PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•65


__ADS_3

Selesai sarapan, aku memaksa mas Sandy untuk segera meminum obatnya.


"Pintarnya!" godaku sembari meletakkan gelas yang dia berikan.


Mas Sandy menatapku manja,ku periksa dahinya untuk memastikan apakah demamnya sudah reda.


"Demamnya masih belum turun mas. mas Sandy sepertinya harus banyak istirahat." ku tarik selimutnya hingga sepinggang.


"Saya baik-baik aja teh! cuma demam. mana bisa menumbangkan saya!" selorohnya angkuh.


"Lagian kenapa mas Sandy gak mau di rawat di rumah sakit aja sih?" tanyaku


"Kalau saya di rawat. terus gimana sama urusan kantor? bahkan saya harus menunda meeting saya pagi ini. dan itu meeting penting." jelasnya sembari mengernyit memegang kepalanya.


"Mas! jangan terlalu memaksakan diri. saya gak mau sakitnya makin parah!" Aku menatapnya cemas.


"Oke,Saya akan istirahat asalkan teh Alis tetap disini!'' pemuda itu menarik lembut tanganku. Aku menghela nafas dalam. Sikapnya yang begitu manja,mungkin akibat kurang mendapatkan perhatian sewaktu kecil.


"Saya selalu bermimpi buruk jika sedang demam!" lirihnya.


"Mas Sandy Gak usah khawatir. saya gak bakal kemana-mana kok mas!" ku usap lembut kedua tangannya.


Ku bantu menurunkan bantalnya agar mas Sandy tidur dengan nyaman. pemuda itu mencoba memejamkan matanya perlahan.


Aku duduk disamping tempat tidurnya. memegang erat sebelah tangannya. kutatap dalam wajah mulus nan tampan itu. tak percaya rasanya jika dia adalah milikku sekarang. sosok yang sama sekali asing bagiku. tapi entah kenapa, aku justru merasa sangat dekat dengannya,seperti sudah mengenalnya sejak lama.


Ku lirik jam tanganku,ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar itu.


Aku berbalik dan memperhatikan mas Sandy. apakah dia sudah benar-benar tertidur pulas. setelah ku pastikan aman,aku melepas pegangan tanganku. lalu beralih menuju meja dan merapikan sisa sarapannya.


Kamar ini sepertinya sudah bersih Karna bi Marni pasti sudah lebih dulu membersihkannya. Mataku beralih melihat beberapa dokumen yang sejak tadi tersusun rapi di atas meja. Aku duduk di sofa dan menilik satu persatu dokumen itu dengan hati-hati.


Beberapa dokumen tampaknya seperti laporan data bulanan perusahaan. aku saja yang baru melihat beberapa menit ribuan angka di atas kertas ini sudah merasa pusing. apalagi mas Sandy yang melihat sekaligus menganalisa datanya.


"Liatnya aja bikin pusing" gumamku mengerjap-ngerjapkan mata pelan. tak terbayang bagaimana mas Sandy melihat semua dokumen-dokumen ini setiap hari. pantas saja dia bisa lupa banyak hal jika sudah menyangkut pekerjaan. ternyata memang serumit ini pastilah harus teliti.


Saat merapikan dokumen ditanganku, ada sebuah kertas berbeda berukuran sedikit lebih kecil dari kertas-kertas yang kupegang. Ada catatan kecil disana.


29 Desember, 2018.

__ADS_1


Hari ini tepat 16 tahun sudah kalian pergi. Maaf,karna Sandy belum bisa menjenguk kalian.


Sandy sangat sibuk!


Ini semua Karna ulah papa yang terlalu banyak meninggalkan pekerjaan di dunia. dan pada akhirnya Sandy lah yang melanjutkan semua tugas papa.


Papa tahu, tante Ayu tak bisa apa-apa! bahkan dia sangat menyebalkan setelah kepergian kalian.


Maaf karna kami sekarang tidak terlalu akur untuk sekedar duduk bersama dimeja makan.


Oh iya, ma. Maaf juga Sandy sudah lancang meminjam baju mama dan memberikannya pada seorang wanita.


Kalian pasti bertanya-tanya siapa wanita yang Sandy maksud?


Tenang saja, Sandy akan kenalkan pada kalian jika sudah ada waktu.


Pa, ternyata papa benar.


Teman-teman Sandy semuanya munafik. Mereka baik Karna mereka memiliki tujuan lain, selain ingin menjadi teman.


Maaf juga, karna tak hati-hati Sandy sempat kecelakaan kemarin. tangan dan kaki Sandy patah. Sandy tak bisa bangun selama 2 bulan. tapi kalian tahu apa hikmah dibalik itu semua? Sandy menemukan dia ma. wanita yang Sandy rasa bisa membuat Sandy bahagia hanya dengan menatapnya saja.


