
Mobil kami memasuki halaman rumah mas Sandy. Terlihat sepi apalagi setelah kepergian bi Marni. mobil yang biasa pak Muh kendarai juga tak ada di garasi.
"Wahhh, kita udah sampe ya ma" Andi menatap antusias rumah besar itu. Entah apa yang Andi pikirkan, wajahnya begitu sumringah seakan tak sabar ingin segera masuk ke dalamnya.
"Apa pak Muh tak ada di rumah?" gumamku menatap mas Sandy.
"Mungkin dia sedang diluar" mas Sandy keluar dan segera membuka pintu untukku. lalu kemudian membuka pintu belakang.
"Rumahnya sepi ya om papa?" tukas Andi yang mungkin juga merasa jika rumah ini tak berpenghuni.
"Iya. tante om sedang bekerja. jadi rumahnya sepi." jawab mas Sandy.
"Ayo masuk!" ajaknya lagi.
Ini bukan kali pertama aku menginjakkan kakiku di rumah mas Sandy. tapi rasanya ada perasaan yang cukup berbeda saat aku kembali dengan menyandang status sebagai istri si pemilik rumah.
"Apa kita akan tinggal disini ma?" Andi bergumam seraya memegang erat tanganku.
Mas Sandy berjongkok dan mendekatinya.
"Iya sayang, sekarang Andi tinggal disini. nanti kalau mau sekolah, Andi di antar pak Muh ya" jelasnya lembut.
"Asiiik. Andi bisa tidur sama om papa dong!" selorohnya.
"Boleh. Andi boleh tidur dimana aja kok!' mas Sandy mengusap lembut pipinya.
"Ayo!" mas Sandy mengajak Andi lebih dulu menaiki anak tangga. aku mengekorinya dari belakang. sayangnya bu Ayu sedang tak berada di rumah. aku jadi tak bisa menyapanya siang ini. padahal niat kami ingin segera bertemu dengannya.
Kami melenggang masuk menuju kamar mas Sandy. tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan suasana kamar yang berbeda. mas Sandy sengaja mengubah tatanan kamarnya menjadi lebih luas. ranjangnya pun memiliki ukuran sangat besar. Aku sedikit tersipu melihatnya, apa mas Sandy sengaja menyiapkan ini semua untuk menyambutku? tempat tidur ini? AH! Alis berhentilah berpikiran yang aneh-aneh racau ku dalam hati.
"Wahhh! kamar om papa besar ya" Andi menatap takjub seisi ruangan yang memang sangat mewah itu.
"Tunggu sampai Andi lihat kamar andi sendiri ya" godanya membuat Andi penasaran.
"Andi punya kamar?" tanyanya
Aku menatap mas Sandy heran. ternyata diapun sudah menyiapkan kamar khusus untuk Andi.
"Tentu saja. Andi mau lihat? kamarnya ada disamping kamar ini" jelasnya.
"Oke. kita kesana sekarang!" ajaknya.
Ku simpan tas ku di atas meja,lalu mengikuti kemana mas Sandy membawa Andi. kamar yang terletak disebelah kamar mas Sandy memang termasuk salah satu kamar utama. tapi ku pikir, kamar itu terlalu besar untuk Andi tempati.
"Ayo buka!" mas Sandy meminta Andi untuk mendorong pintunya.
Dengan sekuat tenaga Andi mendorong daun pintu yang memang sangat besar itu.
KITT!
__ADS_1
Pintu itu terbuka sedikit. lalu mas Sandy membantu mendorongnya agar terbuka lebih lebar.
Aku dan Andi sekali lagi dikejutkan dengan semua yang mas Sandy persiapan. kamar itu disulap seperti sebuah taman bermain. tempat tidur, kasur lantai, mobil-mobilan, bola dan bahkan ayunan ada disana. di salah satu sudut terdapat meja belajar lengkap dengan semua fasilitasnya. komputer, buku hingga pernak pernik kecilnya.
"Mas Sandy," gumamku menatapnya tak yakin. Mas Sandy menoleh dan tersenyum. dia jelas tahu aku sangat terkejut dengan semua ini begitupun dengan Andi.
"Apa Andi suka kamarnya?" mas Sandy membungkuk dan bertanya padanya.
Andi menatap mas Sandy lekat, lalu kemudian memeluknya erat. Andi menangis, anak itu tak berucap sedikitpun. membuat kami terenyuhh dengan sikap manisnya.
"Makasih om papa," gumamnya pelan.
Selama ini Andi hidup dalam kesederhanaan, meski dia tak pernah meminta hal mewah padaku tapi dia juga memiliki keinginan yang mungkin saja tak pernah dia utarakan padaku. Andi memilih memendam keinginannya karena melihat kondisi kehidupan kami.
Cukup lama Andi memeluk mas Sandy dengan berurai air mata. tak lama kemudian mas Sandy mengurai pelukannya. memapahnya mendekati ranjang berukuran sedang yang di dominasi warna biru.
