PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•119


__ADS_3

"Jangan bilang kalau teh Alis tak mau kita mengadakan resepsi?" selidiknya khawatir.


Aku menggeleng lemah.


"Saya hanya sedikit takut mas" gumamku menunduk kalut.


Mas Sandy menarik pelan daguku, memaksaku mendongak menatapnya.


"Kamu Gak usah khawatir. saya akan selalu ada disamping kamu teh!" Tukasnya yakin


Aku menatapnya lekat. mencari kebenaran atas ucapannya barusan. dia begitu yakin? lalu bagaimana denganku? nyatanya sikap bu Ayu tadi saja sudah membuat nyaliku hampir ciut. lalu bagaimana aku bisa menghadapi orang-orang diluar sana?


TOKK..


TOKK...!


Kami berdua menoleh ke arah pintu.


"Ma, mama...!" suara Andi terdengar sangat nyaring.


"Andi." tukasku kaget. dia pasti baru saja bangun.


"Kamu temui Andi dulu,saya akan ganti baju!" perintahnya.


"Cepat turun ya mas, kita sarapan" aku meninggalkan kamarku dan segera membuka pintu.


Andi tampak berdiri dengan pakaian sekolahnya yang sudah rapi.


"Wah? Andi udah siap ternyata? mama pikir Andi baru bangun tidur!" tukasku mendekat.


"Kata om papa, Andi sekarang harus mandiri ma" jawabnya percaya diri.


"Andi emang pinter! kalo gitu, kita ke bawah buat sarapan ya!" ajakku.


"Om papa mana, ma?"


"Om papa lagi ganti baju. nanti juga nyusul" ku genggam erat tangannya seraya menuruni anak tangga.


Ku antar Andi duduk didepan meja makan. lalu ku siapkan sarapan yang tadi sempat tertunda.


Sementara ku biarkan dia wanita di ruang tamu menunggu hingga mas Sandy turun.


"Gimana tidurnya semalam?" tanyaku pada Andi yang tengah lahap mengunyah nasi gorengnya.


"Ma, besok boleh enggak jangan pake Angin tidurnya?" selorohnya.


"Pake angin? Maksudnya AC?" aku terkekeh


"Iya, yang ada di atas tempat tidur. gerah ma.. "protesnya. Aku tersenyum, mungkin Andi memang belum terbiasa dengan suhu ruangan di kamarnya.


"Iya. nanti mama matikan kalau Andi mau tidur ya!"


"Ma, sebentar lagi sekolah Andi mau liburan. mama sama om papa ikut kan?" tanyanya.

__ADS_1


Liburan yang Andi maksud pasti adalah Study Tour yang sudah di agendakan pihak sekolah beberapa bulan lalu.


"Nanti mama tanya dulu sama om papa ya? sekarang Andi sarapan dulu!" aku mengusap lembut rambutnya.


"Selamat pagi sayang?" mas Sandy Turun seraya mengecup kepala Andi.


"Pagi om papa"


"Kamu mau sarapan dulu mas? atau mau temui tamu kita dulu?" aku menyiapkan piring untuknya.


"Sepertinya saya ingin sarapan dulu. nasi goreng nya terlihat sangat menggoda," bisiknya membuat Andi terkekeh.


"Ya sudah, lebih baik kita sarapan dulu aja!" Ku ambilkan satu piring nasi goreng kesukaan Andi. sepertinya mas Sandy dan Andi memiliki selera makanan yang sama. karena apa yang Andi sukai, ternyata mas Sandy juga sangat Menyukainya.


"Apa tante Ayu pergi ke kantor?" tanya mas Sandy kemudian.


"Bu Ayu ada di kamarnya mas," jawabku singkat. aku tak ingin mas Sandy tahu soal kejadian tadi pagi. maka sebisa mungkin aku menyembunyikan hal itu darinya.


"Tumben sekali. biasanya dia tak akan betah di rumah." gumam mas Sandy.


"Ini kan juga rumah bu Ayu mas, jadi biarkan saja." tukasku santai.


"Kamu benar teh. hanya saja saya sedikit khawatir" mas Sandy menatap Andi yang terlihat lahap menyantap sarapannya.


Aku bisa melihat kekhawatiran mas Sandy soal bu Ayu. dia sadar seperti apa sifat tantenya itu. dan aku yakin dia pun mencemaskan kami berdua.


•••


"Pak Muh, Titip Andi ya! jangan ngebut-ngebut" aku tersenyum manis saat Andi melambaikan tangan padaku juga mas Sandy.


Kami berdua kembali ke dalam rumah dan menemui dua wanita yang sempat kami abaikan beberapa saat tadi.


