PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
08•


__ADS_3

Setelah Obrolan cukup panjang akhirnya dengan berat hati aku menuruti permintaan Bu Ayu untuk bekerja di hari minggu. sepanjang jalan,aku berusaha membujuk Andi. aku janji akan mengajaknya ke pasar sore hari setelah bekerja. Beruntunglah Andi mau bekerja sama, dengan catatan dia ingin ikut ke tempatku bekerja. dan alhasil hari ini dia terpaksa ikut denganku ke rumah Mas sandy.


"Andi janji yah,sampe di rumah majikan mama. Andi gak boleh nakal. jangan pegang barang apapun, Oke?!" Pintak penuh harap.


"Siap ma," Andi memberi hormat dengan gaya lucunya.


kami berdua turun didepan kompleks lalu bergegas menuju kediaman bu Ayu. beberapa security di pos keamanan menatap kaget kearahku, mungkin karna sosok Andi yang berdiri disebelahku.


"Wah,ini rumah majikan mama? besar banget ya ma?" Andi menatap halaman rumah yang memang sangat luas dan bersih itu.


"Iya, nanti kalo Andi bosen di dalam rumah. Andi boleh duduk di pelataran itu. tapi inget! Andi gak boleh,-?"


"Nakal.. " sambungnya


Aku tertawa gemas melihat kecerdasan nya. kami berdua masuk menuju dapur. ku lihat Bi Marni yang tengah membersihkan perabotan rumah.


"Selamat pagi bi,"


"Loh,kamu kesini Lis? ini kan hari minggu?" Tukasnya kaget.


"Salim dulu sama bibi,"perintahku pada Andi. Bi Marni mengusap lembut kepala Andi.


"Gantengnya,anak sholeh!" Pujinya


Aku duduk di salah satu kursi,menatap Bi Marni pasrah.


"Tadinya aku juga mau pergi bi,tapi ibu telepon dan minta aku kesini. ada apa sih?" tanyaku penasaran.


"Pasti Gara-gara semalem." bisik bu Marni


Aku mendekat dengan wajah penasaran.


"Semalem kenapa?"tanyaku lagi pelan


"Semalem Ibu sama mas Sandy berantem Lis. Abis itu,ibu keluar dari kamar mas Sandy sambil banting pintu." jelasnya Hati-Hati.


Aku terdiam,ku tatap Andi yang tengah asyik melihat akuarium kecil disamping pintu masuk.


"Berantem soal apa? terus mas Sandy Gimana?" tanyaku lagi


"Bibi kurang paham soal itu,yang jelas mereka bicara pelan banget. gak teriak-teriak sih. Bibi tadi ngetuk pintu kamarnya,tapi mas Sandy bilang dia gak laper. bibi belum sempat kasih sarapan lagi,bibi takut!" bi Marni meringis ngeri. dia saja yang bekerja cukup lama dirumah ini merasa ketakutan,lalu bagaimana denganku yang baru bekerja 3 minggu di rumah ini. aku menghela nafas dalam. ku tatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10. tentu saja itu sudah lewat jam sarapan. mas Sandy pasti sangat kelaparan sekarang. dan dia akan lebih marah karnanya.


"Oh iya,hari ini jadwal kunjungan dokter Hasan! kamu tungguin aja sampe dokternya datang ya!" pintanya penuh harap.


Aku menatap Bu Marni lesu.


"Hari ini bibi masak apa? biar aku aja yang anter ke atas!" aku bergegas menyimpan tas dan melipat lengan bajuku. berdiam diri saja tak akan membuat pekerjaan ku menjadi ringan.


"Kalo makanan,dari tadi semuanya sudah siap di atas meja."


Aku bergegas membawa nampan, mengisinya dengan Roti isi, Sup jamur dan susu.

__ADS_1


"Bi, aku titip Andi yah."Pintaku. Bi Marni mengangguk.


"Andi tunggu sama Bi Marni ya! mama mau kerja dulu. Andi jangan nakal ya!"


"Iya ma," Andi mengangguk. dan menatap kepergian ku dengan tatapan penuh rasa penasaran.


•••


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Permisi mas, saya bawain sarapan! mas Sandy belum minum obat kan?!" tanyaku lalu merangsak masuk perlahan


Ku lihat tempat tidur yang kosong,seisi ruangan pun hening. aku beranjak menyimpan sarapannya dan menuju balkon. namun mas Sandy tak ada disana. lalu beranjak menuju kamar mandi.


"Mas,mas Sandy di dalam ya? Mas?" teriakku mengetuk pintu.


Aku memejamkan mataku kesal. kebiasaan buruknya adalah sering membuatku panik dengan tak menjawab pertanyaan ku. Aku yakin dia ada di dalam, tapi anehnya tak terdengar suara air mengalir. di dalam juga terdengar sepi. Apa harus ku gedor atau ku dobrak saja pintu nya? pikirku.


"Mas Sandy!" Aku mengetuk pintu agak keras.


