
"Masuk!" sahut mas Sandy lalu bangkit dari duduknya.
Nita datang dengan wajah sedikit agak kusut dan panik.
"Ada apa?"
"Maaf pak mengganggu,para pemegang saham ingin mengadakan rapat siang ini." jelasnya.
"Kenapa mendadak?" mas Sandy bangkit.
"Ini karena,... " Nita melirik ke arahku.
"Oke. kita bicara nanti saja" perintah mas Sandy.
"Baik pak. saya permisi!" Nita keluar dengan segera.
Mas Sandy memijat keningnya frustasi.
"Ada apa mas? apa sesuatu terjadi?"
Mas Sandy menoleh padaku, dia tersenyum seolah ingin menunjukan padaku bahwa semua baik-baik saja.
"Gak apa-apa kok. di kantor memang selalu seperti ini. rapat dadakan." jawabnya kembali duduk didekatku.
"Soal makan siang. mas Sandy gak perlu mikirin. biar saya makan dengan Rahma aja!" saranku.
"Gak apa-apa kok sayang, kita makan siang dulu. setelah itu baru saya rapat."
"Mas, saya gak mau mas Sandy mengabaikan rapat. apalagi dengan orang-orang penting. lain kali aja kita makan siang sama-sama, oke." aku menatapnya serius.
Mas Sandy mengusap lembut pipiku.
"Kamu memang yang terbaik!" pujinya menatapku kagum.
TOK..
TOK..
"Permisi pak satu lagi,ini sepatu yang Bapak pesan!" Nita kembali dengan membawa setumpuk kotak sepatu di tangannya.
"Ya ampun!" aku bangkit dan segera membantunya.
"Gak apa-apa bu. saya bisa kok!" Nita menyimpannya di lantai.
Aku menatap heran semua pesanan mas Sandy ini,sepertinya aku salah bicara tadi.
"Sayang, coba kamu lihat. sandal mana yang kamu suka?" tanyanya.
"Kenapa mas Sandy membeli sebanyak ini?" aku menatap Nita tak enak hati.
"Apapun akan saya lakukan buat kamu sayang,lagipula ini cuma sandal" tuturnya enteng seraya mendekati kotak-kotak itu dan membukanya.
"Duduklah kita lihat mana yang lebih pas untuk kamu!" pintanya.
"Saya bisa sendiri kok mas," aku menyeringai malu, apalagi Nita tampak dengan serius melihat kami.
"Sayang" desaknya setengah memaksa.
__ADS_1
Dengan malu-malu aku duduk kembali di Sofa. mas Sandy membawa sendal jepit yang menurutku terlalu mewah untuk jenis sandal biasa. karena berhiasan mutiara-mutiara yang berkilau dan cantik.
"Yang ini sepertinya cocok!' tukasnya
"Iya, itu terlihat pas di bu Alis!" timpal Nita. Melihat keduanya kompak, aku tak mau ambil pusing dan harus mencoba semua sandal itu.
"Iya mas, yang ini saja. bagus!" jawabku
"Syukurlah. Nita, tolong bawa sisanya ke mobil saya ya!" perintahnya lagi.
Nita membawa kembali kotak sepatu itu keluar. ku tatap kepergiannya.
"Mas, apa kamu Gak berlebihan nyuruh Nita kerja begitu. dia pasti capek!" lirihku
"Dia akan dengan senang hati melakukannya. karena semua fasilitas terbaik. saya berikan!" jelas mas Sandy.
"Fasilitas?" aku mengernyit tak paham. fasilitas apa yang mas Sandy maksudkan. apakah seperti kata orang-orang, biasanya sekretaris selalu jadi simpanan....
"Kamu jangan mikir macem-macem ya!" mas Sandy mencubit hidungku pelan. sepertinya dia tahu apa yang baru saja terlintas dikepalaku.
"Ya, siapa tahu mas" selorohku.
Mas Sandy yang duduk disebelahku langsung memelukku erat.
"Jangan pernah sedikitpun kamu berfikir bahwa saya akan menduakan kamu teh. saya sudah cukup menderita dengan hidup saya kemarin. saya ingin hari ini, dan seterusnya. hanya kebahagiaan yang menaungi hubungan kita." gumamnya dalam.
Aku tersenyum haru,sebagai wanita aku tentu merasa sangat di istimewakan olehnya. apalagi terlihat, jika mas Sandy begitu takut hubungan pernikahan kami yang belum lama ini,rusak begitu saja oleh hal-hal buruk semacam itu.
"Mas Sandy tak perlu khawatir. saya percaya sepenuhnya sama mas Sandy!" ku balas dekapannya dengan begitu erat.
Duniaku terlalu indah untuk memikirkan hal-hal buruk seperti itu. mas Sandy juga begitu baik padaku. tak mungkin dia melakukan hal yang dia sendiri sangat tak Menyukainya.
Aku keluar dari ruangan mas Sandy setelah berpamitan untuk makan siang bersama Rahma.
