
Perasaan wanita pada dasarnya semua sama. tak ingin orang yang di cintainya jatuh ke pelukan wanita lain.
Apalagi memiliki suami seperti mas Sandy yang memang sangat menarik perhatian banyak wanita diluar sana.
Tapi aku sangat yakin, mas Sandy takkan mudah tergoda dengan hal semacam itu.
Siang ini, aku dan Nita pergi makan siang berdua. sayangnya Rahma dan Sinta masih memiliki banyak pekerjaan yang tak bisa mereka tinggalkan. Sementara mas Sandy masih belum. pulang dari kunjungan pabrik.
Aku melempar pandanganku ke sekeliling Resto mewah ini. hanya ada beberapa orang yang terlihat duduk santai.
"Tenang saja, disini tak akan ada wartawan!" bisik Nita.
"Bukan itu yang saya khawatirkan, rasanya sepi kalo cuma makan berdua!" gumamku pelan
"Sebentar lagi mungkin mereka menyusul!" sahut Nita.
"Rahma sama Sinta? bukannya mereka sibuk banget ya?!"
"Mereka itu pekerja handal. jika tak ada yang mengganggu Pasti sebelum pukul 1,semuanya sudah beres!" tukasnya yakin
"Syukurlah." aku menghela nafas lega.
"Silahkan bu!" tukas seorang pelayan.
"Ahhh.. saya udah Laper dari tadi bu," decak Nita seraya menarik piring pesanannya.
"Makan yang banyak, sore ini masih banyak kerjaan." godaku.
Kami. menikmati makan siang dengan obrolan ringan seputar pekerjaan.
"Oh, iya. mengenai kerjasama dengan Mega.Models, memangnya ibu Gak khawatir ya?!" Nita menyeringai ragu-ragu. sepertinya gadis ini sudah ingin menanyakannya padaku sejak tadi. hanya saja mungkin dia belum punya keberanian untuk bertanya langsung.
"Khawatir kenapa?" aku Mengangkat kedua alisku penasaran.
"Ya kan.. semua orang sudah tahu bu, kalo Vina itu mantan pacar pak bos. bahkan semua staf kaget saat tahu ibu menyetujui jebakan Bu Rahayu." tukasnya setengah berbisik.
"Jebakan Bu Rahayu?" aku memekik pelan.
"Tentu saja bu. semua karyawan berspekulasi bahwa ini adalah akal-akalan bu Rahayu untuk membawa MEGA.Models ke dalam bisnis kita. bahkan Anwar sempat melihat mereka makan bersama beberapa kali. tentu tanpa sepengetahuan pak Sandy dan ibu. 'kan?!" jelas Nita.
Aku termangu cukup lama. ternyata sebegitu tak sukanya bu Ayu padaku. hingga dia sangat gigih menarik kembali masa lalu mas Sandy ke hadapan suamiku. tapi jika aku tak menyetujui kontrak kerja itu,justru yang ada malah akan semakin membuat bu Ayu menjadi-jadi.
"Tapi, jika saya biarkan kontrak kerja itu lewat begitu saja. bukankah itu akan memperparah keadaan" gumamku pasti.
"Maksud ibu Gimana?"
"Jika saya tak tandatangani kontrak kerja itu, mungkin bu Ayu akan semakin gigih mendekatkan Vina dan mas Sandy di luar kantor. tanpa sepengetahuan saya. iya kan? Sedangkan di kantor, kita masih bisa membatasi gerak-gerik mereka." jawabku santai.
"Jadi maksud ibu. kita makan umpannya, agar kita bisa menahan pemangsanya? gitu kan!" terka Nita yang sepertinya mulai paham dengan ucapanku.
__ADS_1
"Ya bisa di bilang begitu, kita ikuti saja alur permainan mereka. jika memang tujuannya adalah untuk mendekati mas Sandy. toh kita di untungkan dengan proyek iklan yang berbiaya tidak murah ini. Vina tentu akan dengan suka rela melakukan semuanya." aku mengulum senyum penuh keyakinan.
Sejujurnya akupun tak tahu darimana aku memiliki taktik seperti ini, rasanya terdengar sangat licik. tapi bukankan dunia bisnis seperti ini? perlu banyak rumus, perlu banyak ide-ide cemerlang yang tak akan banyak di ketahui orang.
Setidaknya aku tidak berusaha menyakiti mereka. meskipmpun mereka berniat demikian padaku.
•••
Hingga selesai makan siang, Sinta dan Rahma nyatanya tak datang menemui kami untuk makan siang. sepertinya karyawan lainpun melupakan makan siang mereka. maka dari itu aku memesan puluhan Box makanan untuk Nita bagikan pada semua staf diruanganku.
"Wahhh.. kalian benar-benar karyawan teladan!" tukas Nita seraya memberi semangat.
"Laper taukkk!" rengek Anwar pada Nita.
Aku menyeringai geli.
