
BEEFSTAR (Resto n Cafe)
Entah mimpi apa yang membawaku pada situasi ini,rasa cemas dan gugup yang menekan bilik jantungku secara bergantian membuatku menjadi semakin tak tenang saja.
Aku menatap jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul 1 lewat 15 menit. Beruntunglah tadi aku bisa berganti jam istirahat dengan Aisyah.
Aku meremas jari jemariku gugup.
Ku tatap sekeliling resto itu, banyak orang-orang yang terlihat tengah menikmati makan siang disana. mereka pastinya bukan dari kalangan biasa, bahkan pakaian yang mereka kenakan juga didominasi oleh jas kantoran. beberapa wanita tampak memakai kemeja putih dengan bawahan rok selutut.
Aku menatap diriku sendiri,penampilan yang sangat jauh dengan apa yang mereka kenakan. Aku merasa seperti orang asing yang sedang tersesat.
"Selamat datang bu, Silahkan masuk!" suara seorang Waiters membuatku menoleh ke arahnya.
Aku menelan ludah getir. bertemu dengannya seperti sedang menghadapi kematian.
Aku berdiri menyambut wanita paruh baya itu.
"Selamat siang bu, apa kabar!" ku ulurkan tanganku sebagai tanda hormat.
Bu Ayu tersenyum dingin sembari menjabat tanganku singkat.
"Duduklah! maaf membuat kamu menunggu," Tukasnya datar.
Ucapannya tak terdengar menyesal sama sekali karena sudah membuatku menunggu cukup lama.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanyanya membuka menu yang ada di meja.
"Gak usah bu. terima kasih!" selorohku yang merasa tawarannya itu hanya basa basi. entahlah, dulu aku menganggap Bu Ayu ini sangat baik. tetapi melihat beberapa hal yang terjadi, membuatku berpikir ulang dan bersikap waspada terhadapnya.
"Yah, syukurlah. setidaknya saya tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang." gumamnya pelan. namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Maaf bu, sebenarnya saya ingin tahu kenapa tiba-tiba ibu ingin bertemu dengan saya?" tanyaku memberanikan diri.
Bu Ayu menatapku dingin.
"Baiklah, saya tak ingin berlama-lama lagi. karena saya juga sangat sibuk!" Bu Ayu mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. sepertinya benda itu sudah di siapkannya karena terlihat sudah terbuka. Bu Ayu lalu mendorong benda itu ke hadapanku.
__ADS_1
"Apa ini bu?" aku menatapnya tak paham.
"Buka dan lihatlah!" perintahnya.
Awalnya aku ragu untuk melihat isi amplop itu, tapi rasa penasaranku begitu besar hingga ku beranikan diri untuk mengambil dan membukanya.
Aku memekakan mataku tajam.
Kaget, tentu saja. isi amplop tersebut ternyata adalah beberapa fotoku dan mas Sandy ketika kami berlibur ke salah satu tempat rekreasi keluarga. Aku bahkan tak tahu ada yang menguntit kami hingga berhasil mengabadikan lewat jepretan kamera.
Aku menengadah menatap Bu Ayu cukup lama. Sebenarnya apa maksud dari semua ini.
"Bagaimana? kamu pasti kaget kan? darimana saya mendapatkan semua foto itu!" selorohnya.
"Apa ibu menyuruh seseorang untuk membuntuti kami?" aku coba menerka.
"Ayolah Alis.. Saya pikir, kamu wanita yang cukup pintar untuk mengerti maksud saya?" Bu Ayu menatapku sinis.
"Saya sungguh tak paham bu!" aku menggeleng pelan.
Bu Ayu membetulkan letak duduknya. tubuhnya sedikit condong mendekati meja.
Aku terpaku cukup lama. Hal yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi juga. ku pikir jika Bu Ayu tak akan bertindak sejauh ini. atau mungkin dia akan abai dengan kehidupan pribadi mas Sandy. tapi nyatanya...
Dia seolah menjadi benteng yang tinggi diantara hubunganku dengan mas Sandy.
