
Menghabiskan waktu bersama orang yang kita cintai ternyata benar-benar sangat membahagiakan.
Berbicara banyak hal tentang masa lalu maupun masa depan, seakan menjadi kewajiban untuk diceritakan.
Mas Sandy begitu antusias saat dirinya menceritakan bagaimana dia dibesarkan oleh kedua orangtuanya.
Dengan penuh kasih sayang dan limpahan harta.
Hanya saja mas Sandy bilang, dia menyesal karna tak memiliki saudara kandung. baginya menjadi anak tunggal sangat menyedihkan.
"Mas Sandy Gak punya sahabat dekat?"
Aku mencari kesempatan untuk bertanya tentang hal itu. dan akhirnya aku bisa melakukannya.
"Ada. Dulu sekali,"
Mas Sandy yang duduk bersandar dibahuku terlihat melamun cukup lama untuk kembali meneruskan kalimatnya.
"Saya fikir, sebenarnya tak ada orang yang benar-benar mau menjadi sahabat kita" imbuhnya lagi.
"Kenapa?" aku menoleh pelan padanya.
"Karna tidak semua orang menyukai kita dengan tulus,mereka semua hanya berpura-pura. mereka memiliki banyak topeng diwajahnya. sekejap bisa menjadi sangat baik tapi sedetik kemudian dia juga yang menikam kita dengan belati tajamnya."
Suara mas Sandy terdengar amat serius. dia seakan menahan amarah. mungkin kah mereka bertengkar sangat hebat hingga menyisakan kemarahan yang sulit hilang.
"Apa kalian bertengkar? Atau mas Sandy di bohongi?" selorohku polos.
Mas Sandy menengadah menatapku lekat. kedua tangannya melingkar dipinggangku. lalu kemudian mengeratkan pelukannya.
"Bisakah kita membahas hal lain saja?" pintanya malas.
Membahas masalalu yang menyakitkan memang sangat sulit. dan sepertinya mas Sandy pun tak ingin mengingatnya kembali.
"Apa teh Alis punya sahabat?"
tanyanya kemudian.
"Ada. hanya saja kami sibuk bekerja, jadi tak memiliki banyak waktu untuk bertemu." jelasku mengingat sosok sahabatku Rahma.
"Siapa? dia laki-laki atau perempuan?" selorohnya seakan tak ingin jika aku memiliki sahabat pria.
__ADS_1
"Tentu saja perempuan!" desisku
Mas Sandy mengulur senyum.
"Baguslah. setidaknya saya tidak akan berebut perhatian dengan sahabat kamu jika dia perempuan."
"Apa mas Sandy cemburu? bahkan jika saya perhatian terhadap sahabat saya sendiri?" ku tatap penasaran wajahnya.
"Saya akan sangat gila jika sedang cemburu. teh Alis jangan coba-coba melakukannya!"
Ucapan yang terdengar seperti sebuah ancaman itu justru malah membuatku menyunggingkan seulas senyuman.
"Saya bukan orang bodoh yang berani membangunkan macan tidur."
Mas Sandy terkekeh penuh kemenangan. dia paham betul jika aku tak akan sampai hati melakukan hal yang membuatnya kecewa.
"Saya sudah banyak bercerita. apa teh Alis tak ingin berbagi hal yang sama pada saya?" pintanya.
"Tak banyak yang bisa saya ceritakan mas. sebagian besar kenangan saya sudah memudar," jelasku tak ingin panjang lebar.
"Apa dulu teh Alis sangat terluka? sampai-sampai teh Alis tak ingin mengingat kembali masa lalu?!"
"Mungkin Karna terbiasa. semua rasa sakit yang saya rasakan sudah seperti angin yang berhembus. saya tidak bisa lagi merasakan sakit atau kecewa. saya juga tak tahu kenapa saya bisa memiliki hati yang keras seperti ini." Aku tersenyum getir mengingat kembali bagaimana aku melewati masa-masa kelam itu.
"Lalu bagaimana dengan Andi? apa dia juga di perlakukan sama?" tanyanya.
Pertanyaan itu terdengar menyakitkan bagiku. aku mengerjakan mataku pelan. menengadah menatap langit-langit kamar untuk menarik kembali airmataku
••
Semua kesalahan berawal pada sebuah malam yang mencekam. Setahun pernikahanku dengan mas Rizal nyatanya tidak membuahkan hasil. meski pada awalnya dia mengejarku layaknya seorang pemuda yang tergila-gila pada kekasihnya. tapi nyatanya semua itu hanya isapan jempol semata.
Mas Rizal lebih mencintai dunianya sendiri. berjudi dan mabuk-mabukan sudah menjadi kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan. bahkan aku sering bertengkar hebat Karna dia selalu pulang dalam keadaan berantakan karena mabuk.