Sandy benar-benar sangat merindukan kalian. Sandy merasa kesepian ma.


Sandy tak punya tempat berkeluh kesah. Sandy juga tak punya tempat untuk bertukar pikiran pah. Sandy sendirian.


Malam ini Sandy sulit tidur.


Sandy baru saja selesai melihat-lihat lagi foto keluarga kita. ternyata kenangan indah itu sudah berlalu cukup lama. Ingin rasanya Sandy memeluk erat kalian lagi seperti foto kita belasan tahun lalu saat liburan ke Swiss. itu adalah kenangan yang paling indah yang Sandy miliki. terima kasih kalian berdua telah menciptakan masa-masa indah untuk Sandy kenang.


Semoga kalian Bahagia di surga sana.


Miss you so much mom, and dad.


Your son, Sandy Hadiwijaya.


Aku terenyuh menatap lama surat cinta di tanganku itu. ternyata mas Sandy begitu merindukan kedua orangtuanya.


Sekarang ini pasti menjadi masa tersulit dalam hidupnya. kehilangan orangtua sejak usia belasan tahun. beradaptasi dengan dunia luar, hingga memangku beban berat dipundak karna harus mengurus perusahaan besar. lalu sebuah kecelakaan tragis yang nyaris saja merenggut nyawanya.

__ADS_1


Dan Mas Sandy sudah melewati semua kesulitan itu sendirian. ternyata penderitaanku selama ini tak ada apa-apanya di bandingkan dengan semua masalah yang mas Sandy hadapi.


Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran. tentang sosok teman yang dibicarakannya. pastilah orang itu sangat dekat dengan mas Sandy. hingga dia merasa dikecewakan olehnya. dan lagi, dokter Hasan pun seakan tahu jika ada masalah diantara mas Sandy dan temannya. Ah! seandainya aku bisa tahu siapa orang itu. sungguh aku ingin lebih banyak mengetahui apa yang terjadi antara mereka berdua. sedekat apa mereka. dan mengapa mereka bisa saling membenci.


"Tunggu, tadi mas Sandy bilang. bahwa dia meminjam baju mamanya. jangan-jangan baju itu yang dia berikan padaku saat kami menginap di rumah mas Sandy beberapa waktu lalu?" gumamku mencoba menebak.


"Maafkan saya mas," Desahku penuh sesal. aku akui jika aku sudah berpikir yang buruk tentangnya. Sungguh sangat memalukan.


"Mamaaaa...!" Mas Sandy berteriak cukup keras hingga membuatku terperanjat dan segera berlari mendekat.


"Mas,ada apa?" aku menatapnya panik.


Mas Sandy terlihat terengah-engah. wajahnya basah oleh keringat. matanya menatapku penuh rasa takut.


"Ternyata hanya mimpi" desahnya lega.


Ku periksa dahinya dan beruntunglah demamnya sudah turun.


"Mungkin itu efek dari demamnya mas. kamu jadi mimpi buruk!" aku mengusap pundaknya lembut.


Tiba-tiba saja mas Sandy memeluk pinggangku cukup erat. dia bersembunyi dibaliknya. seperti bocah kecil yang sedang ketakutan. Kaget tentu saja. Bahkan tak pernah ada yang memelukku seperti ini. Namun bukan itu yang jadi pertanyaan. tapi, kenapa mas Sandy bersikap begini.


"Mas, apa mas Sandy baik-baik saja?" tanyaku.


"Saya sangat rindu mereka teh. saya ingin memeluk mereka seperti ini. berlindung dibalik tubuh kuat mereka" gumamnya nyaris tak terdengar.


Aku terpaku. ku usap lembut pundaknya sekali lagi. aku tahu persis rasanya seperti apa. merindukan orangtua yang sudah tak bisa kita temui lagi didunia ini. adalah hal paling menyakitkan.


Berharap mereka masih bisa memeluk kita dan menguatkan kita dikala kita tengah terpuruk dan putus asa.


"Mas Sandy harus kuat mas!" gumamku mencoba meyakinkannya. bahwa dia bisa melewati rasa rindu yang menyiksa itu dengan segera.



Ternyata sakit karna patah hati bukanlah sakit yang paling menyakitkan.


Sakit yang paling menyakitkan itu ketika kita kehilangan kedua orangtua kita yang sudah memberikan kita kehidupan.


Melihat mas Sandy terisak, Akupun Jadi terbawa suasana. dan hanyut dalam kesedihan yang dirasakannya.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2