PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•78


__ADS_3

"Mama, om Sandy mau sarapan sama kita!" teriak Andi yang malah menyeretnya menuju meja makan.


"Hah?" Aku terperanjat dan menyabet kacamata bacaku dengan segera.


Aku keluar sembari sesekali menunduk.


"Selamat pagi?" sapa mas Sandy yang ternyata sudah berada di ruang makan.


"Selamat pagi.."


"Ma! ayo duduk! Andi mau sarapan sama om Sandy!" pintanya memaksa.


"Kamu kenapa teh?" mas Sandy menatapku cemas.


"Mama sakit mata om. matanya bengkak!" seloroh Andi.


Aku mendekati keduanya sembari duduk perlahan.


"Apa benar,kata Andi teh?" mas Sandy menunggu jawabanku.


"Iya mas," aku mengangguk ragu.


Mas Sandy masih terpaku menatapku. dan sungguh membuatku tak nyaman.


"Ayo om, makan sama-sama!" Andi mendorong piring kosong ke hadapannya. Aku bergegas mengisi piringnya dengan nasi goreng yang masih tampak mengepul itu.


"Sedikit saja teh,Terima kasih!"


"Om kesini mau nganterin Andi sekolah kan om?" Andi menatapnya antusias.


"Iya tentu saja. om ingin mengantar kamu ke sekolah, setelah itu om antar mama kamu pergi kerja!" jelasnya.


"Om, sekalian aja ajak mama pergi ke dokter! biar sakit matanya sembuh!" pinta Andi lagi.


"Andi makan dulu ya! ngobrolnya nanti aja!" Tegasku membuat Andi mendengus kesal.


Sepertinya mas Sandy mencoba menahan rasa penasarannya karena ada Andi bersama kami. dan aku harus segera menyiapkan jawaban saat dia mulai bertanya nanti.


Selesai sarapan, kami bersiap untuk pergi mengantar Andi sekolah. ku lihat rumah bu Dewi yang masih tampak sepi. sepertinya mereka belum kembali dari luar kota.


"Eh Andi, mau berangkat sekolah ya?" seloroh teh Ani yang kebetulan lewat didepan rumah kami.


"Iya teh. habis belanja yah?" sapaku kemudian.


Ku lihat teh Ani melirik berkali-kali pada mas Sandy dan mobil yang kami tumpangi.


"Iya, biasa lah. beli bumbu dapur!" Tukasnya.


"Saya pamit duluan ya teh. takut kesiangan!" selorohku mendahuluinya sebelum dia bertanya macam-macam pada kami.

__ADS_1


Tentu saja para tetangga akan penasaran pada kami yang tiba-tiba berangkat dengan menggunakan mobil mewah. karena jarang sekali ada mobil masuk ke area perkampungan kami. Sejujurnya Akupun tak nyaman jika mas Sandy menjemput kami seperti ini. tapi tentu dia tak akan menerima alasan apapun saat aku memintanya untuk tidak menjemput.


Bagi mas Sandy jika aku menolak, itu artinya aku tak menghargainya. dan dia pasti akan sangat kecewa karenanya.


Aku membuka pintu mobil dan mengantar Andi menuju gerbang sekolah. tak berapa lama mas Sandy pun turut keluar dan mendekatiku.


"Om terima kasih sudah nganter Andi ya!" selorohnya sembari mencium tangan mas Sandy untuk berpamitan.


Mas Sandy tampak bergeming,sedetik kemudian mas Sandy tersenyum dan dengan lembutnya mengusap kepala Andi penuh kasih.


"Belajar yang baik ya!" perintahnya.


"Siap om," Andi mengangkat tangannya memberi hormat.


Andi mencium tanganku dan ku balas mencium keningnya.


"Baik-baik ya, mama kerja dulu!"


Kami berdua berdiri menatap Andi yang tampak bergegas masuk bersama teman lainnya.


"Menyenangkan sekali melihat Andi tersenyum seperti itu." gumamnya.


"Terima kasih karena mas Sandy sudah membuat Andi bisa tersenyum," aku menimpali sembari menatapnya lekat.


"Terima kasih juga kamu sudah membesarkan Andi teh. hingga saya bisa melihatnya saat ini." mas Sandy balik menatapku penuh makna.


"Mas, sebaiknya kita bergegas! udah siang!" Aku membuka pintu mobil dengan segera.


•••


"Teh Alis berhutang satu penjelasan pada saya!" mas Sandy menoleh padaku


"Soal apa?" aku memalingkan wajah dan Pura-pura menyibukkan diri dengan ponselku.


"Apa benar teh alis sakit mata? atau habis menangis? ayo jawab jujur!" pintanya tak sabar.


"Kan Andi sudah kasih tahu mas,. masa mas Sandy Gak percaya?" jawabku enteng.


