PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•72


__ADS_3

Malam ini langit begitu indah. Bahkan Kilauan Bintang yang jauh sekalipun bisa terlihat dengan jelas dari jendela rumahku.


Perasaanku bisa sedikit lebih tenang sekarang. apalagi kalau bukan karena mas Sandy yang baru saja selesai menghubungiku lewat panggilan Videocall.


Selain karena mas Sandy sudah terlihat baik-baik saja, aku juga senang karena melihatnya bisa mengobrol bersama Andi cukup lama. Bahkan Andi tak ingin mematikan sambungan teleponnya.


Entah akan seperti apa hubungan kami nantinya. tapi untuk saat ini, aku hanya ingin bersamanya. membiarkan Andi mendapatkan perhatian darinya,meski ku tahu aku terlalu egois membiarkan Andi menjadi alasanku untuk bisa bersamanya.


Seperti kata Rahma beberapa waktu lalu, aku harus segera mencarikan calon ayah untuk Andi. karena pada dasarnya Andi memang sangat butuh sosok ayah.


meskipun aku sanggup hidup sendirian, tapi tidak dengan Andi.


Tak terbesit sedikitpun olehku, apakah aku bisa menemukan sosok 'Ayah' untuk putraku kelak. meskipun Aku dan mas Sandy sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi untuk hal serius seperti itu rasanya masih terlalu dini. Aku juga tak begitu yakin apakah mereka berdua bisa menerima satu sama lain nantinya.


Pikiran-pikiran seperti itu kadang sering membuatku merasa tak nyaman dalam menjalin hubungan. aku terlalu takut jika aku tak cukup pantas bagi mas Sandy.


Karna aku sadar,dari semua aspek yang ada padaku tak satupun yang membuatku bisa terlihat setara dengannya.


Aku menghela nafas panjang,setiap malam selalu saja muncul kecemasan yang tak pernah berujung. dan membuatku sulit tidur pada akhirnya.


PING!


ku lirik ponselku yang tergeletak diatas meja,siapa yang mengirim pesan tengah malam begini. pikirku.


PING!


Akhirnya aku menyerah dan bangkit dari pembaringanku.


#Lis, aku masih penasaran sama hubungan kamu dan pak Sandy!


#Besok kita harus bicara. saat makan siang, aku akan mampir ke kedai!"


"Hufth!" Aku mendesah lesu melihat pesan dari Rahma. sudah ku duga sebelumnya dia pasti akan menanyakan hal ini padaku.


#Baiklah. sampai ketemu besok siang!


Balasku singkat.


Ku langkahkan kakiku kembali ke atas tempat tidur. sepertinya aku harus segera beristirahat, menyiapkan tenaga untuk bercerita panjang lebar esok hari pada sahabatku.


•••


"Ma, Andi berangkat ya! assalamualaikum," pamitnya sembari mencium tanganku.

__ADS_1


"Hati-hati dijalan sayang!" Aku menatap kepergiannya sembari fokus menyapu halaman rumah.


Selesai mengerjakan aktivitas di rumah. aku bersiap untuk pergi bekerja.


Pagi ini ku susuri jalanan menuju tempat pemberhentian Angkutan umum seperti biasa.


"Lis, kamu mau berangkat kerja?" suara bu Dewi seketika membuatku menoleh ke belakang.


"Eh, ibu. iya bu, baru mau berangkat!"


"Ibu mau ke pasar?" tanyaku saat melihat keranjang belanjaan yang biasa dibawanya.


"Iya. ibu mau beli buah-buahan buat nanti siang berangkat ke rumah kakak ipar ibu. dia lagi sakit."


"Maksudnya orangtua mas Erwin?!" aku menukas kaget.


"Iya betul. Erwin sudah pulang lebih dulu dua hari yang lalu. dan ibu baru akan menyusul nanti siang. setelah Reyhan pulang sekolah." jelasnya.


Pantas saja beberapa hari ini aku tak pernah melihat mas Erwin lewat depan rumahku. ternyata dia sudah pulang ke kampung halamannya.


"Semoga orangtua mas Erwin baik-baik saja ya bu!"


"Terima kasih Lis. kamu juga jaga kesehatan ya. jangan sampai sakit!" tuturnya.


Bu Dewi pamit lebih dulu saat angkutan umum yang di tunggunya sudah datang. sementara aku masih menunggu Angkutan umum menuju kedai.


