PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•54


__ADS_3

Aku menatap langit-langit kamar cukup lama, sekilas ku lihat bayangan mas Sandy persis seperti tadi saat dia hendak menciumku,-


Aku menarik selimutku dan sembunyi dibaliknya. aku bahkan masih tersipu saat membayangkannya. bagaimana bisa aku larut dalam Romansa sekecil itu. apa Karna aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya?


Aku ingat betul saat mas Sandy berpamitan untuk pulang tadi,dia mengusap kepalaku penuh perhatian. sembari berpesan agar aku segera tidur.


Bahkan selama menikah aku tak pernah tahu bahwa ada sikap pria yang semanis itu dunia nyata. bukankah sikap dan sifat romantis pria hanya ada dalam cerita Roman saja?


PING!


Mendengar suara pesan singkat dari ponselku,aku segera menyabet ponsel di meja dan melihat siapakah yang mengirim pesan. mungkinkah itu mas Sandy? batinku.


Namun wajahku merengut lesu saat tahu jika pesan itu datang dari orang lain.


"Mas Erwin," aku membaca pesannya


#Maaf teh apa sudah tidur? sebenarnya tadi saya ingin menemui teh alis. tapi ternyata ada tamu.


Saya ingin menanyakan soal pekerjaan yang sempat saya tawarkan?


apa teh alis tertarik? saya bisa bantu semampu saya.


Aku menatap lama pesannya sebelum akhirnya ku balas dengan penolakan yang sesopan mungkin.


ku akhiri pesanku dengan ucapan selamat malam, agar obrolan kami tak berkelanjutan.


Ku simpan ponselku di samping ranjang.


"HUfth!" aku menghela nafas lesu. Kenapa mas Sandy tak mengirimkan pesan? Setidaknya katakan selamat malam atau apapun itu. meskipun sebelum pulang dia sudah mengatakannya. tapi bagiku, itu sangat kurang.


Aku mengacak rambutmu frustasi.


kenapa sekarang aku malah jadi seperti ini? apakah aku berlebihan?


Aku bangkit dari pembaringan saat teringat sesuatu. Aku melirik tas ku lalu segera ku rogoh barang yang ku cari itu.


YA! kertas formulir kerja itu. ku putuskan untuk mengambil pekerjaan di kedai itu bersama Aisyah. besok adalah hari pertama pembukaan toko. Aku harus datang lebih awal.


Aku harus menyiapkan mental dan memberanikan diri untuk memulainya lagi. pekerjaan yang terbilang sangat baru bagiku. semoga aku bisa menjalani semuanya dengan mudah dan baik.


Setelah selesai aku kembali berbaring. dan ingatanku bermuara pada sosok yang sama. yaitu mas Sandy.


PING!


Aku melirik ponselku tanpa berniat membukanya. pastilah bukan pesan yang ku harapkan.


PING!


Ku tarik lesu ponselku dan ku tatap malas layarnya. namun mataku membulat sempurna saat tahu ternyata dialah yang mengirim pesan.

__ADS_1


#Maaf saya baru memberi kabar teh, saya baru tiba di rumah. Apa teh alis sudah tidur?


#Sekarang saya malas untuk menghadapi malam. Karna besok saya tak akan melihat wajah teh alis saat mengomel pada saya.


#Jaga diri baik-baik. Jagakan Andi untuk saya juga! secepatnya saya akan menemui kalian lagi.


Aku membaca pesannya begitu pelan. tak terasa aku tersenyum lebar sepanjang melihat pesan itu. Segera ku balas dengan kata-kata manis sebisaku.


kali ini aku bisa tidur dengan nyenyak setelah membalas pesan darinya.


•••


Beraktifitas dihari senin sungguh membosankan. Meski begitu sudah sejak pukul 4 pagi aku terbangun. untuk merapikan rumah,memasak dan menyiapkan kebutuhan sekolah bagi Andi. YA, bagi perempuan tentu tak akan ada kata lelah dalam kamusnya.


Ku tatap kertas formulir itu yang tersimpan rapi di atas meja. semoga hari ini belum terlambat. batinku.


"Ma? om Sandy Gak nginep disini ya?" Suara Andi terdengar jelas dari arah kamar. ku lihat dia mengucek matanya Karna masih mengantuk.


"Om Sandy udah pulang sayang. dia kan harus minum obat biar kakinya cepet sembuh." jelasku.


"Mama mau berangkat kerja?" Andi melihat pakaian rapi yang ku kenakan.


"Iya, hari ini mama mau mencoba melamar pekerjaan. makanya mama minta Andi untuk bersiap lebih pagi Yah. Gak apa-apa kan mama pergi lebih dulu?" tanyaku meminta izin.


