
1 MINGGU KEMUDIAN...
Setelah pulang dari Rumah Sakit kami kembali ke apartemen. meski sebelumnya aku meminta padanya untuk pulang ke rumah lama saja,Tapi mas Sandy malah menolak.
"Tante juga ada di rumah. saya tak mau kamu kenapa-napa" begitu alasannya.
Sore ini aku duduk di ruang tengah di temani secangkir susu hangat buatan bi Atun. Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sementara Mas Sandy masih belum pulang dari rumah Pak Munir untuk membahas soal persidangan Besok.
"Mama lagi apa?" Andi datang dengan membawa selimut.
"Loh, Andi belum tidur?" aku merentangkan tanganku untuk memeluknya.
Andi duduk bersandar dibahuku. matanya tampak sudah sangat mengantuk.
"Andi mau tidur sama mama," gumamnya pelan.
Ku kecup keningnya lembut, anak ini pasti sangat rindu dekapanku. karena akhir-akhir ini aku memang jarang tidur bersamanya.
"Mama besok pergi lagi ya?" tanya Andi
"Iya. Besok mama harus ke pengadilan" jelasku.
"Ma,Ibu Ayu itu jahat sama mama ya? padahal mama kan baik sama Bu Ayu?" Andi menatapku Bingung.
Mungkin dia juga tak paham mengapa Bu Ayu bersikap tak baik padaku. padahal selama ini aku selalu bilang padanya,jika kita berbuat baik. maka akan mendapatkan balasan yang baik juga. tapi mungkin kali ini tidak sesuai dengan apa yang ku ucapkan.
"Terkadang.. Hal baik yang kita kerjakan, belum tentu mendapat balasan yang baik juga. dan di situlah letak kesabaran kita di uji sayang. Mungkin kita harus jadi orang yang lebih sabar lagi." jelasku.
"Apa Bu Ayu nanti di tangkap polisi ya ma?!" tanyanya lagi.
Ku dekap erat tubuhnya.
"Lebih baik Andi tidur. ini sudah malam!" saranku mengakhiri obrolan kami yang terasa sedikit berat.
Andi menarik selimutnya dan mulai menutup matanya mematuhi perintahku.
Aku menghela nafas dalam. Bagaimana Jika Bu Ayu akhirnya harus di vonis penjara? Dia pasti sangat ketakutan. tanpa keluarga seorang pun yang mendukungnya. Sejujurnya aku tak tega jika harus membayangkan bagaimana jadinya nanti. Bu Ayu jelas akan terpukul.
KLEK!
Suara pintu terdengar terbuka kemudian, aku menoleh cepat. Mas Sandy datang dengan wajah yang tampak lelah.
"Kamu belum tidur sayang?" mas Sandy mendekat dan mengecup keningku.
"Saya belum ngantuk mas"
Mas Sandy menatap Andi yang tampak terlelap disampingku.
"Apa perlu saya pindahkan Andi?"
"Gak usah mas. kita udah lama gak tidur sama-sama. Andi pasti kangen sama saya" jelasku.
"Kalau begitu kita tidur disini saja bertiga?" mas Sandy membuka sepatu dan jas nya lalu berbaring disampingku.
"Kamu udah makan malam?" tanyanya
Aku menggeleng pelan, sebetulnya aku tak ingin makan Sejak tadi siang.
"Kenapa? Apa kamu mual? Atau kamu mau makan sesuatu? biar saya belikan?" mas Sandy kembali bangkit dari duduknya.
"Enggak mas. saya gak lapar" jawabku beralasan.
Mas Sandy menghela nafas kasar seraya menatapku tajam.
__ADS_1
"Kenapa begitu? kamu harus makan sayang. kalo kamu gak makan,Gimana kondisi bayi kita? dia juga perlu nutrisi!" tukasnya.
"Saya belum ingin makan mas," sahutku lagi.
"Eh, bapak udah pulang!" seru Bi Atun dari arah dapur.
"Bi,kenapa Alis belum juga makan?"
"Maaf pak, non Alisnya gak mau makan. padahal saya sudah masakin banyak" sahut Bi Atun lagi,Wajahnya bahkan seperti ketakutan.
"Kalau begitu, biar saya yang masak!" mas Sandy bangkit.
"Tapi mas,...!" cegahku.
Namun sepertinya mas Sandy tak mau mendengar dan lebih memilih pergi ke dapur.
"Sepertinya Non Alis harus menurut sama suami Non," kekeh bi Atun.
"Tapi kan saya gak Laper bi,.." keluhku.
"Udah! Nurut aja non. daripada bapak marah?" tukasnya.
"Iya juga sih bi." sahutku mengalah.
"Non,saya pamit tidur dulu.." Bi Atun berlalu begitu saja.
Setengah jam kemudian Mas Sandy kembali dengan membawa sepiring makanan.
"Sudah siap!" Mas Sandy membawa piring itu ke hadapanku.
"Apa ini mas?" ku tatap kudapan yang terlihat Seperti pancake itu.
