
"Dasar wanita gak tahu diri! sudah bagus Kakak saya menikahi kamu. dia berusaha mengangkat derajatmu dari tempat kumuh itu!"
Aku mencengkram kuat tanganku, mengintip dari balik pintu dengan perasaan takut.
PLAKKK!
"Lancang kamu!" mama berteriak kalap.
"Aku ini kakak iparmu! seharusnya kamu tahu batasan!" Mama mendekati Tante Ayu dengan tatapan tajam.
"Aku sudah cukup bersabar Ayu. kamu hina aku didepan orang banyak, kamu fitnah aku didepan ayah mertuaku, aku masih diam. dan sekarang! kamu bilang Sandy bukan anak kakakmu?"
"Aku sama sekali tak percaya dengan semua sikap baikmu itu. aku tahu kamu hanya memanfaatkan kakakku agar bisa mengeruk semua hartanya!" tante Ayu menyeringai sinis.
Mama melayangkan tangannya untuk kedua kali. namun tante Ayu melawan. dia menarik pakaian mama hingga robek. keduanya terlibat pertikaian sengit. membuatku semakin ketakutan.
Aku bahkan sampai berkeringat dingin melihat perseteruan mereka.
BUUGHHH!
Mama tersungkur dengan luka cakaran di pipinya. tante Ayu mendekat dan membawa sebilah pisau yang entah dia dapat darimana.
Dan tiba-tiba seringai menakutkan itu tergambar jelas sebelum kemudian tante Ayu menghujamkan pisaunya pada perut mama.
JLEEEBB!
•••
"Mamaaaa...!" Aku bangkit dari tidurku. menatap sekeliling kamarku yang gelap.
Aku menatap ponselku sejenak, pukul 1 dini hari. Aku menghela nafas kasar. Sungguh mimpi yang sangat mengganggu. batinku.
Dan setelah itu, aku sama sekali tak dapat memejamkan mataku. Pikiranku justru semakin dalam membayangkan hal-hal menyedihkan dimana lalu.
Aku bangkit untuk mencuci muka,dan beralih menuju rak buku. Mengambil beberapa buku bacaan dan mulai menjelajahi lembar demi lembarnya hingga pagi menjelang.
Hubungan buruk orangtuaku dan tante Ayu sering sekali menjadi pemicu mimpi buruk ku. Dan bukan malam ini saja, malam sebelumnya pun selalu sama. berakhir dengan bangun dari tempat tidur dalam keadaan terkejut seperti tadi.
Seandainya dulu, aku berkarir saja di luar negeri sebagai atlet renang. dan membawa ayah juga ibuku kesana. mungkin hal ini tak akan terjadi padaku. Aku tak akan menjadi yatim piatu sedari kecil. penyesalan memang selalu yang terakhir datang pada diri manusia.
Dan aku tak suka itu.
PING!
Sebuah pesan masuk di pagi buta. Aku melirik namun tak berniat mengambil ponselku yang letaknya cukup jauh dari tempat dudukku sekarang.
PING!
Benda itu berbunyi lagi,sepertinya itu pesan mendesak. dengan malas aku bangkit dan mengambil ponselku.
"Huhft!" Desahku setelah tahu itu hanya pesan dari Ivan.
__ADS_1
"Siang ini kita pergi lunch di Resto milik orang tua Vina. bagaimana?"
"Vina mengundang kita, jangan sampe menolak!"
"Perlu gue jemput ke rumah lo?"
Aku menatap pesan itu cukup lama. Ada gerangan apa Vina mengundang kami Lunch. bahkan dia tak mengabariku sebelumnya. pikirku.
Apa mungkin Vina ingin mengumumkan hubungan kami pada Ivan? kenapa dia tak merundingkannya denganku? Aku mengerutkan kedua alisku bingung.
"Gak usah jemput. aku berangkat dari kantor!" balasku singkat.
Memang selama berteman dengan Ivan pemuda ini belum sekalipun menginjakkan kakinya di rumahku. aku hanya tak ingin Ivan melihat pertengkaranku dengan tante Ayu. Karena itu pasti akan sangat memalukan.
Selesai berkirim pesan. Aku beranjak untuk mandi saja. dan membiarkan buku-buku itu berantakan di Sofa. pagi ini aku harus ke kampus, dan siangnya harus segera ada di kantor. benar-benar pekerjaan yang melelahkan
•••
"Tumben banget kita di undang makan siang begini?" seloroh Ivan sembari duduk dengan wajah antusiasnya.
Aku menatap Vina tak yakin. gadis itu duduk disampingku. melihat gerak-gerik kami. Ivan pasti juga sudah paham,dari cara kami berdua duduk saja,itu sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi diantara kami.
"Wahhh! kenapa harus berdampingan begitu? mau ngeledek gue karena gue gak ada cewek?" seloroh Ivan tak suka.
Vina menyeringai dan menatapku lalu kembali melemparkan pandangannya pada Ivan.
