PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•166


__ADS_3

Perkumpulan orangtua murid yang di adakan pada setiap acara atau kegiatan besar di sekolah, menjadi salah satu ajang adu gengsi bagi sebagian besar orangtua.


Teringat akan kejadian beberapa tahun silam, saat ada rapat orangtua di sekolah. hampir semua orangtua yang di dominasi oleh ibu-ibu itu, dan mereka 'mempertontonkan' kemewahan serta kekayaan yang mereka miliki. membahas bisnis-bisnis besar yang tak ku pahami. dan saat itu aku dan bu Dewi hanya mampu menjadi pendengar saja.


Kali ini pun sama, saat kami baru tiba di depan gerbang sekolah. sudah banyak deretan mobil mewah yang terparkir di depan halamannya.


"Ya ampun,penuh banget." gumamku nyaris tak percaya dengan apa yang ku lihat.


"Mereka mau Studytour atau mau menjadi model catwalk?" mas Sandy menatap beberapa orangtua yang terlihat berpakaian super mahal dan modis.


"Mereka memang sudah biasa seperti itu mas." aku menyeringai menatap mas Sandy.


"Seharusnya kamu juga memakai baju yang lebih mahal teh?" ledeknya.


"Saya gak biasa. lagipula memangnya mas Sandy gak malu kalo penampilan saya kaya gitu." kami berdua terkekeh.


Mobil mas Sandy melaju dan melewati kumpulan ibu-ibu yang tengah mengobrol. bisa di bayangkan bagaimana reaksi mereka saat mobil mas Sandy melintas. Mereka tentu tahu jenis mobil mahal yang hanya beberapa orang saja yang punya.


Terkadang aku justru merasa tak nyaman dengan pandangan orang-orang yang seperti itu. mereka terlalu memperhatikan penampilan, tanpa melihat siapa dan bagaimana orang tersebut.


"Ayo keluar?" ajak mas Sandy padaku.


Aku menatap Andi yang sudah siap untuk turun.


"Saya malu," ku sunggingkan senyuman tipis sebelum akhirnya Andi membuka pintu dan berteriak menyebut nama Reyhan.


"Reyhan...!" teriaknya kencang.


Sontak semua orang menoleh ke arah mobil kami. membuatku tak bisa bersembunyi lagi.


"Andi." gumamku lesu.


Mas Sandy membukakan pintu untukku,


"Terima kasih mas."


Mengabaikan pandangan orang-orang rasanya sulit bagiku. tapi beruntunglah mas Sandy menggandeng tanganku erat.


"Gak usah malu, ayo!" ajaknya


"Alis, apa kabar?" Suara bu dewi terdengar dari arah belakang.

__ADS_1


"Eh ibu, apa kabar. Kemana pak yanto?"


"Kabar baik. bapak masih di rumah,nanti menyusul. pak Sandy apa kabar?"


"Baik bu. alhamdulillah kalo pak Yanto juga ikut, saya jadi ada teman." Seloroh mas Sandy terlihat lega.


Orangtua murid disini memang banyak, tapi sepertinya mas Sandy tidak begitu mengenal mereka dengan baik.


"Ayo lis, kita kesana?!" ajak bu dewi menunjuk salah satu tempat untuk berkumpul.


Semua orangtua berkumpul di salah satu Aula untuk mendengarkan pengumuman dari pihak sekolah sebelum kami benar-benar berangkat.


"Saya ucapkan terima kasih banyak kepada pak Sandy, atas bantuannya menyewakan vila untuk kita semua. sehingga kita bisa tinggal secara gratis selama kegiatan." Jelas Pak Ibrahim selaku kepala sekolah seraya menunjuk ke arah kursi kami.


Semua orang menatap penasaran pada kami, Begitupun aku yang jelas sangat kaget mendengarnya. Aku menoleh pada mas Sandy, sejak kapan dia melakukannya? kenapa dia tak memberitahuku soal ini?


"Mas Sandy gak bilang?" desisku


"Kenapa harus bilang-bilang? ini hal sepele," tukasnya.


"Selain Vila gratis, kita juga punya konsumsi gratis selama kegiatan. dari Bu Sarah dan juga akomodasi gratis dari pak Indra. Jadi, uang yang dibayarkan pihak orangtua untuk kegiatan anak-anak sebagian akan kami kembalikan."


"Wah syukurlah." desahku lega.


"Mas Sandy tenang saja, uang yang mas Sandy berikan untuk saya juga masih sangat banyak. saya tak akan mengganggu uang sekolah Andi." godaku mengulum senyum.


"Terima kasih banyak atas waktu ibu dan bapak semuanya, sebagian pengumuman sudah saya jelaskan di grup sekolah kemarin. dan sebelum berangkat dan memulai aktivitas , mari kita berdoa terlebih dahulu." sang kepala sekolah memimpin doa sebelum memulai kegiatan.


