
"Wah pak Fajar hebat sekali. kalau saya, justru lebih fokus mengajarkan anak saya pada ilmu ekonomi dan bisnis. jaman sekarang, kita harus bisa membaca peluang sejak dini." tukas orang tua lainnya.
Mereka Asik mengobrol dan membanggakan anak-anak mereka dan sesekali di timpali dengan candaan khas ibu-ibu.
Aku yang duduk di meja paling ujung bersama bu dewi dan pak yanto hanya bisa mendengarkan obrolan mereka, tanpa berniat ikut campur.
"Bagaimana dengan anda pak Sandy?" seloroh pak Indra penasaran.
Sepertinya pak Indra ini tipe orang yang polos dan sangat ingin tahu. tapi tak mencari tahu dulu siapa dan bagaimana latar belakang orang yang dia beri pertanyaan,hingga terkesan menyudutkan.
"Saya sibuk bekerja, soal mengurus anak saya serahkan pada istri saya sepenuhnya. tapi saya yakin, Andi anak yang pintar. buktinya dia memiliki prestasi yang bagus di sekolah." tukasnya yakin.
Aku tersenyum lega. Untunglah mas Sandy selalu mengecek pelajaran Andi sehabis pulang dari kantor. sehingga dia bisa tahu bagaimana prestasi Andi di sekolah.
"Oh begitu ya, benar juga. istri kita lebih tahu yang terbaik dalam. mendidik anak-anak kita." Pak Indra tersenyum enteng.
"Pa, kalau ngobrol terus. kapan habisnya!" Seloroh sang istri yang akhirnya bersuara meski dengan tatapan sinis.
Aku tersenyum padanya, seingatku wanita ini adalah orangtua dari murid yang bernama Edward. hanya saja aku lupa namanya. lagipula sejak tadi, aku tak sempat bertegur sapa.
Obrolan siang ini di dominasi oleh bapak-bapak yang pada akhirnya membahas tentang bisnis dan pekerjaan. kebanyakan dari mereka merupakan pekerja kantoran. ada yang berprofesi sebagai pengacara, pengusaha juga pegawai negeri. namun mas Sandy sepertinya tak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. bahkan kebanyakan dari mereka bersikap acuh pada suamiku.
"Apa mereka gak tahu, kalo suami kamu itu CEO perusahaan besar?" bisik bu dewi pelan.
Aku menatapnya dan tersenyum.
"Gak dikenal juga gak apa-apa bu. gak ada ruginya." aku menyeringai kecut.
"Lebih baik gak di kenal toh! daripada banyak yang kenal, nanti malah repot!" celetuk pak yanto yang sepertinya menguping obrolan kami.
"Mas Sandy mau tambah sayurnya?"
"Gak usah sayang. saya kenyang." sahutnya lembut.
Aku tersipu mendengar jawabannya, biasanya dia selalu memanggilku dengan sebutan 'Teh' panggilan yang katanya kesayangannya. tapi mungkin dia menghargaiku di depan banyak orang. dan perlakuannya itu membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia.
"Saya mau lis, tolong ambilkan!" pinta pak yanto seraya menyodorkan piringnya.
"Ya udah nih pak. makan yang banyak! Mumpung masih banyak waktu." godaku terkekeh.
"Makan terus. nanti Gak bisa bangun!" ledek bu Dewi.
Aku dan mas Sandy hanya tersenyum geli melihat keusilan kedua pasangan ini.
__ADS_1
•••
Acara makan siang telah selesai. para orang tua sudah berkumpul di depan halaman Villa. Begitupun dengan para murid yang sudah berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Masing-masing dari mereka terlihat membawa sebuah keranjang sayuran.
"Baiklah, anak-anak tolong diperhatikan! Hari ini pak Abdul kebetulan akan memanen sayuran. jadi tugas kalian adalah membantu pak Abdul mengambil sayuran yang bagus untuk di jual ke pasar. para Ayah juga boleh turun dan membantu anak-anaknya. dan untuk para ibu, silahkan mendukung pekerjaan suami dan putra-putri anda. biarkan mereka bekerja dengan kompak sebagai sebuah tim." jelas pak Ibrahim.
"Dan untuk penilaian akan di lakukan langsung oleh pak Abdul. jadi kalian boleh bertanya bagaimana cara memanen dan memetik sayuran secara benar ya anak-anak!" sambung bu Maryam.
"Baiklah, karena hari hampir sore kita segera berangkat menuju perkebunan saja!" ajak pak Rahmat selaku panitia yang bertugas menunjukkan jalan.
Anak-anak dengan antusiasme yang tinggi segera berhamburan mengikuti jejak pak Rahmat di ikuti oleh para ayah dan ibu-ibu dari arah belakang.
Sebagian dari kami Asik memotret alam sekitar,ada juga yang sibuk berfoto. Sementara aku hanya fokus pada Andi dan mas Sandy. apakah mereka bisa sekompak anak dan orangtua lainnya?
