
Aku masih tertunduk malu. enggan menampakkan wajah sembabku padanya. Namun ku yakini mas Sandy masih menatapku dan tak berpaling. sejak tadi dia bertanya namun aku belum mau menjawabnya.
"Katakan! teh Alis ngapain disitu?!" tanyanya untuk kesekian kali.
Aku menoleh pelan.
"Saya pulang kerja mas," jawabku lirih
"Terus kenapa nangis? teh Alis gak kenapa-kenapa kan? siapa yang berani nyakitin teh Alis kaya barusan?" desaknya,seakan masih penasaran kenapa aku bisa menangis seperti barusan. jika ku pikirkan lagi, tak seharusnya aku menangis sesenggukan begitu didepannya. dan itu benar-benar membuatku malu pada akhirnya.
"Saya cuma capek,-" Aku menggantung kalimatku saat teringat wajah pak Ivan
Mas Sandy terdengar menghela nafas dalam. lalu menyalakan mobilnya.
"Kita bicara di rumah saja!" Tukasnya
"Rumah siapa?" selorohku yang tak ingin dia membawaku ke rumahnya.
"Saya gak mungkin bawa teh Alis ke rumah saya. sementara saya janji pada Andi untuk segera membawa teh Alis pulang!" jawabnya sembari fokus menyetir.
Aku tak berani bertanya lagi.
Entah kenapa,aku merasa mas Sandy tengah marah sekarang. Ku biarkan dirinya mengemudikan mobil hingga tiba di rumah.
•••
Mas Sandy membukakan pintu mobil dengan segera dengan sebuah payung ditangan kirinya.
Kami berdua berdiri didepan pintu. kondisi hujan lebat membuat suasana disekitar tempatku begitu sepi. Dan Aku semakin khawatir dengan Andi yang berada di rumah sendirian.
Aku bergegas membuka pintu yang tampaknya tak dikunci dari dalam.
"Andi.. Andii..?!"
Tak berapa lama Andi keluar dari kamar dan segera berlari ke arahku. aku berlutut seraya mendekapnya erat.
"Mama kenapa lama banget pulangnya?" rengeknya terdengar kesal
"Maaf!" lirihku yang memang tak mampu mengucapkan kata lain selain itu. Andi mengurai pelukannya. dia menatapku lekat.
"Mama nangis?"tanyanya heran
"Enggak. mama kehujanan makanya wajah mama basah!" sahutku menyeka airmata.
__ADS_1
"Iya, mama nangis. dia khawatir Karna Andi sendirian di rumah." celetuk mas Sandy. Aku menoleh sesaat lalu beranjak menuju kursi dan duduk bersama Andi.
"Andi Gak apa-apa kok ma. untung tadi om Sandy ke rumah. bawaan Andi mainan banyak banget. jadi Andi Gak takut!" celotehnya dengan menujukkan sebuah mobil-mobilan kecil ditangannya.
"Terima kasih banyak mas." aku menatap haru pada sosok mas Sandy yang masih mematung disamping pintu.
"Mas Sandy duduklah! biar saya buatkan minum?"
"Gak usah teh. lebih baik kamu ganti baju. saya gak mau kamu masuk angin!" perintahnya yang melihat rambut dan bajuku kebasahan.
"Andi tunggu sebentar ya. mama ganti baju dulu!" pamitku meninggalkan keduanya menuju kamar mandi.
Aku bersandar dibalik pintu kamar mandi. Ada perasaan lega karna akhirnya dia muncul kembali. tapi bagaimana sekarang? harus seperti apa aku bersikap padanya? Aku mengacak rambutku frustasi.
Setengah jam sudah aku berganti pakaian. Aku keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. ku lihat mereka tengah asyik bermain. seperti biasa,Andi begitu antusias jika mas Sandy yang menemaninya bermain.
"Mas, mas Sandy Gak mau minum sesuatu?" tanyaku pelan.
"Gak perlu teh." Tukasnya seraya fokus merakit mainan ditangannya.
"Om, kemana aja sih? kenapa baru kesini?" tanya Andi penasaran.
"Om sibuk sayang. Nanti setelah Andi besar. Andi juga akan tahu sesibuk apa orang dewasa." tuturnya.