•••


Desa Wisata Taman Sari, merupakan Desa Wisata terbaik di kota ini, selain menjadi destinasi utama untuk para warga sekitar, Desa Wisata ini juga sudah terkenal ke luar kota bahkan luar pulau. banyaknya jumlah pengunjung setiap bulan, menjadikannya salah satu tempat wisata favorit. untuk kalangan dewasa, remaja terutama anak-anak.


Lokasi desa wisata terletak di lereng gunung berapi yang sudah tidak aktif. itulah yang membuat tanah disana begitu subur dan warga sekitar memanfaatkannya sebagai lahan pertanian sayuran dan juga kebun bunga.


tempat yang sangat sejuk dan asri, jauh dari polusi membuat desa ini sangat nyaman untuk ditinggali.


Sejujurnya aku sering mendengar tentang desa wisata ini, hanya saja aku tak pernah punya kesempatan untuk berkunjung kemari.


Seluruh rombongan bus anak-anak dan juga orang tua telah tiba di lokasi desa wisata. semua orang berkumpul untuk mendengarkan instruksi selanjutnya.


Bersama kami, selain kepala sekolah, juga ada beberapa guru yang ikut dalam kegiatan, serta wali kelas murid.

__ADS_1


"Perkenalkan, saya Rahmat bertugas sebagai panitia disini. jika ada yang mau di tanyakan atau yang tidak dipahami boleh tanya pada saya!" tukas seorang pria jangkung memperkenalkan diri.


"Ini Ibu Endang,dia yang akan bertugas membantu kita selama di Vila. dan ini Pak Abdul selaku pemilik perkebunan." jelas pak Ibrahim


"Semua anak yang terlibat akan mendapatkan nilai langsung dari mereka bertiga. dan semua nilainya akan di catat untuk mengisi nilai ujian akhir tahun seluruh murid." jelasnya lagi.


"Baiklah,sepertinya semuanya sudah paham. kalau begitu mari kita menuju Villa saja untuk beristirahat makan siang. sebeleum melanjutkan kegiatan berikutnya.ayo anak-anak bawa tas ransel kalian!" se ru bu Maryam selaku wali murid.


Anak-anak begitu antusias saat melihat tempat yang baru dan juga pemandangan yang sangat indah. sementara para orang tua berjalan di belakang mereka.


Mas Sandy dan pak Yanto tampak asyik berbincang mengenai kondisi di pabrik. sementara aku dan bu Dewi sibuk memperhatikan sekitar.


"Pak Sandy hebat ya Lis, sampe membayar sewa villa untuk kita semua." sanjungnya


Ku lirik suami sesaat.


"Saya juga baru tahu bu." sahutku pelan


"Pantas saja, kamu sepertinya juga kaget. apalagi ibu-ibu disana itu? mereka sejak tadi memperhatikan pak Sandy loh." bisik bu Dewi.


"Benarkah? memangnya kenapa?" tanyaku polos.


"Mereka pasti terkejut Lis. selama ini yang mereka tahu, kamu seorang janda. eh tahunya sudah menikah dengan pak Sandy. pasti mereka Gak nyangka kalau pria itu suami kamu."


"Oh gitu ya." aku mengangguk saja.


Sejujurnya sejak tadi pun, aku merasa mereka memperhatikan kami berdua, terutama mas Sandy.


"Padahal suaminya ada disana. masih aja ngeliat suami orang." cibir bu dewi pelan.


Aku hanya tersenyum tipis mendengar celotehan bu dewi barusan.


"Wah, villa-nya sederhana sekali ya? gak ada yang lebih besar apa?" celetuk salah satu orangtua murid dari belakang.


Aku pun menengadah menatap Villa didepanku. ada dua Villa disana, tempatnya memang sangat besar, tapi bergaya jaman dulu. terkesan sederhana, tapi justru aku sangat Menyukainya.


"Kita sudah sampai. Oh iya ibu-ibu dan bapak-bapak! Villa untuk orang tua dan murid di pisahkan ya! agar anak-anak kita belajar mandiri dan bertanggung jawab!" jelas pak Rahmat.


"Andi sayang kamu gak boleh nakal ya! Gak boleh jahil sama temen. gak boleh teriak-teriak!" bisikku pada Andi sebelum semua siswa di antar menuju Villa yang lain.


Sementara kami mulai memasuki Villa tersebut dan merapikan semua barang bawaan kami.

__ADS_1


Semoga kegiatan ini menjadi kenangan terindah untuk keluarga kecilku. karena ini adalah pertama kalinya Andi berkegiatan disekolah di temani sosok seorang Ayah.


__ADS_2