PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•179


__ADS_3

Sesi pemotretan berakhir dengan cepat. semua staf sudah membereskan barang-barang mereka.


Sementara Vina dan Antonio tengah menikmati makan siang mereka di salah satu ruangan yang sudah kami siapkan.


"Kenapa juga harus di traktir makan siang bu!" dengus Nita seakan tak setuju dengan ideku barusan.


"Kita tetap harus menghormati tamu. apalagi mereka relasi bisnis kita." sahutku enteng.


"Tapi kan, mereka jadi makin lama disini Bu. apalagi saya liat tadi, bu Ayu juga mampir ke ruangan mereka." jelas Nita hati-hati.


Aku tertegun.


Sejak tadi aku tak melihat bu Ayu. dan sekarang dia muncul hanya untuk menemui Vina. jujur sekali aku sangat iri atas perlakuannya pada gadis itu.


"Biarkan saja, mungkin mereka memang ada urusan pribadi. lagipula, mereka sudah kenal cukup lama." Aku berjalan pelan menuju ruanganku.


"Oh iya, tolong pesankan makan siang untuk saya dan mas Sandy. masih ada waktu kan?!"


"Siap bu. masih kok. kami berangkat pukul 2 siang ini." jelasnya yang kemudian beranjak pergi untuk memesan makanan.


Aku masuk ke dalam ruanganku, ku lihat mas Sandy sudah berganti pakaian. dan tengah merapikan dasinya.


"Sini mas,biar saya bantu!" aku berlari kecil menghampirinya.


Mas Sandy menatapku seraya mengulum senyum.


"Kenapa mas Sandy senyum-senyum" gumamku pelan.


"Saya sangat senang hari ini." jelasnya ambigu.


Ku lirik sinis dirinya,dan ku tarik kencang dasi yang ku pakaikan.


"Tentu saja mas Sandy senang. bisa berpelukan dengan salah satu model papan atas. siapa yang tak senang."


Mas Sandy menautkan kedua alisnya, namun ku abaikan.


"Saya senang karena melihat istri saya cemburu hari ini." bisiknya seraya mencubit gemas daguku.


"Siapa yang cemburu!" elakku cepat.


"Benarkah?!!" Mas Sandy menarik pinggangku dan melingkarkan kedua tangannya.


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba meminta semua staf berhenti di tengah-tengah pekerjaan mereka. Hmm?!!!" selidiknya.


Aku menggigit bibirku malu. sial! ternyata mas Sandy menyadari perubahan sikapku tadi.


"Karena memang foto kalian udah banyak. lagipula udah jam makan siang. Emangnya mas Sandy mau terus-terusan duduk sambil pelukan gitu, sama vina?!" Aku menengadah menatapnya ketus.


Mas Sandy terkekeh geli. namun tatapan matanya seakan ingin menerkamku.


"Seandainya ini bukan di kantor," decaknya seraya mencondongkan wajahnya padaku.


Dengan gesit aku mundur.


"Benarkan?! mas Sandy menikmati sesi pemotretan tadi!" selidikku penuh curiga.


Mas Sandy menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Yang memaksa saya kan kamu. yang meminta saya menyetujuinya juga kamu. kalau saya tidak bersikap profesional, pasti kamu berpikir macam-macam lagi nanti" sindirnya.


"Jujur aja deh, mas Sandy memang suka kan?" ledekku.


Tanpa banyak bicara, Mas Sandy mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di atas meja kerjanya.


"Ah! mas...!" pekik ku kaget.


"Satu-satunya hal yang membuat saya bahagia hari ini adalah melihat kamu cemburu. selebihnya, biasa saja!" bisiknya setengah menggoda.


Aku menatapnya dalam. mencari kebenaran atas ucapannya itu.


"Perlu saya buktikan sekarang?!" godanya lagi.


Dengan cepat ku Kecup bibirnya. Aku benar-benar tak tahan jika melihat sikap manisnya seperti ini.


Mas Sandy membalas ciumanku cukup lama. sebelum akhirnya terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


TOK..


TOKKK..


Ku dorong pelan tubuhnya dengan sisa nafasku yang masih memburu.


"Masuk!" sahut mas Sandy seraya menurunkanku dari atas meja.


Kurapikan rambutku sesaat.


"Vina," Gumamku kaget.


Begitu juga dengan Vina yang sepertinya kaget melihat kami berdua dengan kondisi rambutku yang sedikit berantakan. tentu dia bisa menebak apa yang terjadi di antara kami barusan.


"Duduklah!" sahutku yang segera mempersilahkannya menuju sofa.


"Apa aku mengganggu kalian?" tatapan matanya mengarah pada mas Sandy.


"Bicara langsung saja, tak perlu basa- basi," sahut mas Sandy sinis.


"Mas," desisku Cepat.