"Duduklah! Andi dengarkan om baik-baik ya,.. semua yang ada dikamar ini punya Andi. Andi bisa bermain sepuasnya. tapi jangan lupa belajar, oke!" perintahnya lembut. mas Sandy mengusap kedua pipi Andi yang tampak basah.
Aku yang bersandar didekat pintu hanya mampu menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang tak menentu. ada perasaan haru yang sulit ku jelaskan.
"Om sama mama, mau beres-beres barang di mobil. Andi main dikamar ya!"
Andi mengangguk dan mulai melihat-lihat seisi kamarnya dengan takjub.
Kami berdua meninggalkan Andi di kamar untuk kemudian merapikan semua barang pribadiku ke kamar.
"Saya masih tak percaya mas," gumamku pelan
"Soal apa?" mas Sandy menoleh padaku.
"Dulu, saya berada dirumah ini hanya sebagai perawat mas Sandy. dan sekarang... " aku menggantung kalimatku, suaraku terasa berat untuk melanjutkan kalimatku barusan.
"Dan sekarang, kamu menjadi nyonya Alis Hadiwijaya. wanita yang sangat saya cintai" tuturnya mesra.
Pandangan kami beradu cukup lama,
Hari pertamaku sebagai istrinya, nyatanya masih membuatku linglung. Aku masih tak percaya jika sekarang aku menyandang gelar nyonya Hadiwijaya. nama kehormatan yang disegani banyak orang. Nama yang entah aku mampu menjaganya atau tidak. nama yang Sejujurnya membuatku selalu cemas setiap saat.
Aku memeluk erat mas Sandy, tak ingin melepaskan pelukannya lagi.
"Haruskah kita,-" bisiknya mencoba menggodaku.
Aku menggeleng pelan tanda menolak, lalu membenamkan wajahku semakin dalam didadanya.
"Ini masih siang" desisku mencubit pinggangnya.
"Oke baiklah. lagipula saya tak ingin melakukannya disini, saya ingin kita melakukannya di tempat yang istimewa" jawabnya seraya mengecup keningku.
"Mas Sandy banyak maunya" rengekku.
__ADS_1
Kami berdua terkekeh dengan isi pikiran yang sepertinya sepemahaman.
•••
Deru mobil yang berhenti di garasi membuat aku dan mas Sandy yang tengah merapikan pakaian saling melempar pandangan.
Mungkinkah itu Bu Ayu???
"Sepertinya besok saya sudah harus mencari asisten rumah tangga" dengusnya yang sepertinya enggan untuk melihat ke bawah.
"Biar saya yang lihat mas,"
"Kamu yakin teh?" tatapannya seakan tak yakin padaku.
"Mas Sandy tunggu saja disini." Aku bergegas keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.
Baru saja aku selesai menuruni anak tangga, ku lihat bu Ayu berjalan hendak memasuki ruang tengah. kedua mata kami bertemu, pertemuan yang tak bisa di hindari tentu saja.
"Bu Ayu, sudah pulang!" Aku berjalan pelan mendekatinya.
Namun sebelah tangannya terangkat, seakan memintaku untuk berhenti mendekat. Aku pahami itu dan hanya diam di tempatku berdiri.
"Apa ini kejutan untuk saya?" tanyanya dengan wajah sinis.
Bu Ayu tentu sudah tahu soal kabar pernikahan kami dari dokter Hasan. hanya saja dia tak bersedia hadir saat kami menikah. mas Sandy bilang dia sudah meminta ijin, hanya saja tante Ayu tak begitu menanggapinya. begitu kata mas Sandy.
"Maafkan saya bu. saya yang meminta pada mas Sandy untuk tinggal disini."
"Apa sekarang kamu merasa menang? apa memang ini tujuan kamu? tinggal di rumah besar Hadiwijaya? Ck..,tak bisa di percaya" senyum sinisnya membuatku semakin merasa tak nyaman.
"Saya sama sekali tak berniat begitu bu. saya minta maaf jika apa yang terjadi selama ini,tak sesuai harapan ibu." aku menundukkan kepalaku.
"Tak perlu menunjukkan sikap bersalah! saya tak butuh semua itu. lagipula kalian sudah menikah. apa gunanya?"
"Dia hanya bersikap hormat tante! tolong hargai sedikit saja!" suara mas Sandy dari arah tangga membuat kami berdua terkejut.
Mas Sandy turun dan berdiri didekatku.
"Tak perlu bersikap sinis. kami berdua sudah menikah sekarang,suka atau tidak tante harus menerimanya!" tegasnya
"Mas," ku tarik pelan lengannya,berharap agar dia tak melanjutkan kalimatnya.
"Bagus! memang begitulah yang kalian inginkan! sama sekali tak punya rasa hormat!" desisnya lalu melenggang masuk menuju kamar meninggalkan kami berdua di ruang tengah.
Hening.
Rumah mewah itu seakan meredam semua kebisingan dan kegaduhan hatiku. memaksaku untuk menerima semuanya dalam diam.
• • • • • •
__ADS_1