PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•103


__ADS_3

Malam ini ku susuri jalan pulang menuju rumah dengan perasaan yang masih terasa menganjal. tentu saja karena keluarnya Alis dari pabrik secara tiba-tiba. bahkan ku abaikan pesan masuk dari Vina siang tadi. beberapa kali dia mengirim pesan dan memintaku untuk menjemputnya besok di bandara.


Jika sudah begini, aku malah mengabaikan yang utama dan lebih memilih memikirkannya yang entah ada dimana sekarang. Ku tepikan mobilku di depan halaman sebuah minimarket. tenggorokanku kering dan rasanya aku butuh beberapa Bir untuk sekedar menghilangkan rasa hausku.


Aku keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam minimarket,aku berjalan sedikit ke dalam dimana biasanya tempat minuman dingin tersedia. ku ambil beberapa kaleng bir. dan juga minuman penyegar. ada beberapa cemilan yang tiba-tiba ingin ku makan dan ku ambil saja tanpa pikir panjang.


Aku segera mendekati kasir. berlama-lama belanja bukan tipeku sama sekali. apalagi aku bukan orang yang sering pergi berbelanja.


"Totalnya dua ratus ribu!" jelas si pelayan kasir. ku berikan uang cash yang ternyata masih ada di dompetku.


Aku segera keluar dari minimarket dan masuk ke dalam mobil. ku simpan semua belanjaanku di kursi sebelah. agar mudah menjangkaunya. Aku pun tak berniat untuk melanjutkan perjalanan. dan berniat untuk minum sejenak di dalam mobil.


"Minum beberapa,mungkin akan lebih baik!" gumamku membuka bir itu dan meneguknya. mataku menatap halaman parkir yang memang sepi. hanya beberapa orang yang datang dengan kendaraan bermotor untuk belanja.


Semuanya tampak biasa saja, hingga sebuah angkutan umum berhenti tepat di belakang mobilku. ku lihat sekilas dari spionku. dan kemudian membuatku semakin lekat menatapnya. Alis keluar dari dalam mobil beserta putranya itu. lalu berjalan menuju ke dalam minimarket.


Demi Tuhan, aku seperti seorang penguntit yang tak tahu sopan santun.


juga seperti pengagum rahasia yang tak punya keberanian.


Tapi ini juga, Seperti rindu yang terbayarkan. dia hadir dan membuatku kehilangan akal sehat sejenak.


Apakah Perempuan itu memiliki mantra yang tak ku tahu? hingga membuatku menggila karenanya.


Ku tatap setiap gerak geriknya saat di dalam minimarket. terlihat dia sedang memilih makanan ringan dan juga eskrim untuk putranya.


"AH! ayo dong San,samperin!" dengusku pada diri sendiri.


Ku teguk habis kaleng Bir di tanganku. Niat hati ingin membuka pintu mobil dan memberanikan diri menghampiri mereka yang masih di dalam sana, tiba-tiba saja ponselku berdering.


KRIIIIING!!!


Ku lirik sekilas, Vina berteriak seakan tahu apa yang akan ku perbuat di belakangnya.


Aku duduk seraya menghela nafas dalam. ingat San! lo punya Vina? gadis cantik yang sangat lo cinta? kenapa. juga lo malah mau nyamperin cewek Gak jelas itu? batin malaikatku berbisik demikian hingga membuatku membatalkan niatku untuk keluar dari mobil dan memilih menjawab panggilan masuk dari Vina lebih dulu.


Gadis itu menyapaku dengan ketus karena seharian aku tak membalas pesannya. dia memintaku untuk menjemputnya besok. dan dia tak menerima penolakan atau alasan apapun. wanita memang selalu seperti itu.


"Iya. aku usahakan!" jawabku malas.


Ku lihat Alis sudah selesai berbelanja dan hendak keluar dari dalam mini market bersama putranya. ku lihat dia tampak mengobrol sejenak pada anaknya itu. entah apa yang dia bicarakan. namun terlihat jika sang anak sangat patuh padanya.

__ADS_1


Entahlah! aku sangat suka gayanya bicara pada putranya. penuh kasih sayang,juga sangat manis dan piawai.


"Kamu denger aku ngomong gak sih?" celetuk Vina.


GILA! aku lupa jika telepon nya belum dia matikan. dan aku malah fokus pada hal diluar sana.


"Hm, besok aku telepon. aku lagi dijalan! bye sayang!" pamitku menutup teleponnya secara sepihak. tak peduli jika Vina akan marah. Saat aku baru akan fokus melihat keduanya. Alis dan putranya tampak berjalan dan meninggalkan minimarket itu dengan segera.


