
"Terkadang,diam dan pura-pura tak tahu itu jauh lebih baik."
Itulah hal yang Terbersit dikepalaku, saat aku melihat bu Ayu tengah duduk berdua dengan seorang Pria yang entah siapa itu. Bu Ayu nampak kaget saat tahu bukan bi Marni yang membawakan kopi untuknya.
"Loh,Bi Marni kemana Lis?"
"Maaf bu,Bi Marni lagi kerepotan di dapur! Ibu perlu sesuatu lagi?!" tanyaku tanpa menatapnya.
"Ini siapa? Apa pekerja baru?" suara pria itu terdengar Ramah ditelinga.
"Dia yang bekerja merawat Sandy! Kamu tahukan Sandy selalu merepotkan dengan gonta-ganti perawat!" desis Bu Ayu seakan tak suka saat 'Pria' nya bertanya tentang diriku.
"Oh jadi kamu suster?!" tanyanya yang membuatku seketika menatap Pria itu.
"Bukan pak,saya cuma ART biasa!" Sahutku segera. meskipun setelah kulihat-lihat dia tak cocok ku panggil Bapak.
"Mana ada perawat penampilan nya begitu, kamu Ada-ada aja Van!" sela bu Ayu diakhiri senyuman remeh.
"Kita mau makan! lebih baik kamu segera siapkan sarapan Buat Sandy,ya!" timpal bu Ayu lagi. Aku mengangguk dan segera meninggalkan meja makan itu.
Aku berjalan menuju dapur namun tetap saja isi kepalaku masih memikirkan Bu Ayu dengan 'Pria' nya itu. jika dilihat-lihat Pria itu seperti nya masih muda. bahkan lebih cocok jadi Anak atau keponakan Bu Ayu. mungkin selisih umurnya tak jauh dari Mas Sandy. Apa memang mereka hanya rekan kerja? tapi kata Bi Marni baru kali ini Bu Ayu membawa seorang teman lelaki untuk menginap.
ASTAGA! kenapa juga Aku malah memikirkan hal yang jelas-jelas bukan urusanku. Rutukku merasa bodoh.
••
"Permisi mas,sarapan dulu!" Aku masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya mengetuk pintu. Ku lihat Mas Sandy tengah duduk di balkon. Apakah dia sudah bangun sejak pagi? tumben sekali, batinku.
"Mas Sandy sudah bangun?! sarapannya mau di simpan disini saja mas?"
"Simpan di dalem aja teh,saya lagi males sarapan!" sahutnya lesu.
Aku menyimpan makanannya di meja, lalu beranjak menuju balkon. Tidak biasanya Mas Sandy lemas begitu. meskipun gaya bicaranya memang cuek tapi ini rasanya lain.
"Mas Sandy sakit?" Aku menatapnya lama.
__ADS_1
"Saya cuma lagi males aja! bosen teh!" jawabnya menatap jauh keluar. Aku mengikuti arah pandangan nya,dia pasti merasa terkurung selama 3 minggu ini. Tentu saja merasa bosan.
"Gimana kalo kita keluar aja mas? Siapa tahu dengan begitu, mas Sandy agak baikkan?" Tukasku menyarankan.
Mas Sandy menoleh kearah ku,wajah putihnya yang tersorot cahaya matahari benar-benar bersinar dan terlihat sangat nyata. Seperti gambaran Pemuda tampan yang ada di dalam komik jepang. AH! Aku benar-benar kurang ajar akhir-akhir ini-);
"Kamu yakin teh?" tanyanya serius.
"Maksudnya?" Jawabku agak kebingungan.
"Kamu yakin ngajak saya keluar rumah? gak takut di marahin sama tante Ayu? atau malah nanti saya ngeropotin teh Alis!" jelasnya tak yakin.
"Ya,.. kalo soal itu sih,saya gak tahu mas. kita minta ijin dulu aja sama bu ayu. atau minta pak wahyu buat temenin mas juga. jadi kan aman tuh!" saranku.
Mas Sandy tersenyum sembari memalingkan wajahnya. memejamkan matanya sesaat untuk menghirup udara segar. hal yang membuatku betah berlama-lama melihatnya.
"Kenapa harus minta ijin teh? saya kalo mau keluar,ya tinggal pergi aja! Asal teh Alis siap aja jagain saya!" Godanya dengan senyum menggantung.
"Wah,kalo soal jagain orang mah. saya bisa di andalkan mas!" jawabku dengan PeDe'nya.
Ku lihat mas Sandy tersenyum lebar, entah apa yang ada dibenaknya setelah mendengar jawabanku barusan.
