
Hari ini tepat Lima Tahun Usia Dara. Gadis mungil nan lucu itu akan berulang tahun sebentar lagi.
Aku dan Andi sudah menyiapkan berbagai macam hiasan di kamarnya. Andi yang sudah memasuki sekolah menengah atas itu tampak sangat cekatan menyelesaikan pekerjaannya.
Dan aku hanya bisa tersenyum melihat betapa dia sangat antusias.
"Papa kapan pulang ma?" tanyanya lagi. dan itu sudah kesekian kali Andi bertanya.
"Mungkin sebentar lagi. memangnya kamu sudah selesai?" tanyaku mendekat.
"Udah dong. tinggal nunggu papa bawain kue ulang tahunnya. Wahh... Dara pasti bakalan terkejut dengan semuanya!" Andi berdiri menatap seisi kamar yang sudah dia hias sebaik mungkin.
Tadinya di ulang tahun Dara kali ini aku hanya akan mengajaknya ke taman hiburan atau tempat wisata kesukaannya saja. tapi Andi memiliki ide lain. dan ya, jadilah kamar Dara di sulapnya menjadi sangat cantik dengan nuansa pink yang sangat disukai putri kecilku.
Aku melirik jam dinding. waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. itu artinya Dara akan segera pulang. Kebetulan hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah Taman kanak-kanak. Beruntunglah aku bisa melarikan diri dan meminta Bi Atun untuk menjaganya di sekolah. jika tidak, tentu kejutan ini tak akan berhasil.
Drrrrrtttt....
Drrrrrtttt...
Ku lirik cepat ponselku.
"Itu Pasti papa" seru Andi.
"Halo, mas. kamu dimana?" tanyaku segera.
"Baru keluar dari toko kue. Dara belum pulang kan?!"
"Belum mas. mas Sandy jangan lama-lama!"
"15 menit lagi saya sampai.."
Aku dan Andi saling lirik,
"Jangan sampe Dara pulang duluan ma!" gumam Andi cemas.
"Ya udah. kita beresin ini semua sekarang!" Aku dan Andi bergegas merapikan dan menyelesaikan tugas kami yang belum selesai.
•••
Dan akhirnya sebelum pukul 2 siang Mas Sandy sudah tiba di rumah.
"Kita matiin aja lampunya ma. nanti Andi tutupin mata Dara pake kain" jelasnya memberi instruksi.
Aku dan mas Sandy hanya mengangguk setuju. dan kami berdua percayakan semuanya pada Andi. terlihat Andi begitu menyayangi Dara, gadis mungil itu mendapatkan semua kasih sayang dari kakaknya.
"Dara pulaaaang... Assalamualaikum maa...!" teriaknya dari lantai bawah.
Aku dan mas Sandy menoleh kaget.
"Biar Andi yang turun. mama sama papa ngumpet di kamar!" perintahnya cepat.
Aku dan mas Sandy segera masuk ke dalam kamar Dara yang memang gelap.
"Apa Andi bisa mengatasi semuanya? saya takut Dara mengamuk" gumamku pelan.
"Biarkan saja," bisiknya enteng.
Aku melirik sinis pada suamiku,Enteng sekali ucapannya. dia tak tahu saja jika Dara sudah mengamuk. dia pasti tak mau pergi ke sekolahnya. dan tentu harus aku yang membujuknya nanti.
"Mas Sandy tak tahu saja bagaimana ketika Dara mengamuk!" dengusku.
"Memangnya bagaimana?" Mas Sandy menarik pinggangku erat dan mulai menciumku.
"Mas Sandy!" aku mendorongnya cepat. dia selalu tak tahu waktu jika sudah begitu.
"Semenjak Dara lahir,kita jarang bermesraan" keluhnya.
"Mas Sandy kan sibuk bekerja. jadi kita tak punya banyak waktu untuk berduaan" sindirku mencoba mengingatkan bahwa kami memang sudah jarang bersama akhir-akhir ini.
"Sepertinya kita harus meluangkan waktu untuk bulan madu lagi" sarannya yakin.
Aku menatapnya sinis.
"Ayo masuk!" suara Andi membuatku kaget dan segera berdiri di samping pintu di ikuti mas Sandy.
"Kaka,... kenapa kamar Dara gelap?" tanyanya takut.
KLIK!
__ADS_1
Mas Sandy menyalakan sakelar dan seketika semua lampu menyala.
