PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•57


__ADS_3

"Bagus kan ma?" tanyanya antusias mendengar jawabanku.


"Bagus banget sayang! tapi,kenapa kamu gambar om Sandy disini?" selidikku penuh tanya.


"Andi suka aja. om Sandy ganteng ma." gumamnya pelan.


Aku menatapnya lekat, jelas putraku ini sedang berbohong. pasti bukan itu alasan utamanya menggambar sosok Mas Sandy.


"Benarkah?" tanyaku tak yakin


"Andi kangen om Sandy ma. Kapan om sandy main kesini lagi ma?"


Aku mematung sesaat.


Permintaanya itu terasa sangat berat untukku. Andi Hanya anak kecil yang tak tahu rumitnya dunia orang dewasa. Namun hatinya sudah memiliki satu keinginan yang benar-benar membuatku sangat kesulitan.


Dan tanpa terasa,mataku berkaca-kaca.


"Mama nangis?" Andi menatapku bingung.


"Enggak kok. Mama senang aja, Andi bisa gambar begini. bagus banget!" elakku seraya menyeka airmataku dengan segera.


"Jadi,kapan om Sandy main kesini ma?" tanyanya lagi.


"Om Sandy sibuk kerja sayang. mungkin kalau ada waktu nanti kesini!" tukasku berbohong. sungguh akupun tak yakin dengan perkataanku barusan. namun aku tak ingin membuat Andi terus bertanya tentangnya.


TOK.. TOK...


Aku dan Andi menoleh ke arah pintu bersamaan. siapa yang bertamu malam-malam begini. pikirku.


"Om Sandy!" Andi menerka antusias sembari mendekati pintu. anak itu pasti sangat berharap jika Mas Sandy lah yang akan berdiri didepan pintu.


Aku bangkit lalu membukakan pintu,


Ku lihat mas Erwin tersenyum sembari mengangkat kantong kresek hitam.


Wajahku kaget dan juga sedikit kecewa. Karna bukan dia yang muncul. ku pikir Andi juga merasakan hal yang sama. buktinya dia sama sekali tak bersuara saat tahu siapa yang mengetuk pintu.


"Assalamualaikum,maaf mengganggu!" Tukasnya seakan heran dengan reaksi kami.


"Walaikumsalam,ada apa ya mas?" Aku gelagapan


"Saya baru pulang kerja,terus liat yang jualan martabak. jadi saya beli buat Andi. Andi suka martabat Gak?" jelasnya


"Suka Om." jawabnya datar.


"Ya ampun, kenapa repot-repot sih mas?" Tuturku tak enak hati atas sikap baiknya.


"Gak apa-apa kok teh. cuma martabak " Mas Erwin memberikan kantong kresek yang dipegangnya pada Andi.

__ADS_1


"Mas Erwin mau masuk dulu?" tanyaku yang sebenarnya tak ingin berlama-lama mengobrol dengannya. jujur aku terlalu takut jika Bu Dewi akan melihat dan berfikir macam-macam tentang kami.


"Gak usah teh. saya mau langsung mandi dan istirahat. kapan-kapan aja. jangan lupa dimakan ya martabaknya!" Mas Erwin menatap Andi.


"Iya om, terima kasih!" jawabnya sopan.


Mas Erwin pamit seraya melambaikan tangan pada Andi. Ku tutup pintu dengan segera. Andi menatapku bingung sembari mengangkat kantong kresek ditangannya.


"Andi mau makan martabaknya?!" tanyaku.


"Andi Gak lapar ma. Andi ngantuk!" sahutnya dengan mata sayu.


Aku tersenyum seraya mengantarnya menuju tempat tidur. setelah sebelumnya ku letakan bingkisan dari mas Erwin tadi di atas meja.


Ku temani Andi hingga dia terlelap dalam dekapanku. Kutatap wajah polosnya,melihatnya sepuas mungkin. Karna esok aku harus kembali berjibaku dengan kehidupan nyataku menjadi seorang pelayan kedai.


Aku menguap lesu. malas rasanya untuk beranjak ke kamarku. dan akhirnya aku memilih memejamkan mataku disampingnya.


•••


Malam berlalu begitu cepat,ketakutan dan kegelisahanku tentang dirinya ternyata mampu lenyap ditelan malam.


Aku menertawakan diriku sendiri. bodohnya aku yang ketakutan pada hal yang semestinya ku abaikan sejak lama. Mungkin perasaan cintanya hanya sebuah pelarian. dan hanya sebuah keisengan ditengah kegundahan jiwanya. Buktinya sejak kemarin dia tak terdengar dan mencari kami.


lalu apa arti semua perkataannya yang manis itu?!...


Aku memicingkan mata pelan, melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Sepertinya Aku benar-benar terlelap karna kelelahan.


Aku menuju kamar untuk berganti pakaian. ku buka lemari pakaianku perlahan. dan ya,bayangan mas Sandy muncul kembali saat ku lihat baju pemberian darinya yang tergantung. dan juga beberapa baju yang dibelinya masih terbungkus rapi.