"Oh iya,soal itu saya mau bilang terima kasih banyak sama mas Sandy. anak saya suka banget sepatunya!" Tukasku yang hampir lupa dengan niatku itu.
"Besok-besok jangan nolak lagi kalo saya kasih sesuatu ya!" selanya.
"Iya mas,maaf. tapi saya benar-benar berterima kasih Mas. Andi sampe muji-muji terus sepatunya. dia tahu kalo sepatu pemberian mas Sandy itu, sepatu mahal." jelasku.
"Siapa? Namanya siapa barusan?!" tanyanya seakan tertarik.
"Andi mas,Andi Pratama." jawabku ragu.
"Namanya bagus,dia pasti anak yang baik ya. Keliatan!" Pujinya yang seketika membuat hatiku berubah jadi taman bunga. entah karna apa tiba-tiba mas Sandy bisa memuji Andi seperti itu. apa karna kemarin dia memperhatikan kami. Entahlah, aku segan bertanya soal hal itu.
"Ya sudah,saya permisi beres-beres dulu mas." pamitku hendak beranjak.
__ADS_1
"Eh,tunggu sebentar. saya mau tanya!"
Aku menoleh pelan kearah nya.
"Tanya soal apa mas?"
"Dibawah ada siapa? kok saya semalem,kaya denger suara mobil orang lain masuk garasi ya?"tanyanya.
Aku terdiam sesaat.
"Soal itu saya gak tahu mas," Aku yang bodoh dalam hal berbohong itu tentu memantik rasa penasaran darinya
"Gak tahu? Masa sih? teh Alis gak liat emangnya tadi pas lewat garasi?" selidiknya.
Aku menggaruk tengkuk bingung. haruskah aku menjelaskan tentang siapa orang yang bersama Bu Ayu. Atau sebaiknya mas Sandy tak perlu tahu.
"Ya udah! gak usah dibahas! lanjutin aja kerjaan nya!" perintah mas Sandy kemudian. Seperti nya dia tahu bahwa aku ada dalam posisi tak nyaman untuk menjawabnya. dan aku menghargai sikapnya itu.
••
Seharian ini Aku terus saja memikirkan hal-hal menyebalkan yang tiba-tiba muncul dikepalaku. Soal obrolan Sinta yang kembali membuatku kesal, juga soal sosok pemuda yang bercumbu dengan bu Ayu di kamar pagi ini. Jika saja semua pikiran jelek itu bisa ku buang jauh-jauh, sudah pasti aku bisa bekerja dengan tenang sekarang.
"Teh! tolong handuknya!" Aku terkesiap saat mendengar mas Sandy berteriak dari kamar mandi. entah sudah berapa kali dia memanggilku,buru-buru ku serahkan handuknya itu. Dan Anehnya lagi,Entah kenapa mas Sandy sering sekali melupakan handuknya dan lebih senang membuatku berdiri mematung didepan kamar mandi seperti sekarang ini.
Mas Sandy keluar dari kamar mandi, tak perlu Ku jabarkan bagaimana menawan nya dia saat keluar dari kamar mandi. sehingga membuatku buru-buru menjauh dan tak berani menatapnya.
"Ayo mas, dihabiskan sarapannya! mas Sandy sudah harus minum obat!" perintahku sembari menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11. seharusnya dia sarapan diantara pukul 7 hingga pukul 8. tapi hari ini mas Sandy Cuek dan malas. mungkin karna menurutnya dia akan segera sembuh dan tak memerlukan obat-obatan itu lagi.
"Jangan males mas,biar mas Sandy bisa cepet pulih! pasti banyak orang yang udah kangen liat mas Sandy balik lagi ke tempat kerja," celotehku.
Mas Sandy lalu duduk menghadap nampan yang berisi Sereal,Roti isi Tuna dan jus alpukat. dengan malas dia melahap makananya tanpa menggubris celotehanku. Akupun sudah terbiasa di abaikan olehnya. meskipun mas Sandy diam aku yakin dia memperhatikan apa yang aku bicarakan walau tanpa ada tanggapan berarti.
"Justru Kalo saya sembuh. Akan ada banyak orang yang kecewa. dan sepertinya mereka lebih suka kalo saya sakit aja teh!" jawabnya dingin.
Aku menatap Mas Sandy penuh tanya.
__ADS_1
Apa maksud dibalik kata-katanya itu? Siapa orang yang di maksud akan kecewa jika mas Sandy sembuh? jika benar ada, maka orang itu pasti bukan manusia. batinku.
• • • • •