PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•122


__ADS_3

Rahma menatapku cukup lama.


"Gila sih, kamu berubah drastis! makin cantik!" Tukasnya.


Aku hanya tersenyum kecut.


"Aneh banget deh, kok tiba-tiba kalian bisa menikah?" selidik Sinta lagi. dia begitu penasaran karena aku belum juga menjawab pertanyaannya.


"Soal itu, Gimana ya jelasinnya" aku menatapnya bingung.


"Ah! gak perlu dijelasin. Intinya Alis ini wanita baik dan tulus. makanya bisa dapet jodoh kaya pak bos." tukas Rahma


Jelas kalimat itu ia tujukan untuk menyindir Sinta.


"Jadi menurut kamu, wanita yang gak baik gak berhak dapetin cowok kaya pak Sandy gitu? aneh banget jawabannya" seloroh Sinta tak suka.


"Udah, udah.. kenapa jadi malah berdebat sih. Oh iya, Gimana rasanya kerja disini?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan kami.


"Kerja disini capek. pusing kepala" seloroh Rahma.


"Aku rasa, sebentar lagi bakal muncul gosip soal kalian di media deh." Sinta mengotak-atik ponselnya.


"Hah? memangnya kenapa?" tanyaku tak paham.


"Tuhkan bener! coba kalian liat?" Sinta menunjukkan ponselnya dengan segera.


TAK ADA PERTUNANGAN ATAU RESEPSI. CEO PT. ASTRA HW sandy Hadiwijaya MENIKAH!!!


Begitu tajuk berita yang tersemat disalah satu media online terkemuka.


Aku terpaku cukup lama. foto yang mereka cantumkan itu bahkan di ambil saat aku dan mas Sandy keluar dari rumah tadi pagi. dan itu hanya berselang beberapa jam saja.


"Dasar kuli tinta Lebay! bikin berita murahan begitu. emangnya kenapa sih? toh mereka gak dirugikan juga." cerocos Rahma.


"Pastilah berita kaya gini yang mereka cari. apalagi selama ini yang orang luar tahu, pak Sandy ini terkenal sangat tertutup dengan hubungan pribadinya. hanya satu wanita yang mereka kenal yaitu Vina. mantannya pak Sandy. kalo tiba-tiba nikah sama Alis, ya kaget lah! mereka pikir ini konspirasi atau cuma skandal aja." jelasnya secara gamblang.


Rahma melotot tajam pada Sinta.


"Sinta, apaan sih. kenapa malah bawa-bawa masa lalu pak bos." dengus Rahma.


"Tapi memang benar kok, pernikahan kami tanpa resepsi. ada benarnya juga apa yang mereka bilang." gumamku dingin.


"Jadi bener, gak ada pesta atau resepsi?!" seloroh Sinta kaget.


"Sssssstth!" desis Rahma. sembari menilik ke arah belakang,takut jika ada karyawan lain yang mendengar. karena posisi kami berada di pentry sekarang. entah kenapa pula mereka menyeretku kemari.


"Emangnya kenapa kalo gak ada resepsi?" Rahma melayangkan tatapan sinis pada Sinta.


Aku menatap Rahma tak enak hati.


"Ya kan, Seorang Sandy Hadiwijaya. masa nikah Gak pake resepsi. kalo aku jadi kamu lis, aku bakalan minta pesta yang paling mewah dengan mengundang banyak media dan kolega bisnisnya!" celetuk Sinta.


"Justru aku pikir, itu berlebihan." aku menatap Sinta ragu.


"Halah, perusahaan gak bakal rugi kalo cuma buat modalin nikah doang."

__ADS_1


Rahma menatapnya tak suka. dia tahu jika Sinta hanya berusaha memanas-manasi saja dan tak berniat memberikan saran.


"Sudahlah, lagipula pernikahannya toh udah terjadi. yang penting Alis dan pak Sandy bahagia terus." Rahma mendekapku erat.


Sinta menatap kami berdua seakan tak suka.


"Permisi!" Anwar tiba-tiba masuk ke Pentry dengan sebuah cangkir ditangannya. sontak membuat kami semua diam.


"Lagi pada ngagosip yah?!" celetuknya.


"Bu Presdir hati-hati deh, jangan ngagosip disini. ada kamera CCTV tuh!" Anwar menatap Sinta tak suka.


"Gak sopan banget deh," desis Rahma pelan.


"Bu, mau kopi? biar saya Buatkan. kopi buatan saya enak loh bu!"


"Enggak. terima kasih mas,"


"Aduh panggil Mas lagi,.." desahnya seakan tak terima.


"Kayanya, kita lanjutin ngobrolnya nanti aja deh ya. sambil makan siang. suasananya udah panas nih, bau-bau kemenyan!" sindir Sinta yang lebih dulu keluar dari Pentry.


"Setan teriak setan!" gerutu Anwar sembari menyeduh kopinya.


Aku menatap Rahma penuh tanya. kenapa sikap mereka berdua terlihat seperti musuh?


