PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•182


__ADS_3

"Alis, kamu kesini juga?!" seloroh sinta sedikit kaget.


"Iya lah, Alis kan tamu VIP di kedai pak Ivan." sahut Rahma seraya menggodaku.


"Begitu ya. aku pikir kamu Gak datang karena lembur di kantor." gumam gadis itu.


Aku menatap Sinta ragu. kenapa tatapannya seperti kecewa melihat kedatanganku. dan lagi, dia juga hafal betul jika aku lembur di kantor. apa Billy yang memberitahunya? batinku.


Sosok Sinta memang sudah lama ku kenal. bisa di bilang dia temanku, tapi terkadang aku juga memiliki perasaan lain padanya. sikap curiga dan marahnya padaku selalu terasa janggal dan aneh. Namun aku berusaha mengusir semua kecemasan yang ada dikepalaku.


Kami duduk melingkar di sudut ruangan. Aku, Rahma juga Sinta. tak lupa pak Ivan yang juga ikut mengobrol bersama kami.


Pembukaan produk baru masih setengah jam lagi, seorang pelayan datang membawakan minuman dan camilan khas kedai ini. sama sekali tak ada yang berubah. menu nya bahkan rasanya, masih sama persis seperti pertama kali aku bekerja disini.


"Bagaimana? apa rasanya berubah?" tanya pak Ivan padaku.


"Hebat sekali, bahkan setelah beberapa lama. rasa kudapannya tetap sama. coklat panasnya juga, tidak terlalu manis. kalian sungguh menjaga citarasa kedai ini!" sanjungku.


"Tentu saja, asal kamu tahu. saya sudah membuka cabang di 3 kota. dan semua citarasanya sama seperti kedai kita disini." jelasnya bangga.


"Wah, pantas aja bapak keluar dari kantor. ternyata sibuk jualan ya pak! memang sih, merintis bisnis seperti ini lebih enak daripada kerja kantoran." tukas Rahma.


Sinta menyikut pelan lengan Rahma tak seharusnya dia membahas masalah soal itu disini. tapi itu bagus juga, aku jadi punya kesempatan untuk bicara.


"Oh iya, soal surat itu. maaf.. saya tak tahu jika itu surat pengunduran diri dari pak Ivan." selorohku penuh sesal.


"Santai saja, lagipula saya memang tak cocok bekerja di bawah tekanan seperti itu. saya lebih suka bekerja sendiri. jadi bisa bebas melakukan apapun sesuai keinginan saya." jawabnya tersenyum ringan.


"Tentu saja. pak Ivan ini lulusan bisnis luar negeri. sayang jika bakatnya di pendam begitu saja. benar kan pak?" timpal Sinta.


"Bisa di bilang begitu." angguknya.


Tengah asyik mengobrol tiba-tiba kami semua di kagetkan dengan kehadiran seorang wanita yang sama sekali tak ku sangka akan hadir disini. tapi tentu saja, dia juga bagian dari masalalu pak Ivan.


"Heh! itu bukannya Vina? ngapain dia ke kedai ini?" seloroh Rahma.


Pak Ivan menoleh kaget. Sepertinya dia memang tak menyangka jika Vina juga akan datang. Gadis itu tampak mencari dirinya, dan saat keduanya saling menatap, Vina segera mendekat.


"Kenapa tuh cewek bisa ada dimana-mana sih? Gak balik aja keluar negeri sekalian" dengus Sinta.


"Kamu tega banget Gak ngasih tau aku Van?" tukasnya seraya memeluk pak Ivan di depan kami.


Sinta dan Rahma melotot tajam,


"Aduh! pake acara peluk segala? kayanya kamu kalah Start deh ta," sindir Rahma pada Sinta.

__ADS_1


Pak Ivan tampak melepas pelukannya karena merasa tak nyaman. Vina menoleh ke arah belakang dan tatapan matanya seakan terkejut melihat kehadiran kami. terutama mungkin aku.


"Alis? kamu... disini?" tukasnya kaku.


"Iya, begitulah.." sahutku menyeringai.


"Kamu mengundang mereka, sementara, aku tahu soal kedai ini dari Asistenku tadi?" Vina menatap pak Ivan kecewa.


"Duduklah, tak perlu berdebat seperti anak kecil," sergah pak Ivan cepat.


"Kalo gitu, akumaafin kamu! dengan syarat aku mau coklat panas buatan kamu sendiri" godanya sedikit manja.


Pak Ivan terlihat menghela nafas kasar, namun pada akhirnya dia menyetujui permintaan gadis itu. bisa ku lihat betapa Vina juga sangat manja pada Ivan. mungkin, jika mas Sandy belum menikah dia juga akan bersikap sama. lalu kenapa pak Ivan sepertinya malas meladeni Vina. bukankah dulu mereka pernah bersama? apa mereka putus secara tidak baik? atau memang sebenarnya mereka tak pernah benar-benar berpacaran? batinku menerka-nerka.