Ku lihat Rahma tengah bicara serius dengan Nita sebelum akhirnya dia berlari kecil menghampiriku.
"Mana Sinta?" tanyaku menilik seisi ruangan staff
"Dia lagi di ruang meeting. siapin berkas doang kok. kita duluan aja Gimana?" ajaknya buru-buru. dan tanpa aba-aba Rahma menarikku dengan sedikit memaksa hingga kami berdua berdiri didepan Lift.
"Orang-orang pada bisik-bisik kenapa sih?" tanyaku heran. saat melihat beberapa karyawan melayangkan tatapan aneh padaku.
"Mereka kalo liat orang baru memang gitu!" jawab Rahma mencoba mengabaikan orang-orang dibelakang kami.
TING!
Pintu Lift akhirnya terbuka, dari dalam tampak tiga orang pria dan satu wanita dengan pakaian kantor yang super rapi.
Aku dan Rahma menunduk sopan. dan membiarkan mereka keluar lebih dulu.
"Kayanya mereka para pemegang saham!" bisik Rahma padaku.
"Bagaimana bisa, pak Sandy menikah diam-diam!"
"Apalagi wanita yang dinikahinya dari kalangan rendah. benar-benar tak masuk akal!"
Celoteh mereka sembari keluar melewatiku dan Rahma. Aku terpaku cukup lama sebelum akhirnya Rahma memegang tanganku.
__ADS_1
"Gak usah dengerin mereka!" Gadis itu tentu tahu apa yang aku rasakan.
Kami berdua masuk ke dalam lift dan segera keluar dari kantor menuju kedai pinggir jalan yang kebetulan bersebrangan dengan kantor.
Aku dan Rahma duduk berdua sambil menunggu Sinta yang masih belum datang.
Aku menarik pelan kursiku lalu duduk dengan menopang dagu. yang mereka bilang itu terlalu kasar, aku tak bisa melupakannya dengan mudah. tapi apa yang mereka bicarakan juga benar adanya. aku dari kalangan rendah.
"Hey,.. udah! Gak usah dipikirin" Tegur Rahma.
Aku menatapnya dan tersenyum.
"Apa mereka tahu semua itu dari berita di media?" tanyaku pada Rahma.
Lagi-lagi Rahma tersenyum kecut, dia seakan mengasihaniku tapi juga tak mau berkata jujur padaku.
"Media memang selalu membesar-besarkan berita. tapi tenang aja, aku yakin pak Sandy bisa ngatasin semuanya kok." jelasnya berusaha menenangkanku.
Kami yang duduk didepan kedai tiba-tiba dikagetkan dengan rombongan mobil mewah yang datang. ada 5 mobil mewah memasuki halaman kantor.
"Apa mereka pemegang saham juga?" tanyaku pada Rahma.
"Iya. tapi aku juga jarang lihat mereka datang sebanyak ini sih" Rahma menatap bingung ke arah gedung kantor
Tengah sibuk dengan lamunan kami, tiba-tiba Sinta melambai dari arah kantor.
"Akhirnya muncul juga," desis Rahma yang sepertinya sudah kelaparan karena menunggu Sinta.
Gadis itu segera menyeberang dan menghampiri kami berdua dengan nafas yang terengah-engah.
"Sorry ya! sibuk banget didalem" jelasnya sebelum kami bertanya.
"Memangnya didalam ada apa sih?" tanyaku lagi.
Rahma menatap tajam pada Sinta. sementara Sinta terlihat gugup dan bingung.
"Biasalah. rapat pemegang saham kan memang selalu sibuk!" jawabnya.
Sejujurnya aku menangkap gelagat aneh dari kedua temanku ini. mereka seperti tak ingin memberitahuku apa yang sedang terjadi di kantor.
Meski begitu aku tak ingin memaksa keduanya. itu hak mereka untuk menjaga Rahasia. toh, lambat laun semua juga akan terbuka. pikirku mencoba menenangkan diri.
"Eh, udah pesen makan belum? Laper nih?" seloroh Sinta.
"Kita juga udah Laper tahu!" desis Rahma ketus.
"Biar aku yang pesan makananya" aku bangkit dan hendak pergi.
"Eeeh! mau kemana? ibu Presdir duduk aja! biar saya yang pesan makanan" Rahma memegang tanganku.
"Gak perlu kaya gitu deh! lagipula, semua orang sudah tahu siapa saya yang sebenarnya. kalian Gak perlu bersikap begitu!" tegasku seakan tak suka. Rahma dan Sinta menatapku kaget.
"Maaf,. tapi saya bisa pesan sendiri kok!" ralatku dengan nada pelan.
Hari ini perasaanku sangat kacau. aku tak tahu apa yang terjadi di kantor. apa yang mas Sandy hadapi. kenapa kedua temanku seakan merahasiakan sesuatu. lalu bagaimana dengan berita-berita diluar sana. dengan orang-orang yang berpikiran buruk tentang pernikahan kami?
Aku hanya mampu menghela nafas dalam. Ini benar-benar baru saja di mulai.
__ADS_1
• • • • • •