"Kita mau bilang, kalo kita udah resmi jadian." gadis itu berujar dengan mantap.
Cukup lama akhirnya Ivan buka suara,
"Gila, kenapa lo gak ngomong Hah? mau main-main dibelakang gue ya?" tukasnya dengan senyuman yang kurasa tidak nyata.
Apa Ivan cemburu? pikirku sekilas.
"Lo gak marah?" Timpalku.
"Ya ampun. kita udah kenal lama san, Chill.." jawabnya dengan tatapan yang tak lepas dari Vina.
Dibawah meja, Vina menggenggam tanganku erat. dia seperti tak nyaman dengan situasi ini. tapi akupun tak ingin terlalu berburuk sangka. dan hanya menganggap bahwa dia sangat mencintaiku.
"Aku harap, kamu bisa ngerti Van" tukas Vina setelah melihat sikap Ivan yang kami pikir terasa aneh.
Setelah pertemuan kami bertiga itu, kami jadi jarang memiliki waktu bersama lagi. hanya aku dan Vina yang sering menghabiskan waktu berdua saat akhir pekan. Ivan selalu beralasan jika dia tengah sibuk atau berada di luar kota. entahlah, sikapnya sedikit berubah setelah kami mengumumkan tentang hubunganku dengan Vina.
Tahun pertama kami melewati masa pacaran dengan indah, semua masih terasa manis dan baik-baik saja. bahkan Vina sering berkunjung ke kantor.
Tahun kedua Aku lulus kuliah, dan Vina juga tampak serius mengejar karirnya di dunia modeling. sedikit demi sedikit waktu kami untuk bertemu agak berkurang.
Hingga tahun ketiga, kami benar-benar disibukkan dengan urusan pekerjaan. bisa di bilang 90% waktuku dihabiskan untuk bekerja dan sisanya untuk Vina.
Awalnya Vina tak marah, dia mengerti karena aku melakukannya untuk masa depan kami. aku ingin menikahinya. aku tak ingin menunda waktu lagi.
__ADS_1
Tapi disitulah letak kesalahanku.
Dunia yang ku kejar, ternyata malah membuatku semakin menjauh dari alasan yang ingin ku gapai selama ini. Vina semakin sibuk dan kami nyaris tak bisa berkomunikasi walau sehari saja.
•••
"Bisakah kita makan siang? aku yang jemput?" ku kirim pesan lebih dulu padanya. tepatnya 10 menit sebelum aku keluar dari kantor.
"I'm Sorry honey, Aku makan siang di kantor! sekalian meeting buat Fashion show bulan ini sama client" jawabnya dengan sebuah foto ruang rapat yang terlihat ramai.
Aku menghela nafas lesu.
"Batal lagi.." dengusku kesal.
TOKK..
TOKK..
"Pak, siang ini ada kunjungan ke pabrik. katanya bapak mau sekalian makan siang disana dengan para staf?" Nita mengingatkanku akan jadwal yang ku buat kemarin malam.
Aku memijat kepalaku pusing.
Padahal jarak kantorku dengan kantor Vina hanya sekitar 20 menit jika menggunakan mobil. tapi kenapa terasa sangat jauh sekarang.
"Suruh pak Muh siapkan mobil. saya males nyetir." perintahku.
Nyatanya,dunia ini sangat adil bukan? semakin dewasa,kita akan mendapatkan semakin banyak tekanan dari segala arah. Hanya untuk menguji kesiapan kita akan hal yang lebih besar didepan sana nantinya.
Dan Hubungan kami yang semakin menjauh, membuat kami bisa terbiasa. jika suatu saat kami di takdirkan untuk tak bersama lagi.
•••
Sepanjang perjalanan, aku terus menatap bahu jalan menuju pabrik yang akan kami tuju.
Setelah beberapa bulan pembangunan pabrik di salah satu kota ini rampung. mereka segera membuka lowongan pekerjaan bagi warga sekitar. Aku senang jika apa yang kami lakukan bisa membantu orang banyak. mengurangi pengangguran dan menambah lapangan pekerjaan.
Aku sangat antusias, karena ini adalah hari pertamaku berkunjung ke pabrik. bahkan aku bisa melupakan sekelumit kisah suramku dengan Vina.
"Jalan nya masih jelek ya pak?" celotehku saat melewati jalanan menuju Pabrik.
"Iya pak, sepertinya wilayah ini belum tersentuh anggaran desa." jelas pak Muh.
"Banyak juga rumah warga disekitar sini. pasti yang kerja disini, orang sini semua" gumamku melihat beberapa pemukiman warga sekitar.
"Iya pak. katanya, dipabrik baru ini juga kebanyakan wanita pak. siapa tahu pak Sandy ketemu jodoh disana." celetuknya
Aku melirik pada spion dan tersenyum remeh.
Jodoh?! Bahkan untuk menjaga satu wanita saja, aku hampir kehilangannya. batinku tertawa.
• • • • •
__ADS_1