
Ada bayang-bayang kecil yang sedang menari bahagia.
tersenyum tanpa beban dan begitu polos.
Dia tak tahu saja,terkadang senyuman itu bisa berganti dengan tangisan.
Dan kebahagiaan itu bisa berubah menjadi sebuah kedukaan.
Tapi bayang-bayang kecil itu tak peduli.
dia terus saja menari hingga kakinya lecet.
menyisakan bekas luka yang suatu saat akan terasa perih saat dia berhenti menari.
Namun perlahan Bayang-bayang kecil itu menatap langit yang masih biru, dia tersenyum penuh harap namun juga sedikit gusar.
ku dengar dia berdoa agar bayangannya tak hilang kala menjelang gelap gulita.
•••
Ku lihat Andi masih saja asyik bermain, dia bahkan terlihat akrab dengan kedua anak kembar itu. sementara aku yang duduk tak jauh dari mas Sandy hanya sesekali tersenyum kala mas Sandy dan pak Darwin bercengkerama sembari membahas beberapa bisnis yang tak kupahami.
"Pria kalau sudah bicara bisnis, sering lupa jika ada istri mereka disampingnya!" tugas bu Amelia merasa di acuhkan.
Aku dan mas Sandy saling tatap dan hanya bisa mengurai senyuman tanpa berucap. Jelas kami sangat kesulitan berada di antara sepasang suami istri yang menganggap kami juga memiliki hubungan erat layaknya sepasang kekasih.
"Kapan anda berencana kembali ke kantor?" tanya pak Darwin.
"Mungkin di hari senin saya akan mulai bergelut lagi dengan pekerjaan kantor." jelas mas Sandy
"Wah, pasti para karyawan sudah sangat rindu pada anda pak. karna saya tahu anda ini bos yang seperti apa!" sambungnya kemudian.
"Mungkin itu hanya pandangan pak Darwin saja. saya hanya menjalankan tugas sebagai mana mestinya." Mas Sandy terlihat rendah hati dengan jawabannya.
"Anda selalu saja merendah pak Sandy. anda ingat saat terjadi kecelakaan yang merugikan perusahaan cukup besar waktu itu. bahkan perusahaan anda sempat masuk koran. tapi anda malah berdonasi pada korban tanpa memikirkan kerugian. saya sangat salut." Pak Darwin seakan mengingatkan bagaimana sifat kedermawanan mas Sandy itu.
"Itu sudah lama pak. tolong jangan di bahas lagi." mas Sandy tersipu dan tampak tak nyaman.
"Kecelakaan di simpang jalan,malam hari itu kan pah? untung waktu itu hujan lebat, jadi kita Gak keluar rumah. kalau saja kita keluar, pasti akan terjebak macet." celetuk bu Amelia.
"Iya mama benar, bahkan macet nya menular sangat panjang. karna itu merupakan ruas jalan utama." jelas pak Darwin.
Aku menatap mereka berdua bingung. kecelakaan seperti apa yang mereka maksud. kenapa aku merasa ada yang tak asing dari obrolan barusan itu.
"Kecelakaan dimana ya?" tanyaku melihat keduanya bersamaan.
"Itu sudah lama sekali," seloroh mas Sandy tiba-tiba.
__ADS_1
Aku menatapnya heran.
"Mama, bajuku kotor! Leon menumpahkan tanah!" Lucas berlari dengan wajah penuh emosi.
"Ya ampun! adikmu benar-benar jahil. sini mama lap!" bu Amelia segera mendekat dan membersihkan kotoran di pakaian putranya dengan tisu.
Sesaat fokus ku jadi terpecah dan melupakan soal obrolan barusan itu.
"Andi, kamu hati-hati ya!" tukas mas Sandy memperingatkan.
Dan Andi hanya membalasnya dengan lambaian tangan, sembari mata tetap fokus ada jalan dihadapkannya.
Karna Bosan Lucas dan Leon meminta pergi ke wahana lain yang lebih menyenangkan. sementara Andi masih asyik dengan mobil-mobilan nya yang dia kendarai.
"Mereka pasti keluarga yang sangat bahagia." tulisku melihat kepergian pak Darwin dan keluarganya setelah mereka pamit beberapa detik lalu. ada rasa iri yang tiba-tiba terasa menyesakkan dadaku.
"Tak ada yang pernah tahu bagaimana kehidupan mereka. kita hanya melihat dari luarnya saja." gumam mas Sandy.
"Mas Sandy benar. tak akan ada yang tahu bagaimana isi hati mereka." sahutku dingin.
"Sama seperti saya yang sudah mencoba bertanya pada seorang wanita, tapi tak pernah mendapat jawaban. seperti itulah." sindirnya.
"Mas Sandy nyindir saya? memangnya apa yang harus saya jawab mas?" selorohku kecut.
"Ya mungkin, teh alis punya perasaan yang sama dengan saya? bisa jadi kan? atau teh alis pernah memikirkan saya saat tengah malam, hingga membuat teh alis susah tidur? atau juga, teh alis sering merasa berdebar saat kita sedang berduaan begini?" tanyanya dengan berani.
"Mas, disini banyak anak kecil!" gumamku tak nyaman.
"Seandainya teh alis tahu jika saya sangat ingin memeluk teh Alis sekarang!" bisiknya tepat ditelingaku.