"Oh iya Alis,dimana Sandy? dia gak kesini?" selidiknya.


"Mas Sandy diluar kota." tukasku dingin.


"Ah.. ternyata benar! mereka berdua belum berbaikan. kaya anak kecil aja! bahkan untuk menghadiri acara begini aja, dia harus kabur ke luar kota. lucu sekali." gerutu Vina seakan mengetahui segalanya tentang hubungan Pak Ivan dan mas Sandy.


"Maksud kamu mas Sandy sengaja menghindar?" selorohku.


Vina terhenyak, dia pasti lupa jika aku 'istrinya' atau dia juga tak sadar bahwa aku juga tahu tentang hubungan mereka bertiga di masa lalu.


Rahma berdecak kesal mendengar jawaban Vina barusan.


"Kamu kirim pesan sama mas Sandy?" tanyaku lagi. apa jangan-jangan selama ini mereka juga sering berkirim pesan. tapi sikap mas Sandy sama sekali tak mencurigakan. apa mungkin aku yang terlalu percaya padanya.


"Iya. tapi sayangnya dia tak membalas. Sandy banyak berubah sekarang." keluhnya.


"Dia berubah karena udah punya istri yang lebih cantik." gumam Rahma pelan.


Aku menoleh pada Rahma.


"Wah, itu coklat panasnya udah datang!" serunya antusias saat pak Ivan membawa secangkir coklat panas beserta camilan lainnya.


"Ah, sayang banget, aku tak makan manis di jam 8 malam. nanti aku gendut!" bisiknya pelan.


Sinta menatap kudapannya yang sedang di santapnya.


"Kalo tak mau makan. kenapa datang kemari?" sindir pak Ivan.


"Hey! sebagai sahabat aku juga ingin lihat kamu sukses. bahkan kalau bisa melebihi papa kamu. melebihi Sandy juga. cuma, kamu itu terlalu perasa jadi orang. makanya selalu kalah." dengus Vina polos.


Gadis itu benar-benar berubah di depan pak Ivan. sikap angkuhnya hilang. gaya bicaranya juga sangat manja. mungkinkah Vina masih sangat mencintai pak Ivan? jika mas Sandy melihat pemandangan seperti ini di depannya. bagaimana ya? apa dia akan sakit hati? lagi-lagi aku bergulat dengan pikiranku sendiri.

__ADS_1


"Oke baiklah, tiba saatnya pembukaan menu baru di kedai kami. dan untuk 15 orang pelanggan pertama. kalian boleh makan gratis!!!!" teriak ilham yang sepertinya bertugas sebagai pembawa acara. semua pelanggan riuh mendengar kata gratis. tentu saja, kedai ini selalu ramai setiap harinya. dan aku yakin para pelanggan mereka semakin bertambah. tak akan rugi rasanya jika memberi makanan gratis untuk beberapa orang saja.


"Apa aku dapat gratis juga?" goda Vina.


"Kamu banyak uang, ngapain minta gratis." sindir Ivan cuek.


"Aku borong sama pemilik kedainya boleh?" celetuknya lagi.


Pak Ivan melirik sinis padanya. sikap berisiknya itu benar-benar seperti anak kecil.


"Ini Vina yang kerjasama sama kita tadi siang bukan sih? kok beda banget? yang ini rewel?" bisik Rahma padaku.


Aku tersenyum kecut.


Entah seperti apa hubungan mereka sebenarnya. benarkah hanya sahabat? atau mereka memang saling mencintai? apa mungkin pak Ivan bersikap dingin untuk menghargai mas Sandy ya?


PING!


PING!


PING!


"Sayang, sebentar lagi aku sampe rumah. kamu udah tidur belum?" tanya mas Sandy.


Aku terperanjat.


Karena terlalu menikmati Acaranya. aku bahkan lupa waktu. Aku bangkit dari kursiku seraya merapikan tasku dengan cepat.


"Mau kemana lis?" tanya Rahma kaget.


"Mas Sandy pulang." sahutku cepat.


"Tapi kan, Acaranya baru dimulai?" cegah Rahma.


"Aku pulang duluan aja!" sahutku panik dan segera berlari keluar dari kedai


"Alis tunggu!" panggil pak Ivan segera.


Ku ambil ponselku dan segera menghubungi pak Muh. tapi, anehnya pesan yang ku kirim pada pak Muh juga belum dibalas. apa pak Muh ketiduran ya? batinku mulai cemas.


"Ayo,aku antar!" Tukas pak Ivan.


Ku tatap ragu dirinya. kenapa dia selalu menawarkan diri padaku. tak takutkah dia jika nanti mas Sandy salah paham lagi? gumamku tak habis pikir.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2