Tepat pukul 11 malam aku membuka pintu. setelah beberapa kali mas Rizal mengetuknya dengan kasar.
Malas rasanya jika aku harus melihat dia pulang kerumah dengan kondisi mabuk lagi.
Ku buka pintu pelan. dan benar saja,mas Rizal duduk bersandar disisi pintu. sepatunya kotor dan juga pakaiannya sangat bau alkohol.
"Mabuk lagi? kenapa gak nginep di pasar aja sih? atau nginep di Bar?" dengusku.
__ADS_1
"Berisik!!! buatkan saya makan malam. saya lapar!" perintahnya sembari mencoba berdiri dengan sekuat tenaga.
Kutatap wajahnya sengit. ini sudah larut malam, jika ku ladeni dia dengan emosi maka seluruh tetangga akan berhamburan keluar seperti malam sebelumnya. Aku sudah cukup malu dengan kelakuan mas Rizal.
Aku berjalan pelan menuju dapur dan mengabaikannya. ku ambilkan sepiring nasi lalu membuatkannya nasi goreng.
Kehidupan yang serba kekurangan membuat kondisi rumah tangga kami semakin berantakan saja.
Ku dengar Mas Rizal masuk ke kamar mandi. Baguslah jika dia segera mandi. semoga saja alkohol ditubuhnya segera menghilang. Namun seperti biasa, dia hanya pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Aku sudah terbiasa dengan hal itu. ku siapkan handuk kecil di atas kursi.
Tak berapa lama Mas Rizal keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
"Kenapa kamu Gak sekalian mandi mas?!" aku menatapnya sinis.
Mas Rizal tak menjawab dan hanya berjalan gontai ke arahku. Matanya menatapku tajam. senyumannya terlihat sangat mengerikan. bahkan tak pernah ku lihat mas Rizal bersikap begini.
"Kamu mau ngapain?" Aku panik saat Mas Rizal semakin mendekat.
Aku tahu jika aku ini istri sah nya. bahkan kami menikah sudah hampir setahun. tapi tak pernah ada yang tahu jika aku belum pernah berhubungan badan dengannya. bahkan kami sering tidur dikamar terpisah. aku terlalu takut untuk menghabiskan malam bersamanya sebagai sepasang suami istri.
"Mass!!!" Aku memekik kaget saat tubuh kekarnya menarik dan memelukku.
"Alis.. kita ini suami istri. tidak usah panik!" bisiknya tepat ditelingaku.
"Lepas mas! lepas!" Aku berontak dan mencoba melepaskan pelukannya. Namun semakin kuat ku mencoba melawan, maka semakin besar pula tenaganya saat memelukku.
Mas Rizal mendorong tubuhku ke sisi kompor. hingga membuat semua nasi yang sedang ku masak jatuh tercecer ke lantai. kami berdua sempat terkejut. namun nafsu Binal nya lebih mendominasi sehingga akal sehatnya sudah tak berpikir tentang keselamatan lagi. dia mendorongku secara kasar. menghujani ku dengan ciuman menjijikkan.
Aku menangis, menjerit dan mencoba melawan sebisaku. bahkan aku mencakar habis punggungnya. Namun setan itu telah merasuk ke dalam tubuhnya. hingga dia benar-benar kalap dan tak bisa dihentikan.
Malam itu berakhir dengan tubuhku yang terasa terkoyak. air mataku kering dengan sisa suara parauku. Aku meringkuk disisi ranjang. kamar ku pun terlihat berantakan dan beberapa benda pecah dilantai. Aku menangis. menjerit dalam diam. ku lihat mas Rizal bangkit dari tempat tidur setelah melepaskan hasrat terkutuknya. dia berjalan lemas dan tertidur di ruang tamu.
Ku usap pelan air mataku. seperti ini kah sebuah pernikahan? bahkan aku tak merasakan kalimat sakral yang dia ucapkan dulu. perlakuannya kasar seperti binatang. tingkahnya angkuh dan abai terhadapku.
Aku tak berani mengadukan semua tekanan yang ku alami selama menikah. orangtua ku bisa saja sakit keras jika mengetahui semuanya.
Malam itu bahkan aku tak bisa memejamkan mata. sekujur tubuhku terasa sakit. bahkan pergelangan tanganku terlihat mengeluarkan darah Karna tergores benda tajam yang entah darimana asalnya.
Kesucianku yang ku jaga selama ini. hancur ditangan suamiku sendiri. Namun bukan itu yang ku tangisi,tapi perlakuan biadabnya yang tak bisa bersikap lembut padaku. bahkan jika dia sadar, aku ini adalah istrinya. istri sah nya. tidakkah dia iba padaku? jika dia tak bisa melihatku sebagai istrinya, maka pandanglah aku sebagai seorang wanita lemah. yang akan hancur jika diperlakukan sekasar itu.
__ADS_1
• • • • • •