Andi menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi.


"Andi mandi dulu deh. mama udah siapin air hangatnya. abis itu ganti baju terus sarapan!" sambungku lagi.


"Andi sayang,bantuin mama ya nak. ini kan hari senin. kalo mama kesiangan, mama kehilangan pekerjaan mama." tukasku memohon.


"Kenapa mama Gak kerja sama om Sandy lagi aja sih ma?" celetuknya polos.


"Mama gak mau jauh-jauh dari Andi. makanya mama cari tempat kerja yang deket sama rumah kita nak." jelasku


"Ya sudah, Andi mandi dulu!" perintahku.


Andi tak menjawab lagi dan dengan lesu berjalan menuju kamar Mandi.


Ku siapkan beberapa makanan di dalam kulkas agar Andi bisa dengan mudah menemukannya selepas pulang sekolah.


•••


Aku berjalan keluar dari gang menuju jalan raya. tak berapa lama terdengar suara klakson motor dari arah belakang. aku menoleh pelan,motor itu berhenti tepat dibelakangku.


"Mas Erwin?" tukasku saat dia membuka helm-nya.


"Teh Alis berangkat sepagi ini? apa menghindari saya?" tanyanya serius.


Sepertinya Mas Erwin tersinggung dengan isi pesan yang ku kirimkan semalam.

__ADS_1


"Enggak kok mas, saya kebetulan mau melamar kerja. jadi harus berangkat lebih awal."


"Teh Alis melamar kerja? kenapa teh Alis menolak tawaran saya?" tanyanya lagi.


Aku menyeringai bingung. padahal aku sudah menjelaskan kenapa aku menolak tawaran kerja darinya semalam. kenapa mas Erwin tak paham dan terus saja bertanya.


"Apa teh Alis dilarang menerima tawaran saya oleh pria kemarin? pak Sandy itu?" selorohnya menerka.


"Enggak mas. sama sekali gak ada hubungannya sama mas Sandy. lagipula semalam saya sudah jelaskan kenapa saya tak menerima tawaran kerja itu. saya permisi dulu mas." aku hendak pamit.


"Ayo naik!" ajaknya lagi.


"Gak usah mas," tolakku sopan


"Teh alis kenapa selalu menolak ajakan saya? seburuk itukah saya dimana teh Alis?" tanyanya


Aku menoleh dan menatapnya kesal. daripada ku biarkan mas Erwin terus bertanya aku putuskan untuk ikut bersamanya hanya sampai pertigaan jalan.


"Maaf kalau sikap saya menyebalkan! saya hanya terlalu cemas saja sama teh Alis." tuturnya kemudian.


"Gak apa-apa mas. saya juga mau bilang makasih sama mas Erwin. Karna sudah mencemaskan saya."


"Teh Alis mau melamar kemana? apa tempatnya jauh?" tanyanya.


"Saya mau melamar ke salah satu kedai kopi yang baru dibuka hari ini. makanya saya Gak boleh terlambat." Jelasku.


"kedai kopi? setahu saya, kedai kopi yang mau dibuka itu sekitar arah timur? jalan menuju tempat kerja saya dong?" Tukasnya.


"Iya mas. saya mencoba melamar dimana Karna jaraknya tak terlalu jauh." aku menekankan alasan utamaku mau bekerja disana.


"Baiklah, saya tak akan memaksa lagi soal pekerjaan. saya berdoa agar hari ini apapun yang teh Alis kerjakan. semoga lancar!" Tukasnya tulus.


"Terima kasih atas doanya. mas, saya berhenti disini saja!" pintaku.


"Baiklah. selamat bekerja teh!" serunya


Aku mengangguk seraya berterima kasih padanya.


Aku bergegas menuju kedai yang tak jauh dari tempatku berhenti itu. Ku lihat Aisyah, serta dua orang temannya sedang menunggu didepan kedai. tapi entah apa yang sedang mereka tunggu.


"Kak Alis!" Aisyah berseru memanggil namaku.


"Hai. apa kabar?" aku mendekat dengan nafas tersengal.


"Akhirnya teh Alis kesini. saya harap saya bisa mendengar kabar baik?" Tukasnya penuh harap.


Aku mengeluarkan formulir yang telah ku isi sebelumnya. ku berikan kertas itu padanya. Aisyah menatap kertas ditanganku agak lama. tiba-tiba senyumnya mengembang.


Gadis itu memelukku erat setelah dia tahu bahwa aku menyetujuinya untuk bekerja dikenai itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak kak. terima kasih!" Tukasnya terdengar lega.


•••


__ADS_2