"Saya permisi duluan bu!" pamit Anwar.


Aku mengangguk saja tanpa menyahutinya.


"Mereka berdua emang kaya kucing sama anjing. sama-sama tukang ribut. mereka berdua kan saingan" desis Rahma terkekeh.


"Saingan? saingan apa?" aku menoleh kaget.


"Saingan buat dapetin pak Ivan." bisiknya setengah menahan tawa.


Mendengar nama Ivan membuatku sedikit terkejut. aku lupa jika pria itu juga bekerja disini. tapi hari ini aku tak melihatnya, dan semoga saja aku tak bertemu lagi dengannya.


"Ya sudah lis, aku harus balik kerja! kamu juga lebih baik, temani pak Sandy. dia pasti kangen sama kamu" godanya.


"Rahma, apaan sih!" dengusku ketus.


Gadis itu terkekeh sembari mengajakku kembali ke tempat kami seharusnya berada sekarang.


Aku melangkahkan kaki dengan pelan menuju ruangan mas Sandy. Ku lihat Nita tengah sibuk dengan pekerjaannya, jadi tak enak jika harus mengganggunya hanya sekedar untuk menyapa.


TOK..


TOKK...


"Masuk!" sahut mas Sandy dari dalam.


Aku tersenyum seraya berdiri didepan pintu Ruangannya cukup lama.


"Sayang,.. kamu darimana? kamu Gak nyasar kan?" sindirnya.

__ADS_1


Aku tersenyum malu. seharusnya aku tak perlu berlama-lama tadi. terkesan sekali aku mengabaikan mas Sandy dihari pertama kami ke kantor.


"Maaf mas," aku mendekat.


"Mas Sandy lagi sibuk ya?" ku lihat beberapa berkas menumpuk dimejanya


"Hm, lumayan." dia mengerutkan dahinya lesu.


"Sini mas, biar saya bantu Rapikan!" Ku ambil beberapa berkas yang tampak berantakan dihadapannya itu.


"Gak perlu," mas Sandy menahan tanganku yang hendak mengambil dokumennya.


"Lebih baik,kamu peluk saya aja teh. biar capek saya ilang." godanya manja.


"Ya ampun mas, ini kan di kantor. Lagian mana bisa meluk doang,bisa ilang capeknya." dengusku.


"Ya udah,sini duduk!" mas Sandy menepuk pahanya, mungkin agar aku duduk dipangkuannya.


"Mas Sandiii...!" aku melotot tajam.


"Lebih baik mas Sandy beresin kerjaannya, biar kita bisa pulang cepat!" tukasku sembari merapikan berkas tadi yang hendak ku pegang.


"Memangnya kenapa, tiba-tiba minta cepat pulang?" mas Sandy mendekat.


AH! pria ini memang sangat menyebalkan jika pikirannya sudah melantur begitu.


KRING!


Dering telepon kantor membuat mas Sandy bergegas mengangkatnya.


sementara aku sibuk sendiri disampingnya sembari merapikan berkas ditanganku.


"Ada apa?.. " tanya mas Sandy kemudian.


Tak berapa lama, mas Sandy mengetikkan sesuatu lalu melihat layar komputernya dengan cepat.


Dan tajuk berita itu muncul lagi, dengan sigap mas Sandy mematikan komputernya. mungkin dia takut jika aku melihatnya juga. padahal tanpa dia tahu, aku sudah lebih dulu mengetahuinya.


"Kenapa mas?"


"Enggak apa-apa kok! tiba-tiba saja,saya pengen kopi buatan kamu teh!" jawabnya beralasan.


Aku tersenyum, aku tahu mas Sandy tak ingin aku bersedih dengan melihat berita media pagi ini. Namun sayangnya, aku sudah terlanjur melihat betapa cepatnya isu pernikahan kami menyebar.


"Baiklah. saya akan buatkan. mas Sandy tunggu sebentar!" aku segera keluar dari ruangannya dan menuju pentry.


Tenanglah Alis,ini baru permulaan. ini mungkin adalah sapaan mereka terhadapmu. sambutan mereka untuk menunjukkan dimana kamu berada sekarang. bersikaplah tenang. Batinku.


Tapi tetap saja, Aku tak bisa menghilangkan pikiran buruk itu. berita itu mereka buat, bukan tanpa alasan. pernikahan kami yang terkesan buru-buru bahkan tanpa adanya pesta, tentulah mengundang banyak pertanyaan. Apalagi, dia adalah Sandy Hadiwijaya. mendengar namanya saja, semua orang tentu tahu siapa dia.


Tak mungkin dengan gegabah tiba-tiba menikah dengan wanita yang asal usulnya saja belum jelas.


"Hufth!" aku menghela nafas dalam.


Kenapa isi kepalaku malah berfikir terlalu jauh. tapi tak dapat dipungkiri sebenarnya aku sangat takut melihat berita-berita itu.

__ADS_1


• • • • •


__ADS_2