
Ketika menjalani hidup,setiap manusia pasti akan mendapatkan cobaan yang bermacam-macam.
Manusia di uji dengan berbagai kesulitan. dan tak ada satupun manusia yang luput dari cobaan itu.
Aku baru menyadari,ternyata ada juga cobaan yang dibungkus dengan hal yang begitu indah dan menyenangkan.
Membuat kita lupa diri, membuat kita kehilangan arah dan pada akhirnya tersesat.
Marah, kecewa, bahkan putus asa. terkadang jadi pelampiasan saat kita gagal melewati cobaan itu. dan pada akhirnya jalan buntu yang selalu ingin kita ambil sebagai jawabannya.
Pertemuan ku dengan bu Ayu hari ini, ku simpan rapat-rapat. biar saja semuanya menjadi rahasia antara aku dan dirinya.
Meskipun aku tak yakin rahasia ini akan berakhir baik jika tetap ku sembunyikan.
Aku tahu hubungan mas Sandy dan Bu Ayu tidaklah berjalan baik.
Dan apabila aku menceritakan semuanya pada mas Sandy,dia pasti akan semakin membenci tantenya itu. Aku tak mau semua itu terjadi, aku tak ingin mas Sandy menjadi orang jahat hanya demi berada di pihakku.
Tak ada air mata malam ini, meskipun aku tahu hatiku terasa sesak dan kecewa. tapi apa yang bu Ayu katakan padaku siang tadi ada Benarnya.
Aku memang tak pantas berdampingan dengan mas Sandy. apapun yang aku lakukan, tetap saja sulit untuk setara dengannya.
Aku menoleh pada Andi yang tengah terlelap. hari ini dia bercerita banyak hal tentang sekolahnya. membuatku melupakan sejenak tentang rumitnya kisah cintaku.
Hidupku ku pertaruhankan demi Andi. anak semata wayangku. karena dia lah aku masih mampu bertahan menjalani hidup yang terkadang membuatku nyaris menyerah.
Rasanya semua masalahku diluar sana tak ada apa-apanya. asalkan Andi baik-baik saja.
"Kita pasti bisa melewati semuanya!" Aku berjanji pada diriku sendiri dan juga Andi.
PING!
Di tengah kekalutanku, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk.
Aku membuka ponselku lesu.
#Kamu dimana teh? kenapa tak mengangkat telepon saya!
#Tolong jangan membuat saya cemas!"
Melihat rentetan pesan itu seketika membuat hatiku terasa sakit.
"Ayolah Alis, jangan lemah!" desahku.
#Maaf mas,pulang kerja saya ketiduran. saya capek.
__ADS_1
Balasku singkat.
Semoga saja mas Sandy tak curiga dengan jawabanku yang asal-asalan itu.
Drrrtttt...
Tenang Alis tenang...
Ini hanya panggilan telepon biasa, jangan mencurigakan.
Bersikaplah tenang...
Aku mengatur nafasku sebelum menerima panggilan telepon darinya.
"Assalamualaikum mas," aku menukas lebih dulu. semoga saja suaraku tak terdengar kacau.
"Walaikumsalam. Maaf saya menelepon selarut ini. saya cemas!" sahutnya.
"Saya baik-baik aja mas. Mas Sandy gak perlu khawatir!" ku coba meyakinkannya
"Suara teh Alis terdengar aneh! teh alis yakin, teh alis baik-baik saja? perlu saya ke rumah sekarang?!" selorohnya.
Aku mengusap wajahku kalut.
"Gak usah mas. ini sudah malam. apa kata tetangga kalau mereka melihat mas Sandy bertamu malam-malam begini!" cegahku cepat.
"Mas Sandy udah mulai nebak-nebak kaya dukun ya! Lebih baik mas Sandy istirahat, besok pasti harus ke kantor. saya juga harus kerja!" sahutku beralasan.
"Kamu maksa saya buat tidur, itu artinya kamu meminta saya minum obat tidur setiap hari teh!" desahnya terdengar malas.
"Mas Sandy minum obat tidur?" Aku terperanjat kaget.
"Hm, saya sulit tidur akhir-akhir ini. sehari saya hanya bisa tidur selama 3 jam." jelasnya.
"Mas Sandy jangan bikin saya cemas! terus seharian mas Sandy ngapain kalo gak tidur selain kerja?" selidikku.
"Ya mikirin kamu teh. memangnya apalagi? seandainya kamu tidak bekerja. pasti saya sudah menemui kamu setiap hari!"
"Mas Sandy harus istirahat mas, jangan mengabaikan kesehatan! mas Sandy harus ingat, banyak orang yang bergantung pada mas Sandy. terutama para karyawan mas Sandy."
Aku mencoba mengingatkannya, bahwa hidupnya bukan hanya milik dia seorang. tapi juga ada hak orang lain. Orang yang membutuhkan bantuannya dalam mengurusi pekerjaan di kantor.
"Seandainya yang sangat membutuhkan saya itu adalah kamu. saya pasti akan sangat menjaga diri saya dengan baik!" godanya.
"Mas Sandy sudah dewasa. saya tak perlu menjelaskan betapa saya sangat membutuhkan mas Sandy." Aku menahan helaan nafasku di akhir kalimat yang ku utarakan. dan jujur itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Hening.
Sesaat kami disibukkan dengan pemikiran kami sendiri. tanpa berniat menjawab atau bertanya apapun.
"Saya sangat mencintai kamu teh! saya tidak main-main! saya benar-benar mencintai kamu."
Aku menutup mulutku cukup kuat. berharap isakan ku tak menggema dan sampai ditelinganya.
Maaf mas, ternyata mencintai kamu sangat sulit. dan aku tak yakin jika aku mampu mempertahankan cinta itu.
Obrolan kami berakhir setelah aku berbohong jika aku sudah sangat mengantuk.
Dan akhirnya Ku lewati tengah malam dengan berurai air mata.
Harus bagaimana aku bersikap pada mas Sandy.
Haruskah ku tinggalkan cintaku yang baru saja bersemi ini?
Atau ku beranikan diri untuk menghadapinya, meskipun ku tahu akan sangat menyakitkan nantinya.
•••
"Mama kenapa? matanya bengkak?" Celetuk Andi yang sepertinya sejak tadi memperhatikanku.
"Mungkin mama sakit mata sayang!"
Lagi-lagi aku berbohong pada Andi. Tak mungkin juga ku jelaskan apa yang terjadi hingga mataku seperti ini.
"Mama minum obat ma! Nanti sakit matanya nular loh," perintahnya polos.
"Iya nak. nanti habis pulang kerja mama mampir ke apotek buat beli obat" Aku mengusap lembut pipinya.
Seandainya semudah ini aku berbohong didepan mas Sandy. mungkin semua akan baik-baik saja saat kami bertemu.
BIMPPP!
Suara klakson mobil dari arah luar membuat aku dan Andi menoleh bersamaan.
"Suara mobil siapa ma?" Andi menyimpan sarapannya dan berlari menuju teras.
"Yeayyy.. Om Sandy datang!" teriaknya antusias.
Seketika aku panik. bagaimana bisa mas Sandy datang tanpa memberitahu ku terlebih dahulu.
Aku memijat kedua mataku gugup. bagaimana caranya menyembunyikan mataku yang memang mudah membengkak setelah menangis ini.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang,Aku segera berlari ke dalam kamar mencari sesuatu.
• • • • • •