
Seharian ini aku membantu mas Sandy mengubah tatanan rumah dengan memindahkan beberapa perabotan. aku turut andil memberi ide agar letak barang-barang itu enak di lihat.
Sementara mas Sandy tengah merapikan file-file kerjanya, aku justru Asik merapikan pot-pot bunga yang ada di balkon.
"Seharusnya ada bunga mawar disini. jadi pas buka jendela dari sana,langsung liat bunga mawar bermekaran. pasti segera banget" aku bergumam sembari membayangkan diriku saat terbangun dari tempat tidur itu dan melihat balkon yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran.
"Apa kamu sedang memikirkan rumah tangga kita setelah menikah nanti teh!' bisiknya tepat ditelingaku.
Aku terperanjat kaget.
"Enggak. enak aja! saya justru lagi mikir, bunga apa yang cocok ditanam disini." tukas ku berbohong sembari menunjuk salah satu sudut yang kosong.
"Benarkah? tapi teh Alis keliatan bahagia sekali? saya ragu jika kamu sedang memikirkan bunga-bunga itu?" godanya lagi nampak tak yakin.
"Mas Sandy!" dengusku ketus.
Pemuda itu hanya tergelak melihatku yang tampak kesal karena terus di goda olehnya.
"Mas Sandy ngapain kesini? emang di dalem udah beres?" selidikku.
"Tentu saja saya sudah menyelesaikannya. dan sekarang saya lapar!" rengeknya sembari bersandar manja dibahuku. Aku menatap jam ditanganku. waktu terasa cepat, pantas saja dia mulai kelaparan. karena sekarang sudah waktunya makan siang.
"Memangnya Mas Sandy mau makan apa? biar saya buatkan?!"
"Saya ingin memakanmu Alis Anjani" bisiknya lagi dengan suara beratnya yang terdengar sangat menggoda ditelingaku itu.
"Mas Sandy bisa serius gak?" aku menjauh darinya dan menatapnya sinis.
"Teh, kita baru saja baikan. seharusnya wajar bila saya bermanja-manja!" celetuknya setengah merengek.
"Sandy Hadiwijaya! kamu bukan anak kecil lagi. sikap manja yang barusan kamu lakukan itu, berbahaya tahu!!!" cibirku sembari berjalan menjauhinya.
"Ternyata kamu menyadarinya teh. saya ini pria normal. tolong teh Alis jangan menindas saya!" protesnya sembari mengejarku. aku mengulum senyum seraya bergegas menuju dapur.
Aku tak menggubris mas Sandy yang terus saja menggerutu sembari bersandar Disisi pintu. dia memperhatikanku yang tengah asyik memasak. bagi pria pendiam seperti mas Sandy mungkin menemukan pasangan adalah salah satu kebahagiaan tersendiri baginya. dia bisa berceloteh panjang lebar tanpa merasa malu atau gugup. hal yang tidak bisa dia lakukan pada orang lain. sesekali aku menimpali omongannya dengan tatapan sinis. apalagi jika dia terus membahas masalah sensitif tentang hubungan suami istri. sungguh membuatku risih saja.
"Mas Sandy cab*l!" celetuk ku saat dia mengakui jika dia sering membayangkan diriku tidur bersamanya setiap pagi. HUH! menyebalkan sekali ternyata punya pacar yang memiliki gairah yang berlebihan seperti dirinya.
"Mas Sandy memangnya tak puas, tidur dengan gadis-gadis di luar sana dulu?" tandasku menatapnya tak suka.
Kali ini mas Sandy terdiam. cukup lama dia menatapku sebelum kembali bicara.
"Kamu harus tahu satu hal teh. Pria jika sudah dekat dengan wanita hanya ada dua kemungkinan, kalau tidak benci ya cinta. dan kamu tahu, saya tidak pernah sedekat ini dengan wanita manapun sebelum kamu." tukasnya meyakinkan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Vina?" sindirku.
"Saya tidak pernah menyentuhnya." sanggah mas Sandy buru-buru.
Aku mengulum senyum lega. setidaknya kalimat itu terdengar jujur bagiku. tak peduli seperti apa mas Sandy dimana lalunya. yang jelas aku mencintai dia yang sekarang. dan ku harap, dia bisa berubah menjadi pria bertanggung jawab dimasa depan.
"Jika saya pernah menidurinya. mungkin sekarang dia sudah saya nikahi. atau dia tak akan meninggalkan saya. Tapi saya beruntung karena dia lebih mencintai Ivan. setidaknya, hati saya ini sekarang sepenuhnya milik kamu teh!" gumamnya tulus.
Aku mengernyitkan kedua alisku. pandai sekali dia merayuku dengan ucapan-ucapan manisnya.
"Apa Mas Sandy biasa berkata manis pada semua wanita seperti ini?"
"Ya. tentu saja. saya akui saya selalu bersikap manis. tapi pada mereka, saya tak pernah setulus hati." jelasnya lagi sembari mendekatiku dan membantu mencuci sayuran yang hendak ku masak.