"Kenapa?!" tukasku coba memberanikan diri mempertanyakan permintaannya yang menurutku tak masuk akal itu.
Bu ayu tersenyum remeh.
"Ya Tuhan. haruskah saya menjelaskan semuanya? status kalian? bahkan dari segi usia saja kalian tak cocok! Sandy itu masih muda, dia belum paham dengan kehidupan luar yang mengerikan. kamu sudah memiliki anak, tentu tahu banyak hal dan berpengalaman. Jadi tolong,.. Hentikan semuanya sebelum terlambat!"
Aku pernah mendengar kata-kata kasar bahkan makian. tapi entah kenapa, hari ini ucapan bu Ayu terasa sangat menyakitkan bagiku.
"Apa mas Sandy tahu apa yang ibu lakukan ini?"
Aku layangkan tatapan ragu padanya. meskipun aku sangat yakin jika mas Sandy tak mengetahui tentang semua ini. tapi aku mencoba bertanya untuk mengecohnya saja. Aku memang wanita yang tak berpendidikan, tapi aku juga bukan wanita bodoh yang langsung jatuh hanya dengan sebuah gertakan.
__ADS_1
"Sandy tahu atau tidak. itu sama sekali tak penting. sejak dulu Sandy memang sering berkencan dengan banyak wanita dan rata-rata dari mereka bukanlah wanita sembarangan! Kamu mungkin hanya satu diantaranya. jadi, daripada kamu kecewa nantinya. lebih baik akhiri saja semuanya sekarang."
Aku berusaha bersikap tenang dan tersenyum padanya.
"Maaf bu, saya tidak bisa memenuhi permintaan Ibu." tolakku mentah-mentah.
Bu Ayu menatap tajam padaku.
"Kenapa? apa dia sudah menidurimu? jangan katakan kalau kamu sedang hamil. karena saya tak akan percaya!" tudingnya keji.
"Apa saya terlihat murahan di mata ibu? bahkan foto-foto ini tidak bisa memberi bukti apa-apa bu!" Bantahku meletakkan kembali amplop itu di atas meja.
Pandangan kami saling beradu dengan emosi masing-masing yang masih tertahan. Baginya mungkin sikapku terlalu berani dan tak sopan padanya. Namun Akupun memiliki prinsip untuk membela diri saat aku tersudut. apalagi jika yang dia tuduhkan padaku tak benar sama sekali.
"Saya benar-benar tertipu dengan penampilan polos kamu alis." gumamnya menatap remeh diriku.
"Penampilan semua orang bisa menipu bu. ibu tak akan tahu dari semua orang yang ada di tempat ini, mana yang memiliki wajah asli atau hanya berpura-pura. bahkan saya pun merasa tertipu dengan penampilan ibu!" selorohku
"Apa maksud kamu? beraninya kamu bicara begitu? kamu pikir siapa kamu?" desisnya kesal.
"Saya memang bukan siapa-siapa bu. bahkan saya tak sebanding dengan ibu. hanya saja, jika ibu mengusik ketenangan saya. maka saya pun akan melakukan hal yang sama!"
"Saya permisi!" tandasku lagi sembari bangkit dari kursi dan meninggalkan Bu Ayu seorang diri.
Aku keluar dari Tempat itu dengan mantap. padahal Sejujurnya tubuhku bergetar hebat. bahkan rasanya kakiku seperti tak menginjak bumi.
Setelah keluar dari Resto tersebut Aku berpapasan dengan pak Ivan. wajahnya nampak terkejut. Begitupun denganku.
Dia pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa keluar dari tempat semewah ini seorang diri.
"Alis," tukasnya pelan.
Aku tak berniat menggubrisnya dan segera berlari menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat.
Aku menghela nafas penuh sesal.
karena emosi dan panik,aku bahkan tak sadar dan masuk begitu saja ke dalam taksi. padahal aku tahu betul berapa banyak uang yang harus ku keluarkan jika aku menaiki taksi ini menuju tempat kerjaku lagi.
__ADS_1
"Dasar bodoh," umpatku pada diri sendiri.
• • • • • • •