Ku tatap lama kedua orang berbeda usia di hadapanku ini. Mas Sandy sepertinya tak ingin membahas apapun denganku, selama Andi masih terjaga.
•••
Andi yang sejak tadi menguap akhirnya menyerah dan memilih tidur bersandar disamping mas Sandy.
"Saya pindahkan Andi ke kamar!" tukasnya seraya menggendong Andi dan membawanya ke tempat tidur. Aku mengekorinya dari belakang. Ku lihat mas Sandy menyelimutinya dan tak lupa mengusap lembut dahinya.
"Tidur yang nyenyak jagoan!" bisiknya.
Sikap yang sangat manis, yang bisa membuat siapapun luluh melihatnya. Aku menatap mas Sandy dalam,selalu saja terasa sakit saat melihatnya bersikap begitu perhatian pada putraku.
Mas Sandy berjalan ke arahku. dia menatap lama padaku. tatapan yang seakan ingin bercerita banyak hal tapi tak mampu mengutarakannya. dan hal itu pula lah yang aku rasakan saat ini.
Aku benar-benar tak tahu harus memulai obrolan darimana.
Bahkan tatapan tajamnya mampu membuat otakku membeku seketika.
"Apa mas Sandy lapar?" selorohku akhirnya.
__ADS_1
"Saya tak ingin makan apa-apa. yang saya mau hanya--," Mas Sandy menatap sayu bibirku.
"Hanya?!" tanyaku sembari melangkah mundur.
"Hanya-, Penjelasan. kenapa teh Alis ada disana tadi sore!!!" matanya berkilat penuh ancaman.
"Saya pulang kerja." Jawabku memalingkan wajah.
"Benarkah? lalu kenapa teh Alis menangis?" desaknya lagi.
Aku memutar bola mataku bingung. haruskah aku bilang padanya jika aku bekerja pada pak Ivan? tidakkah itu berlebihan? bagaimana jika Mas Sandy tak suka aku bekerja disana? sikapnya saja begitu ketus pada pak Ivan saat bertemu di rumah. jelas dia tak suka padanya.
"Ayo katakan teh!"
"Saya hanya sedang rindu!" Selorohku yang tiba-tiba saja ingin memeluknya.
Aku mendekapnya erat. bohong jika aku tak merindukannya. tapi ini juga kulakukan untuk menghidari kecurigaannya.
"Benarkah!" gumamnya seraya membalas pelukanku dengan begitu erat. dan aku hanya mengangguk saja menjawab pertanyaannya.
"Maafkan saya yang tak bisa menghubungi teh Alis dan Andi kemarin-kemarin. pekerjaan saya begitu banyak. saya sampai tak bisa bernafas. saya pikir, saya akan lupa dengan kalian setelah bekerja. tapi nyatanya, saya malah semakin rindu pada kalian. makanya saya berniat memberi kejutan dengan datang sore ini." jelasnya.
Mas Sandy melepaskan pelukannya, dia menatapku penuh kebahagiaan dengan senyumnya yang menawan. Dan belum pernah kulihat raut wajahnya sebahagia ini.
"Jadi sekarang, saya sudah diterima?" tanyanya antusias.
"Apanya?" tanyaku tak paham.
"Seharusnya kita sudah resmi berpacaran sekarang." Mas Sandy menatap tajam padaku.
"Memangnya saya bilang kita pacaran?!"tolakku heran.
"Saya tak mau tahu. Kamu sendiri Yang bilang barusan. saya tak membutuhkan jawaban apapun lagi." paksanya seraya menarik kembali tubuhku ke dalam pelukannya.
"Kapan saya bilang mas! mas Sandy jangan mengada-ngada!" protesku.
Ku dengar hanya kekehan kecil dari bibirnya. dan kedua tangan kekarnya seakan enggan melepaskan tubuh mungilku.
Mungkin malam ini menjadi malam yang begitu indah untuknya. Akupun mencoba menepis semua kekhawatiran di dalam hatiku. Dan mulai menerima semua perasaan yang mas Sandy berikan untukku.
Karna memendam perasaan itu bukan hal yang mudah.
Akan ada banyak hati yang terluka karenanya...
__ADS_1
Dan aku tak ingin menyakiti mas Sandy lagi.
• • • • • • • •