"Selamat pagi! maaf menunggu lama." sapa mas Sandy dan aku yang langsung duduk berhadapan dengan mereka.


"Gak apa-apa pak. kami yang salah, datangnya kepagian." jawab salah seorang diantata mereka.


"Apa Nita sudah menjelaskan semuanya pada kalian? termasuk soal gaji?"


"Sudah pak. kami tinggal bekerja saja. saya dan sodara saya ini Alhamdulilah sudah berpengalaman menjadi asisten rumah tangga. jadi bapak sama ibu tinggal menjelaskan saja secara garis besar."


"Baiklah. Hari ini kalian akan di temani oleh pak cecep tukang kebun saya. kalau kalian mau tinggal disini. kami menyediakan satu kamar untuk dua orang. Jika perlu sesuatu kalian boleh bicara sama istri saya atau langsung pada saya." jelas mas Sandy.


"Maaf,ibu namanya siapa ya?" Aku menatap keduanya penasaran.


"Oh iya,hampir lupa saya Atun bu. dan ini susi sepupu saya. panggil saya bi Atun aja." wanita itu tersenyum polos. dan jujur aku sangat suka dengan sikap ramahnya.


"Baiklah bi Atun dan susi. semoga kalian betah ya kerja disini. Oh iya, disini juga ada Bu Ayu. yaitu tante suami saya. jadi tolong, kalian layani dengan baik juga ya!" tukasku.


Mas Sandy menoleh sesaat padaku dan tersenyum.


"Ya sudah. kalian boleh ke belakang, pak cecep sudah menunggu disana. saya dan istri saya harus berangkat ke kantor." pamit mas Sandy mengakhiri obrolan kami.


"Mari bi, saya antar ke belakang!"

__ADS_1


Ku antar dua wanita itu menuju halaman belakang. dimana pak cecep yang akan menjelaskan apa saja yang akan dan harus mereka kerjakan dirumah ini.


Aku segera kembali ke kamar untuk membantu mas Sandy bersiap.


"Apa saya harus ikut ke kantor mas?" aku menatapnya tak yakin.


"Tentu aja sayang. kamu jangan buat saya kecewa. oke?!" mas Sandy mendekat dan hendak menciumku.


"Eh, jangan nakal ya!" aku menghindarinya.


"Wah! Mulai pelit nih," desisnya menatap licik padaku.


"Ini udah siang mas. ayo siap-siap" ku ambil dasi di tangannya dan mulai memasangkannya.


Namun sialnya,memakaikan dasi ternyata tidak semudah yang ku kira. Aku bahkan bolak balik mencoba menyimpulkan ikatannya namun tetap saja terlihat salah dan berantakan.


Mas Sandy memperhatikanku dengan seksama dan begitu sabar. membuatku semakin tak karuan.


Semakin lama aku semakin frustasi dan rasanya ingin menangis. bahkan untuk sekedar mengikat dasi saja aku tak bisa. benar apa kata bu Ayu, aku memang lebih cocok jadi pesuruhnya. bukan istrinya.....


Mas Sandy memegang tanganku seketika. dia tahu jika aku tengah kesal karena tak kunjung selesai mengikatkan dasinya.


Aku menghela nafas kasar dan memalingkan wajahku darinya.


"Kamu mungkin belum terbiasa teh, Gak perlu dipaksakan!" tangannya mengusap lembut kepalaku.


"Saya malu mas, pasangin dasi buat mas Sandy aja Gak bisa." keluhku penuh sesal.


Mas Sandy tersenyum, dia menarik tubuhku hingga terduduk di pahanya.


"Mas Sandy," desisku kaget.


"Sini saya ajarin" tukasnya,


Aku memperhatikan dengan seksama saat jari jemarinya mulai membuat tali simpul secara perlahan, sementara mata mas Sandy terlihat intens menatap ke arahku membuatku tersipu.


Terkadang Cinta itu bisa membuat akal sehat kita tumpul.


Namun cinta juga bisa menciptakan hal-hal luar biasa yang tak bisa dicapai oleh indra manusia.


"Seperti ini, mudahkan?!" tukasnya saat selesai mengikat dasinya itu.


"Saya minta maaf mas," lirihku yang merasa benar-benar sangat bodoh.


"Cinta saya tak akan berkurang, hanya karena kamu tak bisa mengikat dasi dengan sempurna," tukasnya seakan mencoba memahami kegusaranku.


Aku menatap mas Sandy Haru. sikapnya sungguh sangat membuatku tersentuh.


CUP!


Ciumannya yang tiba-tiba membuatku terhenyak. Kali ini aku tak ingin menghindar lagi, ku balas ciumannya dengan lembut sebagai ucapan terima kasih atas sikap manisnya hari ini.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2