Aku tersenyum kacau.


Ada apa denganmu san? kenapa sikap nya yang hanya seperti itu saja, mampu membuatku mabuk kepayang?


Bahkan kamu rela mempertaruhkan hal yang lebih penting darinya?


Aku menekan tuas dan segera melajukan mobilku meninggalkan tempat itu. setidaknya pertemuan kami yang diam-diam ini mampu membuatku lega. aku masih bisa melihatnya sebelum tidur. Namun entah dengan esok.


•••


Karena semalaman aku melanjutkan minum di rumah hingga beberapa kaleng bir itu habis. aku tak dapat menguasai diriku lagi. hingga Bi Marni datang mengetuk pintu aku masih belum ingin bangun dari tempat tidur.


"Mas Sandy, udah jam 9 loh!" teriaknya dari luar.


"Mas Sandy gak ngantor? katanya minta di bangunin?" cerocosnya lagi.


Ku palingkan wajahku menatap jam waker di nakas. pukul 09.20 dan rasanya ini sudah sangat siang.


Aku melotot tajam.


"Bukankah Vina minta di jemput?" aku terhenyak dan bangkit dengan segera, hingga tubuhku terhuyung dan jatuh ke lantai.


BRUGK!


"Awhhh!" aku mengaduh melempar selimutku sembarangan.


"Kenapa mas? mas Sandy jatuh?" bi Marni masih mengetuk pintu.


"Bawakan saya sarapan bi! saya Laper!" sahutku seraya berlalu menuju kamar mandi.


Ini pasti akan jadi pagi yang paling sibuk. karena tentu saja perjalanan menuju bandara akan sangat memakan waktu jika sudah siang begini.


15 menit setelah bersia, aku mengunyah sarapanku dengan tergesa hingga membuat bi Marni menatap aneh padaku.

__ADS_1


"Mas mau kemana sih? ribut sekali?" tanyanya heran


"Mau ke bandara! jemput Vina."


"Oh! Kirain mau ke kantor. tumben sekali sesibuk ini" jawabnya seraya menyimpan piring bekas makanku.


"Saya pamit bi." aku beranjak turun, sekilas ku lihat Tante Ayu tampak duduk di meja makan sembari membaca koran di tangannya. aku sama sekali enggan menyapanya dan memilih pergi saja.


•••


BIMMMP!


"Huufth!" ku tatap malas rentetan kendaraan yang mengular didepanku itu. benar-benar sial sekali hari ini.


Beberapa Pesan masuk dari Vina ku abaikan lagi. dia pasti mempertanyakan keberadaanku.


Kepulangannya pukul 8 pagi tadi. dan ini sudah satu jam lewat. dia pasti akan sangat marah sekarang.


Begitu melihat jalanan yang mulai lengang, aku segera menerobos memacu kendaraanku melewati kendaraan lain. masa bodo dengan orang yang berteriak-teriak karena aku mengambil jalannya.


Dan dengan susah payah aku tiba di depan Bandara. terlihat sangat ramai dan penuh. aku lupa jika ini adalah akhir pekan. tentu saja.


Aku keluar dan mencoba menghubungi Vina untuk mencari keberadaannya. sembari berjalan masuk melewati pintu kedatangan para penumpang.


Langkahku berhenti di satu titik yang tak jauh dari sosok yang ku cari.


Aku menatap lemas melihat ke arahnya.


Vina tengah memeluk Ivan dengan mesra. Yah! begitulah yang ku lihat. hingga berkali-kali ku kerjapkan mata pun pemandangan itu tak berubah.


Mereka masih berpelukan dengan Mesra. Ku tutup sambungan teleponnya dan ku hampiri mereka berdua dengan hati yang sama sekali tak percaya atas apa yang ku lihat sekarang.


Hanya berjarak 5 meter. aku berhenti. tak bersuara dan hanya menunggu mereka menyadari kehadiranku.


"Akhirnya kamu yang selalu bisa aku andalkan!" seloroh Vina mengurai pelukannya. Dan matanya dengan cepat menatap kaget padaku.


"Sandy.." gumamnya terkejut.


Ivan berbalik dan ikut menoleh ke arahku. Kami bertiga saling tatap dengan wajah penuh kebingungan.


Akupun tak tahu harus bersikap seperti apa terhadap mereka berdua.

__ADS_1


"Apa ini bagian dari kejutan?" gumamku pelan. mempertanyakan pertunjukan bodoh didepan ku ini.


• • • • • •


__ADS_2