PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•123


__ADS_3

Aku berjalan pelan menuju pentry. Karena lama-lama kakiku ini terasa agak sakit. Aku menunduk untuk memastikan apakah ada lecet disana,


"Ah! pantesan" desahku setengah meringis melihat ada luka lecet dipergelangan kakiku.


Aku memperhatikan sekelilingku, tak adakah sandal atau semacamnya untuk ku pakai menggantikan sepatu ini. Aku menghela nafas lesu.


Setibanya di pentry aku segera membuatkan kopi untuk mas Sandy.


"Eh, bu Alis. mau bikin kopi? biar saya buatkan bu?" tukas Nita yang datang tak lama setelahku.


"Gak perlu Nita. terimakasih!"


"Kamu mau buat kopi juga?" aku menoleh pada cangkir yang di pegangnya.


"Saya lebih suka lemon tea" jawabnya.


"Ide yang bagus. cuaca panas begini, memang enak yang seger-seger sih" timpalku


Kami berdua mengobrol cukup lama tentang makanan dan lainnya. ternyata Nita wanita yang terbuka dan ramah. pantas saja mas Sandy sangat percaya padanya untuk urusan kantor.


"Ngomong-ngomong, bu Alis sangat cantik loh bu!" tukasnya pelan sebelum meninggalkan pentry.


"Terima kasih." aku tersipu seraya tertunduk.


"Saya duluan bu!" pamitnya.


"Silahkan." Aku tersenyum sembari mengaduk pelan kopi yang ku buat. semoga saja, aku tak mendapatkan kesialan selama ada disini. doaku dalam hati.


Setelah selesai,Ku bawa kopi itu dengan hati-hati karena masih sangat panas.


Namun entah kenapa, kakiku tiba-tiba terasa sakit dan aku hampir kehilangan keseimbangan.


"Awas!" Sebuah suara datang dari arah belakang sembari menahan kopi dan tubuhku. Aku tersentak kaget. nyaris saja kopi itu tumpah ke lantai dan bisa saja air panasnya mengenai kakiku. syukurlah ada orang yang menolongku. Aku menoleh ke arah belakang demi melihat siapa orang baik hati itu.


DEG!


Aku benar-benar dibuat kaget saat ku tahu orang itu adalah pak Ivan. pria berbadan tinggi semampai itu menatapku cemas. entah kenapa tatapan matanya justru terlihat sangat menakutkan bagiku.


Aku bergegas menjauhkan tubuhku darinya.


"Hati-hati!" Tukasnya lirih.


Aku menjauh. dan mengangguk pelan.


"Terima kasih." segera ku langkahkan kakiku meski terasa begitu sakit. aku tak ingin orang lain melihat. apalagi sampai mas Sandy tahu jika kami berduaan begitu. tentu akan menimbulkan masalah baru.


Ku tinggalkan Pak Ivan tanpa menoleh sedikitpun padanya. namun aku masih heran dengan tatapan matanya itu. tatapan mata cemas, Sejujurnya aku tak pernah melihatnya begitu. apa dia mencemaskan sesuatu?


Aku menghela nafas dalam, saat tiba di depan pintu ruangan mas Sandy. Ku buka pelan pintu itu.


"Ini kopinya mas, maaf lama." tukasku.


Ternyata Mas Sandy tengah berbincang serius dengan Nita.


"Kamu cari tahu siapa orangnya. sekarang kamu boleh pergi!" Tukasnya pada Nita. Aku terpaku mendengar obrolan mereka, apa mas Sandy tengah membahas soal gosip itu? atau membahas hal lain? tapi kurasa, itu bukan soal pekerjaan.


"Wah kopinya pasti enak" seloroh mas Sandy membuatku terpaksa tersenyum ditengah pikiranku yang kalut.


Nita segera pamit sebelum aku sempat bertanya apa yang tengah mereka bicarakan.

__ADS_1


"Ini mas kopinya." aku berdiri disampingnya.


Mas Sandy segera menyeruput kopi itu, dan terlihat sangat menikmatinya.


"Kamu kenapa teh?" mas Sandy menatapku heran karena aku tak bisa diam dan terus berjinjit.


"Mas Sandy punya sandal ga?" tukasku ragu.


Mas Sandy menoleh ke arah kakiku, lantas dia bangkit dan mengajakku untuk duduk di Sofa.


"Kamu pasti dari tadi nahan sakit ya? kenapa dipaksain sih?" tanyanya dengan suara lembut.


"Saya gak mau bikin mas Sandy malu." gumamku tak enak hati.


Mas Sandy menatapku lekat. Pria itu kemudian berjalan mendekati mejanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci.


"Maaf kalau saya bikin kamu Gak nyaman teh," mas Sandy mendekat dengan kotak P3K ditangannya. kemudian dia berlutut dan memegang kakiku.


"Mas Sandy mau apa?" ku seret mundur kakiku.


"Biar saya lihat, apa kaki teh Alis lecet atau tidak." sarannya.


"Saya bisa sendiri kok, mas Sandy Gak perlu begini" tolakku.