Dara terpaku menatap seisi kamarnya yang berubah jadi berwarna pink.
"SELAMAT ULANG TAHUN ANDARAAA.....!!!"
Aku dan Mas Sandy mendekatinya.
Putri kecilku masih bergeming. dia mungkin tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Selamat ulang tahun sayang!" Aku memeluknya erat.
"Selamat ulang tahun bidadarinya papa" Mas Sandy juga memeluk kami berdua.
"Kamu kenapa sayang?" tanyaku heran.
"Da-dara kaget ma.." matanya berkaca-kaca.
Aku dan Mas Sandy terkekeh kecil.
"Dara suka dengan kamarnya? ini semua Kakak yang bikin loh" jelas Mas Sandy
Dara menoleh ke arah pintu. tampak Andi masih berdiri didepan pintu sembari tersenyum penuh kasih pada adiknya.
"Kakaaa..." Dara berlari dan memeluk Andi. gadis itu memang sangat manja pada kakaknya.
Aku dan mas Sandy tersenyum haru.
"Selamat ulang tahun peri kecil.." bisik Andi.
"Terima kasih banyak kaaa..." gumamnya terisak.
Ternyata Andi sudah sangat dewasa. dia bisa membuat Dara nyaman dan merasa dicintai sebagai seorang adik. semua perhatian dan kasih sayang dia berikan sepenuhnya untuk Dara. hingga Dara begitu dekat padanya.
Dulu sebelum Dara lahir, aku sempat merasa khawatir. Takut jika Andi akan merasa di nomor duakan karena kasih sayang kami sebagai orang tua tercurah hanya pada Dara. Tapi ternyata itu hanya ketakutanku saja, nyatanya Andi sangat bahagia saat Dara lahir. bahkan dia menangis haru saat pertama kali menggendong Dara kecil.
"Sayang.. Ayo kita tiup lilin dulu!" ajak Mas Sandy membuyarkan lamunanku.
Kami berempat berdiri mengitari kue tart yang sudah siap di atas meja. Mas Sandy menyalakan lilin berbentuk angka 5 tersebut.
Senandung yang biasa dinyanyikan pun menggema ke seluruh ruangan.
Dara meniup lilin dengan kuat.
"Yeay!... nambah tua Nih, bentar lagi keriput" goda Andi tertawa kecil.
"Ihhhh.. Kaka! Dara cantik Yah. Gak keriput!" dengusnya sedikit terganggu dengan ledekan kakaknya.
"Dara potong kue nya dong! sini mama bantu," Ku ambilkan satu buah piring dan sendok. satu potongan kecil dipegang di atas piringnya.
"Kue nya mau Dara kasih buat siapa?" tanya Mas Sandy.
"Hmm.. Buat kaka deh. Kasian udah capek bikin kejutan nya" celotehnya polos.
"Terima kasih Dara sayang" sahut Andi dengan lirikan tajam.
Kami berdua hanya bisa tersenyum geli melihat bagaimana mereka saling meledek satu sama lain. tapi aku tahu, sebenarnya mereka begitu saling menyayangi.
•••
Pukul 3 sore aku masih menunggu Dara membuka kadonya. sebetulnya kami tidak mengundang siapapun atau memberitahu yang lain tentang ulangtahun Dara. tapi para Staff di kantor Mas Sandy sepertinya sudah mengetahui soal ulangtahunnya. sehingga mereka menitipkan banyak kado untuk Dara. belum lagi kado dari relasi kami lainnya. alhasil tampak kado untuk Dara kali ini begitu menggunung.
"Papa sama kakak kemana ma?" tanya Dara yang akhirnya lepas dari fokusnya
"Papa sama kakak lagi berenang. Dara mau berenang juga?" ajakku yang mulai bosan menungguinya.
"Enggak ma. Dara mau buka kado aja" Celetuknya.
Aku mengernyit kecut.
"Gimana kalo Dara berenang aja dulu. nanti habis berenang kita buka kado lagi. ya?!" Bujukku.
Dara mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ya udah deh, Dara juga gerah ma.." keluhnya sedikit tak rela.
Aku tersenyum Lega. meskipun dia terpaksa, tapi pada akhirnya dia menurut padaku.
Kami turun ke bawah menuju kolam. namun sebelum ke kolam Dara lebih dulu berlari ke arah ruang tamu.