"Sejak kapan kamu sakit mata? kemarin saya lihat kamu baik-baik saja teh?"


Aku terdiam sesaat, berusaha mencari jawaban yang tepat untuk berbohong.


"Saya juga gak tahu mas. semalam tiba-tiba mata saya gatal. saya kucek lalu jadi seperti ini." jelasku.


"Benarkah? keliatannya kamu gak pintar berbohong teh!" sindirnya masih tak percaya.


"Hubungan langgeng itu harus didasari oleh sebuah kejujuran. mau sepahit apapun kenyataannya, cobalah berkata jujur! jika teh alis tak nyaman dengan sikap saya, teh alis bisa bilang. atau jika ada perkataan saya yang menyinggung hati kamu. tolong beri tahu saya! dengan begitu saya bisa memperbaiki sikap saya sama kamu teh. saya tak ingin pacaran gaya anak muda. kita sudah sama-sama dewasa, saya ingin hubungan yang serius! saling percaya dan terbuka.." tukasnya dengan pandangan yang masih fokus menyetir.


Aku memalingkan wajahku ke sisi kanan. melihat lalu lalang kendaraan yang cukup ramai. hatiku tak bisa menyanggah ucapannya. aku juga ingin bersikap jujur menjalani hubungan dengannya,tapi nyatanya semua tak semudah kelihatanya.

__ADS_1


"Apa teh Alis tak berniat serius pada saya?" tanyanya lagi.


"Saya selalu ingin serius menjalani apapun mas. jika saya tak serius,mungkin hari ini saya tak akan bertemu mas Sandy lagi."


Jawabanku terdengar kacau, mungkin itu pula yang membuatku tak berani menatapnya. aku terlalu takut untuk menunjukkan ekspresi wajahku saat membohonginya.


Meskipun dulu suamiku sangat kejam tapi aku sama sekali tak berani berbohong padanya bahkan untuk hal kecil sekalipun. aku tak terbiasa menutupi rahasia dan jika aku melakukannya maka akan terlihat sangat bodoh karena aku tak pandai untuk berbohong.


Tapi entah kenapa,aku malah berani melakukan hal bodoh itu pada mas Sandy. bukankah jika dia tahu, pasti dia akan sangat kecewa padaku.


Tapi, ini berbeda. yang ku hadapi adalah tante nya sendiri. satu-satunya keluarga mas Sandy yang dia miliki. Aku tak ingin merusak tali persaudaraan itu.


Aku terperangah saat mobil kami berhenti dibahu jalan,bahkan kedai tempatku bekerja masih belum terlihat.


Aku menoleh pada mas Sandy, pemuda itu menatapku cukup lama. dia sadar jika aku tengah melamun tadi.


Mas Sandy melepaskan kacamataku pelan. Aku mengerjapkan mataku gugup


"Lihat saya, dan katakan kalau kamu baik-baik saja teh!" pintanya


"Saya baik-baik saja mas," tukasku lirih.


Mas Sandy terdiam cukup lama. entah apa yang dipikirkannya. mungkinkah dia menyadari kebohonganku?


"Saya tak ingin terjadi apapun sama kamu teh?" mas Sandy mengusap lembut pipiku. tatapannya teduh namun penuh kecemasan.


Mungkin dia lah satu-satunya laki-laki yang bisa menenangkanku Disaat aku mulai merasa kacau dan tertekan.


Ku balas tatapannya dengan senyuman. ku genggam erat tangannya.


"Terima kasih banyak mas,Mas sandy gak perlu khawatir. saya baik-baik saja" Tegasku kesekian kalinya.


Dari situ,barulah dia tampaknya percaya saat tatapan matanya berubah tenang. Dalam hatiku aku sungguh mengutuk perbuatanku ini, meminta maaf pun rasanya tak kan bisa mengubah kenyataan jika aku sudah berani membohongi mas Sandy.


Kami meneruskan perjalanan dalam diam. tak ada satu katapun keluar darinya setelah obrolan tadi.


"Kita sudah sampai!" tukasnya segera keluar dan membuka pintu untukku.


Kami berjalan menuju pintu masuk ke dalam kedai. suasana di kedai sudah tampak ramai oleh para pekerja.


Bahkan ku lihat Metta dan Ikhsan tengah memperhatikan kami dari dalam.


"Selamat bekerja" tuturnya.


Belum juga sempat aku menjawab,


tak berapa lama terlihat sebuah mobil yang jelas sangat kami kenal berhenti dibahu jalan. dan nyaris menabrak mobil mas Sandy yang sedang terparkir.


Mas Sandy menajamkan pandangannya pada mobil itu.

__ADS_1


Dan tentu saja, pak Ivan keluar dari dalam mobil dengan senyum simpulnya yang menyebalkan.


• • • • • • •


__ADS_2