WUSH!
kurasakan tubuhku meremang seketika. mas Sandy adalah pria yang aneh dan benar-benar menyebalkan yang ku kenal selama hidupku. batinku meracau tak karuan.
"Andi mau pipis ma?!" Andi berlari ke arah kami berdua.
"Baiklah, biar mama antar!" sahutku menoleh pada mas sandy yang sedang menatapku gamang.
"Gak usah teh,biar saya aja. saya sekalian mau ke toilet juga!" sela nya melarangku.
"Andi sama om aja ya!" ajaknya.
Dengan santainya Andi menggandeng tangan mas Sandy dan lagi-lagi meninggalkan ku sendirian. Apakah sekarang posisiku sudah digantikan? Aneh memang, ketika setiap saat Andi hanya bergantung padaku. kini dia memiliki seseorang yang bisa dia andalkan saat butuh pertolongan.
Namun tak dapat ku pungkiri, akupun merasa senang karna bisa melihat mereka sedekat itu.
Kebanyakan anak-anak biasanya tak suka dengan kehadiran orang asing selain ayah mereka atau saudara mereka. apalagi mereka terlihat dekat dengan ibunya. tapi Andi lain, dia seperti memiliki ikatan kuat dengan mas Sandy. sehingga mereka mudah sekali akrab.
__ADS_1
Aku jadi teringat kembali kisahku sekitar 3 tahun silam. saat seorang pria bernama Deni yang mencoba gencar mendekatiku. dia seorang anak dari Mantan Kades di wilayahku yang cukup di segani. namun tak disukai oleh putraku. Dia pria terpelajar, usianya 5 tahun lebih tua dariku,dia juga seorang duda. hampir setiap seminggu sekali pria bernama Deni itu datang ke rumah, berniat mengajak kami jalan-jalan. Namun Anehnya, Andi tak pernah setuju jika kami pergi.
Dia selalu bilang, jika pak Deni menakutkan. entah apa yang anak itu pikirkan tentangnya. hingga membuat Pak Deni pada akhirnya menyerah memperjuangkan keinginannya untuk mempersuntingku.
Aku sama sekali tak pernah marah pada Andi atas sikapnya, aku justru merasa tertolong Karna kehadiran Andi bisa menjadi salah satu alasanku untuk menolak orang-orang yang tak ku sukai itu. dan semenjak itu,aku tak pernah lagi menerima laki-laki manapun dihatiku.
Bahkan sejujurnya, untuk pak Deni saja aku benar-benar tak menaruh rasa apapun padanya.
Jadi bisa di bilang, aku tak pernah jatuh cinta pada laki-laki manapun. bahkan pada almarhum suamiku saja,Aku belum bisa sepenuhnya dikatakan jatuh cinta. Hidupku memang terlalu rumit untuk sekedar merasakan jatuh cinta.
Pernikahanku selama 10 tahun bersama Mas Rizal tak menyisakan apapun selain kecewa,trauma,marah,namun pada akhirnya berakhir iba.
Di sia-siakan, dibohongi, dikasari, diperlakukan seperti budak belian, semuanya sudah ku nikmati dengan penuh kesabaran. aku fikir memang inilah jalan hidupku. Aku harus melewati banyak kerikil tajam untuk menuju hidup yang lebih baik didepan.
Dulu memang seperti itu pola pikirku, namun saat Andi mulai beranjak sekolah, Kebutuhanku semakin banyak. Aku semakin berani bersuara, meminta nafkah dan keadilan padanya. Hal itu nyatanya malah membuat mas Rizal menjadi semakin berang dan marah.
Dia menjadikan mabuk-mabukan serta judi sebagai pelampiasan amarahnya.
"Hufht!" Aku menghembuskan nafas berat. ku lirik ke arah belakang, namun mas Sandy dan Andi belum juga datang. mungkin toilet penuh hingga mereka harus mengantre. pikirku.
"Hai, boleh saya duduk!" tiba-tiba seorang pria tampan berpostur sedikit gemuk dan bermata sipit itu duduk disebelahku. Aku yang kaget tentu tak bisa menolak.
"Silahkan!" sahutku ragu.
"Disini ternyata sangat ramai ya? tapi sayangnya tak ada wanita lajang yang bisa saya ajak berkenalan" pemuda itu mengurai senyuman aneh.
"Mungkin anda salah tempat. Tempat ini memang khusus bagi mereka yang sudah berkeluarga" jelasku
"Kamu pasti bohong nona, lalu kenapa kamu sendirian? dimana keluargamu?" tanyanya tak percaya.
"Mereka sedang ke toilet!" jawabku yakin
"Benarkah? Haha.. sangat lucu, saya tak melihat anda bersama orang lain sejak tadi." tukasnya bersikukuh.
"Itu artinya, anda baru datang. jika anda datang lebih dulu dari saya. anda akan melihat anak dan,-"
"Dan siapa???" pemuda itu tersenyum remeh seakan mencemoohku.
"Dan suamiku tentu saja, kamu pikir siapa lagi?" selorohku dengan penuh percaya diri.
"Siapa yang kamu bilang suami teh?" Suara mas Sandy sontak membuat kami berdua menoleh ke arah belakang.
SIAL! kenapa aku harus berujar seperti itu. Dan sekarang mas Sandy pasti akan salah sangka juga berfikir yang tidak-tidak tentang diriku.
Aku menggigit bibirku panik.
• • • • • • •
__ADS_1