan selalu ada buat non Alis. meskipun kita baru ketemu, tapi bibi udah ngerasa cocok sama si non dan tuan. kalian orang baik. meskipun Ibu sedikit ketus" bisiknya pelan.


Aku mendekat lalu mendekapnya erat.


"Mungkin, kalau almh. ibu saya masih ada umurnya gak beda jauh sama bi Atun" desahku dengan suara bergetar.


Ah! bicara tentang Ibu, aku benar-benar jadi kangen. sudah lama juga aku tak berkunjung ke makam ibu. hanya saat aku dan mas akan menikah saja kita pergi berziarah.


"Non berdoa aja, biar ibu dan bapak si non di tempatkan di Surga-Nya Allah SWT. ya Non. Gak perlu sedih! kan sudah ada Den Sandy yang menjaga Non. kayanya bapak sayang banget sama si non,dan sangat mencintai non Alis." gumamnya mencoba menenangkan,seraya mengusap lembut pundakku


Bi Atun benar juga, meskipun aku sudah tak memiliki orang tua. nyatanya aku memiliki suami yang begitu mencintaiku dan juga anakku.


"Bi Atun benar. saya bersyukur bertemu orang sebaik mas Sandy." gumamku lagi.


Dan akhirnya aku dan bi Atun malah mengobrol di dapur. tentang kisah awal aku menikah serta bagaimana dulu aku bertemu mas Sandy. aku memang tipe orang bisa terbuka dengan mudah. apalagi pada orang seperti bi Atun. dia seperti sosok seorang ibu yang menyayangi. sehingga Akupun bisa bercerita dengan nyaman tana takut dia menceritakan semuanya pada orang lain.

__ADS_1


•••


Selesai sholat Dzuhur, aku tak buru-buru melepaskan mukenaku. dan hanya duduk-duduk di atas sajadah seraya memandang keluar jendela. Siang ini cuaca begitu cerah, sayang rasanya jika hanya berdiam diri dirumah saja. batinku.


PING!


PING!


PING!


Aku menoleh ke arah ponselku yang sengaja ku letakkan di atas ranjang. siapa yang tiba-tiba mengirim pesan sebanyak itu siang hari begini.


Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang. Rentetan Pesan panjang dari Rahma memenuhi layar ponselku.


"Ada apa sih" desisku seraya membuka cepat isi pesannya.


"Gila ya, kita bertiga masuk koran! ternyata media luar masih penasaran sama sosok kamu Lis. buktinya mereka sampai tahu kamu siang kemarin makan dimana. sepertinya sebentar lagi, kita akan jadi Seleb dadakan."


"Untungnya berita yang mereka buat Gak ada hal buruknya. jadi kita gak rugi juga." tulisnya lagi.


Rahma mengirim beberapa foto yang dimuat media massa siang ini. Mereka mengambil dari beberapa sudut yang berbeda. itu artinya mereka lebih dari dua orang. atau kemungkinan mereka mengambil gambarnya berulang kali.


"Pintar sekali." gumamku tak habis pikir.


"Pak Sandy udah tahu kok. dia cuma senyum-senyum aja. katanya,lain kali jangan terlalu sering mengajak kamu keluar rumah! kalau ada hal penting bicarakan di rumah saja. begitu!" balasnya.


Aku terpaku cukup lama saat melihat foto-foto yang tercetak di koran itu.


DEG!


Aku terhenyak saat mengingat bahwa aku sempat bicara cukup lama dengan pak Broto diparkiran. Ya Ampun! apa jangan-jangan mereka juga mendapatkan foto-foto kami?!!


"Rahma, apa ada foto-foto atau berita lain tentang aku yang di muat di koran hari ini???"


Tiba-tiba saja hatiku merasa gusar tak karuan. bagaimana seandainya mereka mendapatkan fotoku dengan pak Broto. celaka! mas Sandy pasti akan marah, belum lagi media yang senang membuat berita-berita bohong.


"Berita lain? kayanya gak ada. atau belum ada kali ya. tapi, semua berita yang di rilis hari ini sudah terbit semua tadi pagi." Jelasnya


"Benarkah? artinya berita soal kita, hanya sebatas itu aja kan?" tanyaku lagi


"Emang ada lagi yang lain? kamu ngapain sepulang dari Resto? hayoo ngaku?!!" godanya terdengar skeptis.

__ADS_1


"Aku cuma penasaran aja. sampai mana mereka memburuku" balasku singkat.


"Aku sama Sinta udah periksa semua koran yang terbit hari ini. dan kayanya gak ada lagi berita lain tentang kita. senang juga ya, ternyata begini rasanya masuk koran." tulisnya dengan di akhiri kekehan.


Apanya yang menyenangkan? semua berita itu malah terasa menakutkan bagiku.


Tapi, aneh sekali rasanya jika penguntit itu tak mendapatkan fotoku ketika tengah bicara berdua dengan pak Broto. padahal waktu kami bertemu tak begitu lama setelah aku keluar.


Masih ada yang mengganjal dihatiku meski Rahma sudah meyakinkanku bahwa tak ada foto atau berita lain.


Pantas saja mas Sandy tak ingin kami bepergian naik kendaraan umum. mungkin juga hal itu bertujuan untuk menyelamatkanku dari kejaran media. atau orang-orang tak bertanggung jawab yang hanya ingin mengambil keuntungan dariku.


"Rahma. Makasi banyak kamu udah kasih tahu aku soal ini." pungkasku.


Aku bangkit dari duduk ku dan segera merapikan peralatan sholatku. Dan sialnya, sekarang aku malah jadi memikirkan soal pertemuanku dengan pak Broto.


Aku segera meninggalkan kamar menuju ruang tengah untuk melihat apakah ada yang bisa aku kerjakan sebelum berangkat bersama Andi ke rumahku nanti.


Setibanya di ruang tengah, aku di kagetkan dengan sosok bu Ayu yang tengah duduk disalah satu Sofa dengan sebuah koran terbentang menutupi wajahnya.


Sejak kapan bu Ayu pulang? Aku bahkan tak mendengar suara deru mobil masuk ke bagasi.


"Bu Ayu sudah pulang! apa mau saya buatkan teh" sapaku terlebih dahulu.


Bu Ayu menurunkan koran yang di bacanya, matanya terlihat berkilat melirik sinis padaku.


"Apa kamu senang hari ini?" tanyanya tiba-tiba. tak lama kemudian dia melipat korannya dan menyimpannya secara kasar di atas meja. terlihat bahwa fotoku yang tengah makan siang bersama Rahma dan Sinta tercetak di koran itu. ternyata bu Ayu juga mengetahuinya.


"Soal foto itu, saya minta maaf." aku tertunduk penuh sesal.


"Lain kali, jaga sikap kamu ketika keluar dari rumah. dan lagi, tak perlu terlalu sering bertemu mereka jika itu tak penting." tukasnya.


"Iya. Baik bu. terima kasih sudah mengingatkan!" sahutku pelan.


"Saya melakukannya bukan untuk kamu. saya hanya tak ingin Sandy dan juga Perusahaan terlibat masalah karena kecerobohan kamu Alis," tandasnya serius.


Aku menatapnya penuh kekecewaan. Ucapannya benar-benar diluar dugaanku. sejenak aku berfikir bahwa dia sudah mulai membuka hatinya untukku. nyatanya tidak begitu.


"Baik bu. saya akan berusaha agar tak mengecewakan Kalian. Kalau begitu saya permisi," Aku melangkah mundur.


"Tunggu! tolong bawakan saya Teh tawar!" pintanya kemudian.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2