
"Mas Sandy bisa serius gak?" dengusku menggertak,agar fokus pandangannya teralihkan.
"Kamu kenapa teh? demam? kok wajahnya jadi merah gitu?" kali ini mas Sandy dengan santainya menyentuh pipiku lembut.
AH! benar-benar manusia menyebalkan!
Aku terperanjat kaget dan sontak saja mundur menjauhinya.
"Gak apa-apa kok! saya permisi ke kamar mandi Sebentar!" pamitku berlari keluar dari kamarnya.
Aku meraba dadaku panik, kenapa mas Sandy bisa sangat menyebalkan begitu. biar bagaimanapun umurku lebih tua darinya, meski hanya selisih dua tahun. Tapi tetap saja! itu gak sopan! batinku.
"Loh, kok malah diem diluar Lis?!" seloroh bi Marni
"Ssstttt..!" Desisku kaget.
"Kenapa? mas Sandy ngamuk?" bisiknya
"Mas Sandy lagi latihan. jangan berisik! nanti dia gak bisa konsentrasi!" tukasku berbohong.
"Tapi kok, kamu kaya lagi ketakutan gitu Lis?" Bi Marni tampak tak percaya.
"Aku capek aja bi! cari udara segar sebentar. makanya keluar kamar!" kali ini ku akhiri kalimatku dengan senyum yang mengembang.
"Oh, kirain ada apa! ya sudah, bibi mau lanjutin lagi beres-beres nya." pamitnya berjalan pelan menuju ruangan lain.
Ku tatap kepergian Bi Marni hingga menghilang dibalik pintu kamar lainnya.
Beruntunglah Bi Marni gak curiga.
"Tapi tadi itu benar-benar keterlaluan. Gimana kalo sampe Bi Marni lihat, atau bahkan Bu Ayu?" gerutuku tak karuan.
10 menit aku berada di luar, baru Bisa masuk ke dalam kamar setelah hatiku mulai bisa tenang.
"Permisi!" tukasku membuka pintu.
Ku lihat mas Sandy Masih mencoba menggerakan sebelah kakinya untuk maju dan mundur secara perlahan.
"Wah, baru dua kali terapi aja Mas Sandy sudah bisa aktif gerakin kakinya!" pujiku
"Saya punya alasan kenapa saya serius dengan kesembuhan saya teh!" gumamnya tanpa menoleh kearah ku.
"Emang kenapa alasannya mas?" tanyaku penasaran sembari berdiri Di dekat tiang penyangga tubuhnya.
__ADS_1
"Supaya saya bisa ngejar kamu, saat kamu kabur kaya barusan teh!" Celetuknya dengan tatapan serius.
Aku menatapnya gamang.
Mas Sandy sepertinya memang sedang mengalami fase Halusinasi tingkat tinggi. buktinya, semua yang dia katakan sangat berbeda dengan keseharian nya yang cuek dan sangat berhati-hati itu.
Tanpa menjawab celetukan aneh nya, aku bergegas berjalan menuju meja. tepat dimana obat-obatan nya di simpan.
"Nyari apa teh? ini belum waktunya minum obat!" Selorohnya memperhatikan gerak gerikku.
"Dokter Hasan ngasih obat apa sih sama mas Sandy? kok ngomong nya jadi aneh dan ngelantur ya?" aku membaca satu persatu jenis obat yang ku pegang.
"Apanya yang aneh? bagian mana yang ngelantur?" Tukasnya dengan pandangan tetap fokus pada kakinya.
Aku melirik lalu meletakan obat itu lagi ditempatnya. ku dekati mas Sandy dengan tatapan penuh curiga. Aku berpangku tangan menungguinya.
"Terus, ngapain tadi begitu ke saya? dan lagi omongan mas Sandy gak pantes di ucapkan sama saya! saya disini kerja loh mas!" sindirku.
"Begitu gimana teh? omongan yang mana? yang jelas dong," tanyanya. namun sekali lagi,dia tak menoleh ke arahku.
"Mas Sandy kalo mau bercanda begitu, jangan sama saya! sama cewek lain kan bisa. tapi nanti kalo udah sembuh kakinya!" tukasku mengingatkan.