"Berisikkk!!!!" sahutnya dari dalam.


Aku terdiam.baguslah kalau dia masih menyahut,itu tandanya dia masih hidup.


"Maaf, mengganggu mas!" jawabku menjauhi kamar mandi


"Teh,...!" panggilnya pelan


"Teh,Alis masih disitu?" tanya nya.


"Iya mas, kenapa?!"


"Saya lupa bawa handuk!" Tukasnya pelan. Aku menghela nafas lega.


"Tunggu sebentar mas," Aku segera mengambil handuk dan menungguinya di depan pintu kamar mandi.


"Kalau sudah selesai, saya didepan pintu mas!" teriakku


"Gak usah teriak! saya bisa denger!" jawabnya ketus.


Tak berapa lama,mas Sandy membuka pintu kamar mandi. sebelah tangannya terulur keluar. aku segera memberikan handuk itu padanya. lalu kembali menyiapkan sarapan untuknya.


Sekarang aku tak perlu khawatir,karna secara perlahan kondisi mas Sandy sudah mulai membaik. otot tangannya tak lagi kaku seperti dulu. beberapa luka goresnya pun sudah mengering dan sebagian menghilang tak berbekas. hanya tinggal sebelah kaki dan tangannya saja yang memerlukan perawatan lebih lama hingga dia benar-benar bisa berjalan dengan sempurna.


Mas Sandy keluar dari kamar mandi dengan handuk dibahu kanannya. Pemuda jangkung itu memakai kaos putih dengan celana sport berwarna senada. rambutnya basah dan sedikit berantakan. Aku menatapnya agak lama, tak dapat dipungkiri bahwa mas Sandy merupakan tipe pemuda yang pasti sangat disukai banyak kaum wanita di luar sana. putih,tinggi,tampan dan juga bersih. tak ayal membuat siapa saja terpesona karenanya. termasuk aku yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip.


Mas Sandy duduk perlahan,berpangku tangan dan balas menatapku lama.


"Ekehm," suaranya tentu mengagetkanku


"Eh, maaf mas. ini saya bawain sarapan. bi Marni bilang mas Sandy gak mau sarapan. padahal hari ini jadwal kunjungan dokter Hasan. Mas Sandy harus terlihat sehat! kalau enggak,pasti dokter Hasan ngasih obat-obatan yang banyak lagi kaya minggu kemaren!" celotehku.

__ADS_1


Mas Sandy menatapku aneh,setidaknya itu menurutku.


"Ini kan hari minggu? ngapain teh Alis disini? gak liburan?!" tanyanya dengan tatapan aneh


Aku balik menatap sinis padanya.


"Semua Gara-gara mas Sandy sih! saya sampe batal beli sepatu buat Andi Gara-gara harus kesini!" protesku


"Kenapa saya? saya gak minta teh Alis kesini? sejak kapan?" tanyanya tak terima. Aku memalingkan wajah ku bingung,tentu saja dia akan mengelak dan tak tahu soal ini. karna Bu Ayu lah yang memintaku untuk datang kemari.


"Kenapa? ayo jawab?" desaknya.


"Enggak mas," elakku


"Pasti tante Ayu yang minta kamu kesini kan teh?" Terkanya yakin


"Bu Ayu kan keluar kota mas. dia gak mau mas Sandy diperiksa sama dokter sendirian. makanya nyuruh saya kesini"


"Dasar gak tau diri!" dengusnya.


Aku menatapnya tak enak.


jelas sekali jika mas Sandy tak suka dengan tantenya itu. tapi kenapa? padahal setahu ku, Bu Ayu begitu baik padanya. dia bahkan begitu memperhatikan soal kesehatan keponakannya itu.


"Mas Sandy gak boleh gitu. Bu Ayu itu kan tante nya mas juga!" Sahutku pelan.


"Tahu apa kamu soal wanita itu." desisnya lalu melirikku dengan tatapan tak suka.


"Ya udah. mending mas sandy makan aja! gak ada untungnya juga kita bahas soal itu." ralatku mengakhiri obrolan kami yang sudah sangat tak enak untuk dilanjutkan itu.


Mas Sandy menatap lama roti dan sup dihadapannya.


"Kenapa?" tanyaku


"Kamu gak bikin nasi goreng teh?" dia menatapku penuh harap.


Aku membalas tatapannya malas,tentu saja dia memintaku untuk membuatkan nya nasi goreng seperti biasa.


"Oke, saya buatkan! tapi janji mas Sandy harus menghabiskan sarapan nya!" tukasku kemudian.


Aku berbalik dan hendak pergi.


"Sebentar!" Mas Sandy menarik lengan ku pelan. membuatku seketika menoleh kearah tangannya.


"Tolong jangan pake bawang putih, saya gak suka!" pintanya lalu melepaskan tangannya begitu saja.


Sesaat aku seperti hilang kendali,


Aku beranjak pergi meninggalkan kamar dengan perasaan aneh yang mendera batinku.


•••••••

__ADS_1


__ADS_2