Aku memang istrinya, aku tahu dia mencintaiku dan rela melakukan apa saja untukku. tapi aku juga tak mau bersikap tak sopan padanya. kami baru saja menikah. aku tak ingin membuatnya malu atau merendahkannya dihadapan para karyawan kantor.


"Gak apa-apa mas. saya bisa kok!" tolakku lagi.


"Alis Anjani, diamlah!" mas Sandy memaksa dan menarik kakiku lalu membuka sepatuku dengan perlahan. dia memperhatikan luka lecet itu dengan seksama.


"Lain kali kalo sakit begini, lebih baik kamu pakai sandal saja." mas Sandy mengoleskan salep luka dengan lembut.


Mas Sandy terdiam,


"Jadi kamu sudah melihat berita pagi ini?" terka nya.


"Hm, dan saya kaget" tukasku mencoba jujur dengan apa yang kurasakan.


Mas Sandy melanjutkan aktivitasnya hingga diapun selesai menempelkan plester luka itu di kedua kakiku.


Mas Sandy menatapku penuh perhatian, Digenggamnya kedua tanganku begitu erat.


"Saya berjanji sama kamu, saya gak akan biarkan siapapun menyakiti kamu teh. saya akan cari tahu siapa yang mencuri foto-foto kita hingga tersebar begitu!" Janjinya.


Aku tersenyum, begitu takutnya dia membuatku tak nyaman.


"Gak perlu mas, pekerjaan media kan memang seperti itu. lagipula, apa yang mereka katakan ada benarnya. itu mengapa, mereka terkesan sangat terkejut dengan kabar pernikahan kita." Aku mencoba bersikap tenang meski sesungguhnya, Akupun gugup dengan kondisi sekarang.


"Saya tahu, kamu hanya tak ingin menyusahkan saya teh. makanya kamu bicara begitu. saya hanya tak mau kamu sedih atau terluka karena berada disisi saya tak mudah." Wajah Mas Sandy terlihat penuh sesal.


Ku usap kedua pipinya lembut, pria tampan yang begitu mencintaiku ini sangatlah baik. dia benar-benar peduli padaku.


"Saya tahu mas Sandy akan selalu menjaga saya, memegang erat tangan saya. jadi saya tak pernah merasa takut dengan berita diluar sana. selama mas Sandy percaya pada saya. itu sudah cukup!" ku kecup singkat hidung mancungnya.


Mas Sandy tersenyum lega.


"Saya benar-benar sangat beruntung memiliki kamu teh. kamu selalu bisa membuat saya tenang" gumamnya.


"Saya rasa, kopi mas Sandy akan dingin!" aku melirik kopinya yang belum sempat dia minum.

__ADS_1


"Duduklah disini sebentar!" mas Sandy bangkit dan berjalan mendekati mejanya.


Lalu dia terlihat menelepon seseorang.


"Nita, tolong carikan saya sandal wanita yang paling bagus! bawa kemari!" perintahnya.


Mas Sandy membawa kopi itu dan duduk didekatku lalu meminumnya pelan.


"Gimana?!" Aku menatapnya penasaran


"Rasanya selalu sama,manis seperti kamu teh" dia menatapku begitu dalam hingga membuatku tersipu.


"Apa hari ini mas Sandy gak ada rapat?" tanyaku heran.


"Belum. mungkin besok atau lusa" jawabnya setengah mengingat.


"Kalau begitu, siang ini kita bisa makan di luar. saya tiba-tiba ingin makan bubur ayam mas," aku menyeringai antusias.


Mas Sandy mengernyitkan Alisnya.


"Kamu ngidam teh?" selorohnya polos.


"Mas Sandy apaan sih? kok jadi bahas ngidam?" desisku kecut.


"Yah habisnya, kenapa kamu tiba-tiba ingin makan bubur siang hari."


"Saya lagi pengen makan yang lembut-lembut aja sih. pasti enak!" aku bergumam seraya membayangkan jika bubur itu ada dimulutku.


CUP!


Mas Sandy lalu mengecup bibirku pelan.


"Ini juga gak kalah lembut kan?" godanya.


Aku terhenyak cukup lama, berani sekali di kantor dia bersikap begitu. bagaimana jika ada orang yang masuk.


"Mas," Ku lirik pintu yang masih tertutup rapat itu.


"Kenapa? apa saya tak boleh mencium istri saya sendiri?" protesnya.


"Ini di kantor. seharusnya mas Sandy tak begitu. saya gak mau orang,-"


CUP!


Dan lagi, dia mencuri ciuman itu dariku secepat kilat.


"Biarkan mereka tahu,kalau saya sedang mabuk karena kamu," gumamnya lalu kembali mendekat dan menciumku sedikit lebih lama.


TOK...


TOK...


Aku mendorong pelan tubuhnya segera, sebelum ciuman kami semakin dalam.


Mas Sandy berdecak kesal dan menoleh ke arah pintu.


"Tak sopan sekali!" dengusnya.


• • • • •

__ADS_1


__ADS_2