"Hati manusia Gak ada yang tahu mas. saya hanya berusaha menjaga diri saya agar tak terjerumus terlalu jauh. karena saya tahu. Mencintai seseorang seperti mas Sandy, risikonya besar sekali. saya takut tak mampu mas," tuturku lemah. bahkan mungkin terdengar khawatir.
Mas Sandy menghentikan aktivitasnya.
"Kalau begitu saya mau berterima kasih!"
Aku menoleh pelan padanya. ada perasaan haru dan sakit yang bercampur menjadi satu. haru akan sikapnya saat memperjuangkan cintaku. tapi juga sakit saat aku sadar, apa yang akan aku hadapi kedepannya.
"Berterima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena kamu sudah seberani ini mencintai saya. saya berjanji akan memperjuangkan cinta kita. apapun yang terjadi!" lirihnya dalam.
Kami berdua berpelukan cukup lama. hari ini menjadi hari pembuktian cinta kami yang semakin kokoh. bahkan aku melupakan apa yang dikatakan bu Ayu. bahwa aku tak setara dengannya, bahwa aku tak akan mampu bersanding dengannya. tapi nyatanya, aku memiliki kekuatan untuk membesarkan hatiku. meneguhkan perasaan cintaku pada mas Sandy.
Saat dia yakin akan perasaannya. maka Akupun harus bisa meyakini akan kekuatan cinta kami berdua.
Walaupun awalnya ku pikir perasaan ini semu dan tak akan bertahan lama. namun hari demi hari. aku semakin dikuatkan dengan keteguhan mas Sandy mempertahankan hubungan ini.
•••
"Terima kasih. makan siangnya enak!" mas Sandy mendorong malas piringnya karena sudah kekenyangan.
Pemuda itu menghabiskan semua makanan yang aku buat hari ini. wajahnya tampak sayu karena mengantuk.
"Bisa kah kita tidur sekarang?" rajuknya.
"Tidurlah di kamar mas. saya akan membersihkan dapur!" tukasku sembari membawa piring kotor itu dan menyimpannya di wastafel.
Mas Sandy berjalan lemah menuju Sofa, menjatuhkan tubuhnya dan tak butuh waktu lama diapun sudah terlelap.
__ADS_1
Aku yang melihatnya hanya mampu tersenyum. pria kesepian ini terlihat sangat bahagia sekarang. aku bersyukur dia sehat dan tak kekurangan apapun. yang harus ku perbaiki adalah hubungannya dengan tante Ayu. dan kurasa itu bukan pekerjaan mudah.
Aku menghela nafas dalam. berbalik badan dan mulai membersihkan dapur yang terlihat berantakan karena ulahku itu.
Merapikan rumah sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari. namun merapikan rumah mas Sandy benar-benar terasa sangat melelahkan. selain ukuran apartemennya yang luas. barang-barang nya pun harus di bersihkan sedemikian rupa.
Untuk kembali menyegarkan tubuhku, aku memilih untuk melepas penat dengan mencoba berandam dikamar mandi. setidaknya tubuhku sudah bersih sebelum aku kembali ke rumah.
Ku tinggalkan ponsel dan juga tas ku di atas meja. tepat di sisi kepala mas Sandy yang sekarang mungkin sedang bermimpi indah.
Aku beranjak menuju kamar mandi. melucuti satu persatu pakaianku. aku tersenyum antusias. kapan lagi aku bisa berandam senyaman ini. Aku melirik pintu kamar mandi,memastikan apakah aku sudah menguncinya dengan benar.
"Aman!" desahku lega.
Untuk pertama kalinya berendam di kamar mandi mewah. membuatku benar-benar betah dan tak ingin menyudahi mandiku. walau ku tahu ini sudah lebih dari 20 menit.
Bahkan aku memejamkan mataku dengan tenang. saat air hangat itu terasa memijat setiap sendi tubuhku.
Apakah nanti aku juga akan setiap hari menikmati mandi di tempat seperti ini? tentu saja jika aku sudah resmi menjadi istrinya. Aku mengulum senyum dan tersipu. segila dan se liar itu pikiranku sekarang.
Saat ku rasa tubuhku mulai kedinginan. aku memutuskan menyudahi acara mandiku itu. ku kenakan kembali pakaian dengan rambut setengah basah yang ku biarkan berantakan setelah ku keringkan dengan handuk.
Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan tubuh yang terasa lebih ringan.
"Mas, lebih baik mas Sandy mandi!" tukasku pelan agar tak mengagetkannya.
Namun justru aku yang terkejut saat melihat mas Sandy sudah dalam kondisi duduk dengan wajah di tekuk. tangannya memegang erat ponselku.
"Mas Sandy!" Aku mendekat untuk memastikan apa yang terjadi.
Mas Sandy tak menoleh dan masih tertunduk seakan kesal pada sesuatu.
"Apa ada yang menelepon?" tanyaku ragu.
"Hanya pesan," sahutnya dingin
Aku menatapnya heran. pesan dari siapa hingga membuat mas Sandy marah. aku rasa, aku tak menyimpan pesan aneh didalam ponselku.
"Dari tante Ayu!" timpalnya lagi.
Kali ini aku yang terdiam cukup lama.
• • • • • •
__ADS_1