
"Apa ada yang kurang?" tukas Ema membuat mas Sandy tampak terhenyak.
"Tidak. ini sudah pas. sangat cantik" sahutnya dengan tatapan mata yang tak lepas dariku.
"Kalau begitu, tunggu apalagi? bukankah kalian harus ke kantor?" Tanya Ema.
"Ya sudah, jika kami tak boleh lebih lama disini. kami akan pergi" desis mas Sandy bergurau.
Ema tertawa nyaring.
"Pak Sandy tak berubah ya, masih senang bercanda" selorohnya.
Mas Sandy mendekat dan segera memegang erat tanganku.
"Terima kasih atas bantuannya!" Aku menatap Ema tulus.
Wanita itu hanya tersenyum tanpa berucap.
"Kapan-kapan kita minum teh di rumahku!" Pamit mas Sandy.
•••
Aku duduk setelah mas Sandy membukakan pintu. ku lihat kakiku yang kini mengenakan sepatu berhak cukup tinggi yang tentu saja tak biasa ku pakai.
Mas Sandy masuk ke dalam mobil dan lagi memperhatikanku cukup lama. Aku mendongak heran.
"Kenapa mas?"
"Kamu sangat cantik teh, saya bersumpah saya tak bisa melepaskan pandangan saya dari kamu." jawabnya terdengar seperti rayuan.
"Mau sampai kapan mas Sandy melihat saya terus seperti ini?" tanyaku lagi
"Bagaimana kalau kita tak usah ke kantor saja" celetuknya sembari mengangkat kedua alisnya penuh siasat.
Aku merengut sinis, jelas bisa ku tebak maksud anehnya itu.
"Mas Sandy jangan macam-macam ya!" Ku cubit kecil lengannya.
"Aduuhh,..sayang!" Erangnya melotot tajam seraya mengelus bekas cubitanku.
"Makanya! Cepetan jalan mas!" protesku.
"Yakin nih, Gak mau?!" godanya lagi.
"Ck!" aku berdecak menarik lengan bajunya kencang.
"Oke.. oke..!" mas Sandy terkekeh geli melihat ekspresiku yang mulai kesal.
Sejujurnya Aku belum siap jika harus bertemu dengan orang-orang di kantor mas Sandy. pasti akan ada banyak pasang mata yang menatap aneh padaku. Aku menghela nafas lesu.
"Kenapa?" mas Sandy sepertinya menyadari tingkahku yang mungkin hanya melamun saja sejak tadi.
Aku menoleh dan tersenyum,
"Enggak kok mas. saya cuma gugup aja!" tukasku
__ADS_1
"Benarkah? kenapa harus gugup? apa Ema bicara sesuatu yang aneh sama kamu teh? gak perlu dimasukin ke hati. dia memang begitu." jelasnya seakan khawatir jika Ema bicara macam-macam tanpa sepengetahuannya.
"Oh iya, soal Ema. dia itu siapa? kalian sudah kenal lama?" tanyanya
"Dia itu teman kuliah mama saya, mereka dulu cukup dekat. makanya aku merasa tak sungkan padanya. mungkin karena mama juga Menyukainya." mas Sandy tersenyum mengakhiri kalimatnya.
"Pantas saja. dia terlihat sangat peduli pada mas Sandy."
"Kamu cemburu teh?" godanya.
Aku melirik pelan,sedikit kaget dengan ledekannya itu.
"Kenapa saya harus cemburu? dia terlihat seperti ibu buat mas Sandy. iya kan?" Aku menatapnya serius.
"Ya,siapa tahu saja kamu cemburu teh." mas Sandy terkekeh.
"Saya rasa, saya harus bersyukur jika banyak orang yang menyayangi mas Sandy. itu tandanya suami saya ini orang baik." aku mengusap lembut lengannya.
"Sudah cantik, pandai memuji. sepertinya saya harus membeli hadiah untuk istri saya ini," mas Sandy tersenyum.
"Boleh saya minta hadiah saya sekarang saja?" aku menunjuk sebelah pipiku.
Dengan sigap dan tanpa basa basi, mas Sandy mendekat dan mengecup pipiku lembut.
Seperti ini saja, rasanya duniaku benar-benar masuk ke dalam sebuah dongeng. dan ku harap kisahku ini akan berakhir dengan sangat bahagia nantinya.
•••
Mobil kami akhirnya tiba didepan kantor mas Sandy. seorang security dengan sigap membuka pintu mobilnya.
Dan entah kenapa, Akupun semakin merasa tak karuan. melihat betapa besar dan tingginya gedung perkantoran ini.
"Jalannya Pelan-pelan mas, sepertinya sepatu saya sedikit berat!' bisikku.
Kami berjalan memasuki Lobby kantor. dan tentu saja dua orang resepsionis menatapku sedikit heran.
"Selamat pagi pak!" sapa keduanya.
"Pagi!"
Kami berjalan lagi menuju ke sebuah lift yang akan membawa kami ke lantai atas. beberapa pasang mata yang berpapasan dengan kami menyapa dengan sopan. namun tak sedikit dari mereka berbisik pelan dibelakangku.