"Ini kue yang saya buat dengan cinta. dan di jamin sehat untuk kamu dan bayi kita" jelasnya begitu percaya diri.
"Cobalah!" Bujuknya.
Cukup lama ku tatap kue itu, tapi Anehnya aku tiba-tiba saja merasa tergiur dengan aroma yang muncul dari makanannya. padahal sejak tadi aku sama sekali tak ingin makan.
"Aaaaaaaa...!" goda mas Sandy.
Ku Buka mulutku perlahan.
"Gimana? Enak 'kan?" Tanyanya
"Enak mas... Boleh saya minta piringnya?" pintaku malu-malu.
Mas Sandy tersenyum saat piring di tangannya ku ambil Alih.
"Makanlah yang banyak, saya mau bikin kopi sebentar" pamitnya segera menuju dapur.
Aku mengangguk patuh dan kembali fokus pada makanan di tanganku. rasanya, ini adalah kue terenak yang pernah aku makan. Apa karena ini buatan mas Sandy ya? batinku.
Selang 10 menit Mas Sandy datang seraya menatapku bingung.
"Dimana kue nya?!" tanya mas Sandy
"Habis" gumamku tersenyum tipis.
"Benarkah? sepertinya bayi kita suka makan kue ya" godanya lagi.
Aku menyeringai malu.
"Kue nya enak mas." timpalku lagi.
__ADS_1
Mas Sandy duduk disampingku, lalu mengusap lembut kepalaku dan menciumnya.
"Makanlah yang banyak. jangan sampai kamu sakit" bisiknya penuh perhatian.
Aku menengadah pelan, menatap wajahnya yang begitu tampan.
"Terima kasih banyak mas," gumamku seraya mendekap erat tubuhnya.
Malam ini kami tidur bertiga di ruang tengah. sesekali mas Sandy bercerita tentang kisah lucu di masa kecilnya dan seketika mampu membuatku tertawa sepanjang malam.
•••
Hari ini adalah hari pertama persidangan. Aku dan Mas Sandy berniat menghadiri sidang lebih awal.
Sehingga pagi sekali, aku sudah bersiap.
"Mas saya sangat gugup" gumamku pada mas Sandy yang tengah mengenakan pakaiannya.
"Kamu tenang saja, semuanya akan berjalan dengan baik." mas Sandy tampak begitu yakin.
"Mas Sandy sepertinya sangat yakin" ku tatap dalam wajahnya.
Mas Sandy terdiam sesaat. Dia mendekat padaku seraya menatap pantulan wajahku dicermin.
"Tante pantas mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. bukankah mendiang suami kamu juga akan tenang disana." jelasnya lagi.
Aku menghela nafas ragu. Entahlah, pikiranku hanya tak tenang saja sejak semalam. Benarkah keputusan ini? menjebloskan Pak Broto ke penjara mungkin pilihan yang tepat. tapi Bu Ayu? dia pasti akan semakin membenciku jika pada akhirnya dia juga harus mendekam dipenjara.
"Lebih baik kamu bersiap. kita sarapan!" ajaknya kemudian.
•••
Gedung pengadilan sudah terlihat dari jauh. dan itu membuat perasaanku benar-benar tak nyaman. Kami keluar dari dalam mobil. Seisi halaman parkir begitu penuh. belum lagi para wartawan tampak menunggu di beberapa sudut.
Akhir-akhir ini berita tentang kekacauan perusahaan, juga kasus pak Broto dan Bu Ayu memang sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis. hal itu juga turut mempengaruhi kenaikan saham perusahaan.
"Pak Sandy, apa bapak kemari untuk memberi kesaksian? "
"*Bagaimana pendapat bapak tentang kasus yang menyeret salah satu anggota keluarga bapak?"
"Apa benar semua saham milik Bu Rahayu akan di pindahkan?
"Apa anda sudah bertemu dengan Bu Rahayu, Pak*?"
Pertanyaan bertubi-tubi datang dari para wartawan yang langsung mengerubungi kami.
"Tolong beri saya Jalan! istri saya sedang hamil." Pintanya dengan nada tegas.
Para wartawan seketika terdiam. mereka tentu tak tahu jika aku tengah hamil. Aku mengernyit kecil. seharusnya mas Sandy merahasiakan hal ini dari mereka. Tak berapa lama, mereka berbalik menyerangku seputar kehamilan.
"Security tolong jauhkan mereka dari istri saya!!!" pinta mas Sandy.
Kami berdua segera di amankan menuju salah satu ruangan. nyaris saja mereka membuatku terjatuh.
"Maaf. seharusnya saya merahasiakan kehamilan kamu." tukasnya penuh sesal.
Aku tersenyum manis. Mas Sandy pasti sangat bahagia dengan kehamilanku ini. sehingga dia lupa untuk merahasiakannya.
"Gak apa-apa mas. saya justru senang mas Sandy mau mengumumkan tentang hal itu pada mereka." jawabku.
Di antara kecemasan yang tengah ku rasakan. ternyata masih ada secercah kebahagiaan sebagai pelipur hatiku. yaitu Bayi kami.
• • • • • •
__ADS_1