"Selamat pagi!" sapaku pada beberapa pekerja yang sudah tiba di kedai.


"Pagi kak Alis." Metta melambaikan tangannya padaku.


"Kakak!" seloroh Aisyah yang berteriak dari arah belakang. rupanya gadis itu juga baru tiba.


"Kamu juga baru datang ya!" Aku berdiri menunggunya didepan pintu masuk.


"Iya, tadi di jalan macet banget." keluhnya.


"Kemaren sepi banget gak ada kak Alis!" Aisyah memanyunkan bibirnya lesu.


"Maaf yah! kalian pasti sibuk banget kemaren!" Aku menyeringai malu.


Seharusnya Aku bisa *f*ull bekerja dalam seminggu ini. apalagi ini adalah kedai baru. tak enak rasanya dengan para pekerja lain karena sudah meminta libur di awal.


"Iya Gak apa-apa kak. kita ngerti kok! kalau punya anak nanti. aku juga pasti begitu. sibuk sana-sini!" sahut Aisyah seakan mengerti dengan kesulitanku.

__ADS_1


"Kakak doakan kamu tak mengalami hal yang sama kaya kakak ya. kamu harus sukses dulu baru menikah dan punya anak!" Aku menepuk pundaknya penuh harap.


Anak muda seperti dirinya haruslah memiliki cita-cita yang tinggi. menikmati masa muda penuh kebahagiaan, jangan terlalu buru-buru untuk menikah apalagi menjadi seorang Ibu. Karna menjadi seorang istri sekaligus Ibu bukanlah perkara mudah. akan ada banyak hal tak terduga, dan apabila mereka tak kuat menjalaninya. tak sedikit dari mereka berakhir dengan frustasi bahkan mengalami gangguan mental atau bahkan yang lebih parah lagi, bisa berakhir dengan kematian.


"Amiin. Kak Alis benar! kita sebagai perempuan jangan mau hanya jadi Istri dan ibu saja. tapi harus bergelar istri sholehah dan ibu teladan. iya kan!" Aisyah mengurai senyuman manis.


"Tumben sekali ucapan kamu enak di dengar Ais." godaku terkekeh.


"Ais habis baca buku tentang parenting kak. ternyata jadi orangtua itu benar-benar gak mudah ya kak!" selorohnya antusias.


"Sudah-sudah! Bahas soal anaknya nanti aja!" Ikhsan menyodorkan Apron pada Aisyah agar dia segera memakainya.


"Apaan deh. kita lagi ngobrol serius tahu!" sulut Aisyah ketus.


"Udah-udah. Gak usah ribut. kalian kaya kucing sama tikus ya!" lerai ku sembari berjalan menuju kamar ganti karyawan.


•••


Pagi ini suasana di kedai tak seramai saat hari pembukaan. membuat kami sedikit lebih tenang dan tidak terburu-buru.


"Jam segini, kita masih bisa santai kak. tunggu deh jam sebelasan lewat. HUH! kemaren aja kita serasa tawuran. capek banget!" keluh Metta sembari sibuk membersihkan meja.


"Sabar!" sahutku dengan senyum penuh semangat.


"Aku suka banget liat kak Alis kerja. kaya Gak ada capeknya!" pujinya


"Kamu berlebihan. kakak juga manusia biasa,bisa capek kaya kalian. cuma bedanya,kakak sudah terbiasa kerja berat kaya gini!" jelasku sembari mengingat bagaimana beratnya saat bekerja jadi buruh pabrik.


"Memangnya kak Alis pernah kerja dimana?"


"Di salah satu pabrik perakitan alat otomotif. tempatnya lumayan jauh dari sini."


"Terus kenapa kakak keluar kak? kalau pabrik seperti itu pasti gaji nya lumayan besar kan?" selidiknya penasaran.


"Iya sih. tapi tempatnya terlalu jauh dari rumah. kakak juga gak enak ninggalin anak kakak sendirian di rumah."


"Maaf kak, kalau boleh tahu. suami kakak kemana? dia gak kerja memangnya?" Metta tampak berbisik mendekat padaku.


Aku menatapnya cukup lama.


"Ekehm!" Suara deheman dari arah pintu masuk membuat kami berdua kaget.


"Pak Ivan, selamat pagi Pak!" sambut Metta dengan ekspresi sedikit kaget.

__ADS_1


Pak Ivan berdiri cukup lama disana. sepertinya sejak tadi dia mendengar obrolan kami.


• • • • • •


__ADS_2