"Ya sudah, kalian boleh makan dulu. setelah itu lanjut kerja lagi." tukasku seraya memanggil dua OB yang membawa 4 buah kotak besar berisi makanan.
"Kamu beliin kita makanan Lis?" seru Rahma kaget.
"Saya gak tega, liat kalian kelaparan dan cuma ngemil biskuit begitu." tukasku setengah menyindir.
"Iya juga sih. makan biskuit begini mana bisa bikin badan kita semangat buat kerja" desah Billy.
"Ya sudah, tolong bagikan pada yang lain juga ya. saya mau ke dalam." pamitku pada yang lain.
Aku kembali masuk ke dalam ruanganku,melihat beberapa file dan dokumen yang sudah menumpuk di atas meja.
Ku lirik meja mas Sandy masih berantakan. apakah dia sudah makan siang?
Ya ampun! aku sampe lupa meneleponnya tadi, karena terlalu Asik mengobrol. Ku ambil ponsel dari dalam tasku. dan segera menghubunginya.
"Mas? mas Sandy masih di pabrik? mas Sandy udah makan siang belum?" cerocosku cemas.
"Udah sayang! saya baru kembali dari kantin pabrik." Sahutnya.
"Oh, syukurlah. saya lupa menelpon tadi. karena terlalu Asik mengobrol dengan Nita." aku terkekeh kecil.
"Kalian pasti membicarakan saya 'kan?" sindirnya penuh percaya diri.
"Mana boleh saya membicarakan suami sendiri pada orang lain." ralatku cepat.
"Saya kembali sebentar lagi," timpalnya.
"Baiklah suamiku, selamat bekerja!" pungkasku.
"Heh! masa cuma begitu, kamu gak berniat memberi saya ciuman?" godanya.
"Disini banyak orang mas, saya sedang diskusi dengan staf!" bisikku berbohong.
__ADS_1
"Kamu jangan bohong, sejak tadi saya tak mendengar suara orang lain." sindirnya yakin
Aku berdecak ketus,telinganya tajam sekali. batinku.
"Ayooo!" desaknya.
"Gimana kalo ciumannya, nanti saja di rumah." tukasku memberi saran yang pasti tak di sukainya.
"Memangnya kenapa kalau sekarang!" pinta mas Sandy setengah memaksa.
TOK..
TOKK..
"Masuk!" sahutku setelah mendengar bunyi ketukan di pintu.
Aku terkejut saat tahu jika bu Ayu lah yang masuk ke ruanganku.
"Siapa sayang?" tanya mas Sandy.
Namun aku tak bisa menjawab pertanyaannya dan dengan cepat ku simpan ponselku tanpa mematikan sambungannya terlebih dahulu.
"Bu ayu," aku bangkit seraya memberinya sapaan.
"Duduklah, tak perlu bersikap begitu pada saya." Bu Ayu duduk terlebih dahulu.
"Ibu adalah wakil Direktur, bagaimana bisa saya bersikap biasa saja," Aku tertunduk ragu.
"Saya kemari hanya untuk mengobrol sedikit. Mumpung senggang!" Bu Ayu melirik meja mas Sandy yang jelas masih kosong. dia tentu bicara dengan leluasa karena mas Sandy yang tak ada di tempatnya.
"Silahkan bu," Tiba-tiba saja hatiku merasa tak tenang sekarang.
"Apa kamu yang menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak MEGA.Models?!" selidiknya.
"Iya tentu saja. karena dokumennya yang datang sendiri pada saya!" tukasku balik menyinggungnya.
"Kenapa? apa kamu berfikir saya sengaja melakukannya agar dokumen itu kamu yang tandatangani?" bu Ayu menatapku serius.
"Saya fikir, tak ada orang lain yang sengaja mau mengirimnya. sedangkan mereka tahu banyak, tentang hal yang sama sekali saya tak pahami bu." Aku tersenyum tipis.
"Ternyata kamu pintar juga. saya salah mengira selama ini. saya memang sengaja mengirimnya. saya ingin tahu seberapa berani kamu mengambil keputusan,awalnya saya kira kamu akan menolak dokumen itu, tapi ternyata kamu bernyali besar." bu Ayu melempar pandangannya ke arah lain. namun seolah mengejekku.
"Ini adalah bisnis, saya tak mungkin membuang peluang besar seperti ini. hal yang menyangkut keuntungan perusahaan, tentu saya tak akan berpikir dua kali untuk menerimanya."
"Iya kamu benar. ini adalah peluang besar! Vina bukan orang sembarangan yang begitu saja saya pilih. dia memiliki daya tarik yang sangat luar biasa, saya yakin Sandy juga setuju dengan hal itu." jelasnya.
Aku tersenyum tipis. tentu kalimat itu dia tujukan untuk merendahkanku. Namun apa boleh buat, aku tak bisa menyanggahnya. karena memang semua itu adalah kenyataan.
• • • • • •
__ADS_1