Aku menghela nafas dalam.


Bajunya bagus, tapi tak cocok jika ku pakai untuk bekerja. bahkan baju ini juga terlalu mewah jika harus ku pakai sehari-hari di rumah. Lalu harus ku apakan baju ini? aku bahkan jarang bepergian ke pesta. AH! mas Sandy memang merepotkan. bahkan barang pemberiannya pun masih bisa membuatku kesal.


Dan akhirnya Ku sabet Kemeja peach berlengan panjang dengan celana bahan berwarna hitam. Kostum pamungkas yang sering ku pakai jika aku sedang kebingungan memilih pakaian.


Ku dengar Andi membuka pintu kamar mandi. aku keluar kamar untuk memastikan apa yang dilakukannya.


"Andi udah bangun,nak?" tanyaku.


"Andi kebelet pipis ma!" sahutnya sembari masuk ke dalam kamar mandi.


"Ya udah, sekalian mandi ya sayang! air nya udah ada di Ember!" teriakku sembari sibuk memakai baju.


Merapikan rumah dan memasak ku lakukan bersamaan,untuk menghemat waktu. lalu ku siapkan seragam sekolah untuk Andi. Ku lirik lagi gambar yang Andi buat semalam,masih terasa sama. Bahkan aku memikirkan banyak hal saat melihat gambar itu,sebuah Ketakutan dan kekecewaan seakan sedang membayangiku sekarang.


Perasaan Aneh yang datang silih berganti. saat sosok dirinya tak nampak lagi dihadapanku. Antara kecewa dan marah. tapi bukankah ini juga salahku? akulah yang membiarkannya pergi. akulah yang tak memberinya kepastian. hingga pantas dia menghilang seperti sekarang.


Aku tak bisa menangis, aku bosan terus menerus menangis. apalagi menangisi hal yang masih semu bagiku.

__ADS_1


•••


Ku langkahkan kaki masuk ke dalam kedai. terlihat beberapa orang pekerja sedang mengobrol dan berganti seragam.


"Hai kak!" seru Metta melambaikan tangan padaku.


Aku tersenyum dan mendekat padanya.


"Mana Aisyah? belum datang?" tanyaku yang tak melihat keberadaannya.


"Belum kak. mungkin masih di jalan" jawabnya


"Oh, ya sudah kakak tinggal sebentar ke ruang ganti ya!" pamitku seraya berjalan meninggalkannya.


Aku berharap hari ini tak bertemu dengan pak Ivan. dan semoga saja dia tak mampir kemari. batinku.


"Hai kak, selamat pagi?" suara Aisyah terdengar menggema diruang ganti.


"Hey,kamu baru datang?" sapaku kemudian.


"Iya, dijalan macet banget!" keluhnya tapi dengan raut wajah sumringah,membuatku menatap lekat padanya.


"Kamu kayanya senang banget? kenapa?" tanyaku penasaran.


"Eh,tau gak kak? Aku tadi dijalan ketemu sama Ahjussi yang ganteng bangettttt!" selorohnya gemas.


"Ahjussi? orang korea?!"


"Bukaan! maksudnya om-om ganteng banget. ya ampun, seandainya Ais bisa punya cowok setampan dia. pasti bahagia banget." Aisyah menangkup kedua tangannya seraya berdoa.


"Huss! Kamu kerja dulu yang bener. baru pacaran!" sindirku mencoba membangunkannya dari mimpi.


"Iya aku tahu kok. tapi, berharap Gak ada salahnya dong? siapa tau Ahjussi -nya mau mampir ke kedai kita. terus bakalan aku ajak kenalan deh!" Aisyah cengengesan dengan mata yang berbinar.


"Woiiiy! masih pagi udah melantur!" seloroh Ikhsan dari arah pintu masuk.


Aku dan Aisyah menoleh ke arah pintu.


"Heh! ngapain kesini? mau ngintip? pergi sana!" Usirnya seraya mendorong tubuh Ikhsan dengan kasar.


Aku hanya tersenyum tipis melihat kedua muda mudi itu. beras bahagia mereka yang bisa menikmati masa muda dengan penuh warna,penuh kebebasan,dan mimpi-mimpi indah tanpa takut orang lain merusaknya.


•••


Siang ini kedai penuh seperti biasa. sepertinya memang menjelang siang orang-orang akan lebih banyak berkunjung ke kedai dibandingkan dengan pagi hari.


Kami harus ekstra keras berusaha untuk melayani pelanggan dengan baik. Hari ini aku bertugas mengantarkan camilan dan dua buah jus ke meja 10. Tanpa ku sadari siapa yang memesan.


"Aliss..!" seruan itu membuatku menoleh dengan cepat.

__ADS_1


Dua orang wanita yang ku kenal tampak melambai manis ke arahku.


• • • • •


__ADS_2