"Teh alis kan tahu sendiri, selama saya sakit. saya gak pernah ketemu cewek lain! Lagian kalo nunggu saya sembuh, mereka semua keburu kabur teh!" gumamnya.
Kali ini mas Sandy menoleh pelan, aku tak berani menatapnya dan hanya memalingkan wajah ku.
"Saya genit? Asal teh Alis tahu! saya gak pernah bersikap begitu sama cewek lain. kecuali-," mas Sandy menggantung kalimatnya.
Aku melirik pelan menunggu kalimat Lanjutannya.
"Saya haus teh! tolong ambilkan minum!" pintanya tanpa rasa bersalah.
Aku berdecak kesal saat obrolan kami belum menemui titik terang. Dan Mas Sandy malah terlihat santai sembari berjalan dan duduk di sisi ranjangnya.
Jika terus begini, bukan rasa iba yang ku lihat dari sakitnya itu. tapi dia seakan mencari kesempatan dan memanfaatkan kelemahannya.
Aku mendekat dan memberikan segelas air putih.
"Jangan-jangan dulunya mas Sandy emang playboy yah! makanya gak kaku bersikap begitu sama perempuan!" sindirku.
Namun bukannya marah atau kesal, pemuda itu malah tersenyum remeh sembari meneguk air di gelasnya hingga habis.
"Teh Alis keberatan saya bersikap begitu?" tanyanya enteng
__ADS_1
Aku mendengus menatapnya tajam.
"Mas! saya ini lebih tua dari kamu,dan lagi saya udah punya anak!" protesku.
Mas Sandy bangkit dan memegang kruknya kuat-kuat lalu berdiri dihadapan ku.
"Kamu punya anak, atau kamu lebih tua dari saya, itu terserah! yang penting saya akan terus melakukan apa yang saya suka!" Desisnya licik.
Aku memicingkan mataku tajam, bagian mana dari kata-kata nya itu yang terdengar serius? ku rasa tak ada.
dan ku anggap itu sebagai lelucon, layaknya seorang teman yang saling menggoda. TEMAN? ah,sepertinya aku juga mulai berlebihan mengartikan kedekatan kami.
"Udah deh mas! gak usah aneh-aneh! yuk latihan lagi. mumpung masih ada waktu sebelum jam makan siang!" Aku menatap jam di tanganku.
Aku bergerak menuju matras yang sejak tadi tergelar di lantai.
Mas Sandy mendekat perlahan,lalu duduk sesuai arahanku.
"Mas Sandy bilang, katanya kakinya sakit sampe gak bisa tidur?" tanyaku memeriksa kondisi sebelah kakinya.
"Semuanya terasa pegal. seperti habis berkeliling seharian di mall." jelasnya.
"Hm, kata dokter Hasan sih itu termasuk normal mas. itu tandanya otot-otot kaki mas Sandy mulai bisa merasakan rangsangan dari gerakan kaki mas Sandy. kalo sakit sih, bisa di maklumi karna hampir sebulan kakinya gak bergerak!" jelasku. sembari memasang alat penyangga di lutut dan kaki bagian bawahnya.
"Ya, apapun itu namanya tetap aja bikin saya gak bisa tidur. dan sekarang saya ngantuk!" gumamnya dengan tatapan sayu.
"Tahan mas! jangan tidur dulu! satu tahap lagi. kita selesai!" Pintaku.
"Hm, oke!" jawabnya tampak bersabar.
Ku bantu dia menggerakan lututnya dengan cara menekuknya secara berulang. Meskipun mas Sandy sesekali meringis menahan sakit, tapi sepertinya dia memaksakan diri agar tetap bisa melakukan semua terapi yang diminta oleh dokter Hasan.
Aku mengurai senyuman saat melihatnya menghela nafas lega, karna latihan kami telah berakhir.
"Semangat mas!" tukasku penuh harap.
Mas Sandy menatapku Haru. mungkin baginya itu merupakan kata-kata yang selalu ingin dia dengar dari orang-orang terdekatnya.
Mendapatkan dukungan dari orang terdekat adalah hal yang sangat penting dalam pemulihan pasca kecelakaan. begitu yang dokter Hasan selalu bilang padaku.
Dan aku bisa membuktikan bahwa itu benar adanya, karena aku bisa melihat sinar mata yang penuh haru dimatanya
• • • • • •
__ADS_1