"Pak, hati-hati ya! jangan sampe Reyhan jatuh. nanti bajunya kotor!" celoteh bu Dewi pada sang suami.
Ku tatap mas Sandy yang hanya fokus berjalan tanpa bicara atau melirik ke arahku. apa dia juga gugup? sama sepertiku?
Ayolah mas! kamu dan Andi pasti bisa!!!
"Kita sudah sampai!!!" Seru pak Rahmat.
Kebun sayuran di lereng gunung ini memang sangat curam. beruntunglah jenis tanahnya sangat gembur sehingga tidak begitu licin saat di pijak. juga karena metode konservasi berupa terasering dan sengkedan membuat panjang lereng sedikit berkurang, sehingga tidak begitu curam. Namun harus tetap berhati-hati saat berjalan menuruni lerengnya.
"Anak-anak coba lihat di sebelah kiri kalian, Kira-kira tanaman apa itu???" tanya pak Abdul.
"Pintar. coba perhatikan ya, bagaimana bapak memanennya! kalian juga harus hati-hati! jangan sampai merusak sayurannya!" jelas pak Abdul sembari memanen kubis di hadapannya.
Ku lihat mas Sandy dan Andi begitu serius memperhatikan apa yang sedang dilakukan pak Abdul. membuat aku gemas karenanya.
"Seperti ini ya! jadi kelopak yang berwarna hijau dan bolong-bolong ini kita kupas dan kita buang. jadi tersisa bagian yang bagus dan bersih seperti ini, setelah itu boleh kalian masukkan ke dalam keranjang."
"Paham anak-anak?!" tanya bu Maryam.
"Paham buu...!" sahut mereka.
"Kalau begitu, ayo kita mulai. kalian boleh ambil sebanyak yang kalian bisa!" tukas pak Abdul.
Dan akhirnya semua anak mulai sibuk mencari kubis yang besar untuk mereka panen. ku lihat Andi tampak sibuk mencari-cari.
"Om papa! ini besar!!!" teriak Andi.
Mas Sandy mendekat dan berjongkok di depan sayuran kubis itu. lama sekali baru dia mau menyentuh kelopak sayurannya.
__ADS_1
"Ayo mas,.. gak apa-apa! tarik aja!" seruku gemas.
"Mama, om papa takut ulet!" teriak Andi.
Mendengar kata 'Ulat' beberapa ayah dan anak lain pun saling melirik. Mereka jadi waspada dan terlihat hati-hati juga. takut jika mereka menemukan hewan menjijikan itu.
"Sini om papa! Andi yang pegang!" Andi menyimpan keranjangnya dan mulai mengelupaskan satu demi satu kelopak kubis yang tua.
Aku tersenyum bangga. tentu saja Andi mahir melakukannya, dulu saat dia berusia 5 tahun. Aku pernah mengajaknya memanen kubis di kebun tetangga. bahkan dia sangat senang melakukannya.
"Lis, kamu inget Gak? dulu Andi sama Reyhan pernah panen kubis juga di kebun tetangga?" celetuk bu dewi yang sepertinya mengingat hal yang sama.
"Iya bu, saya ingat. Untunglah mereka Gak lupa bagaimana caranya." bisikku.
"Yeaayyyhhh!" Andi berteriak girang saat mas Sandy berhasil memotong kubis dari Pohonnya.
Mereka berdua tampak begitu kompak. sementara ku lihat di ujung sebelah kiri ada anak yang menangis.
"Papa! takut ulaaatttt...!!!" jeritnya
"Itu kan Adrian ya? anaknya bu sarah!' desis bu Ayu.
"Oh iya bu. kenapa ya?"
"Mungkin ngeliat ulat kali Lis," tukasnya.
"Bapak sini!!!" teriak Reyhan
Aku dan bu Dewi kembali fokus pada Andi dan Reyhan.
"Ini belum beres nak, kenapa kamu malah lari kesana?" protes pak yanto.
"Itu kubisnya jelek! Reyhan Gak mau!" sahutnya ketus.
Aku dan bu Dewi terkekeh melihat kekonyolan mereka berdua.
Terik matahari di temani semilir angin sejuk menambah semangat para anak dan ayah yang tengah berkebun itu.
Teriakan dan tawa mereka begitu ramai, membuat beberapa pengunjung juga tertarik untuk melihat lebih dekat.
"Om papa! beraaaattt!" seru Andi yang ku lihat sudah mendapatkan banyak kubis di keranjangnya.
"Kita gotong!" ajak mas Sandy antusias.
__ADS_1
Aku tersenyum lega. Kekompakan mereka memang tak di ragukan lagi. Aku jadi teringat saat mereka membuat pancake di apartemen mas Sandy Beberapa waktu lalu. dan mereka pun sekompak ini.
• • • • • •