"Dan memang sepertinya aku mengganggu kalian ya. maaf sekali lagi." Timpal gadis itu.


"Mas Sandy memang begitu, itu karena dia kelelahan." jawabku berharap Vina memakluminya.


"Ya, tentu saja aku tahu. dia selalu begitu sejak dulu." Vina tersenyum simpul seraya duduk dengan santai.


Aku tersenyum. ucapannya barusan itu seolah ingin menunjukkan bahwa dia lebih mengenal mas Sandy dari pada aku.


"Apa ada hal penting, hingga kamu datang kemari sendirian?" tanyaku lebih lanjut.


"Aku pikir, ruangan kalian terpisah. ternyata saling berdampingan." tukasnya tampak sedikit kecewa.


"Ya begitulah, mas Sandy yang merancang ruangan ini." sahutku tenang.


"Oh iya, bagaimana dengan hasil foto kemarin san? Ini memang bukan tugasku untuk bertanya. hanya saja, aku penasaran. lebih baik aku tahu lebih dulu foto mana yang menurut kamu kurang bagus." selorohnya.


Aku menghela nafas pelan. padahal jelas-jelas aku ada di hadapannya. kenapa dia lebih memilih bicara pada mas Sandy yang jelas duduk sedikit lebih jauh darinya.

__ADS_1


Mas Sandy menoleh pada Vina, lalu beralih menoleh padaku. ku balas tatapannya dengan senyuman.


"Semua fotonya bagus." jawab mas Sandy singkat.


"Benarkah?! kamu gak bohong? atau kamu ngerasa gak enak sama aku? bilang aja kalau memang tidak sesuai," tanyanya lagi.


"Enggak kok. semua foto kamu memang sangat bagus." sahutku menimpali.


Vina tersenyum padaku.


"San, aku minta pendapat kamu loh? aku tahu sejak dulu, kamu orang yang sangat Perfeksionis. makanya pendapat kamu sangat aku butuhkan. Yah anggap aja, untuk bahan evaluasi?" tukasnya antusias.


Aku menggaruk tengkukku bingung.


"Sejujurnya Alis yang pandai dalam hal ini, saya justru tak paham mengenai hal semacam ini. jadi, jika Alis bilang bagus. itu artinya sempurna." jawab mas Sandy.


"Begitu ya," Vina menyeringai kecut.


Mungkin tanggapan mas Sandy tak sesuai dengan keinginannya. mas Sandy masih saja bersikap dingin.


Tiba-tiba Mas Sandy bangkit dari duduknya.


"Kamu mau kemana san?!" selorohnya kaget.


"Kalian mengobrol lah, saya harus menelpon seseorang" pamitnya kemudian keluar meninggalkan kami berdua di ruangan itu.


"Maafkan sikap mas Sandy," gumamku ragu.


Wajah Vina tampak sendu. dia pasti kecewa atas sikap mas Sandy yang begitu acuh padanya.


HIKS,


Tiba-tiba Vina terisak. dia menyeka airmatanya.


"Vina? kamu kenapa? tolong jangan di masukan ke dalam hati. sikap mas Sandy memang begitu. kamu kan tahu sendiri." aku berusaha menenangkannya.


Meskipun aku tak suka padanya, nyatanya kami ini sama-sama perempuan. dan aku tak tega jika melihat perempuan menangis seperti ini


"Aku tahu Sandy masih marah dan benci sama aku. makanya dia terus bersikap acuh. padahal aku ingin minta maaf, tapi kalau melihat sikapnya begitu terus. aku bisa apa?" rengeknya putus asa.


Aku menatapnya bingung. Akupun tak tahu harus bicara bagaimana agar Vina berhenti menangis.


"Sejak kami putus dan dia kecelakaan. sebenarnya aku benar-benar menyesal. tapi waktu itu, aku gak bisa berbuat banyak. Aku harus menyelesaikan Study ku. dan mungkin karena ambisiku yang terlalu besar, hingga akhirnya aku kehilangan orang yang sangat mencintaiku." sesalnya.


Hatiku bergemuruh, tapi aku juga tak bisa marah padanya. mungkin perpisahan itu bukan keinginannya, mungkin semuanya terjadi karena takdir. dan Vina tak terima dengan takdirnya.


Lalu aku bisa apa? Haruskah aku......


"Alis, aku mohon. cuma kamu yang bisa buat Sandy memaafkan semua kesalahan aku selama ini. kamu bisa kan tolong aku! sekali aja!" bujuknya setengah memohon. Bahkan dia memegang kedua tanganku dengan erat.


Ayolah Alis! jangan bertindak bodoh lagi. sudah cukup kamu menciptakan keributan atas keputusanmu sendiri! batinku berkecamuk.


TOK..


TOKK..


Ketukan pintu tiba-tiba saja serasa menyelamatkanku dari permintaan 'terkutuk'nya.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2