"Tenanglah! sebentar lagi kita sampai!" bisik mas Sandy mencoba menenangkanku.
Aku mengangguk patuh. tak begitu memperdulikan pandangan mereka. Apalagi pikiranku terbagi karena kondisi kakiku terasa sedikit tak nyaman karena sepatu yang terlalu tinggi.
TING!
Kami tiba di lantai delapan,tepat dimana ruangan mas Sandy berada. Aku berjalan pelan, sedikit gugup tentu saja. bahkan aku berkali-kali menarik nafas dalam untuk mengusir rasa gugupku.
Dan tanpa di duga Ada belasan orang yang tengah menunggu kami di dalam sana. sebagian dari mereka membawa buket bunga.
"SELAMAT DATANG IBU PRESDIRRR!" Gemuruh suara itu menyambutku dengan sangat antusias.
Aku menatap kaget orang-orang yang tak ku kenal itu. siapa saja mereka?pikirku.
__ADS_1
"Sinta? Rahma?" Aku memekik kecil saat melihat dua orang temanku ada di barisan belakang diantara orang-orang itu.
"Selamat datang di kantor kami bu Alis!" seorang wanita cantik bertubuh tinggi lebih dulu mendekat dan memberikan ku buket bunga Lily yang amat sangat cantik.
"Saya Nita bu, sekretaris Bapak." sapanya mengenalkan diri.
Ku jabat tangannya dengan ramah.
"Halo bu, selamat atas pernikahannya. ditunggu Resepsinya ya bu!" kali ini seorang pria tanggung dengan gerakan sedikit gemulai mendekat dan memberiku buket mawar merah.
Aku menyeringai, dan menatap mas Sandy yang masih tersenyum manis padaku.
"Saya Anwar bu,saya sebagai Human Resource development atau Bahasa entengnya HRD disini bu. salam kenal!" celotehnya Antusias membuat semua orang tertawa.
"Kamu tolong jangan genit-genit sama istri saya ya" sindir mas Sandy.
"Jadi genit sama bapak masih boleh ya pak!" Anwar terkekeh. begitupun aku yang tak kuasa menahan tawa.
"Halo bu, saya billy. saya sebagai TI disini. selamat atas pernikahannya. semoga langgeng" Billy membawa buket bunga krisan dan tulip berwarna putih bersih.
"Terima kasih, Billy. terima kasih semuanya." jawabku kaku.
Ternyata apa yang ku Takutkan tak seburuk apa yang ku bayangkan. nyatanya mereka sangat baik dan ramah terhadapku.
"Terima kasih untuk kejutannya. seharusnya kalian tak perlu repot-repot melakukan semua ini." jelas mas Sandy.
"Gak bisa gitu dong pak. sekarang kan bapak udah gak lajang. jadi wajib di rayakan. makan-makan di kantor bisa kali pak!" goda Anwar yang langsung di acungi jempol oleh beberapa karyawan lainnya.
"Gimana sayang? mereka minta kita buat makan-makan di kantor? kamu kasih ijin Gak?" mas Sandy menatapku lekat. Aku menyeringai bingung. malu rasanya jika dia bersikap manis begitu, sementara yang lain tengah memperhatikan kami.
"I.. iya, boleh kok!" selorohku panik.
"Wahhh, ibu Presdir lebih asyik ternyata." bisik mereka seakan meledek mas Sandy lewat candaan.
"Tapi Gaji kalian saya potong" desis mas Sandy.
"YAHHHH!!!" semua orang berseru riuh.
Aku mengulum senyum. mataku menangkap sosok Rahma yang memperhatikanku dengan penuh kelembutan dan kebahagiaan. beruntunglah aku tadi sempat berkirim pesan padanya soal kedatanganku hari ini. Namun pandangan lain ku lihat dari sosok Sinta yang tampak melihatku biasa saja. tak ada raut wajah bahagia atau sebagainya. tatapan matanya datar dan seakan tak menikmati obrolan kami. padahal jika di lihat-lihat yang lain begitu antusias.
Mungkin saja dia tengah lelah, atau ada masalah lain. aku mencoba tak memikirkannya sekarang. dan lebih memilih fokus pada yang lain saja.
"Ayo sayang!" ajaknya setelah mereka semua menyambut kami.
"Mas duluan saja,gak apa-apa kan? saya mau mengobrol sebentar dengan mereka." aku menunjuk pada Rahma.
"Oke. jangan lama-lama ya!" bisiknya.
Aku tersenyum dan segera menghampiri kedua temanku itu.
Semua orang sudah kembali ke tempat kerja mereka,hanya tinggal Rahma dan Sinta saja. dan ku rasa mereka menungguku juga.
"Ahhh Akhirnya,Alis..!" Rahma memelukku penuh haru. dia jelas tahu bagaimana ceritaku hingga bisa berada disini sekarang.
"Jadi cuma aku yang Gak tahu kalau kamu nikah sama bos kita. Lis?" celetuk Sinta.
__ADS_1
Aku dan Rahma menatap sinta tak enak hati. Harus bagaimana aku menjelaskan soal pernikahan kami ini padanya.
• • • • • •