__ADS_1
"Om ganteeeeng...!" Teriaknya.
"Halo cantik. selamat ulang tahun!" Pak Ivan tampak menggoyangkan sebuah boneka beruang berwarna coklat untuk putriku.
Gadis kecilku langsung melompat ke dalam pelukannya.
Selain dari Andi,Dara juga mendapatkan banyak cinta pak Ivan. mereka seperti paman dan keponakan. dan pak Ivan juga mengenalkan dirinya sebagai adik dari Mas Sandy. sehingga aku harus ikut berbohong dan memanggil dengan sebutan nama padanya.
"Ivan,kamu sudah pulang?"
"Aku sengaja mempercepat kepulangan. karena tahu, gadis cantik ini berulang tahun sekarang" jelasnya seraya menggendong Dara menuju kolam renang.
"Dara ingin berenang sama om, sama papa juga!" pintanya
"Om gak bawa baju ganti" jelas Ivan menolak.
"Hei Van, bukannya kamu di singapura?" teriak mas Sandy tampak kaget.
"Pekerjaan sudah selesai. lagipula kalau terlambat, wanita yang satu ini akan jadi sangat bawel" sindir Ivan pada putriku.
"Ayo om berenang sama-sama!" teriak Andi.
"Kalian berenang aja. om sepertinya sedikit lapar" Dara turun dari gendongannya dan mendekati bibir kolam dimana ayahnya sedang asyik duduk.
"Ya sudah biar saya bawakan cemilan buat kamu" saranku seraya menuju dapur.
Suasana sore ini begitu ramai oleh candaan Andi, Ivan dan juga suamiku. sementara aku Asik memperhatikan mereka. aku masih tak menyangka jika takdirku akan berakhir sebahagia ini.
"Permisi?" suara seseorang membuatku seketika menoleh
"Rahma? sini masuk!" ajakku segera.
Gadis itu terlihat malu-malu seraya membawa beberapa buah bingkisan.
"Aku telat kasih kado buat Dara" Rahma menyeringai kecil.
"Padahal Gak perlu repot-repot" aku menerimanya sungkan.
"Kebetulan sekali ya" celetuk mas Sandy tiba-tiba.
Aku dan Rahma menoleh pelan ke arahnya. Tak berapa lama aku tersenyum. Sejujurnya aku dan mas Sandy berniat menjodohkan Rahma dan Ivan. kami pikir,keduanya sangat serasi jika bersama.
"Ada pak Ivan juga?" bisiknya pelan
"Sepertinya kalian memang berjodoh" godaku.
Ivan tersenyum kemudian mendekati kami berdua. dengan wajah manisnya dia menatap Rahma cukup lama.
"Kenapa kamu tak angkat telepon saya, kemarin?" tanyanya enteng.
Rahma melotot tajam padanya. begitupun dengan aku yang sepertinya sudah ketinggalan cukup jauh.
"Jadi,- kalian?" aku menerka tak percaya.
"Kami bukan anak kecil yang harus kalian jodohkan. jika merasa cocok, kami tentu akan melakukan pendekatan" jelas pria itu secara gamblang. Dan membuat Rahma tak bisa mengelak lagi.
"Pak Ivan yang minta aku buat Rahasiakan semuanya dari kamu sama pak Sandy." Rahma membela diri.
Aku mendengus ketus.
"Kalian nyebelin tau! tapi tak apa-apa. selama kalian bahagia. Aku sama Mas Sandy juga bahagia" Ku rangkul Rahma penuh kasih.
"Wah... ada apa ini?" mas Sandy menatapku heran.
"Ternyata mereka sudah pacaran mas" decakku antusias.
"Om sama tante Rahma pacaran?" teriak Dara tak kalah antusias seraya berlari ke arah kami.
"Kenapa? Dara cemburu?" goda Ivan.
"Hmm... cemburu gak Yah? enggak deh, Dara kan punya kakak ganteng" Dara menunjuk Andi yang masih begitu Asik berenang.
Kami semua tergerak melihat tingkah lucunya.
Kebahagiaan yang mungkin tak semua orang bisa merasakan. Tapi aku bisa menikmatinya sekarang..
Terkadang,Meski hidup kita amat berat untuk dijalani. Kita tetap harus optimis dan yakin, jika suatu saat nanti kita akan mendapatkan kebahagiaan utuh seperti yang kita idam-idamkan selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1